Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penilaian Tingkat Keaktifan Peserta Didik dalam Pembelajaran Sejarah Sebagai Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional Elfa Michellia Karima; Firza Firza; Wahidul Basri; Ray Silva
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 3 Desember 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i3.24139

Abstract

The introduction of the revised 2013 curriculum, which is currently being used in the education curriculum in Indonesia, has had a new impact, particularly on the activeness of students. However, a new problem arises when a very different learning system is applied directly to students, necessitating adaptation on the part of both students and teachers. The purpose of this study is to identify the learning model used by teachers at SMAN 2 Lumajang, as well as the level of student activity at SMAN 2 Lumajang in implementing the revised 2013 curriculum system. The teacher can make an assessment based on the level of student activity. The quantitative descriptive method is used in this study. Data was collected by distributing online questionnaires via Google form to students at SMAN 2 Lumajang, and a literature review was conducted to further deepen the study in this research. According to the findings of this study, the implementation of the revised 2013 curriculum that the government has proclaimed has not been fully successful due to the discovery of a low level of student activity when the revised 2013 curriculum policy was implemented, and the 2013 revised curriculum was not fully implemented as it had been prepared, because there was still no alignment with the conditions of the students being taught. As a result, there is a need for the government to conduct a review of the revised 2013 curriculum in order to improve the quality of national education.
E-Tour Guide Berbasis QR Code Pada Museum Perang Sintuk untuk Menunjang Informasi Wisata Sejarah Hendra Naldi; Nora Susilawati; Erniwati Erniwati; Ray Silva; Mutiara Rejani Veronika
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 1 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i1.1216

Abstract

Museum Perang Sintuk hadir atas semangat pemuda Nagari Sintuk bernama Rio Tampati Putra pada tahun 2021. Museum ini adalah rumah yang berfungsi sebagai pos pengamatan pejuang pada 1948, dibangun sejak 1945, dan dihibahkan untuk pelestarian sejarah. Terdapat lebih kurang 300 benda bersejarah yang berada di museum ini. Namun sayangnya, karena keterbatasan dana, benda-benda bersejarah ini tidak memiliki deskripsi yang jelas sehingga mempersulit pengunjung untuk memperoleh informasi benda bersejarah tersebut secara detail. Penjaga museum atau Tour Guide museum ini juga minim sehingga pengunjung kesulitan dalam mendapatkan informasi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendata koleksi museum terkhususnya benda cagar budaya dan membuat Qr Code yang dapat diakses oleh pengunjung Museum Perang Sintuk sebagai penunjang informasi sejarah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Juni hingga Oktober 2024 di Museum Perang Sintuk. Metode kegiatan dilakukan dengan lima langkah yaitu survei, Pendekatan dengan pengelola Museum Perang Sintuk, Pengumpulan data, pembuatan produk Qr Code, Uji Coba dan Sosialisasi penggunaan produk yang telah memiliki Qr Code. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan Qr Code sebagai penunjang informasi sejarah di Museum Perang Sintuk memiliki dampak positif yang signifikan. Pengunjung merasa terbantu dengan adanya QR Code yang memudahkan mereka mengakses informasi detail tentang benda-benda bersejarah secara langsung melalui perangkat seluler mereka. Setiap QR Code terhubung ke halaman yang berisi deskripsi lengkap, asal usul, serta peran benda tersebut dalam sejarah perjuangan di Nagari Sintuk dan sekitarnya. Melalui uji coba dan sosialisasi, terlihat bahwa penggunaan QR Code meningkatkan pengalaman pengunjung, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dengan teknologi canggih museum.
Pelatihan Perangkat Ajar IPS Berbasis Culturally Responsive Teaching bagi Guru MGMP IPS Kota Padang Ridho Bayu Yefterson; Rery Novio; Ratna Wilis; Ray Silva
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 4 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i4.1604

Abstract

Guru IPS memerlukan penguatan profesional agar mampu merancang pembelajaran yang relevan dengan keragaman sosial-budaya peserta didik. Pengajaran yang responsif secara budaya (Culturally Responsive Teaching/CRT) menekankan peran aktif guru dalam mengaitkan materi IPS dengan identitas, pengalaman, dan konteks budaya peserta didik melalui interaksi kelas yang inklusif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan pelatihan CRT (melalui rangkaian pelatihan pendekatan CTRL yang digunakan dalam kegiatan) untuk meningkatkan kompetensi guru IPS anggota MGMP IPS Kota Padang dalam memahami prinsip CRT, merancang modul/RPP IPS berbasis kearifan lokal, serta menyiapkan strategi pembelajaran dan asesmen yang lebih responsif budaya. Dampak terhadap pembelajaran IPS yang lebih bermakna bagi peserta didik diposisikan sebagai outcome yang diharapkan melalui implementasi perangkat ajar yang disusun, namun tidak diukur secara langsung pada kegiatan ini. Metode pelaksanaan terdiri atas empat langkah, yaitu persiapan dan sosialisasi, kegiatan inti 1 (pembinaan), kegiatan inti 2 (pelatihan perancangan perangkat ajar dengan pendekatan CTRL), dan tahap pemberdayaan/evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan guru memperoleh pengetahuan dan strategi untuk mengaitkan pembelajaran IPS dengan latar budaya, yang tercermin pada modul/RPP yang disusun. Selain itu, berdasarkan kegiatan diseminasi perangkat ajar, sebanyak 90% guru melaporkan telah menerapkan prinsip pembelajaran responsif budaya dalam praktik pembelajaran sehari-hari.