Oktaviani Turbaningsih
Departemen Teknik Transportasi Laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Study of Potential Application of Modular Construction in The Development of Indonesia’s New Capital City Oktaviani Turbaningsih; Ulfa Mutaharah; Pramada Saputra
Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2022.29.3.1

Abstract

Abstract. The infrastructure industry is a crucial sector that significantly impacts economic growth. In the second quarter of 2020, infrastructure was the fourth most significant contributor to Indonesia’s economy, contributing 10.56% of the total GDP. Recent research shows modular construction outweighs the conventional method in terms of cost, schedule, and quality. This paper investigates the opportunity to apply modular construction to develop Indonesia’s New Capital City Project. The authors conducted a SWOT analysis and risk analysis to ensure the benefit of its application. The barrier to modularity application is in the transport cost-efficiency. The study shows that the modularity option provides more advantages in Indonesia’s New Capital City development than the traditional cost and time reduction, longevity improvement, standardisation, product quality, minimising construction waste, and meeting high safety requirements. In large-scale demand, modularity is more profitable. The detailing design use BIM and RFID. The logistics efficiency supported by integrating transport and logistics processes as part of the project management system will outperform the conventional construction method. Keywords: Modular construction, new capital city project, sustainable infrastructure, SDG Abstrak. Industri infrastruktur merupakan salah satu sektor penting yang berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada triwulan kedua tahun 2020, infrastruktur menjadi penyumbang terbesar keempat bagi perekonomian Indonesia, dengan kontribusi 10,56% dari total PDB. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konstruksi modular memiliki keunggulan dari segi metode biaya, jadwal, maupun kualitas dibandingkan metode tradisional. Makalah ini membahas mengenai peluang untuk menerapkan konstruksi modular untuk pengembangan Proyek Ibu Kota Baru Indonesia. Penulis melakukan analisis SWOT dan analisis risiko untuk mengetahui manfaat dari penerapan tersebut. Kendala dari pengaplikasian system modular terutama dalam efisiensi biaya transportasi. Studi tersebut menunjukkan bahwa opsi konstruksi modular memberikan lebih banyak manfaat dalam pengembangan Ibu Kota Baru Indonesia daripada pengurangan biaya dan waktu tradisional, peningkatan umur panjang, standarisasi, kualitas produk, meminimalkan limbah konstruksi, dan memenuhi kriteria keselamatan tenaga kerja yang tinggi. Dalam permintaan skala besar, konstruksi modular akan lebih menguntungkan. Pengembangan DED untuk konstruksi modular menggunakan BIM dan RFID. Peningkatan efisiensi logistik dapat dilakukan dengan integrasi system transportasi dan logistik sebagai bagian dari manajemen proyek sehingga akan mengungguli metode konstruksi konvensional. Kata Kunci: Konstruksi modular, ibu kota negara, infrastruktur berkesinambungan
Pembuatan Cool Box Portable dengan Sistem Pendingin Air Guna Mendukung Cold Chain pada Distribusi Ikan dan Menjaga Kualitas Ikan Tangkapan Nelayan Achmad Mustakim; Mashuri; Firmanto Hadi; Hasan Iqbal Nur; Pratiwi Wuryaningrum; Oktaviani Turbaningsih; Alwi Sina Khaqiqi
Sewagati Vol 7 No 1 (2023)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2181.99 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v7i1.166

Abstract

Desa Bulak merupakan daerah yang berada di Kota Surabaya, dengan penduduk mayoritas bekerja sebagai nelayan. Permasalahan yang terjadi pada nelayan mengenai sulitnya bongkar muat hasil tangkapan ketika selesai mencari ikan. Hal ini dikarenakan lama waktu yang dibutuhkan untuk mencari ikan saat air pasang tidak bisa diprediksi dan nelayan tidak bisa membawa hasil tangkapan ke darat. Ikan yang akan dibawa perlu dipanggul membuat hasil tangkapan dapat berjatuhan. Penggunaan alat untuk menjaga kualitas ikan menggunakan es batu, tetapi tidak tahan lama dan biaya mahal. Ketika dalam penangkapan ikan membutuhkan waktu lama, maka kualitas ikan menurun yang membuat pendapatan nelayan menurun. Dengan kondisi ini, dilakukan analisi dengan metode HOQ membuat Cool Box Portable untuk menjaga kualitas tangkapan nelayan dan membantu proses bongkar muat hasil tangkapan. Untuk Cool Box Portable memiliki panjang 1150 mm, lebar 500 mm, dan tinggi 500 mm dengan kapasitas 25 kg. Untuk tinjauan waktu selama lima tahun dengan rasio manfaat sebesar 4,16 dengan kondisi eksisting sebesar 1,57.
Model Evaluasi Fasilitas Pengelolaan Limbah di Pelabuhan: Studi Kasus Pelabuhan Tanjung Priok Safira Rizkiah Wahyudi; Hasan Iqbal Nur; Oktaviani Turbaningsih
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.113632

Abstract

Pemanfaatan port reception facilities (PRF) di Pelabuhan Tanjung Priok dapat dikatakan belum optimal. Diketahui dari data 5 (lima) tahun ke belakang, jumlah kapal yang menggunakan fasilitas tersebut semakin menurun. Kapal yang membuang limbahnya di Pelabuhan Tanjung Priok kurang dari 0,27% pada tahun 2020. Hal tersebut terjadi karena mahalnya tarif yang dikenakan sehingga operator kapal memilih mengelola limbahnya sendiri. Dari permasalahan tersebut, dilakukan penelitian untuk mengetahui kondisi eksisting port reception facilities (PRF) di Pelabuhan Tanjung Priok, mengetahui potensi port reception facilities (PRF) di Pelabuhan Tanjung Priok, serta mengevaluasi port reception facilities (PRF) di Pelabuhan Tanjung Priok agar dapat meningkatkan jumlah penggunanya. Dalam penelitian ini, diberikan alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah pengguna port reception facilities (PRF) dengan beberapa skenario yaitu skenario pemberian subsidi dan skenario pemberian dana refund. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa pada saat kondisi eksisting tarif layanan PRF sebesar Rp 250.000 per ton mampu memproduksi jumlah kapal pengguna PRF yang membongkar limbah minyak dan air sebanyak 52 unit dan jumlah kapal pengguna PRF yang membongkar limbah sampah sebanyak 7.486 unit pada tahun 2023. Kemudian, skenario pemberian subsidi dapat menurunkan tarif layanan PRF sebesar Rp 175.000 per ton sehingga didapatkan besaran subsidi sebesar Rp 75.000 per ton. Skenario pemberian subsidi dapat meningkatkan jumlah kapal pengguna PRF yang membongkar limbah minyak dan air sebanyak 75 unit dan jumlah kapal pengguna PRF yang membongkar limbah sampah sebanyak 10.695 unit pada tahun 2023. Sedangkan, skenario pemberian dana refund dapat meningkatkan jumlah kapal pengguna PRF yang membongkar limbah minyak dan air sebanyak 59 unit dan jumlah kapal pengguna PRF yang membongkar limbah sampah sebanyak 8.777 unit pada tahun 2023. Sehingga dapat dinyatakan bahwa skenario pemberian subsidi memberikan peningkatan jumlah kapal pengguna PRF lebih besar.