Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Faktor - Faktor yang Memengaruhi Kecemasan Perawat dalam Menghadapi Code Blue di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara Taat Agung Widodo; Feti Kumala Dewi; Septian Mixrova Sebayang
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2022: Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2022)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.227 KB) | DOI: 10.35960/snppkm.v2i1.1096

Abstract

Code blue merupakan tanda isyarat kegawatdaruratan di rumah sakit bilamana ada keadaan pasien yang mengalami henti jantung (cardiac arrest) atau berupa pemberitahuan adannya pasien yang kritis. Untuk mengurangi kecemasan perawat maka diperlukan kesiapan perawat dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan dalam penanganan code blue. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kecemasan perawat dalam menghadapi code blue. Desain penelitian ini menggunakan desain korelasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 56 responden. Terdapat hubungan usia perawat dengan terjadinya kecemasan perawat diperoleh p-value 0,00(<0,05). Tidak ada hubungan jenis kelamin terhadap terjadinya kecemasan perawat dengan p-value 0,154(>0,05). Terdapat hubungan tingkat pendidikan terhadap terjadinya kecemasan perawat dengan p-value 0,026(<0,05). Terdapat hubungan lama kerja / pengalaman perawat terhadap terjadinya kecemasan perawat dengan p-value 0,001(<0,05). Sehingga dapat disimpulkan ada hubungan usia, pendidikan dan lama kerja terhadap terjadinya kecemasan perawat di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara.
Edukasi dan Implementasi Teknik Relaksasi Benson dalam Mengurangi Nyeri pada Pasien Dewasa Post Operasi Muhammad Azra Razi; Septian Mixrova Sebayang; Arlyana Hikmanti
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia (JPKMI) Vol. 5 No. 2 (2025): Agustus: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia (JPKMI)
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpkmi.v5i2.8283

Abstract

Background: The number of surgical procedures has increased significantly from year to year. One of the complications that often occurs after surgery is postoperative pain. Postoperative pain will begin to be felt after the effects of anesthesia wear off. The management of this pain is divided into two categories: pharmacological drug management and non-pharmacological relaxation management. The use of analgesics as primary therapy has limitations and risks of side effects, so it needs to be combined with non-pharmacological relaxation methods, such as the Benson relaxation technique. The Benson relaxation technique is a simple method that combines breathing techniques with spiritual aspects, aiming to reduce the activity of the sympathetic nervous system that triggers pain and anxiety. To address these issues, a community service activity on Benson relaxation education was conducted to prevent patients from becoming dependent on antibiotics. Objective. This Community Service (PkM) aims to increase knowledge about Benson relaxation and reduce the pain scale of post-operative patients using Benson relaxation techniques. Methods. This Community Service includes audio-visual media-based education and the implementation of Benson relaxation on 30 adult post-operative patients in the Ar-rahman RSI Purwokerto inpatient ward. Evaluation was conducted through pain scale measurements using the Numeric Rating Scale (NRS), as well as assessments of patients' knowledge before and after education using pre-test and post-test questionnaires. Results. This activity demonstrated a significant improvement in patients' understanding of Benson relaxation techniques, with 86.7% of participants initially having insufficient knowledge, but after education, 93.3% improved to the “good knowledge” category. Additionally, the pain scale decreased by an average of 1.9 points, with the majority of patients experiencing severe pain (43.3%) before the intervention, which improved to moderate pain (60%) after implementation. Thus, education and training in Benson relaxation techniques were proven effective as a non-pharmacological intervention in reducing post-operative pain.
Comparison of Effectiveness of Hydropobic Cutimed Sorbact Versus Cadexomer Iodine 0.9% on Healing of Diabetic Foot Ulcer: A Randomized Control Trial Septian Mixrova Sebayang; Asmat Burhan
Journal of Wound Research and Technology Vol. 1 No. 1 (2024): November - May 2024
Publisher : Indonesian Science Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70196/jwrt.v1i1.5

Abstract

Background: Diabetic foot ulcers have risen with DM. The IDF reports 15-25% of diabetics get foot ulcers, rising to 25% over time. Due to biofilm and bacteria growth, diabetic ulcers need advanced wound therapy using antimicrobial dressings. Modern antibacterial treatments include sorbact hydrophobic and 0.9% cadexomer iodine. Purpose: Analyse the effectiveness of cutimed sorbact hydrophobic with cadexomer iodine 0.9% on diabetic ulcer infection. Methods: A single-blind, fold-over, randomised controlled study. Patients with diabetes who developed foot ulcers between September 1 and December 1, 2023. One hundred sixty-two participants were randomly assigned to receive cutimed sorbact hydrophobic or cadexomer iodine 0.9%.  After 120 days, both groups. Results: It was found that the two groups had similar body mass index (0.364), wound size (0.317), and baseline age (p=0.432). The mean difference in confidence value of -0.16 (OR -2.54 to 1.29; p=0.058) showed that diabetic foot ulcers in both groups had similar wound size on the thirtyth day. On day 60 of treatment, Sorbact Hydropobic showed a difference of 22.56±9.87 compared to Cadexomer Iodine 0.9%, with an MD-CI value of -6.75 (OR 5.19 to -0.34; p=0.039 At 90 days of treatment, cadexomer iodine showed a significant difference from sorbact hydropobic (9.73±2.14), with an MD-CI value of -12.29 (OR -9.19 to -4.26; p=0.016; R2=-0.417). Conclusion: Sorbact Hydropobic reduces wound size, infection, and bacterial resistance, speeding chronic wound healing. On chronic wounds, hydropobic sorbact can be used as a primary dressing.
Efektifitas Buli-Buli Hangat Untuk Meningkatkan Suhu Tubuh Pada Pasien Hipotermi Pasca Operasi Hikmal Akbar; Septian Mixrova Sebayang; Wilis Sukmaningtyas
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i1.87

Abstract

Salah satu komplikasi yang muncul setelah tindakan anestesi adalah hipotermi salah satu penghangatan dengan konduksi panas adalah dengan menggunakan terapi kompres hangat. Buli-buli hangat untukpengembalian suhu tubuh. Penelitian tentang efektivitas pemberian buli-buli terhadap hipotermia pada pasien post operasi. Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui spinal cord. Ketika reseptor yang peka terhadap panas di hipotalamus dirangsang, sistem efektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah akan memperlancar sirkulasi oksigenisasi mencegah terjadinya spasme otot, memberikan rasa hangat. Program ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif pemberian buli-buli hangat pada pasien hipotermi pasca operasi dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga pasien dalam menangani hipotermia melalui metode ceramah, demonstrasi, dan penggunaan media visual seperti video. Jumlah peserta yang terlibat sebanyak 30 Pasien yang diberi pre-test dan post-test untuk mengevaluasi peningkatan suhu tubuh pasien. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam peningkatan suhu tubuh setelah pemberian buli-buli hangat. Dengan adanya program ini, diharapkan dapat meningkatkankeselamatan pada pasien yang mengalami hipotermia post operasi. Selain itu, program ini juga menghasilkan media edukasi seperti video untuk digunakan oleh masyarakat luas.
Gambaran Mual Dan Muntah Pada Pasien Pasca Operasi Dengan Anestesi Umum Pada Bedah Orif Di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara Aslam Amanullah; Danang Tri Yudono; Septian Mixrova Sebayang
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i1.88

Abstract

Pada tindakan bedah ORIF dapat menggunakan anestesi umum dengan kelebihan untuk mendapatkan kenyamanan pada pasiennya. Sebagian besar pasien mengalami pemulihan dari anestesi dan pembedahan tanpa kejadian-kejadian khusus, tetapi ada sebagian kecil yang mengalami komplikasi diantaranya mual dan muntah.Tujuan penelitian untuk mengetahui Mengetahui gambaran mual dan muntah pada pasien pasca anestesi umum pada bedah ORIF berdasarkan karakteristik meliputi usia, jenis kelamin, dan lama durasi operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara. Metode penelitian ini deskriptif, Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, Pendekatan dalam penelitian ini yaitu pendekatan cross sectional. Insturemen yang digunakan adalah dari lembar kuesioner. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data menggunakan lembar observasi mual dan muntah di ruang pasca anestesi dari 15-60 menit. Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan dari bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Sampel penelitian ini berjumlah 55 responden menggunakan total sampling. Lokasi penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Koja. Data dianalisis menggunakan tehnik analisis univariat. Hasil analisis penelitian menunjukan bahwa ada variasi yang cukup besar dalam usia, jenis kelamin, dan durasi operasi di antara responden. Gejala mual muntah cenderung lebih banyak terjadi pada interval waktu awal (15 menit), dan kemudian menurun secara signifikan pada interval waktu yang lebih lama.
Gambaran Terjadinya Nyeri Tenggorokan Pasca Anastesi General Yang Diberikan Dexametasone Di Charitas Hospital Palembang Ria Anggrina; Septian Mixrova Sebayang; Wilis Sukmaningtyas
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i1.89

Abstract

General anestesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit secara sentral disertai hilangnya kesadaran (reversible). Tindakan general anestesi terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan adalah general anestesi denggan teknik intravena anestesi dan general anestesi dengan inhalasi yaitu dengan face mask (sungkup muka) dan dengan teknik intubasi yaitu pemasangan endotrecheal tube atau gabungan keduanya inhalasi dan intravena. penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran terjadinya nyeri tenggorokan pasca general anastesi yang diberikan dexametasone di Charitas Hospital Palembang. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan sampel 72 responden post general anastesi.dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden dengan rentang usia adalah dewasa muda 20-44 tahun sebanyak 72 peserta (100.0%). Jenis kelamin sebagian besar responden adalah perempuan sebanyak 61 peserta (84.7%) dan laki-laki sebanyak 11 responden (15.3%). Ukuran ETT sebagian besar responden adalah ukuran 7 sebanyak 61 peserta (84.7%) dan ukuran ETT nomor 7,5 sebanyak 11 responden (15.3%), responden dengan nyeri ringan sebanyak 68 responden (94,4%), responden dengan nyeri sedang sebanyak 4 responden (5,6%). Diharapakan pasien dengan post operasi dengan general anastesi menggunakan ETT tidak mengalami nyeri hebat sehingga pasien lebih Nyaman.
Hubungan Waktu Tunggu Terhadap Kecemasan Pada Pasien Sectio Caesarea Dengan Teknik Spinal Anestesi Namilawati Namilawati; Septian Mixrova Sebayang; Arlyana Hikmanti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.297

Abstract

Sectio caesarea dengan teknik spinal anestesi sering menimbulkan kecemasan pada pasien akibat waktu tunggu sebelum operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu tunggu terhadap tingkat kecemasan pada pasien sectio caesarea dengan teknik spinal anestesi di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross sectional dan jumlah sampel sebanyak 43 responden dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner APAIS dan analisis data dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 26-35 tahun (67.4%), belum pernah menjalani pembedahan (53.5%), berpendidikan SMA (62.8%), memiliki waktu tunggu ≤30 menit (76.7%) dan tingkat kecemasan sedang (76.7%). Uji Spearman Rank menunjukkan p value 0.002 (p<0.05) dengan koefisien korelasi r: 0,0452 yang berarti terdapat hubungan signifikan dengan kekuatan korelasi sedang antara waktu tunggu dan kecemasan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi rumah sakit dan penata anestesi dalam mengelola waktu tunggu untuk mengurangi kecemasan pasien.
Pengaruh Audiovisual Persiapan Saddle Block Regional Anestesi Terhadap Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Tingkat II Keperawatan Anestesiologi Universitas Harapan Bangsa Wahyu Dwi Prakoso; Tophan Heri Wibowo; Septian Mixrova Sebayang
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.364

Abstract

Media audiovisual memberikan pesan pembelajaran baik secara audio dan visual yang mencakup konsep, prinsip, persiapan, dan teori aplikasi pengetahuan untuk membantu pemahaman materi pelajaran seperti persiapan saddle block regional anestesi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh audiovisual persiapan saddle block regional anestesi terhadap tingkat pengetahuan mahasiswa tingkat II keperawatan anestesiologi  universitas harapan bangsa. Metode penelitian ini menggunakan quasi-eksperimen, di mana grup kontrol pre-test dan post-test digunakan. Cluster random sampling digunakan untuk memilih 68 mahasiswa dari universitas harapan nasional. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Kelompok intervensi sebelum intervensi mean pre test tingkat pengetahuan yaitu 74,15 dan setelah diberikan intervensi mean post test tingkat pengetahuan yaitu 93,91. Kelompok kontrol sebelum diberikan intervensi mean pre test tingkat pengetahuan yaitu 68,82 dan setelah diberikan inervensi, Rata-rata tingkat pengetahuan setelah ujian adalah 76,03. Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa kelompok intervensi memiliki p-value 0.000 kurang dari 0,05 membuktikan ada perbedaan antara sebelum dan sesudah penggunaan lalu lintas audiovisual; sebaliknya, kelompok kontrol memiliki p-value 0,06 lebih dari 0,05, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sebelum dan sesudah penggunaan lembaran. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa p-value 0,000 kurang dari 0,05 membuktikan bahwa ada perbedaan antara kelompok intervensi dan kontrol. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan pada peningkatan pengetahuan mahasiswa. Oleh sebab itu, media audiovisual termasuk dalam jenis media yang memiliki kapasitas untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa.