Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Anak Usia Sekolah Dengan Epilepsi Di Pekanbaru Nur Allima; Riri Novayelinda; Syeptri Agiani Putri
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.481

Abstract

Pendahuluan: Epilepsi merupakan gangguan neurologis kronis yang dapat menurunkan kualitas hidup anak pada aspek fisik, psikologis, sosial, dan pendidikan. Faktor klinis serta sosial keluarga berperan penting terhadap kualitas hidup anak dengan epilepsi. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup anak usia sekolah dengan epilepsi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Metode: penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 60 anak usia 7–12 tahun yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner kualitas hidup dan karakteristik responden. Analisis yang digunakan yaitu univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman untuk variabel numerik dan uji Chi-Square untuk variabel kategorik. Karena sebagian tabel tidak memenuhi asumsi uji Chi-Square (expected count > 20%), maka digunakan uji alternatif Fisher’s Exact. Hasil: analisis univariat menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (65%) dengan kategori kualitas hidup terbanyak adalah sedang (71,7%), diikuti tinggi (16,7%) dan rendah (11,7%). Uji Spearman menunjukkan hubungan signifikan antara frekuensi kejang dengan kualitas hidup, sedangkan usia dan lama mengalami epilepsi tidak signifikan. Uji Fisher’s Exact menunjukkan hubungan signifikan antara kualitas hidup dengan pendapatan orang tua dan pendidikan orang tua, sedangkan jenis kelamin tidak signifikan. Kesimpulan: terdapat hubungan antara frekuensi kejang, pendapatan orang tua, dan pendidikan orang tua dengan kualitas hidup anak usia sekolah dengan epilepsi.
PAKET EDUKASI HIDUP SEHAT “MINUM YANG CUKUP UNTUK ANAK CEMERLANG” DAN PEMERIKSAAN WARNA URIN SEBAGAI SKRINNING SEDERHANA UNTUK KEADEKUATAN MINUM PADA ANAK USIA SEKOLAH Syeptri Agiani Putri; Riri Novayelinda; Yufitriana Amir; Juniar Ernawaty; Ganis Indriati; Ririn Muthia Zukhra; Nurhannifah Rizky Tampubolon
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.38911

Abstract

Pendahuluan: Air merupakan komponen penting bagi tubuh manusia, yang berperan dalam berbagai fungsi vital, termasuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatur suhu tubuh, dan mendukung fungsi organ. Kebutuhan cairan yang cukup sangat penting, terutama bagi anak-anak usia sekolah yang sedang dalam masa pertumbuhan dan aktivitas fisik yang tinggi. Dehidrasi pada anak sekolah dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, penurunan daya tahan tubuh, kelelahan, dan dampak negatif lainnya terhadap kesehatan serta prestasi belajar. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi tentang pentingnya hidrasi yang cukup guna mencegah dehidrasi dan mendukung kesehatan anak-anak di sekolah. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan kebiasaan hidrasi melalui edukasi menggunakan media PowerPoint dan buku saku di SDN 166 Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan 30 siswa kelas 4 yang mengikuti edukasi dan skrining warna urin. Penilaian dilakukan melalui pre-test dan post-test dengan kuesioner serta pengukuran kepekatan warna urin sebelum dan sesudah edukasi. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan siswa dari 67,33 pada pre-test menjadi 71,67 pada post-test. Skrining urin juga menunjukkan penurunan rata-rata kepekatan warna urin dari 3,7 menjadi 3,1, yang mencerminkan perbaikan kebiasaan hidrasi siswa. Kesimpulan: Edukasi menggunakan media powerpoint dan buku saku efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kebiasaan minum air putih siswa. Program ini memberikan dampak positif pada kesehatan dan konsentrasi belajar siswa, serta mendorong pembentukan pola hidup sehat dengan cukup minum air putih.
Gambaran Tumbuh Kembang Pada Anak Dengan Riwayat Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Wahyu Clarita; Riri Novayelinda; Ade Dilaruri
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v4i2.5296

Abstract

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah berat lahir < 2500gram terhitung dari berat badan bayi satu jam sesudah dilahirkan tanpa melihat usia kehamilan atau masa gestasi. Anak dengan BBLR cenderung memiliki keterlambatan baik dari pertumbuhan maupun perkembangan dibanding anak yang lahir dengan berat badan normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tumbuh kembang pada anak Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Penelitian ini dilakukan di ruang Perinatologi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu menggunakan teknik convenience sampling dengan jumlah sampel sebanyak 54 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner KPSP dan pengukuran antropometri. Analisis dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil analisis univariat menunjukkan responden terbanyak berada pada masa dewasa awal (70,4%), berpendidikan SMA/SMK (50,0%) serta pekerjaannya ibu rumah tangga (51,9%). Sebagian besar usia gestasi anak yang tidak cukup bulan adalah 28-35 minggu (53,7%). Untuk metode melahirkan, sebagian besarnya metode SC/Operasi (59,3%), jenis kelamin anak laki-laki (63,0%), usianya berkisar 3 - 5 bulan (37,0%). Pertumbuhan anak paling banyak berada di kondisi berat badan normal (-2SD s.d +1SD) (64,8%). Perkembangan anak sebagian besarnya ialah sesuai (77,8%). Dapat disimpulkan anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru paling banyak memiliki pertumbuhan yang normal dan perkembangan yang sesuai.
Enhancing Readiness for Discharge through Effective Teaching: A Study on Low Birth Weight Mothers in NICU Rara Angela; Riri Novayelinda; Ganis Indriati
Viva Medika Vol 17 No 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v17i3.1755

Abstract

Maternal readiness for home care is crucial for optimal LBW outcomes. However, there are still many mothers who feel unprepared. The quality of discharge teaching provided to mothers is an important factor in this readiness. This study aims to determine the relationship between the quality of discharge teaching with discharge readiness in mothers of low birth weight (LBW) in the NICU. This study used a correlational method with a cross sectional approach. The study sample was 30 respondents based on inclusion and exclusion criteria using total sampling technique. Bivariate analysis with Fisher's exact test was used to analyze the data. Of the 30 respondents, 15 (50%) had a good level of discharge teaching quality, and 19 (63.3%) demonstrated good discharge readiness. The statistical test results demonstrated a significant relationship between the quality of discharge teaching and discharge readiness in mothers of low birth weight (LBW) in the NICU (p-value 0.016 < α 0.05). Mothers who received high-quality discharge teaching had a higher proportion of readiness for discharge (75%) compared to mothers who received low/moderate quality teaching (16.7%). The quality of discharge teaching plays an important role in improving discharge readiness in LBW mothers. Therefore, efforts to improve the quality of discharge teaching are recommended through effective communication training for nurses, and use of interactive learning media.
Hubungan Perilaku Caring Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah Yang Dirawat Inap Rizka Anggraini; Riri Novayelinda; Nurhannifah Rizky Tampubolon
Healthcaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Vol : 5 No : 1 : Periode Januari 2026
Publisher : Information Technology and Science (ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/healthcaring.v5i1.7872

Abstract

Tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah perilaku caring perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah 71 responden menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner PSNCQQ dan SCAS yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis yang digunakan adalah analisis uji chi square. Hasil penelitian didapatkan 42,3% perilaku caring perawat baik dan 40,8% anak prasekolah yang dirawat inap mengalami kecemasan sedang. Hasil uji chi square menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap (p value 0,000 <  0,05). Perilaku caring perawat memengaruhi tingkat kecemasan anak sehingga perawat yang memiliki perilaku caring yang baik akan menurunkan kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap. Perawat di masa depan diharapkan dapat mengoptimalkan perilaku caring melalui pemberian informasi tindakan perawatan yang jelas, sikap ramah, serta responsif terhadap kebutuhan anak dan orang tua.
Hubungan Caring Perawat Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Jalan Di Puskesmas Payung Sekaki Izza Tunnisa; Yulia Irvani Dewi; Riri Novayelinda
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1231

Abstract

Pelayanan kesehatan di tingkat primer seperti puskesmas menuntut kualitas interaksi perawat yang baik. Perilaku caring perawat merupakan fondasi utama dalam memberikan asuhan keperawatan yang dapat memengaruhi persepsi kepuasan pasien.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku caring perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien rawat jalan di Puskesmas Payung Sekaki, Pekanbaru. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 85 responden pasien rawat jalan yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur mengenai caring perawat dan tingkat kepuasan pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil: Mayoritas responden menilai perilaku caring perawat berada pada kategori baik yaitu sebanyak 69 orang (81,2%). Namun, dari segi kepuasan secara umum, sebagian besar responden menyatakan kurang puas yaitu sebanyak 46 orang (54,1%) dan responden yang merasa puas sebanyak 39 orang (45,9%). Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara caring perawat dengan tingkat kepuasan pasien rawat jalan (p-value = 0,016 < 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara caring perawat dengan tingkat kepuasan pasien rawat jalan. Meskipun caring perawat tergolong baik, tingkat kepuasan pasien juga dipengaruhi oleh faktor sistemik pendukung pelayanan kesehatan lainnya.
HUBUNGAN PERILAKU MAKAN TERHADAP IMT (INDEKS MASSA TUBUH) PADA REMAJA Azhima Rahmatika Sasmi; Riri Novayelinda; Rismadefi Woferst
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v3i1.1011

Abstract

Periode terjadinya puncak masa pertumbuhan terjadi pada masa remaja. Puncak pada masa pertumbuhan ini akan mempengaruhi perubahan pada komposisi tubuh, aktivitas fisik, pertumbuhan yang pesat pada berat badan dan juga massa tulang. Karena hal ini, remaja sangat rentan untuk mengalami permasalahan pada gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku makan terhadap berat badan berlebih pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi dan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 160 orang dengan teknik pengambilan kluster random sampling. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner perilaku makan yang diadaptasi dari kuesioner Hidayati (2009). Hasil perhitungan uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan bermakna antara perilaku makan terhadap berat badan berlebih pada remaja p-value=0,003 (p<0.05). Didapatkan juga 52,5% (84 responden) mengalami perilaku makan yang buruk, sedangkan untuk hasil dari perhitungan IMT didapatkan 40% (64 responden) mengalami berat badan berlebih. Kesimpulan penelitian didapatkan bahwa mayoritas remaja mengalami perilaku makan yang buruk, serta ada hubungan antara perilaku makan terhadap IMT pada remaja.
Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kesepian pada Lansia yang Tinggal Bersama Keluarga Regina Dirgahayu Putri; Reni Zulfitri; Riri Novayelinda
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1452

Abstract

Latar Belakang: Lansia yang tinggal bersama keluarga masih dapat mengalami kesepian meskipun memiliki interaksi sosial, dukungan keluarga, dan spiritualitas yang baik. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup serta kesejahteraan fisik dan mental. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kesepian pada lansia yang tinggal bersama keluarga di wilayah kerja Puskesmas Payung Sekaki. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional dan metode cross-sectional. Sampel berjumlah 100 responden lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner interaksi sosial, spiritualitas, dukungan keluarga, dan kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil: Sebagian besar responden berada pada kategori lanjut usia (elderly) 60-74 tahun (77,0%), berjenis kelamin perempuan (68,0%), serta tidak bekerja (74,0%). Hasil analisis menunjukkan sebagian besar lansia memiliki interaksi sosial baik, kehidupan spiritual baik, dan dukungan keluarga baik, namun masih terdapat lansia yang mengalami kesepian. Uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara interaksi sosial, spiritualitas, dan dukungan keluarga dengan tingkat kesepian pada lansia (p 0,000 < 0,05). Kesimpulan: Lansia dengan interaksi sosial baik, spiritualitas tinggi, serta dukungan keluarga yang kuat cenderung memiliki tingkat kesepian yang lebih rendah. Sebaliknya, lansia dengan dukungan keluarga dan spiritualitas yang kurang berisiko mengalami kesepian lebih tinggi meskipun tinggal bersama keluarga. Hasil ini menegaskan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam mencegah kesepian pada lansia sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup mereka.