Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU MELALUI EDUKASI DAN PELATIHAN PRAKTIK PEMBERIAN MAKANAN BAYI DAN ANAK (PMBA) SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAHURIPAN Taufiq Firdaus Al-Ghifari Atmadja; Lutfi Yulmiftiyanto N.; Kosasih Adi Saputra; Nur Arifah Qurota A’yunin
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.16856

Abstract

ABSTRAKStunting adalah akibat dari kekurangan gizi jangka panjang dan mengganggu upaya untuk mencapai tingkat perkembangan mental dan fisik yang ideal. Stunting pada anak meningkatkan risiko kematian, gangguan perkembangan motorik, gangguan bahasa, dan ketidakseimbangan fungsional. Upaya pencegahan stunting perlu diimbangi dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan para kader dan orang tua sebagai ujung tombak pelayanan. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam membantu penanggulangan masalah gizi melalui Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan keluarga melalui peningkatan pengetahun dan keterampilan kader posyandu dan ibu balita mengenai edukasi dan pelatihan PMBA dalam bentuk pembuatan MPASI. Pengabdian masyarakat dilakukan kepada 21 peserta yang terdiri dari kader posyandu dan ibu balita pada tanggal 08 Juli 2023 di Madrasah Al-Istiqomah, Kahuripan, Kota Tasikamalaya. Hasilnya menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan peserta antara sebelum (66,71) dan setelah edukasi (88,57). Edukasi gizi terbukti efektif meningkatkan pengetahuan kader posyandu dan ibu balita mengenai PMBA. Kata kunci: kader posyandu; stunting; balita. ABSTRACTStunting is the result of long-term malnutrition and interferes with achieving an ideal level of mental and physical development. Stunting in children increases the risk of death, impaired motor development, language disorders, and functional imbalances. Stunting prevention efforts need to be balanced with increased knowledge and skills of cadres and parents as the spearhead of services. One of the efforts to increase knowledge and skills in helping to overcome nutritional problems is through Infant and Child Feeding (IYCF). This community service activity aims to improve family health through increasing the knowledge and skills of posyandu cadres and mothers of toddlers regarding IYCF education and training in the form of making MPASI. Community service was carried out for 21 participants consisting of posyandu cadres and mothers of toddlers on July 8, 2023 at Madrasah Al-Istiqomah, Kahuripan, Tasikamalaya City. The results showed that there was an increase in participants' knowledge between before (66.71) and after education (88.57). Nutrition education has been proven to be effective in increasing the knowledge of posyandu cadres and mothers of toddlers about IYCF. Keywords: posyandu cadres; stunting; toddler.
KARAKTERISTIK BISKUIT SUBSTITUSI TEPUNG UMBI GANYONG (Canna discolor)DAN TEPUNG IKAN GABUS (Channa striata) SEBAGAI CAMILAN SEHAT BALITA Lutfi Yulmiftiyanto Nurhamzah; Mufti Ghaffar; Yana Listyawardhani
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 9 No. 6 (2024): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/aeeqt260

Abstract

Selain rasa yang lezat, salah satu hal yang penting dalam pengembangan produk biskuit yaitu kandungan nutrisinya. Ikan gabus merupakan ikan air tawar yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pangan karena mengandung protein cukup tinggi. Umbi ganyong diketahui mengandung karbohidrat yang tinggi, sehingga baik digunakan untuk bahan utama produk pangan yang tinggi energi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sensori dan nilai gizi biskuit substitusi tepung ikan gabus dan tepung umbi ganyong sebagai camilan sehat balita. Pada penelitian ini terdapat 3 formulasi perlakuan dengan persentase berdasarkan jumlah tepung ikan gabus dan tepung umbi ganyong yaitu F1 (tepung ikan gabus 15% : tepung umbi ganyong 25%), F2 (20% : 20%), dan F3 (25% : 15%). Sedangkan untuk perlakuan kontrol (F0) menggunakan persentase 100% tepung terigu. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dilanjutkan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil uji organoleptik biskuit substitusi tepung ikan gabus dan tepung umbi ganyong memiliki rata-rata kesukaan aspek warna sebesar 3,00 – 4,20, aroma sebesar 2,29 – 4,37, rasa sebesar 2,46 – 3,94, dan tekstur sebesar 2,80 – 3,89. Biskuit dengan perlakuan terbaik mengandung kadar air 7,25%, kadar abu 5,44%, kadar lemak 19,65%, kadar protein 13,06%, kadar karbohidrat 52,66%, kadar serat kasar 1,94% yang sudah memenuhi standar SNI SNI 01-7111.2-2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biskuit yang dibuat dapat dijadikan sebagai camilan sehat balita