Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Identification of Skull Base Fracture Complications Estie R.I. Putri; Eko Prasetyo; Angelica M. J. Wagiu
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37717

Abstract

Abstract: Fracture of skull base often occurs in traumatic brain injury (TBI) cases and is one of the leading causes of high morbidity and mortality. It can extend beyond the base of the front, middle, or back cranial fossa and cause various complications according to the location of the fractures. This study aimed to identify the complications in cases of fractures of the skull base. This was a literature review study using three databases, as follows: Google Scholar, ClinicalKey and PubMed. The results obtained 30 articles that met the inclusion and exclusion criteria. Complications of vascular injury, intraorbital injury, cerebrospinal fluid (CSF) rhinorrhea could lead to further complications such as meningitis and anosmia in fractures of the front part of skull base; vascular injury, CSF otorrhoea, vertigo, sensorineural or conductive deafness, injuries of II-VIII nerves, and Horner's syndrome in fractures of the middle part of skull base; and vascular injury, nerve injury IX-XII, and cervical injury to coma in fractures of the back part of the skull base. In conclusion, there are a variety of complications that could occur in skull base fractures depending on the location of the fractures.Keywords: complications; skull base fractures; traumatic brain injury (TBI) Abstrak: Patah tulang dasar kepala sering terjadi pada penderita cedera otak akibat trauma (COT), dan merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas terbanyak. Patah tulang dasar kepala yang terjadi dapat meluas melewati dasar fossa kranial bagian depan, tengah atau belakang dan menyebabkan berbagai komplikasi sesuai dengan lokasi terjadinya fraktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komplikasi yang dapat terjadi pada kasus patah tulang dasar kepala. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Literatur diperoleh melalui tiga database yaitu Google Scholar, ClinicalKey, dan PubMed. Hasil penelitian mendapatkan 30 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Terdapat komplikasi cedera vaskuler, cedera intraorbita, rhinorrhea cerebrospinal fluid (CSF) hingga menyebabkan komplikasi lanjutan seperti meningitis dan anosmia pada patah tulang dasar kepala bagian depan; cedera vaskuler, otorrhea CSF, vertigo, ketulian konduktif/sensorineural, cedera nervus II-VIII dan sindrom Horner pada patah tulang dasar kepala bagian tengah; dan cedera vaskuler, cedera nervus IX-XII, cedera servikal hingga koma pada patah tulang dasar kepala bagian belakang. Simpulan penelitian ini ialah komplikasi yang terjadi pada kasus patah tulang dasar kepala berbeda-beda tergantung dengan lokasi terjadinya patah tulang.Kata kunci: komplikasi; patah tulang dasar kepala; cedera kepala akibat trauma
Role of 3D CT in Diagnosis of Skull Base Fractures Michelle W. Mandang; Eko Prasetyo; Stephanus J. Ch. Tangel
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37806

Abstract

Abstract: Traumatic brain injury (TBI) including skull base fracture is one of the most common medical encounters and the leading cause of disability and death. The gold standard examination for skull base fracture is computerized tomography (CT scan). Since skull base has irregular anatomy and thin bony plates, CT 3 dimension (3D CT) is needed to detect this fracture rapidly and accurately compared to conventional CT scan.  This study aimed to evaluate the use of 3D CT in the diagnosis of skull base fractures. This was a literature review study using databases of ClinicalKey, Google Scholar, and PubMed. The keywords were three-dimensional computed tomography (CT 3D) and skull base fractures. The results obtained 15 articles related to this topic. The 3D CT could detect skull base fractures more rapidly and accurately than other examinations such as X-ray, 2D CT, solid (SVR) and transparent (TVR) volume-rendering technique, and maximum intensity projection (MIP). In conclusion, 3D CT plays an important role in the diagnosis of skull base fractures.Keywords: 3D CT; skull base fractures; traumatic brain injury Abstrak: Cedera kepala akibat trauma merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian. Patah tulang dasar kepala sering terjadi pada cedera kepala akibat trauma. Pemeriksaan baku emas untuk patah tulang dasar kepala menggunakan modalitas Computerized Tomography (CT scan). Dasar kepala memiliki anatomi yang tidak beraturan dan ketebalan tulang yang tipis, sehingga penggunaan CT 3 dimensi (CT 3D) dibutuhkan untuk mendeteksi patah tulang secara cepat dan akurat dibandingkan CT scan konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas bahan pustaka dengan topik penggunaan CT 3D pada diagnosis patah tulang dasar kepala. Jenis penelitian ialah  suatu literature review. Hasil penelitian mendapatkan 15 jurnal yang berhubungan dengan topik ini. CT 3D dapat mendeteksi fraktur dasar kepala dengan lebih cepat dan akurat dibandingkan pemeriksaan lainnya, seperti X-ray, 2D CT, solid (SVR) and transparent (TVR) volume-rendering technique, dan maximum intensity projection (MIP). Simpulan penelitian ini ialah CT 3D berperan penting pada diagnosis patah tulang dasar kepala.Kata kunci: CT 3D; patah tulang dasar kepala; cedera kepala akibat trauma
Hubungan Fibronektin Serum dengan Tingkat Kesadaran Menurut Klasifikasi CT-Marshall pada Pasien Cedera Otak Sedang dan Berat akibat Trauma Diornald J. Mogi; Eko Prasetyo; Maximillian Ch. Oley; Ferdinan Tjungkagi; Yovanka N. Manuhutu
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.46563

Abstract

Abstract: Traumatic brain injury (COT) is the main cause of brain damage in the young and productive age generations. Although there is no accurate biological markers for detecting brain damages so far, many studies about fibronectin have been reported as a promising biological marker. This study aimed to obtain the relationship between serum fibronectin and level of consciousness based on CT-Marshal in patients with moderate and severe COT. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Samples that met the study criteria were taken sequentially from the study hospital without differentiating exposure status (serum fibronectin levels) or outcome (CT-Marshall category). The regression test on the main variable serum fibronectin levels with awareness using the CT-Marshall category was carried out and showed significant relationship between serum fibronectin level and the patient's CT-Marshall category. The higher the serum fibronectin level, the higher the patient's CT-Marshall category which meant that a patient had a degree of severity and poor consciousness. In conclusion, there is a significant relationship between serum fibronectin level and level of consciousness based on the CT-Marshall category in traumatic brain injury patients. Keywords: traumatic brain injury; biological markers; fibronectin; level of consciousnes                                                                                                               Abstrak: Cedera otak akibat trauma (COT) merupakan penyebab utama kerusakan otak pada generasi muda dan usia produktif. Saat ini, belum terdapat penanda biologis yang akurat untuk mendeteksi kerusakan otak traumatik ataupun menilai prognosis terkait kerusakan otak traumatik namun perhatian terhadap penanda biologis telah meningkat akhir-akhir ini yaitu antara lain fibronektin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fibronektin serum dengan tingkat kesadaran menurut klasifikasi CT-Marshall pada pasien COT sedang dan berat. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel yang memenuhi kriteria penelitian diambil berurutan dari rumah sakit tempat penelitian tanpa membedakan status paparan (kadar fibronektin serum) ataupun luaran (kategori CT-Marshall). Pengambilan data dilakukan hanya sekali untuk keseluruhan variabel selama masa pengumpulan data. Hasil uji regresi terhadap kadar fibronektin serum dengan kesadaran menggunakan kategori CT-Marshall mendapatkan adanya hubungan bermakna yaitu semakin tinggi kadar fibronektin serum, semakin tinggi pula kategori CT-Marshall pasien yang berarti pasien memiliki derajat keparahan dan kondisi kesadaran yang buruk. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara kadar fibronektin serum terhadap kesadaran menggunakan kategori CT-Marshall pada pasien cedera otak traumatik. Kata kunci: cedera otak akibat trauma; penanda biologis; fibronektin; tingkat kesadaran