Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Formulasi dan Evaluasi Sediaan Body Scrub dari Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea Americana Mill) Kombinasi Beras Ketan Putih (Oryza Sativa l Var Glutinous) Sebagai Pelembab Kulit Fridelly Mairani; Alya Izzani; Monica Suryani; Devina Chandra
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7141

Abstract

Masyarakat sekarang sangat mendambakan kecantikan yang alami salah satunya dengan memiliki kulit yang bersih dan lembab. Untuk mendapaktkan kulit yang sehat,bersih dan lembab masyarakat dapat menggunakan sediaan kosmetik Body scrub yang berasal dari bahan alam maupun sintetis. Body scrub dapat membantu menutrisi kulit dengan tambahan bahan-bahan yang diperoleh dari alam seperti tumbuh-tumbuhan. Salah satu kandungan kimia yang terdapat pada daun alpukat yaitu Quersetin tersebut dapat didefinisikan sebagai senyawa kelompok flavonol terbesar dan termasuk senyawa flavonoid yang paling efektif untuk dapat melembabkan kulit dan juga sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan Body scrub dari ekstrak etanol daun alpukat yang dapat melembabkan kulit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental. Pembuatan ekstrak etanol daun alpukat dengan cara ekstraksi metode maerasi dan menggunakan pelarut etanol 96%. Konsentrasi kandungan daun alpukat yang terkandung bervariasi yaitu, 3%, 5% dan 7%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun alpukat dapat diformulasikan kedalam sediaan Body scrub yang dapat melembabkan kulit, dan sediaan tersebut homogen, sediaan yang stabil uji pH yang dihasilkan 5,12-6,00. Sediaan Body scrub tidak menimbulkan iritasi pada kulit uji viskositas yang dihasilkan 2.573-3.334 cPs uji daya sebar rentan 5,76-5,93 cm uji tipe emulsi menunjkkan tipe M/A uji daya lekat yang dihasilkan 44-61 detik. Pada uji kelembaban konsentrasi 3%,5% dan 7% dapat melembabkan kulit, semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun alpukat, semakin tinggi tingkat kelembaban yang di peroleh. Sediaan Body scrub F3 dengan konsentrasi 7% yang paling disukai (sangat suka) dikarenakan lebih dapat melembabkan kulit. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun alpukat dapat diformulasikan kedalam sediaan Body scrub dan memiliki kemampuan melembabkan kulit.
Jurnal Review: Aktivitas Biologis Jamu, Obat Herbal Terstandar, Dan Fitofarmaka Sebagai Antiinflamasi Fridelly Mairani; Jon Kenedy Marpaung; Rezza Fikrih Utama; Widya Fitri
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v4i1.1007

Abstract

Jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka merupakan bagian penting dari sistem pengobatan berbasis bahan alam di Indonesia yang didukung oleh kekayaan keanekaragaman hayati. Berbagai tanaman obat diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, kurkuminoid dan senyawa fenolik yang berperan dalam aktivitas biologis, khususnya sebagai agen antiinflamasi. Review ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis aktivitas biologis jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka sebagai antiinflamasi. Penelitian ini merupakan review literatur sistematis yang bersumber dari Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Portal Garuda. Artikel yang diseleksi merupakan penelitian eksperimental in vitro dan in vivo yang menguji aktivitas biologis sediaan jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka yang dipublikasikan pada periode 2020–2025. Data dianalisis secara kualitatif dengan membandingkan jenis sediaan, senyawa bioaktif, metode uji, serta hasil aktivitas biologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka memiliki aktivitas antiinflamasi yang signifikan, ditandai dengan penurunan edema dan penghambatan mediator inflamasi. Formulasi terstandar seperti gel, minyak, sirup, serbuk dan stick herbal meningkatkan stabilitas serta konsistensi efek terapeutik. Kesimpulan yang didapat dari hasil identifikasi dan analisis yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka terbukti memiliki potensi antiinflamasi yang kuat melalui aktivitas senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, kurkuminoid dan senyawa fenolik. Senyawa-senyawa ini berperan dalam menghambat mediator inflamasi, mengurangi edema, serta melindungi jaringan dari stres oksidatif. Jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka memiliki potensi besar sebagai agen antiinflamasi yang aman dan efektif. Standarisasi sediaan dan pendekatan ilmiah yang tepat mendukung integrasi obat tradisional ke dalam praktik kesehatan modern berbasis bukti ilmiah.
ADMET Prediction Compounds of Polar Extract Curcuma rhizoma Sumardi Sumardi; Suprianto Suprianto; Suci Rahmadani Siregar; Arifin Putra Zai; Regina Elianda Tambubolon; Fridelly Mairani
Jurnal Indah Sains dan Klinis Vol 5 No 3 (2024): Jurnal Indah Sains dan Klinis
Publisher : Yayasan Penelitian dan Inovasi Sumatera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52622/jisk.v5i3.01

Abstract

The pharmacokinetic and metabolic profiles of polar extract compounds from Curcuma rhizoma were evaluated using ADMET (Absorption, Distribution, Metabolism, Excretion, and Toxicity) predictions. Most compounds exhibited high gastrointestinal (GI) absorption, with the exception of D-glucose, citric acid, and terpenoids such as alpha-pinene and zingiberene, which demonstrated low absorption, highlighting potential challenges for systemic bioavailability. Blood-brain barrier (BBB) permeability was observed in lipophilic compounds like xanthorrhizol, bisdemethoxycurcumin, and terpenoids, suggesting their potential for CNS-targeted therapies, while polar compounds, including D-glucose, citric acid, and most curcuminoids, were non-permeant. D-glucose was the only compound identified as a P-glycoprotein (Pgp) substrate, indicating minimal efflux-related limitations for other compounds. Selective cytochrome P450 (CYP) enzyme inhibition was detected in compounds such as xanthorrhizol, curcuminoids, and zingiberene, suggesting potential metabolic interactions in multi-drug contexts. Promising therapeutic candidates include curcuminoids and xanthorrhizol, while non-BBB-permeant and low-absorbing compounds may require formulation strategies or alternative applications. These findings provide valuable insights into the pharmacological optimization of Curcuma rhizoma compounds, offering a foundation for further research in drug discovery and development.