Claim Missing Document
Check
Articles

Evaluasi Protokol Pengumpulan Bukti Forensik Dalam Kasus Pemerkosaan: Meningkatkan Kualitas Bukti dan Akurasi Identifikasi Pelaku Muhammad Yusuf; Alpi Sahrin; Hudi Yusuf
Aliansi: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 1 No. 3 (2024): May : Aliansi: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/aliansi.v1i3.219

Abstract

Handling rape cases requires effective forensic evidence collection to ensure justice for victims and truth disclosure in court. This study aims to evaluate protocols for collecting forensic evidence in rape cases, focusing on enhancing evidence quality and perpetrator identification accuracy. The evaluation method involves analyzing the implementation of existing protocols, including procedures for collecting and analyzing relevant physical, biological, and digital evidence in the context of sexual crimes. The study's findings indicate that increasing training and awareness of updated protocols can significantly improve the quality of collected evidence and the accuracy of perpetrator identification. These findings highlight the importance of collaboration among investigators, forensic experts, and other authorities in improving and implementing effective protocols for handling rape cases. This research provides a foundation for ongoing improvements in forensic procedures to enhance justice for victims of sexual crimes and overall community safety.
MEMUTUS PIDANA MATI PADA KORUPTOR, ADIL ATAU TIDAK Luvi Andiansyah; Nurul Fitria Hapsari Mamesah; Hudi Yusuf
Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2023): Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora
Publisher : Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/kultura.v1i1.207

Abstract

Talking about corruption, many people in the community are rife and annoyed by the existence of this corruption, various ways in which corruptors carry out corruption in this country to the point that people no longer trust law enforcers in this country. For various reasons, corruption cases escape legal prosecution. The impacts resulting from corruption are very dangerous, one of which is the decline in the national economy. Efforts to eradicate corruption are solely through prosecuting corruption, even though what is currently necessary is everyone's awareness of obeying corruption laws. There are quite a lot of regulations regarding corruption in Indonesia, but the results are still not satisfactory, especially the return of funds from the proceeds of corruption.
Analisis Deskriptif Penerapan Pasal 378 KUHP dalam Dakwaan Kesatu: Studi Kasus Tindak Pidana Penipuan pada Putusan Perkara Nomor 456/Pid.B/2018.PN.Jkt.Pst Pesman Laia; Hudi Yusuf
EKOMA : Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi Vol. 3 No. 2: Januari 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/ekoma.v3i2.2940

Abstract

Criminal fraud is one of the violations that frequently occur in society and is a primary concern for law enforcement agencies. This crime involves various methods, requiring extra efforts to prove, and is influenced by factors such as poverty, environment, and the desire to obtain money without hard work. This article discusses fraud in the context of Article 378 of the Indonesian Criminal Code (KUHP), which regulates this offense. The research analyzes the indictment against Magda Safrina, a company director, who used another person's certificate as collateral for an international event. The aim is to explain the elements of fraud under Article 378 KUHP, especially those related to the use of false identities, deception, and a series of lies. Additionally, the study examines the criminal legal perspective on fraud and forgery and the effectiveness of implementing Article 378 KUHP in the Indonesian judicial system. The research method employed is a case study with normative and conceptual legal approaches. The findings indicate that despite the frequent application of Article 378 KUHP, there are disagreements and imperfections in its implementation. Economic factors affect the effectiveness of legal enforcement. Therefore, corrective measures are necessary, including intensive training for judges and prosecutors, improving the quality of investigations, and reforming the criminal justice system.
Analisis Putusan Pengadilan Pasal 378 KUHP dan Pasal 64 KUHP dalam Dakwaan Ketiga: Studi Kasus Tindak Pidana Penipuan Berlanjut pada Putusan Perkara Nomor 490/Pid.B/2018/PN.Jkt.Pst Henry Afrillo; Hudi Yusuf
EKOMA : Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi Vol. 3 No. 2: Januari 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/ekoma.v3i2.2948

Abstract

This study aims to thoroughly examine the analysis of the role of Article 378 of the Indonesian Criminal Code (KUHP) and Article 64 paragraph (1) KUHP in regulating and addressing the continued criminal act of fraud. The main concentration of the research revolves around court decisions related to the cases of Porman Tambunan and Donny Andy Sarmedi Saragih. The research employs a normative legal research method adopting a case study approach. Article 378 of the Indonesian Criminal Code serves as a detailed guide in handling the ongoing criminal act of fraud, especially when combined with Article 64 paragraph (1) KUHP. The simultaneous application of these two articles is designed to provide a significant deterrent effect on perpetrators and ensure robust legal protection for the public. In the context of the case under study, the court decisions affirm the suitability of the punishment demands with the provisions stipulated in Article 378 KUHP and Article 64 paragraph (1) KUHP. The research also discusses the effectiveness of Article 64 paragraph (1) KUHP in the aspects of prevention, punishment, and recovery of losses in cases of ongoing fraud. The heavier penalties under these provisions have proven to be an effective instrument in preventing fraudulent activities and achieving the expected deterrent effect. The cases of Porman Tambunan and Donny Andy Sarmedi Saragih provide evidence that the application of these articles has successfully created a preventive legal system and significant deterrence. Through in-depth analysis of court decisions, this research presents a more comprehensive insight into the role and effectiveness of Article 378 KUHP and Article 64 paragraph (1) KUHP in addressing the challenges of ongoing fraudulent activities. The outcomes of this study are anticipated to enhance comprehension of legal aspects of applications in upholding justice, especially in cases of fraud involving ongoing elements.
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Tentang Autopsi Jabbar Nur Davi; Hudi Yusuf
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 04 (2026): April 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Autopsi adalah pemeriksaan medis yang dilakukan terhadap tubuh seseorang yang telah meninggal untuk mengetahui penyebab, cara, dan mekanisme kematian. Prosedur ini memiliki peran penting tidak hanya dalam bidang kedokteran, tetapi juga dalam aspek hukum dan sosial. Dalam kedokteran forensik, autopsi membantu mengungkap fakta ilmiah yang dapat menjadi bukti dalam proses peradilan, sekaligus memberikan kejelasan bagi keluarga mengenai kondisi kematian. Autopsi dilakukan melalui serangkaian langkah sistematis, mulai dari persiapan administrasi, pemeriksaan luar tubuh, hingga pemeriksaan organ dalam. Proses ini juga mencakup pengambilan sampel untuk analisis laboratorium. Selain itu, terdapat berbagai teknik autopsi yang digunakan sesuai kebutuhan, seperti teknik Virchow, Rokitansky, Ghon, dan Letulle. Nilai penting autopsi terletak pada kemampuannya menjawab pertanyaan mendasar tentang kematian: apa penyebabnya, bagaimana cara kematian terjadi, dan mekanisme biologis yang menyertainya. Dengan hasil autopsi, kebenaran dapat diungkap secara ilmiah, membantu proses hukum, serta memberikan kepastian bagi pihak keluarga. Oleh karena itu, autopsi bukan hanya prosedur medis, melainkan juga sarana untuk menegakkan keadilan dan memberikan kepastian sosial.
ANALISIS HUKUM TERHADAP PERJANJIAN BAKU DALAM MENJAGA KESEIMBANGAN ANTARA KEBEBASAN BERKONTRAK DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN Sri Ariany Sebahi; Hudi Yusuf
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 3 (2024): JUNI - JULI 2024
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini memulai penelitiannya dengan melakukan pencarian sistematis dalam basis data akademis, mencakup jurnal hukum, artikel ilmiah, dan buku teks yang relevan. Pencarian ini mengidentifikasi berbagai studi empiris dan teoritis yang mengulas isu-isu yang terkait dengan perjanjian baku, serta memperoleh pemahaman tentang pendekatan metodologis yang digunakan dalam penelitian sebelumnya. Hasil dari analisis ini mengarah pada penemuan pola umum dalam pendekatan hukum terhadap perlindungan konsumen dalam konteks perjanjian baku, termasuk tantangan dan solusi yang diajukan oleh para peneliti. Analisis literatur yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan kerangka kerja analitis yang mempertimbangkan argumen hukum dan ekonomi yang mendasari studi-studi yang relevan. Kami mengeksplorasi perbedaan pendapat antara ahli hukum dan ekonom mengenai efektivitas perlindungan konsumen di pasar yang berubah dengan cepat. Melalui integrasi temuan dari berbagai sumber literatur, penelitian ini menyajikan gambaran yang komprehensif tentang tantangan dan potensi solusi dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan berkontrak dan perlindungan konsumen dalam konteks perjanjian baku.
Analisis Yuridis Penegakan Hukum terhadap Tindak Pidana Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah dan Produk Kilang PT. Pertamina Tahun 2019–2023 Rinta Pratiwi; Hudi Yusuf
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindak Tindak pidana korupsi di sektor energi merupakan salah satu bentuk kejahatan yang memiliki dampak luas terhadap stabilitas ekonomi nasional dan keuangan negara. Salah satu kasus yang menyita perhatian publik adalah dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina periode 2019–2023. Kasus ini menunjukkan adanya indikasi penyimpangan dalam proses pengadaan, distribusi, serta pengelolaan sumber daya energi yang berpotensi merugikan keuangan negara dalam jumlah yang sangat besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi dalam kasus tersebut serta menilai kesesuaiannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam praktiknya penegakan hukum terhadap kasus korupsi di sektor energi menghadapi berbagai kendala, baik dari aspek pembuktian, kompleksitas sistem tata kelola, maupun keterlibatan berbagai pihak dalam struktur korporasi. Selain itu, terdapat potensi ketidaksesuaian antara ketentuan hukum yang mengatur dengan penerapannya dalam proses penegakan hukum, khususnya dalam penentuan pasal yang digunakan dan penjatuhan sanksi pidana. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan sistem penegakan hukum yang lebih transparan, akuntabel, dan konsisten guna memastikan bahwa pemberantasan tindak pidana korupsi di sektor strategis seperti energi dapat berjalan secara efektif serta memberikan efek jera bagi pelaku.
Analisis Yuridis Tindak Pidana Korupsi dalam Pengelolaan Dana Hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur Melalui Kelompok Masyarakat (Pokmas) (Studi Putusan Nomor: 112/Pid.Sus-TPK/2024/PN Sby) Kiki Ridwan; Hudi Yusuf
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindak pidana korupsi dalam pengelolaan dana hibah pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk penyimpangan keuangan negara yang sering terjadi dalam pelaksanaan program pembangunan berbasis masyarakat. Dana hibah yang seharusnya digunakan untuk mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dalam praktiknya sering disalahgunakan melalui manipulasi pelaksanaan kegiatan, pengalihan pekerjaan kepada pihak ketiga, serta penyusunan laporan pertanggungjawaban yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Penyimpangan tersebut tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga menghambat tujuan pembangunan yang seharusnya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk tindak pidana korupsi dalam pengelolaan dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Kelompok Masyarakat (Pokmas) Waru Manunggal serta mengkaji penerapan hukum terhadap pelaku berdasarkan Putusan Nomor: 112/Pid.Sus-TPK/2024/PN Sby. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkara ini berkaitan dengan pengelolaan dana hibah tunai Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2020 yang diperuntukkan bagi pembangunan Plengseng Afur/Talud di Desa Warurejo, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun. Dalam pelaksanaannya, pekerjaan yang seharusnya dilakukan secara swakelola oleh kelompok masyarakat justru dialihkan kepada pihak ketiga dan disertai dengan pemotongan dana hibah oleh beberapa pihak yang terlibat dalam proses pelaksanaan kegiatan. Penelitian ini menemukan bahwa penyimpangan dilakukan melalui pembentukan Pokmas yang tidak melibatkan masyarakat secara nyata, pengalihan pengelolaan dana hibah kepada pihak lain, penggunaan sistem “pinjam bendera” dalam pelaksanaan proyek, serta pembuatan laporan pertanggungjawaban yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Penguatan sistem pengawasan, transparansi pengelolaan dana hibah, serta penerapan prinsip akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatan masyarakat menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dalam pengelolaan bantuan pemerintah daerah.
Analisis Yuridis Tindak Pidana Korupsi dalam Penyaluran Kredit dan Pengelolaan Angsuran Nasabah pada PT. Pegadaian Unit Bisnis Mikro Purwakarta (Studi Putusan Nomor: 1/Pid.Sus-TPK/2025/PN Bdg) Relita Hafsidiany; Hudi Yusuf
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindak pidana korupsi dalam sektor lembaga pembiayaan dan jasa keuangan merupakan salah satu bentuk kejahatan ekonomi yang memiliki dampak serius terhadap stabilitas keuangan perusahaan, kepercayaan masyarakat, dan integritas sistem pelayanan publik. Dalam praktiknya, penyimpangan dalam pengelolaan kredit dan angsuran nasabah tidak hanya menimbulkan kerugian finansial bagi perusahaan, tetapi juga berpotensi merugikan keuangan negara apabila dilakukan pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Salah satu bentuk penyimpangan yang sering terjadi adalah penggelapan angsuran nasabah, manipulasi pembayaran kredit, penyalahgunaan kewenangan jabatan, serta pemberian kredit secara tidak sesuai prosedur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk tindak pidana korupsi dalam pengelolaan produk mikro pada PT Pegadaian Unit Bisnis Mikro Purwakarta serta mengkaji penerapan hukum terhadap pelaku berdasarkan Putusan Nomor: 1/Pid.Sus-TPK/2025/PN Bdg. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkara ini berkaitan dengan tindakan penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan oleh terdakwa selaku Mantan Pelaksana Harian Kepala Unit Bisnis Mikro PT Pegadaian Purwakarta pada periode 2019 sampai dengan 2021. Dalam pelaksanaannya, terdakwa diduga melakukan penggelapan angsuran nasabah mikro, penundaan penyetoran uang angsuran kepada kasir, mark up pelunasan kredit, manipulasi pembayaran produk Amanah, serta pemberian kredit mikro secara unprosedural yang bertentangan dengan Standard Operating Procedure (SOP) PT Pegadaian. Penguatan sistem pengawasan internal, peningkatan kepatuhan terhadap SOP perusahaan, serta penerapan prinsip good corporate governance menjadi langkah penting dalam mencegah terjadinya tindak pidana korupsi pada sektor pembiayaan mikro. Selain itu, pengawasan terhadap proses penyaluran kredit, pengelolaan pembayaran angsuran, dan penggunaan kewenangan jabatan perlu dilakukan secara lebih ketat untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan melindungi keuangan negara.
Analisis Yuridis Tindak Pidana Korupsi dalam Penyalahgunaan Dana Bergulir PNPM Mandiri Perdesaan pada UPK Cibingbin (Studi Putusan Nomor: 108/Pid.Sus-TPK/2024/PN Bdg) Adi Suseno; Hudi Yusuf
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindak pidana korupsi dalam pengelolaan dana bergulir Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan merupakan salah satu bentuk penyimpangan keuangan yang berdampak langsung terhadap pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan di daerah. Dana bergulir yang seharusnya digunakan untuk mendukung kegiatan usaha produktif masyarakat sering kali disalahgunakan melalui mekanisme pinjaman fiktif, penyalahgunaan kewenangan, serta penggunaan dana untuk kepentingan pribadi oleh pengelola program. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk tindak pidana korupsi dalam pengelolaan dana bergulir Simpan Pinjam Perempuan (SPP) pada Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Cibingbin Kabupaten Kuningan serta mengkaji penerapan hukum terhadap pelaku berdasarkan Putusan Nomor: 108/Pid.Sus-TPK/2024/PN Bdg. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkara ini berkaitan dengan penyalahgunaan dana bergulir PNPM Mandiri Perdesaan yang dilakukan oleh pengurus UPK Cibingbin dalam kurun waktu tahun 2013 sampai dengan tahun 2017. Penyimpangan dilakukan melalui pemberian pinjaman kepada kelompok simpan pinjam perempuan fiktif, penggunaan dana pengembalian pinjaman untuk kepentingan pribadi, serta penggunaan dana operasional UPK yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan tata kelola dana bergulir, peningkatan pengawasan terhadap pengelolaan program pemberdayaan masyarakat, serta penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dana PNPM di tingkat daerah. Selain itu, pengawasan terhadap mekanisme pencairan dan pengembalian dana bergulir juga perlu diperketat agar program pemberdayaan masyarakat benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.