Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Faktor Resiko Yang Mempengaruhi Kejadian Stunting Pada Balita Di Puskesmas Limboto Sri Steviyani Daud; Zuriati Muhamad; Rizky Nikmathul Husna Ali
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.395

Abstract

Stunting adalah salah satu masalah gizi kronis yang berdampak serius pada tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor resiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Limboto. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan case control, melibatkan 50 responden yang terdiri dari 25 balita stunting dan 25 balita tidak stunting. Pengumpulan data di lakukan melalui kuisioner dan dianalisis dengan uji chi-square dan perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting (p=0,000) dengan nilai OR=21, yang berarti ibu dengan dengan riwayat KEK memiliki resiko 21 kali lebih besar melahirkan anak stunting di bandingkan ibu tanpa riwayat KEK. Sementara itu, faktor pendapatan keluarga (p=0,440) OR = 1,83 dan pekerjaan ibu (p=0,221) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Kesimpulannya, riwayat KEK merupakan faktor resiko utama dalam kejadian stunting. Oleh karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil sangat penting sebagai langkah pencegahan stunting sejak dini.
Pengaruh Audio Visual Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif Dalam Pencegahan Stunting Di Wilayah Puskesmas Limboto Anisa Cahyani S. Hasan; Zuriati Muhamad; Andi Nur Aina Sudirman; Dewi Modjo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.396

Abstract

Air Susu Ibu (ASi) merupakan makanan pertama dan utama bagi bayi ASl eksklusif pada bayi dapat mengurangi kematian akibat infeksi hingga 80% dan juga dapat membantu mengurangi risiko stunting. Pendidikan kesehatan tentang pemberian ASI eksklusif merupakan faktor penting yang dapat memengaruhi pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis Pengaruh Audio Visual Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang ASl Ekskisif Dalam Pencegahan Stunting di Wilayah Puskesmas Limboto. Metode penelitian ini menggunakan Probability sampling dengan teknik cluster sampling, dengan jumiah sampel sebanyak 30 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu pre-test skor 16.17 dan post-test skor 27.28 meningkat dengan nilai rata - rata skor 11.20 dengan nilai P.valeu 0.000. Temuan peneliti menghasilkan kesimpulan bahwa pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif meningkat setelah di berikan edukasi melalui audio visul Di Wilayah Puskesmas Limboto.
Exclusive Breastfeeding and Complementary Feeding on Stunting Children Among 12-24 Months: A Retrospective Study Dewi Modjo; Zuriati Muhamad; Aurelia Intan Sitty Aisyah P.S.P Oei
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2025.142.1201-1206

Abstract

This study aimed to analyze the relationship between the exclusive breastfeeding and complementary feeding, as well as the incidence of stunting in children between the ages of 12-24 months. An observational analytical study design with a cross-sectional approach was applied to examine the relationship between independent variables (knowledge of exclusive breastfeeding and complementary feeding) and the dependent variable (stunting). This study was conducted in the working area of the Kota Tengah Health Center working area. The results showed significant relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in children (r: 0.541) with a p-value of 0.000 (p-value < 0.05), as well as a significant relationship between complementary feeding and the incidence of stunting in children (r: 0.332) with a p-value of 0.000 (p-value < 0.05). This study provides valuable information to mothers, highlighting the causes of stunting and promoting preventative measures to minimize its occurrence, such as carrying out consultations at the health care centre with personnel or professionals and addressing cases promptly.
Gambaran Pola Konsumsi Rebusan Seledri (Apium Graveveolens L.) Terhadap Penderita Asam Urat Pada Usia Produktif di Kelurahan Hutuo Kabupaten Gorontalo Rona Febriyona; Andi Nur Aina Sudirman; Zuriati Muhamad; Dhea Ananda Mokodongan
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i9.16141

Abstract

ABSTRACT Factors that cause gout are caused by foods or drinks that contain purines. Management of gout is non-pharmacological treatment or with traditional medicines that can reduce uric acid levels in the body, such as celery plants. To determine the description of consumption patterns of celery stew (Apium Graveveolens L.) for gout sufferers at productive age in Hutu'o Village, Gorontalo Regency. Using descriptive quantitative research which is a research method that describes the characteristics of the population or phenomenon being studied. The study found that the highest proportion of gender characteristics of most respondents who consumed celery stew were female, namely 10 respondents (66.7%). Based on age, it can be seen that the average age of gout sufferers is 56-65 years as many as 9 respondents (60.0%). Based on education, it can be seen that most of the respondents who suffer from gout with the last education of elementary school, namely 8 respondents (55.3%). Based on the work of the most respondents who suffered from gout were categorised as housewives, namely 9 respondents (60.0%). Many female respondents who suffer from gout, at the age of 56-65 have begun to experience physiological changes including a decrease in drug metabolism, the respondent's education level can be related to the level of knowledge. the most respondents who consume celery stew are housewives. Keywords: Apium Graveveolens L, Gout, Consumption, Celery Decoction  ABSTRAK Faktor yang menyebabkan penyakit asam urat yaitu disebabkan karena makanan atau minuman yang mengandung purin. Penatalaksanaan pada asam urat (gout) yaitu pengobatan secara non-farmakologis atau dengan obat-obatan tradisional yang dapat menurunkan kadar asam urat di tubuh adalah seperti tanaman seledri. Untuk mengetahui gambaran pola konsumsi rebusan seledri (Apium Graveveolens L.) terhadap penderita asam urat pada usia produktif di Kelurahan Hutu’o Kabupaten Gorontalo. Menggunakan penelitian kuantitatif deskriptif yang merupakan metode penelitian yang menggambarkan karakteristik populasi atau fenomena yang sedang diteliti. Penelitian didapatkan bahwa proporsi terbanyak pada karakteristik jenis kelamin sebagian besar responden yang mengkonsumsi rebusan seledri berjenis kelamin perempuan yaitu 10 responden (66.7%). Berdasarkan usia dapat diketahui rata-rata usia penderita asam urat 56-65 tahun sebanyak 9 responden (60.0%). Berdasarkan pendidikan dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang menderita asam urat dengan pendidikan terakhir SD yaitu 8 responden (55.3%). Berdasarkan pekerjaan responden terbanyak yang menderita asama urat dikategorikan dalam IRT yaitu sebanyak 9 responden (60.0%). Banyak responden perempuan yang menderita asam urat, di usia 56-65 sudah mulai mengalami perubahan fisiologis diantaraya penurunan metabolisme obat, tingkat pendidikan responden dapat dikaitkan dengan tingkat pengetahuan. responden terbanyak yang mengosumsi rebusan seledri adalah ibu rumah tangga. Kata Kunci: Gout Arthritis, Jahe, Kompres Hangat, Nyeri, Serai
Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Seimbang Dan Berkualitas Dengan Status Gizi Bayi 6-12 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Batudaa Alit Caesar Apriyanto Poiyo; Zuriati Muhamad; Wiwi Susanti Piola
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.663

Abstract

Status gizi bayi usia 6–12 bulan merupakan indikator penting kesehatan dan tumbuh kembang anak. Di wilayah kerja Puskesmas Batudaa, meskipun cakupan layanan kesehatan tinggi, prevalensi gizi kurang dan buruk masih ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) seimbang dengan status gizi bayi usia 6–12 bulan. Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional dengan pendekatan kuantitatif analitik, Desain ini dipilih karena mampu menggambarkan hubungan antara variabel independen dan dependen secara simultan dalam satu waktu pengukuran, sehingga sesuai untuk mengidentifikasi keterkaitan praktik MP-ASI dengan status gizi bayi. Sampel berjumlah 46 bayi dipilih menggunakan teknik two stage cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 32,6% responden memiliki praktik pemberian MP-ASI baik, 34,8% sedang, dan 32,6% kurang. Status gizi bayi terdiri dari 47,8% normal, 45,7% kurang, dan 6,5% buruk. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara pemberian MP-ASI seimbang dengan status gizi bayi (p = 0,008). Disimpulkan bahwa kualitas MP-ASI seimbang berperan penting dalam menentukan status gizi bayi Temuan ini mengindikasikan bahwa bayi yang menerima MP-ASI dengan kualitas gizi seimbang cenderung memiliki status gizi yang lebih baik dibandingkan bayi dengan praktik pemberian MP-ASI yang kurang optimal. Diperlukan intervensi edukatif yang terfokus pada peningkatan kualitas MP-ASI di tingkat keluarga dan komunitas, Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat komunitas, dalam menyusun strategi edukasi gizi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Hubungan Pengetahuan Dan Budaya Dalam Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Di Puskesmas Limboto Prisilia Husain; Zuriati Muhamad; Wiwi Susanti Piola
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.805

Abstract

Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan kesehatandan tumbuh kembang bayi. Namun, cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia, khususnya di wilayah kerjaPuskesmas Limboto, masih belum optimal. Rendahnya praktik pemberian ASI eksklusif dipengaruhi olehberbagai faktor, di antaranya pengetahuan ibu dan budaya yang berkembang di masyarakat. Tujuan Penelitian :untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan budaya dalam pemberian ASI eksklusif pada bayi di PuskesmasLimboto. Metode Penelitian : penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 3–6 bulan di wilayah kerja PuskesmasLimboto sebanyak 42 responden dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakankuesioner pengetahuan, budaya, dan pemberian ASI eksklusif. Analisis data dilakukan secara univariat danbivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian : Hasilpenelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki budaya yang mendukung pemberian ASIeksklusif sebanyak 23 orang (54,8%), sedangkan ibu yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 19 orang(45,2%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu denganpemberian ASI eksklusif dan terdapat hubungan yang signifikan antara budaya dengan pemberian ASI eksklusifdengan nilai p-value = 0,000 (p &lt; 0,05). Kesimpulan : penelitian ini adalah pengetahuan dan budaya memilikihubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi di Puskesmas Limboto.