Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Pengaruh Suhu Terhadap Parameter Fisik Pisang Kepok (Musa acuminata) Selama Penyimpanan Dimas Triardianto; Adhima Adhamatika; Adi Sucipto
AGROSAINTIFIKA Vol. 5 No. 1 (2022): November
Publisher : LPPM Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32764/agrosaintifika.v5i1.3160

Abstract

Bananas are the leading fruit commodity with the highest production in Indonesia. Apart from the taste that bananas like, it has excellent nutritional content for humans. One of the varieties of bananas that are often consumed is the kepok banana. Because it is included in the climacteric fruit, kepok bananas undergo a ripening and ripening process after being harvested, this makes their storage period short. Postharvest handling for fruit commodities that is often encountered is cold storage. The purpose of this study was to determine the effect of storage temperature on the quality of the physical parameters of kepok bananas, namely total dissolved solids, weight loss, and hardness during the storage period. The study was designed by storing bananas for twelve days at three different temperatures, namely 15oC, 20oC, and 28oC (room temperature). Storage room temperatures of 15oC and 20oC are carried out in cold storage, while temperatures of 28oC are carried out in room temperature. Storage was carried out for 12 days, by measuring the physical quality of kepok bananas, namely TPT (Total Dissolved Solids) using a refractometer, Weight Loss using digital scales, and Hardness using a pressure test tool on days 3, 6, 9, and 12. The results showed that the storage temperature of 15oC made the rate of change of physical parameters in kepok bananas slower than other temperatures. At the same time, the storage temperature of 28oC made the rate of change of physical parameters in kepok bananas the fastest compared to different temperatures.
Analisis Neraca Massa dan Energi Pembuatan Keripik Kentang (Solanum tuberosum L) Adhima Adhamatika; Aulia Brilliantina; Elok Kurnia Novita Sari; Rizza Wijaya; Dimas Triardianto; Adi Sucipto
JUSTER : Jurnal Sains dan Terapan Vol. 2 No. 1 (2023): JUSTER: Jurnal Sains dan Terapan
Publisher : Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keripik kentang merupakan produk yang paling banyak digemari dengan tekstur kering renyah dan dibuat melalui pengupasan, pengirisan, perendaman dan penggorengan. Setiap proses pengolahan perlu diketahui kapasitas serta efisiensi energi yang digunakan, sehingga perlu dilakukan perhitungan neraca massa dan energi serta rendemen dan susut bobot pada pembuatan keripik kentang. Perhitungan neraca massa yang ada menghasilkan nilai rendemen dan susut bobot pada setiap prosesnya. Perhitungan neraca energi bertujuan untuk menentukan efisiensi energi pada suatu proses. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis neraca massa dan energi pada pembuatan kerupik kentang (Solanum tuberosum L.). Penelitian dilakukan dengan menghitung massa dan energi dari setiap proses pembuatan keripik kentang untuk diketahui kesetimbangannya. Hasil pengamatan didapatkan jika keripik kentang yang dihasilkan dari 2.106 gram kentang segar yaitu sebesar 1.527 gram. Rendemen penggorengan keripik kentang didapatkan sebesar 31,46%. Susut bobot tertinggi terjadi pada proses penggorengan dengan nilai sebesar 68,54%.
Penerapan Life Cycle Assessment (LCA) Untuk Mengurangi Dampak Lingkungan Pada Proses Produksi Gula Kristal Putih Di Bondowoso Aulia Brilliantina; Adhima Adhamatika; Elok Kurnia Novita Sari; Rizza Wijaya; Dimas Triardianto; Adi Sucipto
JUSTER : Jurnal Sains dan Terapan Vol. 2 No. 1 (2023): JUSTER: Jurnal Sains dan Terapan
Publisher : Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara agraris dengan iklim subtropis. Tanaman tebu bisa tumbuh dengan subur, bahkan Indonesia dikenal sebagai pionir tebu di dunia. Sebuah pabrik gula selalu menghasilkan limbah dalam operasionalnya setiap musim giling. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui untuk mengetahui penanganan limbah yang dihasilkan industri pengolahan gula terhadap lingkungan sekitar dengan metode LCA (Life Cycle Assessment). LCA adalah pendekatan yang digunakan untuk menilai input, output dan potensi kerusakan lingkungan dari produk energi yang baik selama siklus hidupnya Siklus hidup gula dimulai dari proses penggilingan tebu hingga menjadi produk gula. LCA dapat digunakan untuk menganalisis limbah produksi gula kristal putih. Pada proses produksi, losses yang dihasilkan menunjukkan limbah pabrik gula semakin meningkat, baik berupa limbah padat, cair, udara, maupun B3. Pemanfaatan kembali limbah padat dilakukan dengan menggunakan ampas dan blotong sebagai bahan baku kompos, ampas sebagai energi listrik, dan tetes tebu sebagai bahan baku industri etanol, alkohol, dan MSG. Penggunaan kembali gas buang CO2 untuk pemurnian nira sebagai pengganti gas SO2. Sedangkan limbah cair didaur ulang dalam proses pengolahan.
Rancang Bangun Alat Deteksi Dan Pengukur Gas Emisi Karbondioksida (CO2) Dan Gas Emisi Metana (CH4) Berbasis Mikrokontoler Adi Sucipto; Aulia Brilliantina; Elok Kurnia Novita Sari; Rizza Wijaya; Dimas Triardianto; Adhima Adhamatika
JUSTER : Jurnal Sains dan Terapan Vol. 2 No. 1 (2023): JUSTER: Jurnal Sains dan Terapan
Publisher : Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan iklim yang terjadi di bumi saat ini sangat dipengaruhi oleh gas emisi rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai sektor. gas yang digolongkan sebagai gas emisi rumah kaca yaitu karbondioksida (CO2), gas metan (CH4), dinitrogen klorofluorokarbon (CFC), dan gas-gas organik non metal volatile. Gas-gas rumah kaca yang dinyatakan paling berkontribusi terhadap gejala pemanasan global adalah CO2 dan CH4. Gas karbon dioksida (CO2) memberikan kontribusi terbesar terhadap pemanasan global diikuti oleh gas methan (CH4). Lebih dari 75 % komposisi gas emisi rumah kaca di atmosfir adalah CO2 sehingga apabila kontribusi CO2 dari berbagai kegiatan dapat dikurangi secara signifikan maka ada peluang bahwa dampak pemanasan global terhadap perubahan iklim akan berkurang. Oleh karena itu, diperlukan sebuah alat yang dapat menghitung gas emisi rumah kaca sebagai alat ukur untuk menghitung gas emisi rumah kaca yang dihasilkan pada sebuah industri. Sehingga dari hasil pengukuran tersebut dapat diambil tindakan evaluasi agar gas emisi yang dihasilkan tidak melebihi ambang batas. Alat pengukuran gas emisi karbondioksida dan gas metana dirancang dengan menggunakan sensor MQ-4 dan MQ-135 dengan mikrokontroller Arduino. Hasil pengukuran gas dapat terlihat di layar laptop. Pengujian sistem perancangan alat deteksi gas emisi karbondioksida dan gas metana secara menunjukan dapat berjalan dengan baik. Hal ini ditujukan saat alat tersebut dikenakan oleh gas karbondioksida dan gas metana mengakibatkan lampu menyala. Sementara, ketika tidak dikenai gas emisi karbondioksida dan gas metana, lampu indikator tidak menyala.
Potensi Pupuk Organik Cair Limbah Kulit Kopi Robusta (Coffea canephora L.) di Perumda Perkebunan Kahyangan Jember Aulia Brilliantina; Yossi Wibisono; Elok Kurnia Novita Sari; Adhima Adhamatika; Dimas Triardianto; Prayitno Prayitno; Nisa Budi Arifiana
ORYZA ( JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI ) Vol 12 No 1 (2023): ORYZA: Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi STKIP Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/oz.v12i1.1047

Abstract

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang paling banyak diminati didunia, termasuk di Indonesia. Indonesia merupakan negara terbesar keempat sebagai penghasil biji kopi terbanyak di dunia pada tahun 2020 sebanyak 726,38 ribu ton. Perumda Perkebunan Kahyangan merupakan salah satu BUMD pemnghasil biji kopi robusta terbanyak di Indonesia dengan areal tanaman kopi robusta seluas 760 Ha dengan produktivitas 300 ton biji kopi/tahun dan cukup berpotensi untuk mendukung tekad Pemkab Jember sebagai kota kopi robusta di Indonesia. Permasalahan yang sering terjadi yaitu banyaknya limbah kulit kopi yang dihasilkan perumda selama produksi yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini mengangkat potensi kulit kopi sebagai bahan baku utama POC. Hasil pengujian didapatkan bahwa POC dari limbah kulit kopi memenuhi standar mutu pupuk cair dari Kementrian Pertanian. Hasil ini menunjukkan potensi untuk dikembangkan lebih jauh dari POC kulit kopi dengan N-total sebesar 0,084%, C-ogranik sebesar 0,065%, P2O5 0,026%, K2O 0,071%, Fe 43,412 ppm, Mn 99,644 ppm, C/N Ratio 0,780%, Trichoderma sp. 2,83 x 105 cfu/ml, dan Aspergillus sp 1,81 x 105 cfu/ml.
Analisis Korelasi Parameter Fisik Pasca Panen Buah Pisang Kepok Selama Penyimpanan dengan Metode Principal Component Analysis (PCA): Analysis of Post-Harvest Physical Parameter Correlation of Kepok Banana Fruit During Storage Using Principal Component Analysis (PCA Dimas Triardianto; Nursigit Bintoro
Jurnal Teknik Pertanian Terapan Vol. 1 No. 2 (2024): Februari
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jtpt.v1i2.4704

Abstract

Indonesia sebagai negara tropis, memiliki letak geografis, iklim, dan sumber daya alam yang sangat mendukung pertumbuhan berbagai jenis tanaman produktif, termasuk buah pisang kepok. Pisang kepok, sebagai jenis buah klimaterik, menunjukkan tingkat respirasi dan produksi gas etilen (C2H4) yang tinggi setelah dipanen, menyebabkan proses fisiologis dan pematangan terus berlanjut hingga akhirnya buah menjadi layu dan membusuk selama penyimpanan. Principal Component Analysis (PCA) merupakan metode analisis yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi korelasi antar parameter. Dalam hasil analisis PCA, ditemukan bahwa faktor-faktor tertentu dapat menjelaskan parameter etilen sebesar 97,7%; RO2 sebesar 50,7%; brix sebesar 97,4%; kadar air sebesar 57,3%; pH sebesar 77,8%; kadar air 87,3%; kekerasan sebesar 95,7; hue angle sebesar 97,4%, dan chroma sebesar 98,2%. Varians yang dijelaskan oleh PC 1 adalah sebesar 52,8%, sedangkan PC 2 menjelaskan sebesar 29,4%. Jumlah kontribusi kedua faktor tersebut adalah sebesar 82,2%. Korelasi antar parameter ini terjadi akibat peningkatan laju respirasi dan konsentrasi etilen, yang menyebabkan perubahan metabolisme pada parameter kualitas buah pisang kepok. Peningkatan nilai laju respirasi dan konsentrasi etilen berkorelasi sejalan dengan parameter kadar air, susut bobot, hue angle, dan chroma selama penyimpanan. Sebaliknya, peningkatan laju respirasi berkorelasi terbalik dengan nilai pH dan kekerasan.
Uji Kinerja Fermenting Machine Pada Proses Oksidasi Enzimatis Teh Hitam Ctc (Crushing, Tearing, Curling): Performance Test of a Fermenting Machine in Tea Enzymatic Oxidation Process of CTC Black Tea (Crushing, Tearing, Curling) Dimas Triardianto; Nanda Pratama
Jurnal Teknik Pertanian Terapan Vol. 2 No. 1 (2024): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jtpt.v2i1.5301

Abstract

Proses oksidasi enzimatis adalah salah satu proses kunci dalam pengolahan teh yang menentukan warna, rasa, dan aroma teh. Proses ini dimulai pada tahap penggulungan dan melibatkan oksidasi senyawa polifenol oleh protein polifenol oksidase, dengan suhu ideal 26,7°C dan kelembapan di atas 90%. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan warna partikel bubuk teh sebelum dan setelah oksidasi enzimatis menggunakan mesin fermentasi, serta menilai kapasitas kerja mesin, kecepatan belt conveyor, dan konsumsi energi listrik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung pada mesin dan perhitungan dari parameter yang dicari. Hasil uji menunjukkan bahwa sebelum proses oksidasi, partikel bubuk teh berwarna hijau dengan nilai RGB redness 68, greenness 77, dan blueness 15. Setelah oksidasi, warna bubuk teh berubah menjadi cokelat dengan nilai RGB redness 100, greenness 61, dan blueness 32. Mesin fermentasi memiliki kapasitas rata-rata 741,35 kg/jam, kecepatan belt conveyor 0,98 m/s, dan konsumsi energi rata-rata 216.039.312 J.
Uji Kinerja Mesin Trinick Pada Proses Sortasi Teh Hitam Ctc (Crushing, Tearing, Curling): Performance Testing of the Trinick Machine in the Black Tea CTC (Crushing, Tearing, Curling) Sorting Process Dimas Triardianto; Giananda Saktika Kusuma Raga
Jurnal Teknik Pertanian Terapan Vol. 2 No. 1 (2024): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jtpt.v2i1.5347

Abstract

Sortasi teh adalah langkah krusial dalam produksi teh hitam CTC (Crushing, Tearing, Curling), yang bertujuan untuk menghilangkan partikel non-teh seperti tangkai, serat, pasir, dan benda asing serta untuk menyamakan ukuran dan bentuk partikel. Mesin trinick, yang digunakan dalam proses sortasi ini, memainkan peran penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas produk akhir. Penelitian ini mengevaluasi kinerja mesin trinick, khususnya model Trinick 1 dan Trinick 2, yang masing-masing memiliki enam ayakan dengan ukuran mesh 50, 30, 24, 18, 16, dan 14 untuk Trinick 1, dan 30, 24, 20, 16, 12, dan 10 untuk Trinick 2. Penelitian ini menilai kapasitas mesin, konsumsi energi, kadar air, dan rendemen, dengan fokus pada empat mutu yaitu BP (Broken Pekoe), PF (Peko Fanning), PD (Peko Dust), dan D1 (Dust 1). Hasil menunjukkan bahwa Trinick 1 memiliki kapasitas rata-rata 561 kg/jam, konsumsi energi 4646 kJ, kadar air 4,8%, dan rendemen 91,60%. Sementara itu, Trinick 2 menunjukkan kapasitas rata-rata 528 kg/jam, konsumsi energi 4516 kJ, kadar air 5,2%, dan rendemen 89%.
UJI KINERJA MESIN PENGERING TIPE VIBRO FLUID BED DRYER UNTUK PENGERINGAN TEH HITAM CTC (CRUSHING, TEARING, CURLING) : Performance Evaluation of the Vibro Fluid Bed Dryer for CTC (Crushing, Tearing, Curling) Black Tea Drying Dimas Triardianto; Aldy Ramadhan Putra; Casilda Aulia Rakhmadina
Jurnal Teknik Pertanian Terapan Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jtpt.v2i2.5933

Abstract

Pengeringan merupakan proses penting dalam pengolahan teh yang bertujuan untuk menghilangkan kandungan air pada bahan dengan menggunakan energi panas. Dalam penelitian ini, proses pengeringan bubuk teh basah dilakukan menggunakan mesin Vibro Fluid Bed Dryer (VFBD). Metode penelitian meliputi pengamatan langsung dan pengukuran parameter uji pada mesin untuk mengevaluasi kinerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas kerja mesin VFBD, laju pengeringan pada pengolahan teh hitam CTC, konsumsi energi yang diperlukan, serta efisiensi pengeringannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kapasitas kerja mesin VFBD adalah 258,17 kg/jam, dengan rata-rata laju pengeringan sebesar 472,84 kgH₂O/jam. Konsumsi energi rata-rata yang dibutuhkan adalah 6.594.044,58 J/kg, sedangkan efisiensi pengeringannya mencapai rata-rata 25,14%.