Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

IDENTIFIKASI JENIS CACING SOIL TRANSMITTED HELMINTH (STH) PADA FESES PEKERJA PENGANGKUT SAMPAH KOTA KENDARI DENGAN METODE MODIFIKASI HARADA MORI DAN METODE MODIFIKASI KATO KATZ Arimaswati Arimaswati; La Ode Alifariki; Faning Fridayani; Jamaluddin jamaluddin
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.087 KB) | DOI: 10.35842/mr.v15i1.270

Abstract

Background: helminthiasis is classified as negleted disease, which is an infection that is not considered and is chronic without causing clear clinical symptoms and its effects can only be seen in the long term. Objective: to identify the types of worms in the feces of Kendari garbage transportation workers. Methods: uses laboratory observation methods to identify the type of Soil that is Contagious. Using 42 stool samples that have been stored for ± 2 months were taken from the stools of Kendari municipal waste workers and examined using the modified kato-katz, Harada Mori and Direct slide methods. Results: the results of various inspection methods namely, direct slide, Kato-katz modification and Harada Mori modification. Identification of the egg stage, the p-value is 0.002 <α = 0.05. This shows that the Kato-katz method is far better than the direct shear method in the examination of STH worm eggs. The p-value results in the examination of Harada mori larvae and the direct shear value were 0.001 <α = 0.05. This shows that the Harada mori method is better at identifying fecal larvae than the direct glide method. The Kato-Katz modification method is more effective in identifying the type of worm egg than the direct slide method. The most common type of Transmitted Helminth earthworm identified in this study is hookworm. Conclusion: The Kato Katz method is a better method used than the direct slide method in identifying the type of Soil transmitted Helminth (STH) in the egg phase. Harada mori is a better method used than the direct slide method in identifying the type of Soil transmitted Helminth (STH) worm in the larval phase. The type of STH worm most identified in this study is the hookworm.
Mewujudkan Desa Pesisir Sehat: Edukasi Praktik Pengolahan Herbal Fungsional Berbasis Pekarangan di Kecamatan Abeli Waode Syahrani Hajri Rasjid; Jamaluddin Jamaluddin; La Rangki, Rangki; Sukurni Sukurni; Arfiyan Sukmadi; Ida Mardhiah Afrini Kasman Arifin
Karya Kesehatan Journal of Community Engagement Vol 7 No 1 (2026): Karya Kesehatan Journal of Community Engangement
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/k2jce.v7i1.1720

Abstract

. Pemanfaatan tanaman herbal berbasis pekarangan rumah merupakan salah satu strategi yang berpotensi mendukung promosi kesehatan dan pencegahan penyakit tidak menular di masyarakat. Namun, pemanfaatan tanaman herbal oleh masyarakat pesisir masih terbatas pada penggunaan sebagai bumbu dapur dan belum banyak dikembangkan menjadi produk herbal fungsional. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keyakinan masyarakat dalam memanfaatkan herbal fungsional berbasis pekarangan rumah melalui edukasi dan praktik pengolahan herbal. Kegiatan dilaksanakan di Kecamatan Abeli dengan melibatkan 24 peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, demonstrasi, praktik pengolahan minuman herbal berbahan jahe dan serai, serta evaluasi menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta dari nilai rata-rata 61,8 menjadi 86,5 dalam membudidayakan, mengolah, dan memanfaatkan herbal fungsional. Peserta juga mampu mengolah minuman herbal jahe-serai secara mandiri dan menunjukkan minat yang lebih tinggi untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber tanaman herbal keluarga. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi yang dipadukan dengan praktik langsung efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat untuk memanfaatkan tanaman herbal sebagai upaya mendukung kesehatan keluarga dan mewujudkan desa pesisir yang lebih sehat
Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Pada Masyarakat Desa Andepali Kecamatan Sampara Kabupaten Konawe I Putu Sudayasa; Muhammad Fathur Rahman; Amiruddin Eso; Jamaluddin Jamaluddin; Parawansah Parawansah; La Ode Alifariki; Arimaswati Arimaswati; Andi Noor Kholidha
Journal of Community Engagement in Health Vol. 3 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v3i1.37

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit yang tidak ditularkan dan tidak ditransmisikan kepada orang lain dengan bentuk kontak apapun, menyebabkan kematian dan membunuh sekitar 35 juta manusia setiap tahunnya, atau 60% dari seluruh kematian secara global, dengan 80% pervalensi pada negara berkembang. PTM, khususnya penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes merupakan ancaman utama bagi kesehatan dan perkembangan manusia saat ini. Tujuan pengabdian masyarakat yang terintegrasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, untuk mendeteksi faktor risiko penyakit tidak menular, pada masyarakat Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe. Jenis kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan kesehatan, pemeriksaan tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah sewaktu dan asam urat. Telah dilakukan skrining dan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular terhadap 67 orang responden, meliputi 14 laki–laki dan 53 perempuan. Pada hasil pemeriksaan tekanan darah, didapatkan jumlah yang mengalami hipertensi 28,35%, normotensi 67,16%, dan hipotensi 4,47%. Pada pemeriksaan Kolesterol Total, didapatkan kolesterol dalam batas normal 2,38% dan tinggi 37,31%. Hasil pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS), didapatkan kadar GDS dalam batas normal 85,07% dan kadar GDS tinggi 14,92%. Pada pemeriksaan Asam Urat didapatkan dalam batas normal adalah 91,04% dan tinggi 8,95%. Perlu memaksimalkan kegiatan posbindu dalam mereduksi kejadian penyakit tidak menular melalui penyuluhan dan screening