Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

The Problem of Modern Man in Indonesia and Its Solution According to Seyyed Hossein Nasr Dedy Irawan
Kalimah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 20, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v20i2.8519

Abstract

Abstract The problem of modern man and Western civilization, have caused man in general to forget the nature of his life, particularly in Indonesia. Various kinds of damage, starting from theology, environment, sciences, and other aspects do not escape the consequences of modern man actions. Metaphysics and the real reality of God along with the development of technology, disappeared and replaced with false reality that will destroy the existence of human being itself. Many western scientists agree that human nature is increasingly shortened as modern science and technology evolve, which is empty of metaphysics recognition. Furthermore, modern man today only lives on the edge of his existence and the reality of nature. If they don’t immediately aware of this situation, they have pushed themselves to the brink of physical and spiritual extinction. This research tries to uncover some of Seyyed Hossein Nasr's criticisms and solutions to modern man problems in several aspects such as scientific errors, environmental crises, telology, and cosmology by using literature studies with descriptive analytical methods for general, and for Indonesian in particular. This research draws the following conclusions; First, to deal with the theological problems that deny God's reality, Nasr offered solutions to perennial philosophy and sufism. Second, in facing the mis-concept of the cosmos, Nasr made Islamic Cosmological doctrine as the key. Third, to deal with the worsening environmental crisis, Nasr invites people to make Nature as Sacred creation of God. And finally, the fourth, Nasr offers the concept of Sacred Science, as a solution to the degradation of metaphysical and spiritual values in modern science. Regarding that Indonesia is a big nation, Indonesia needs to apply the Nasr concept as a solution to the destruction of modern man.
Hamka's Critique on Sigmund Freud's Theory of Psychoanalytic Dedy Irawan; Fadhil Sofian Hadi; Usamah Abdurrahman
TSAQAFAH Vol. 19 No. 1 (2023): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v19i1.8647

Abstract

AbstractThis paper is Hamka's critique of Sigmund Freud on psychoanalysis. For Freud, human life is driven by sexual desire from birth. With this, causing the loss of the divine nature in humans. Freud views the human soul as a creature that is only controlled by the sex libido which tends to be pessimistic. By using literature review and using qualitative data. The result found a different view with Hamka. Hamka denies that humans are only controlled by sexual libido. In his interpretation of al-Azharnya Hamka emphasized that in religion (Islam) humans were created by Allah with the best creature, both outward and inward form, body shape and life. Therefore Hamka explained that the soul (an-nafs) as the essence of human beings is divided into three parts. First, nafsul amarah bissiu’. Second, nafsul lawwamah, and nafsul mutmainnah. These three forms of an-nafs were never explained by Freud and even forgotten. On the other side, Freud views that religion is the cause of the emergence of neuroses that threaten human life. Therefore, Hamka emphasized that Freud's psychoanalysis was seen as not touching the aesthetic value (in) the human soul, thus creating arid mentality for humans.Keywords: Psychoanalysis, Sigmund Freud, mysticism, Hamka, Islam AbstrakMakalah ini merupakan kritik Hamka atas Sigmund Frued tentang psikoanalisah. Bagi Frued, manusia hidup di dorong oleh keinginan seksualnya sejak lahir. Dengan ini, menyebabkan hilangnya sifat ketuhanan dalam diri manusia. Frued memandang jiwa manusia sebagai makhluk yang hanya dikendalikan oleh libido sex yang cenderung pesimistis. Dengan menggunakan kajian pustaka dan menggunakan data kualitatif. Hasilnya ditemukan pandangan yang berbeda dengan Hamka. Hamka membantah bahwa manusia hanya dikendalikan oleh libido sex. Dalam tafsinya al-Azharnya Hamka mempertegas bahwa di dalam agama (Islam) manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baik bentuk, baik bentuk lahir maupun batin, bentuk tubuh dan nyawanya. Karenanya Hamka menjelaskan bahwa jiwa (an-nafs) sebagai esensi dari manusia menjadi 3 bagian. Pertama, nafsul amarah bissu’. Kedua, nafsul lawwamah, dan nafsul mutmainnah. Ketiga bentuk an-nafs tidak pernah dijelaskan oleh Frued bahkan terlupakan. Sehingga Frued memandang bahwa agama merupakan penyebab dari timbulnya neurosis yang mengancam kehidupan manusia. Karenanya, Hamka mempertegas bahwa psikoanalisah Frued dipandang tidak menyentuh nilai esetoris (dalam) jiwa manusia sehingga menciptakan kegersangan jiwa bagi manusia.     Kata kunci: Psikoanalisah, Sigmund Freud, tasawuf, Hamka, Islam
Melawan Sistem Keuangan dan di Balik Kehancuran Pasar Properti AS: Sebuah Kajian Moneter dalam Perspektif Islam Adriati Azizah Syafitri; Hilda Sanjayawati; Winda Silvi Dinillah; Dedy Hartanto Prastya Irawan
Jihbiz : Jurnal Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Syariah Vol 7 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Raden Rahmat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/jihbiz.v7i2.2469

Abstract

Krisis properti yang terjadi di Amerika Serikat, ratusan berita juga sudah menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Bencana runtuhnya keuangan Amerika Serikat melalui Pasar properti mendekat secara perlahan dan bertahap.  Obligasi aktif pada pinjaman hipotek tidak segera disusutkan hal ini terlihat dengan adanya beberapa runtutan penyebab tragedi keuangan. Pertama, pinjaman diharuskan untuk membayar dengan jumlah yang tidak tertahankan. Kemudian prosedur kebangkrutan telah dimulai setelah itu diikuti dengan properti peminjam yang pailit disiapkan untuk dijual.  Semua ini terjadi beberapa bulan saja (kondisi obligasi hipotek terjadi seperti penyakit lamat namun sangat berbahaya). Hal pertama yang harus dipahami ialah “leverage” yang merupakan biang permasalahannya. Hal kedua tentang historis kronologis yang diceritakan dalam film adalah penggunaan produk “Prime Mortgage”. Tiga puluh tahun yang lalu, sebagaimana film menceritakan bahwa investor hanya mempunyai peluang kecil terhadap investasi dan obligasi. Kemudian muncullah produk bernama “Prime Mortagage” Produk ini seperti kredit kepemilikan rumah. Orang-orang yang ingin membeli rumah bisa kredit kepada bank pemberi pinjaman.  Persoalan awal terjadi saat bank Investasi membeli (KPR) dengan harga yang sangat tinggi dengan harapan mendapatkan keuntungan serta bank mendapatkan pemasukan dari pembayaran angsuran oleh pemilik rumah. Namun bank menggunakan Leverage untuk membeli (KPR-nya).
Analisis Buku Al-arabiyah lil Jami' Jilid I Sebagai Sumber Pembelajaran Matrikulasi Bahasa Arab di UIN Raden Intan Lampung Ahmad Ramadhan Wirakarta; Dedy Irawan; Erlina; Syarifudin Basyar
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.9366

Abstract

This study was motivated by the use of the book Al-‘Arabiyah lil Jāmi’ Volume I in the Arabic language matriculation program at UIN Raden Intan Lampung, which is not yet fully suited to the needs of new students with varying levels of initial proficiency. This study aims to analyze the suitability of the book based on four aspects of BSNP assessment, namely content, language, presentation, and graphics. The research method used a qualitative descriptive approach through content analysis with documentation techniques on the material structure, language characteristics, and chapter presentation. The results of the study indicate that this book is suitable for use as a matriculation learning resource; the material is arranged in a logical sequence, the language is easy for beginners to understand, and the graphic design is quite supportive. However, several shortcomings were found in the presentation aspect, such as the absence of chapter summaries, a glossary, and references, as well as illustrations that are not accompanied by explanations. Overall, this book is relevant for use, but it needs improvement to better meet the standards of an ideal textbook.
PENERAPAN STRATEGI CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM PENGAJARAN MUFRODAT BAHASA ARAB KELAS XI MAN 1 BANDAR LAMPUNG Riski Kusuma Dani; Ahmad Iqbal Hs; Dedy Irawan; Damanhuri Damanhuri; Fachrul Ghazi
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 5 No. 1 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, September 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v5i1.1539

Abstract

Penguasaan mufrodat (kosakata) merupakan fondasi utama dalam pembelajaran bahasa Arab, namun praktik pengajaran di madrasah masih cenderung konvensional dan berbasis hafalan sehingga hasil belajar peserta didik belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pengajaran mufrodat bahasa Arab serta menganalisis efektivitasnya dalam meningkatkan penguasaan kosakata peserta didik kelas XI MAN 1 Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan campuran (mixed method) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 36 peserta didik kelas XI dengan teknik pengumpulan data berupa tes (pre-test dan post-test), observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi CTL yang mencakup tujuh komponen konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik terbukti efektif meningkatkan penguasaan mufrodat peserta didik secara signifikan, ditandai dengan peningkatan rata-rata nilai dari 70,00 (pre-test) menjadi 82,86 (siklus I) dan 87,50 (siklus II), dengan ketuntasan klasikal mencapai 100% pada siklus II. Temuan ini mengimplikasikan bahwa strategi CTL layak diimplementasikan sebagai alternatif pembelajaran mufrodat yang inovatif dan kontekstual di tingkat Madrasah Aliyah.
PENGARUH PEMAHAMAN AKIDAH AKHLAK DAN SELF CONTROL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA MAN 2 BANDAR LAMPUNG Puput Mayang Sari; Ali Murtadho; Dedy Irawan
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 2 (2025): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Desember 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i2.1213

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemahaman Akidah Akhlak dan self control terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Aliyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI MAN 2 Bandar Lampung, dengan sampel sebanyak 99 siswa kelas XI IPS yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa angket skala Likert Empat poin untuk mengukur pemahaman Akidah Akhlak dan self control, sedangkan prestasi belajar diukur melalui dokumentasi nilai Ujian Akhir Semester. Instrumen penelitian telah diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan program IBM SPSS, yang diawali dengan uji prasyarat analisis dan dilanjutkan dengan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman Akidah Akhlak dan self control secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Secara parsial, pemahaman Akidah Akhlak berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar dengan kontribusi yang lebih dominan dibandingkan self control. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa sebagian besar variasi prestasi belajar siswa dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai Akidah Akhlak dan kemampuan pengendalian diri merupakan faktor penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa Madrasah Aliyah.
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Moderasi: Pembentukan Sikap Moderat Siswa SMP Negeri 1 Kelumbayan Barat Ahmad Mukhlis; Wan Jamaluddin; Dedy Irawan
SAKALIMA: Pilar Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2026): January - March | SAKALIMA: Pilar Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan
Publisher : WISE Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70211/sakalima.v3i1.639

Abstract

Religious moderation is an important concern in Islamic Religious Education because students need to develop tolerance, fairness, openness, and respect for diversity in increasingly complex social and digital environments. This study aims to analyze the role of Islamic Religious Education teachers in developing students’ moderate attitudes at SMP Negeri 1 Kelumbayan Barat, with particular attention to the strategies used and the supporting and inhibiting factors in the process. This research employed a qualitative descriptive approach. The study was conducted at SMP Negeri 1 Kelumbayan Barat, Tanggamus Regency, Lampung, involving Islamic Religious Education teachers, ninth-grade students, the principal, and relevant school personnel selected through purposive sampling. Data were collected through classroom observation, in-depth semi-structured interviews, and documentation. The data were analyzed thematically through data reduction, data display, and conclusion drawing, while validity was strengthened through source and technique triangulation. The findings indicate that teachers developed students’ moderate attitudes through contextual learning, group discussion, question-and-answer activities, storytelling, case-based learning, personal guidance, role modeling, religious activities, and school habituation programs. Supporting factors included school leadership, collaboration among teachers, parental support, religious activities, and a positive school culture. The main obstacles were peer influence, social media exposure, family background, and students’ limited ability to manage differences constructively. This study implies that Islamic Religious Education can serve as a strategic medium for strengthening tolerance, peaceful interaction, and inclusive character formation in schools.