Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Evolution Magmatism of Nagasari Volcano Dieng, Central Java, Indonesia Dwi Fitri Yudiantoro; Intan Paramita Haty; Setia Pambudi; Elisabet Magdalena; Armala Putri; I. Takashima; M. Abdurrachman
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 7 No. 4 (2022): JGEET Vol 07 No 04 : December (2022)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2022.7.4.10084

Abstract

Nagasari Volcano, part of the Dieng volcanic complex, is one of the unique volcanoes in Central Java. Around this volcano grow eruption craters, volcanic cones, and pyroclastic flow ridges. There were several 14 eruption centers around Mount Nagasari, so it is necessary to know the development of magmatism evolution. The aims of the research to determine the evolutionary development of magmatism. The methodology used is geological mapping and petrographic analysis. The observations of rocks found in the study area include andesite lava, lapilli-tuff, fallen pyroclastic breccias, and flow pyroclastic breccias. Meanwhile, geological mapping and petrographic observations of volcanic rock samples show that the evolution of magmatism in the study area from the oldest to the youngest is basaltic magma that formed Prau Volcano in the pre-caldera period. On the other hand, magmatism in the post-caldera I period was of the type of pyroxene andesite forming the Gembol to Jimat Volcano group. In contrast, in the post-caldera II period, the hornblende-biotite andesite group formed the Dieng Kulon to Kendil group.
SEBARAN UNSUR TANAH JARANG DI SEBELAH BARAT LAUT LAPANGAN PANAS BUMI GUNUNG LAWU, KARANGANYAR, JAWA TENGAH Dian Rahma Yoni, S.T., M.T.; Intan Paramita Haty; Septyo Uji Pratomo; Setia Pambudi; Afrilta Afrilita; Idarwati Idarwati
Jurnal Ilmiah MTG Vol 13, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah MTG Volume 13 No. 2, Desember 2022
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmtg.v13i3.9394

Abstract

Sari -  Lokasi panas bumi Gunung Lawu terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Indonesia. Secara spesifik, sumber panas bumi Gunung Lawu pada penelitian ini terletak di sekitar lereng gunung sebelah barat. Hal ini ditandai dengan keberadaan manifestasi berupa air panas pada wilayah Bayanan, Balong dan Ngunut.  Manifestasi air panas yang terdapat di permukaan merupakan hasil dari proses interaksi fluida air dengan batuan di bawah permukaan bumi yang kaya akan mineral dan unsur tanah jarang. Sehingga mata air panas yang terbentuk melalui proses ini dapat mengandung unsur tanah jarang dalam jumlah yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran unsur tanah jarang yang ada di lapangan panas bumi Gunung Lawu khususnya di bagian Barat Laut serta proses interaksi yang terjadi bawah permukaan. Metode yang digunakan untuk mengetahui kandungan unsur tanah jarang dengan menggunakan analisis Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). Proses interaksi fluida dengan batuan ditunjukkan oleh beberapa unsur tanah jarang. Belum ada penelitian sebelumnya mengenai interaksi antara batuan dan fluida yang berkaitan dengan unsur tanah jarang di wilayah ini. Oleh karena itu, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan data dan informasi yang bermanfaat bagi peneliti di masa depan. Kata Kunci: Panas Bumi, Gunung Lawu, Unsur tanah jarang, ICP-MSAbstract - Lawu's geothermal field is located between Central Java and East Java, Indonesia. Specifically, Mount Lawu's geothermal resources in this study are located around the mountain's western slopes. This is marked by the existence of manifestations in the form of hot water in the Bayanan, Balong, and Ngunut areas. The manifestation of hot water found on the surface results from a process of interaction of water fluids with rocks beneath the earth's surface rich in minerals and rare earth elements. So hot springs formed through this process can contain significant amounts of rare earth elements. This study aims to determine the distribution of rare earth elements in the Mount Lawu geothermal field, especially in the Northwest part and the interaction processes that occur below the surface. The method used to determine the content of rare earth elements is by using Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) analysis. Some rare earth elements show the process of fluid interaction with rocks. There has been no previous research on the interaction between rocks and fluids related to rare earth elements in this region. Therefore, it is hoped that the results of this study can provide valuable data and information for future researchers. Keyword: Geothermal, Mount Lawu, Rare earth elements, ICP-MS
Studi Hidrogeokimia Air Tanah di Daerah Kebumen Bagian Barat, Indonesia Setia Pambudi; Budi Sulistijo; Dwi Fitri Yudiantoro; Intan Paramita Haty
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1sp (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Edisi Spesial
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1sp.9411

Abstract

Abstrak - Studi penilaian hidrogeokimia air tanah telah dilakukan di Kebumen bagian barat yang dicirikan dengan fitur karstnya berdasarkan parameter fisikokimia (pH, konduktivitas elektrik, zat padat terlarut, kesadahan, Ca2+, Mg2+, Fe3+, Mn2+, K+, Na+, Li+, and NH4+, HCO3-, Cl-, SO42-, NO2-, and NO3-). Data sampel air diambil dari 25 sumber air tanah dangkal berupa mata air, goa basah dan sumur. Data fisikokimianya mengindikasikan hanya ada kontaminasi alami maupun dari manusia yang sangat rendah. Dari diagram Piper ditunjukkan bahwa fasies air tanah yang berada di daerah ini adalah kalsium-magnesium bikarbonat yang mengindikasikan efek litologi karbonatan yang sangat kuat ke air tanah. Diagram Durov menunjukkan bahwa air tanah di daerah studi hanya mengalami pertukaran ion yang sangat rendah yang mengindikasikan kemurnian air tanah ini dari dampak kontaminasi alami maupun dampak antropogenik.Kata kunci: hidrogeokimia, air tanah, karst, Kebumen Abstract - A groundwater hydrogeochemistry assessment study has been conducted in western Kebumen, characterized by its karstic features based on physicochemical parameters (pH, electric conductivity, total dissolved solids, hardness, Ca2+, Mg2+, Fe3+, Mn2+, K+, Na+, Li+, and NH4+, HCO3-, Cl-, SO42-, NO2-, and NO3-). Water samples were taken from 25 shallow groundwater sources such as springs, wet caves, and wells. The physicochemical data indicates very low natural and/or human contamination. The Piper diagram shows that the groundwater facies in this area is calcium-magnesium bicarbonate, indicating a very strong effect of carbonate lithology on groundwater. The Durov diagram shows that the groundwater in the study area only undergoes very low ion exchange, indicating the purity of this groundwater from natural contamination or anthropogenic impacts.Keywords: hydrogeochemistry, groundwater, karst, Kebumen
Identifikasi Zona Mineralisasi Dan Struktur Pengontrol Skarn Cu Daerah Sulit Air, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat Afrilita, Afrilita; Idrus, Arifudin; Pambudi, Setia; Pratomo, Septyo Uji
Jurnal Ilmiah Geomatika Vol 2, No 2 (2022): Oktober Jurnal Ilmiah Geomatika
Publisher : Program Studi Teknik Geomatika Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1156.634 KB) | DOI: 10.31315/imagi.v2i2.9421

Abstract

Endapan skarn merupakan salah satu dari beberapa endapanhidrotermal yang menghasilkan endapan bijih yang bernilai ekonomis. Mineralisasi skarn Cu pada daerah Sulit Air sudah diketahui sejak lama, namun belum banyak penelitian rinci yang membahas tentang kontrol struktur geologi terhadap penyebaran alterasi dan mineralisasi di daerah ini. Penelitian ini membahas tentang identifikasi zona mineralisasi dan kontrol struktur geologi terhadap pola penyebaran alterasi dan mineralisasi skarn Cu. Metodologi yang digunakan yaitu analisis citra DEM dan pemetaan geologi permukaan. Zona alterasi skarn Cu terbagi kedalam empat zonasi yaitu zona piroksen-K-feldspar-klorit-epidot, zona garnet-piroksen, zona piroksen-kuarsa, dan zona garnet-wollastonit-piroksen. Mineralisasi dominan hadir pada zona alterasi garnet-wollastonit-piroksen dan zona garnet-piroksen. Mineral utama pembawa Cu berupa bornit, kalkosit, malakit, azurit dan kalkopirit. Penyebaran alterasi mengikuti pola intrusi dan sesar-sesar mendatar lokal. Zona alterasi ini mengikuti sesar mendatar kiri yang berarah utara-selatan (N-S) sedangkan zona mineralisasi mengisi rekahan-rekahan pada zona sesar mendatar kiri yang berarah utara-selatan (N-S) dan barat laut-tenggara (NW-SE). Kekar pada zona sesar terisi oleh mineral-mineral kalsit, kuarsa dan azurit yang dominan berarah berarah barat laut-tenggara dan timur laut-barat daya.
A Hydrogeochemistry Analysis for Quality Determination of Shallow Karstic Groundwater in Western Tuban, Indonesia Pambudi, Setia; Sulistijo, Budi; Iskandar, Irwan; Yudiantoro, Dwi Fitri; Haty, Intan Paramita; Ekasara, Adam Raka; Afrilita; Yoni, Dian Rahma; Pratomo, Septyo Uji
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 9 No. 04 (2024): JGEET Vol 09 No 04 : December (2024)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2024.9.04.15926

Abstract

Groundwater hydrogeochemistry and water quality assessment have been conducted in western Tuban, Indonesia, which is characterized by its karstic features based on physicochemical parameters (pH, electric conductivity, total dissolved solids, hardness, Ca2+, Mg2+, Fe3+, Mn2+, K+, Na+, Li+, NH4+, HCO3-, Cl-, SO42-, NO2-, and NO3-) from 25 shallow groundwater samples. The Piper diagram implies the groundwater is of HCO3–Ca+Mg type with some Na+K–SO4+Cl type meaning that the groundwater in Western Tuban is influenced by the silicate minerals weathering, the dissolution of carbonate lithology, and seawater intrusion. Durov diagram shows that the evolution of groundwater is influenced by ion exchange with clay minerals and by mixing with seawater. The Gibbs diagram indicates that the change in the chemistry and quality of groundwater is caused by a dominance of rock-water interaction in the Western Tuban. The water quality assessment based on the USSL and Wilcox diagrams indicates a high level of salinity and relatively low sodium, meaning that the suggested crops should have good salt tolerance, and the cultivated soil should still be able to handle the relatively low sodium level for irrigation.
Pengaruh Kemiringan Lereng dan Litologi Batuan Dasar terhadap Kadar Nikel pada Endapan Nikel Laterit di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara Lovena V.F Kenedy; Setia Pambudi
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 2 (2026): May
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i2.1751

Abstract

Indonesia holds the world's largest nickel resource potential, with significant reserves in Southeast Sulawesi dominated by lateritic deposits derived from ultramafic rock weathering. The research area is in Wolo District, Kolaka Regency, with prominent Ni prospect. This study evaluates the influence of slope gradient and bedrock lithology on Ni grade distribution within lateritic profiles. Methods included literature review, bedrock and core sampling, petrographic and XRF analyses, and ArcGIS–Surfer–Excel processing for spatial and boxplot-based correlation analysis. Results show that in Pit A, characterized by relatively flat morphology, the highest Ni grades (average 1.2%) occur in saprolite on gentle slopes (2–7°), where optimal infiltration and intensive peridotite weathering favor downward Ni enrichment, while limonite enrichment develops on moderate slopes (15–30°) over dunite. In contrast, Pit B, with steeper hill–mountain morphology, records peak Ni grades (average 1.4%) in limonite on steep slopes (30–70°), where dunite weathering combined with limited deep infiltration and leaching leads to preferential Ni retention in the limonite zone, and peridotite generally yields lower grades due to morphology-related less efficient Ni trapping.
Kontrol Kuantitatif Kemiringan Lereng Terhadap Ketebalan dan Pengkayaan Supergen Nikel Laterit: Studi Endapan Nikel Laterit di Halmahera Timur Ricki Aldi Duri Saputro; Setia Pambudi
Jurnal Geosains West Science Vol 4 No 02 (2026): Jurnal Geosains West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jgws.v4i02.3559

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi geologi detail, sebaran spasial endapan laterit, serta korelasi kuantitatif kemiringan lereng terhadap profil nikel laterit di Site Wagemna, Kabupaten Halmahera Timur. Metode penelitian yang digunakan meliputi pemetaan geologi lapangan, analisis laboratorium, dan analisis statistik regresi linear memanfaatkan data pemboran serta pemodelan elevasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tatanan geologi daerah penelitian didominasi oleh batuan dasar ultramafik Kompleks Ofiolit yang dikontrol oleh struktur sesar naik (right thrust slip fault) dan kekar gerus berorientasi utara–selatan. Secara lateral, endapan nikel laterit mencakup 34% area dan terkonsentrasi pada punggungan berlereng landai yang mendukung retensi material, sedangkan singkapan batuan dasar mendominasi lereng terjal akibat laju erosi mekanis yang tinggi. Analisis kuantitatif membuktikan kemiringan lereng memiliki korelasi linear negatif yang kuat terhadap kedalaman zona pengkayaan Ni (R2 = 0,8335) dan total ketebalan profil (R2 = 0,8052), di mana topografi datar-landai (0°–8°) mengoptimalkan infiltrasi untuk membentuk zona saprolit tebal (17–18,5 m). Selain itu, ditemukan dikotomi kontrol fisik yang unik dimana ketebalan zona limonit sangat dipengaruhi oleh kelerengan permukaan (R2 = 0,7981), sementara ketebalan zona saprolit tidak berkorelasi linear dengan kelerengan (R2 = 0,0027) melainkan dikontrol oleh karakteristik internal bawah permukaan seperti kerapatan kekar batuan dasar. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan strategis dalam efisiensi eksplorasi nikel laterit berbasis pemodelan kelerengan di Pulau Halmahera.
Geologi dan Hubungan Karakteristik Fisik Batubara Berdasarkan Lingkungan Pengendapan Pada Daerah Separi, Kec. Tenggarong Seberang, Kab. Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur Muhammad Gangsar Adhiya Rizky; Novrijal Ramadhany; Bayu Satrio Nugroho; Setia Pambudi
Jurnal Geosains West Science Vol 4 No 02 (2026): Jurnal Geosains West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jgws.v4i02.3621

Abstract

Ketidakseragaman variasi karakteristik fisik batubara merekam kondisi pembentukan gambut untuk mendukung penafsiran lingkungan pengendapan batubara, sehingga pemahaman faktor pengendalinya menjadi kunci untuk memprediksi sebaran batubara serta mendukung dalam kegiatan eksplorasi. Formasi Balikpapan Daerah Separi blom terpetakan secara terpadu pada Lingkungan pengendapan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi geologi daerah penelitian, menganalisis karakteristik fisik batubara, menafsirkan lingkungan pengendapannya, dan mengungkap hubungan sistematik di antara keduanya. Metode penelitian mencakup pemetaan geologi permukaan, analisis data well logging, analisis maseral, serta identifikasi palinologi. Seluruh data tersebut diintegrasikan melalui interpretasi litofasies dan diagram fasies batubara TPI-GI serta GWI-VI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian tersusun atas dua satuan batuan tak resmi dalam Formasi Balikpapan berumur Miosen Tengah, yaitu Satuan Batupasir dan Satuan Batulempung Balikpapan. Pada daerah tersebut berkembang sesar naik Separi bertipe left reverse slip fault. Batubara terekam pada enam seam, yakni seam 1, 2, 4, 9, 10, dan 11, dengan delapan litotipe yang mencerminkan ragam kondisi pembentukannya. Komposisi maseral didominasi vitrinit dengan collodetrinit sebagai penyusun utama dan menghasilkan nilai GI yang tinggi (0,2-52,54) nilai tersebut menandakan gelifikasi intensif pada lingkungan pengendapan marsh wet memiliki tingkat oksigen yang rendah dikarenakan genangan air yang tinggi menciptakan kondisi anoksik (minim oksigen). Sistem pengendapan ditafsirkan sebagai lower delta plain yang dicirikan oleh empat asosiasi fasies, yaitu channel, interdistributary bay, crevasse splay, dan swamp, serta diperkuat oleh asosiasi palinologi penciri back mangrove. Karakteristik fisik batubara mencerminkan lingkungan pengendapannya terhadap keberadaan litotipe bright coal dan banded bright coal yang kaya vitrinit terbentuk pada rawa stabil, sedangkan dull coal, shaly coal, dan claystone berpengotor tinggi berkembang pada interdistributary bay. Pirit framboidal pada seam 1, 9, dan 11 merekam intrusi air laut pada lingkungan anoksik.