Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

UJI FISIKOKIMIA SEDIAAN EMULSI, GEL, EMULGEL EKSTRAK ETANOL GOJI BERRY (Lycium barbarum L.) Devina Chandra; Rahmah Rahmah
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol 11 No 2 (2022): Medfarm: Jurnal Farmasi dan Kesehatan
Publisher : LPPM Akafarma Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48191/medfarm.v11i2.142

Abstract

Tanaman goji berry (Lycium barbarum L.) kaya akan flavanoid sebagai antioksidan, sehingga membangkitkan minat penelitian pada bidang fitokosmetik karena dapat menon-aktifkan Reactive Oxygen Species (ROS), memulihkan homeostasis kulit sehingga mencegah eritema dan penuaan dini pada kulit. Tujuan penelitian ini adalah memformulasikan ekstrak goji berry menjadi sediaan emulsi, gel, dan emulgel yang selanjutnya dilakukan evaluasi mutu fisikokimia sediaan. Goji beery diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Selanjutnya, ekstrak kental goji berry diformulasikan menjadi sediaan gel, emulsi dan emulgel. Hasil penelitian ekstrak etanol goji berry 2% yang diformulasi dalam bentuk sediaan gel, emulsi, emulgel yang selanjutnya dilakukan evaluasi mutu fisikokimia. Pengujian organoleptik menunjukkan warna merah kecoklatan (gel) dan merah muda kecoklatan (emulsi dan emulgel), lembut, tidak terjadi pemisahan; nilai pH 6,25±0,1539-7,21±0,3350; nilai daya sebar 5,60±0,10-6,70±0,10 cm; nilai viskositas 3,733±0,1222-6,826±0,1222 cPs; memiliki tipe minyak dalam air (emulsi dan emulgel); dan memiliki kestabilan yang bagus selama 30 hari.
Formulasi Dan Pengujian Sediaan Deodorant Spray Yang Mengandung Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum Basilicum L.) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus Devina Chandra; Manuppak Irianto Tampubolon; Natanael Priltius
Jurnal Siti Rufaidah Vol. 1 No. 4 (2023): November : Jurnal Siti Rufaidah
Publisher : PPNI UNIMMAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jasira.v1i4.37

Abstract

Basil leaves are very rich in nutritious substances. Among them are beta carotene, vitamin C, macro minerals (calcium, phosphorus, magnesium). This plant is included in the Lamiaceae family which contains various chemical compounds, including phenols, saponins, alkaloids, flavonoids, tannins, and essential oils. The benefits of basil have been widely applied in people's lives as traditional medicine, for example, basil leaves are used to treat, cough, colds and so on. Body odor can be caused by several factors such as genetic factors, psychological conditions, food factors, obesity factors and clothing materials used.One of the triggers of body odor due to bacterial infection, namely Staphyloccous aureus bacteria.This study aims to formulate deodorant spray ethanol extract of basil leaves, test the physical properties of deodorant spray preparations, and determine whether the preparation of deodorant spray ethanol extract of basil leaves can inhibit staphylococcus aureus bacteria. Physical tests were carried out on days 0 (after manufacture) and 7 with the results of the organoleptical physical test of the preparation having a distinctive odor of basil, brownish yellow in color, It has a pH of 4 which corresponds to the pH of the skin, and experiencing an increase in viscosity on day 7 examination. The antibacterial test results of formulations 1, 2, and 3 showed inhibition of the banteri.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Body Scrub dari Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea Americana Mill) Kombinasi Beras Ketan Putih (Oryza Sativa l Var Glutinous) Sebagai Pelembab Kulit Fridelly Mairani; Alya Izzani; Monica Suryani; Devina Chandra
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7141

Abstract

Masyarakat sekarang sangat mendambakan kecantikan yang alami salah satunya dengan memiliki kulit yang bersih dan lembab. Untuk mendapaktkan kulit yang sehat,bersih dan lembab masyarakat dapat menggunakan sediaan kosmetik Body scrub yang berasal dari bahan alam maupun sintetis. Body scrub dapat membantu menutrisi kulit dengan tambahan bahan-bahan yang diperoleh dari alam seperti tumbuh-tumbuhan. Salah satu kandungan kimia yang terdapat pada daun alpukat yaitu Quersetin tersebut dapat didefinisikan sebagai senyawa kelompok flavonol terbesar dan termasuk senyawa flavonoid yang paling efektif untuk dapat melembabkan kulit dan juga sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan Body scrub dari ekstrak etanol daun alpukat yang dapat melembabkan kulit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental. Pembuatan ekstrak etanol daun alpukat dengan cara ekstraksi metode maerasi dan menggunakan pelarut etanol 96%. Konsentrasi kandungan daun alpukat yang terkandung bervariasi yaitu, 3%, 5% dan 7%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun alpukat dapat diformulasikan kedalam sediaan Body scrub yang dapat melembabkan kulit, dan sediaan tersebut homogen, sediaan yang stabil uji pH yang dihasilkan 5,12-6,00. Sediaan Body scrub tidak menimbulkan iritasi pada kulit uji viskositas yang dihasilkan 2.573-3.334 cPs uji daya sebar rentan 5,76-5,93 cm uji tipe emulsi menunjkkan tipe M/A uji daya lekat yang dihasilkan 44-61 detik. Pada uji kelembaban konsentrasi 3%,5% dan 7% dapat melembabkan kulit, semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun alpukat, semakin tinggi tingkat kelembaban yang di peroleh. Sediaan Body scrub F3 dengan konsentrasi 7% yang paling disukai (sangat suka) dikarenakan lebih dapat melembabkan kulit. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun alpukat dapat diformulasikan kedalam sediaan Body scrub dan memiliki kemampuan melembabkan kulit.
Pemberdayaan Buah Asam Jawa (Tamarindus Indica L.) Menjadi Sediaan Gel Sistem Fitosom sebagai Antioksidan Devina Chandra; Cut Masyithah Thaib; Steven Tandiono; Manuppak Irianto Tampubolon
Compromise Journal Community Proffesional Service Journal Vol. 3 No. 1 (2025): Compromise Journal : Community Proffesional Service Journal
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/compromisejournal.v3i1.561

Abstract

Empowering the community using one of the cooking spices to become something which has high selling power because of its effectiveness will increase people's enthusiasm for using it. Tamarind fruit has bioactive compounds which often used as natural antioxidants and will be made into phytosome system gel preparations which can improve better penetration of drugs into the skin. The aim of this service was that the community is expected to provide education about tamarind fruit in Klambir V Village, Medan, Indonesia. This community service method was carried out using leaflets, modules, power points and presentations to the community. The result of this service was an increase in public knowledge of tamarind fruit as an antioxidant by 87%.
Formulasi dan Uji Penetrasi In Vitro Sediaan Gel Sistem FitosomEkstrak Buah Asam Jawa (Tamarindus indica L.) Devina Chandra; Cut Masyithah Thaib; Steven Tandiono; Manuppak Irianto Tampubolon
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 2 No. 4 (2024): Oktober: Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v2i4.559

Abstract

Tamarind fruit extract (Tamarindus indica L.) contained flavonoids such as quercetin as antioxidants. The hydrophilic nature of tamarind fruit (Tamarindus indica L.) led to poor penetration and low bioavailability. Research was conducted to address penetration issues by preparing a phytosome drug delivery system incorporated into tamarind fruit extract formulations. The study aimed to formulate a tamarind fruit extract gel with phytosome preparation to enhance the effectiveness of active ingredient penetration. Phytosome preparation was carried out using the thin layer hydration method with concentrations of 1.5%, 3%, and 4.5%. Evaluation of the gel preparations showed that the color of FI (1.5%) was yellowish-brown, F2 (3%) was light brown, and F3 (4.5%) was dark brown. All formulations had a distinctive odor, pH ranged from 4.3 to 5.2, viscosity ranged from 4,333 to 7,500 cPs, spreadability ranged from 5.2 to 5.8 cm, and they had good stability, were homogeneous, and did not cause irritation. Penetration tests using Franz diffusion cells were performed on male rabbit skin (Oryctolagus cuniculus). The penetration results were analyzed using UV-Vis spectrophotometry with a maximum wavelength of 435 nm. The cumulative amount penetrated was 13.2085 ppm for F1 (1.5%), 14.2142 ppm for F2 (3%), and 15.5136 ppm for F3 (4.5%). In contrast, the tamarind fruit extract gel without phytosomes had a cumulative penetration amount of 1.3684 ppm. The tamarind fruit extract's phytosome gel showed better penetration than the tamarind fruit extract gel without phytosomes.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Sabun Mandi Cair Menggunakan Sari Buah Bit (Beta Vulgaris L.) Sebagai Pelembab Kulit Devina Chandra; Natanael Priltius; Betharina Br Tarigan
The Journal General Health and Pharmaceutical Sciences Research Vol. 2 No. 2 (2024): June : The Journal General Health and Pharmaceutical Sciences Research
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/tjghpsr.v2i2.331

Abstract

Liquid bath soap is a liquid preparation used to clean the skin, made from soap base ingredients with added surfactants, foam stabilizers and fragrances, which is used when bathing without irritating to the skin. Liquid bath soap is made by saponifying oil and fat with KOH. Quality soap must have high detergent power, can be used on various types of materials and remain effective at different temperatures and water levels. In this study, this liquid bath soap used the addition of beetroot juice which is rich in benefits for skin health. The aim of this research is to find out whether beetroot juice formulated into liquid bath soap will have a moisturizing effect on the skin, and determine the concentration of beetroot juice as the best skin moisturizer. This research is made into four formulas. First without the addition of F0 Beetroot Juice (0%), Second with the addition of F1 Beetroot Juice (10%), Third with the addition of F2 Beetroot Juice (15%), Fourth with the addition of F3 Beetroot Juice (20%). From the results of this research, we got good results in the liquid bath soap formulation with the addition of 20% beetroot juice (F3), and from the results, the F3 formulation (20%) was also the most preferred by the panelists for the aroma and color of the fruit juice liquid bath soap beet.
Tinjauan Literatur: Hubungan Tingkat Kepercayaan Masyarakat Terhadap Obat Tradisional Dalam Mendukung Pelayanan Kesehatan Manuppak Irianto Tampubolon; Devina Chandra; Syukur Berkat Waruwu; Febriana Rianti Siagian; Fanny Asdian; Muhammad Ridha Taftanzani; Sefin Simanihuruk
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem Pelayanan kesehatan di berbagai negara masih menghadapi masalah seperti akses yang sulit, biaya mahal, dan layanan yang tidak merata, terutama di negara berkembang. Obat tradisional sudah digunakan masyarakat sejak lama sebagai cara mencegah dan mengobati penyakit. Walaupun banyak masyarakat yang menggunakan obat tradisional, belum banyak penelitian yang membahas mengapa masyarakat terus memilih obat tradisional. Kepercayaan masyarakat diduga menjadi alasan utama, tetapi masih sedikit kajian yang meneliti hubungan antara kepercayaan dengan penggunaan obat tradisional dalam sistem pelayanan kesehatan. Tujuan: Meninjau tingkat kepercayaan masyarakat terhadap obat tradisional sebagai pendukung pelayanan kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis dengan panduan PRISMA. Pencarian artikel dilakukan di Google Scholar dan PubMed dari Januari 2020 sampai Juli 2025. Dari 2.850 artikel yang ditemukan, setelah menghapus duplikat dan melakukan skrining, didapatkan 10 artikel yang sesuai untuk dianalisis. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap obat tradisional cukup tinggi, yaitu berkisar antara 60%-94,3%. Masyarakat percaya karena pengalaman keluarga yang turun-temurun, dianggap aman dan efektif, mudah didapat, serta harganya terjangkau. Sebagian besar pengguna obat tradisional (60%-94,3%) tidak mengalami efek samping. Ada hubungan yang jelas antara kepercayaan dengan penggunaan obat tradisional, dan pengetahuan tentang obat tradisional menjadi faktor terkuat yang membuat orang lebih percaya dan menggunakannya. Kesimpulan: Kepercayaan masyarakat adalah faktor penting yang membuat penggunaan obat tradisional terus berlanjut dalam pelayanan kesehatan. Obat tradisional dipilih karena harganya murah, mudah didapat, dan sesuai dengan budaya masyarakat. Untuk meningkatkan pemanfaatan obat tradisional yang aman, perlu dilakukan edukasi berdasarkan penelitian ilmiah, standarisasi produk dan praktik pengobatan tradisional, serta penggabungan sistem pengobatan tradisional dan modern dalam kebijakan kesehatan
Aktivitas Probiotik Dan Mikroba Yang Baik Pada Makanan Sekolah Dasar Swasta Amal Luhur Kel. Dwi Kora, Kec. Medan Helvetia Manuppak Irianto Tampubolon; Devina Chandra; Syukur Berkat Waruwu; Agus Hardianssah Tafonao; Anisa Hutagalung; Lidya Revangelina; Nayla Artika Wulandari; Risa Setiani; Evi Astiani Lase
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 01 (2026): Februari - Maret 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup, terutama dari kelompok Lactobacillus dan Bifidobacterium, yang apabila dikonsumsi dalam jumlah cukup dapat memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh. Salah satu upaya dalam mendukung kesehatan masyarakat telah dilakukan melalui pemanfaatan probiotik atau mikroba baik yang terdapat dalam makanan. Aktivitas probiotik dalam makanan berperan penting dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus, meningkatkan metabolisme, membantu penyerapan zat gizi, serta memperkuat sistem imun. Probiotik juga diketahui mampu menurunkan kadar kolesterol, membantu mengendalikan tekanan darah, serta menghasilkan senyawa bioaktif seperti asam lemak rantai pendek (Short-Chain Fatty Acids/SCFA) yang bersifat antiinflamasi. Pada konteks pangan fungsional, probiotik ditemukan pada produk olahan susu fermentasi seperti yoghurt dan kefir, minuman probiotik, serta makanan tradisional hasil fermentasi seperti tempe. Konsumsi makanan yang mengandung mikroba baik terbukti mendukung kesehatan saluran pencernaan, menurunkan risiko penyakit metabolik, serta berkontribusi dalam pencegahan penyakit kardiovaskular. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa pemberian edukasi mengenai probiotik melalui makanan sehari-hari merupakan strategi yang sederhana dan efektif dalam meningkatkan pemahaman serta kesadaran kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan ini difokuskan pada edukasi dan pemanfaatan aktivitas probiotik dalam makanan sebagai upaya promotif dan preventif untuk menunjang kesehatan secara menyeluruh
Edukasi Tanaman Tradisional (Daun Sirih) Sebagai Antimikroba Sekolah SMA Rahmat Islamiyah Medan Natanael Priltius; Manuppak Irianto Tampu Bolon; Devina Chandra; Muhammad Samsuri; Cidalia Carol Da Conceição Branco; Mahlia Puja; Masinia Zai; Universitas Sari Mutiara Indonesia
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 01 (2026): Februari - Maret 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun sirih (Piper betle L.) adalah tanaman tradisional yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai antimikroba alami. Daun sirih mengandung senyawa aktif seperti fenol, flavonoid, tanin, dan minyak atsiri yang memiliki aktivitas antibakteri dan antijamur. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai manfaat, cara pengolahan, dan penggunaan daun sirih sebagai antimikroba alami, termasuk pemanfaatannya sebagai sanitizer sederhana. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif dan demonstrasi praktik menggunakan bahan yang mudah diperoleh. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran peserta mengenai potensi daun sirih sebagai antimikroba alami. Edukasi ini diharapkan dapat mendukung penggunaan obat herbal secara rasional serta pelestarian kearifan local