Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SANGGAR BUDAYA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DI KABUPATEN MUNA Muhammad Safar
GARIS Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55679/garis.v7i1.26203

Abstract

Kabupaten Muna merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara yang terdiri dari berbagai suku yang memiliki berbagai macam corak budaya. Salah satu budaya Muna yang telah diangkat menjadi kegiatan internasional yaitu festival layang-layang tradisional, selain itu Muna juga memiliki tarian nasional yang seringkali ditampilkan pada festival budaya daerah maupun nasional. Namun, belum tersedianya wadah untuk pembelajaran dan pertunjukan kesenian budaya, sehingga dapat menurunkan ketertarikan masyarakat khususnya para remaja. Hal tersebut menjadi latar belakang dibutuhkannya Sanggar Budaya Muna untuk melestarikan serta meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap kesenian budaya Muna. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mendapatkan desain bangunan yang menerapkan pendekatan arsitektur berkelanjutan namun tetap dapat memfasilitasi segala kegiatan kesenian dan budaya. Perancangan ini dilakukan dengan metode studi literatur, observasi langsung dan studi banding yang kemudian dilanjutkan dengan analisis data yang menghasilkan konsep perancangan, desain, dan maket. Hasil yang diperoleh, yaitu desain Sanggar Budaya Muna dengan pendekatan Arsitektur Berkelanjutan diaplikasikan pada sistem pencahayaan dan penghawaan, penerapan strategi energi, konservasi air, pengelolalaan limbah, penggunaan material lokal pada fasad bangunan, penerapan strategi ekonomi, serta pelestarian budaya pada pola fasad motif batik daerah, serta bangunan utama yang mencerminkan identitas daerah.Kata Kunci: Sanggar Budaya, Arsitektur Berkelanjutan, Kabupaten Muna
Social Criticism in The Novel Lebih Senyap Dari Bisikan by Andina Dwifatma: Kritik Sosial dalam Novel Lebih Senyap dari Bisikan Karya Andina Dwifatma Muhammad Safar; Irianto Ibrahim; La Tike; Nur Israfyan Sofian
Jurnal Casa Cendekia Vol 1 No 3 (2026): Juscia (Jurnal Sastra Cendekia), Vol. 1 No. 3, July 2026.
Publisher : CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66225/122fqg49

Abstract

Literary works provide not only aesthetic experience but also a medium for criticizing unequal social realities. This study aims to describe forms of social criticism in Andina Dwifatma's novel Lebih Senyap dari Bisikan [Quieter than a Whisper] and to explain their contribution to sociological literary studies and literature learning. The research employed a descriptive qualitative method using a sociology of literature approach. The primary data source was the 2021 Gramedia Pustaka Utama edition of Lebih Senyap dari Bisikan, and the data consisted of narrative units, dialogues, and events representing social criticism. The data were collected through intensive reading, note-taking, coding, classification, and interpretive validation based on Soekanto's categories of social problems as adapted in literary sociology. The findings reveal 23 units of social criticism distributed into eight categories: family disorganization 7 units (30.43%), education 4 (17.39%), poverty 3 (13.04%), religion 3 (13.04%), youth in modern society 3 (13.04%), crime 1 (4.35%), bureaucracy 1 (4.35%), and environmental issues 1 (4.35%). The most dominant criticism concerns family vulnerability, particularly gendered inequality, reproductive pressure, domestic violence, and failed marital communication. The study concludes that the novel does not merely portray household problems but also reveals the interconnection among poverty, social institutions, religion, education, modern culture, and the female body. Its contribution lies in strengthening sociological readings of contemporary Indonesian prose and offering a socially responsive model for literature learning materials.