Srie J. Sondakh
Sam Ratulangi University, Manado, Indonesia

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

TARAF HIDUP RUMAH TANGGA NELAYAN PENANGKAP GURITA DI DESA BULUTUI KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA PROVINSI SULAWESI UTARA Adhiah Mella Cahyani; Siti Suhaeni; Srie J. Sondakh; Florence V. Longdong; Steelma V. Rantung
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.45468

Abstract

Abstract The purpose of this study, first to find out what are the sources and how much income of octopus-catching fisherman households, secondly to find out what types and amounts of octopus-catching fisherman households spend, and thirdly to find out how the standard of living of octopus-catching fishermen is. The method used in this research is survey method. The population in this study were octopus fishermen in Bulutui Village. The data collection method used is census. The census was conducted on a total population of 38 respondents. The data collected consists of primary data and secondary data. Primary data collection was carried out through observation and interviews guided by questionnaires. Secondary data were obtained from the Bulutui Village Office and previous studies related to this research. The data analysis used is descriptive qualitative and quantitative analysis. The standard of living of octopus fishing households was analyzed using the Engel Index. Based on the research results, it is known that fishermen's household income comes from work as octopus fishermen, and side jobs are still in the field of fisheries, such as crew members. Other jobs outside the fishery sector such as being a construction worker and animal breeder. The average total household income of octopus fishermen in Bulutui Village for one year is Rp. 34.254.349. There are 2 types of expenditure for fishing households in Bulutui Village, which is expenditure for food and expenditure for non-food. The average total expenditure for one year is Rp. 34.254.349, which is divided into expenditure for food needs of Rp. 17.981.053 and expenditure for non-food needs which are Rp. 16.273.296. The results of the analysis of the Engel Index are 52,49%, meaning that more than half of the total income of octopus fishermen is used to meet food needs only. The proportion for food, which is 52,49%, is greater than the proportion for non-food, which is 47,51%. This indicates that the standard living or welfare level of octopus fishermen in Bulutui Village is still relatively low because more than half of their income is only sufficient to meet food needs.   Keywords: standard of living, fishermen, octopus, Bulutui.  Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sumber dan jumlah pendapatan rumah tangga nelayan penangkap gurita, dan untuk mengetahui jenis dan jumlah pengeluaran rumah tangga nelayan penangkap gurita, serta untuk mengetahui bagaimana taraf hidup nelayan penangkap gurita di Desa Bulutui. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode survei. Populasi dalam penelitian ini ialah nelayan penangkap gurita yang ada di Desa Bulutui yang berjumlah 38 orang. Metode pengambilan data menggunakan metode sensus Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi dan wawancara yang dipandu dengan kuisioner. Data sekunder diperoleh dari Kantor Desa Bulutui dan penelitian-penelitian terdahulu yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Analisis data yang digunakan iaalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Taraf hidup rumah tangga nelayan gurita dianalisis dengan Indeks Engel. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendapatan rumah tangga nelayan bersumber dari pekerjaan sebagai nelayan penangkap gurita, dan pekerjaan sampingan masih dibidang perikanan, seperti ABK. Pekerjaan lain diluar bidang perikanan seperti menjadi tukang bangunan dan peternak hewan. Total pendapatan rumah tangga nelayan penangkap gurita di Desa Bulutui rata-rata per tahun adalah Rp. 34.254.349. Pengeluaran rumah tangga nelayan di Desa Bulutui ada 2 macam, yaitu pengeluaran untuk pangan dan pengeluaran untuk non pangan. Total pengeluaran rata-rata per tahun adalah sebesar Rp. 34.254.349 yang terbagi menjadi pengeluaran untuk kebutuhan pangan sebesar Rp. 17.981.053 dan pengeluaran untuk kebutuhan non pangan yaitu sebesar Rp. 16.273.296. Hasil analisis Indeks Engel ialah 52,49%, artinya total pendapatan nelayan penangkap gurita lebih dari setengah pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan saja. Proporsi untuk pangan yaitu 52,49% lebih besar dibanding proporsi untuk non pangan yaitu 47,51%. Hal ini menandakan bahwa taraf hidup atau tingkat kesejahteraan nelayan penangkap gurita di Desa Bulutui masih tergolong rendah. Kata Kunci: taraf hidup, nelayan, gurita, Bulutui
PERSEPSI NELAYAN TERHADAP INDUSTRI KECIL PENGOLAHAN IKAN ROA ASAP DI DESA KINABUHUTAN KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Sarah Safitri` Ramadhany; Siti Suhaeni; Srie J. Sondakh; Victoria E.N. Manoppo; Steelma V. Rantung; Olvie V. Kotambunan
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.44893

Abstract

Abstract Kinabuhutan Village is a coastal village located on a small island in West Likupang District, North Minahasa Regency, North Sulawesi Province. The majority of Kinabuhutan Village residents work as fishermen and most of them are traditional fishermen. One of the catches of fishermen in Kinabuhutan Village is the Julung-julung fish or in the local language it is known as the roa fish. Almost all of the catches of roa fish in Kinabuhutan Village are accommodated by smoked roa fish processing entrepreneurs in Kinabuhutan Village as raw materials.It is necessary to examine the assessment, views, perceptions and attitudes of fishermen as raw material suppliers towards the existence of a small smoked roa fish processing industri in Kinabuhutan Village in order to determine the sustainability of each business, both fishermen and smoked roa fish processors. If all attitudes and views of the fishing community towards the smoked roa fish processing small industry are negative, then there will be no support from fishermen for efforts to develop existing smoked roa fish processing businesses. The positive perception of the community is an important factor that determines the success and sustainability of the small smoked roa fish processing industry in Kinabuhutan Village. The purpose of this study was to find out how fishermen's knowledge of the functions and benefits of smoked roa fish processing small industries in Kinabuhutan Village and to find out fishermen's perceptions of smoked roa fish processing small industries in Kinabuhutan VillageThe population in the study were all fishermen who owned roa fishing gear, totaling 27 people. This research method used a survey method. Retrieval of data using the census method, namely the entire population is used as a respondent. The data collected is in the form of primary data and secondary data. Primary data was collected by means of observation and interviews guided by questionnaires. Secondary data is collected through notes or reports obtained from the Kinabuhutan Village office. Data analysis in this study used qualitative analysis which was quantified using a Likert scale analysis.Based on the results of the research analyzed using the Gutman Scale, it is known that 86.48% of fishermen in Kinabuhutan Village know the functions and benefits of a small smoked roa fish processing industry in Kinabuhutan Village. The results of the Likert scale analysis show that fishermen's perceptions of the small smoked roa fish processing industri in Kinabuhutan Village are very good. This is evidenced by the results of the average Likert scale dimension, which is 4.28, which means it is on a very good scale. Keywords: perception; fishermen; roa smoke; Kinabuhutan   Abstrak Desa Kinabuhutan merupakan salah satu desa pesisir yang terletak di sebuah pulau kecil di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Mayoritas penduduk Desa Kinabuhutan bekerja sebagai nelayan dan kebanyakan merupakan nelayan tradisional. Salah satu hasil tangkapan nelayan di Desa Kinabuhutan adalah ikan Julung-julung atau dalam bahasa daerahnya terkenal dengan ikan roa. Hasil tangkapan ikan roa di Desa Kinabuhutan hampir semuanya ditampung oleh pengusaha pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan sebagai bahan baku. Penilaian, pandangan, persepsi dan sikap nelayan sebagai pemasok bahan baku terhadap adanya industri kecil pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan perlu untuk diteliti agar dapat mengetahui keberlanjutan usaha masing-masing, baik nelayan maupun pengolah ikan roa asap. Jika seluruh sikap dan pandangan masyarakat nelayan terhadap industri kecil pengolahan ikan roa asap adalah negatif, maka tidak akan ada dukungan dari nelayan terhadap upaya pengembangan usaha pengolahan ikan roa asap yang ada. Persepsi yang positif dari masyarakat merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan industri kecil pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengetahuan nelayan akan fungsi dan manfaat industri kecil pengolahan ikan roa asap di Desa Kinabuhutan dan untuk mengetahui persepsi nelayan terhadap industri kecil pengolahan ikan roa asap di Desa Kinabuhutan Populasi dalam penelitian adalah semua nelayan pemilik alat tangkap ikan roa yang berjumlah 27 orang Metode penelitian ini menggunakan metode survey. Pengambilan data menggunakan metode sensus yaitu seluruh populasi dijadikan responden. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara yang dipandu dengan kuesioner. Data sekunder dikumpulkan melalui catatan atau laporan yang diperoleh dari kantor Desa Kinabuhutan. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis kualitatif yang dikuantitatifkan dengan analisis skala Likert. Berdasarkan hasil penelitian yang dianalisis dengan Skala Gutman diketahui bahwa 86,48% nelayan di Desa Kinabuhutan mengetahui fungsi dan manfaat adanya industri kecil pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan. Hasil analisis skala Likert diketahui bahwa persepsi nelayan terhadap adanya industri kecil pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil rataan dimensi skala Likert yaitu 4,28 yang berarti berada dalam skala yang sangat baik. Kata Kunci: persepsi; nelayan; roa asap; Kinabuhutan
KEADAAN SOSIAL EKONOMI KELUARGA NELAYAN HAND LINE DI DESA ONGKAW I KECAMATAN SINONSAYANG KABUPATEN MINAHASA SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA Gerry Samuel Waraney Tombokan; Srie J. Sondakh; Swenekhe S. Durand; Jardie A. Andaki; Djuwita R.R. Aling; Grace O. Tambani
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.45706

Abstract

Abstract Fishermen are a group of people who live in coastal areas, live together and meet their needs from marine resources. Communities living in coastal areas have socio-economic characteristics that are closely related to existing marine resources. The existence of fishermen socially and economically, in the sense that the number of fishermen in Indonesia is on average dominated by small fishermen or traditional fishermen. The purpose of this study was to determine the socio-economic conditions of fishermen's families in Ongkaw I Village, Sinonsayang District, South minahasa District.The method used in this research is survey method. The population in this study were traditional fishing rods in Ongkaw I Village. The data collection method was carried out by census. The census was conducted on a total population of 14 people. The data collected consists of primary data and secondary data. Primary data collection was carried out through observation and interviews guided by questionnaires. Secondary data was obtained from the Ongkaw Village Office. The data analysis used is descriptive qualitative and quantitative analysis.Based on the results of the study, it is known that fishermen's household income comes from their main job as fishermen, and side jobs are still in the fisheries sector as well as outside the fisheries sector. The average total income of fishing families in Ongkaw village per year is IDR 34,200,000. Expenditures for fishing households in Ongkaw I Village, which are divided into expenditures for food needs of IDR 8,460,000 and expenditures for non-food needs, namely IDR 540,843.  Keywords: social economy; fishermen; hand line; Ongkaw Village  Abstrak Nelayan merupakan sekelompok mayarakat yang tinggal di wilayah pesisir, hidup bersama dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber daya laut. Masyarakat yang hidup di daerah pesisir memiliki karakteristik secara sosial ekonomi sangat terkait dengan sumber hasil laut yang ada. Keberadaan nelayan secara sosial dan ekonomi, dalam arti jumlah nelayan di Indonesia rata-rata didominasi oleh nelayan kecil atau nelayan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi keluarga nelayan Desa Ongkaw I Kecamatan sinonsayang Kecamatan Minahasa Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah nelayan tradisional pancing ulur yang ada di Desa ongkaw I. Metode pengambilan data yang dilakukan secara sensus. Sensus dilakukan pada total populasi 14 orang. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi dan wawancara yang dipandu dengan kuisioner. Data sekunder diperoleh dari Kantor Desa Ongkaw I. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendapatan rumah tangga nelayan bersumber dari pekerjaan pokok sebagai nelayan, dan pekerjaan sampingan masih di bidang perikanan maupun diluar bidang perikanan. Total pendapatan keluarga nelayan di Desa Ongkaw I rata-rata per tahun adalah Rp34.200.000. Pengeluaran rumah tangga nelayan di Desa Ongkaw I yaitu yang terbagi menjadi pengeluaran untuk kebutuhan pangan sebesar Rp8.460.000 dan pengeluaran untuk kebutuhan non pangan yaitu sebesar Rp540.843. Kata Kunci: sosial ekonomi; nelayan; hand line; Desa Ongkaw
GENDER PADA RANTAI NILAI USAHA PERIKANAN TANGKAP HAND LINE DI DESA ONGKAW KECAMATAN SINONSAYANG KABUPATEN MINAHASA SELATAN Elisabeth Sharon Arshely Wagey; Jardie A. Andaki; Christian R. Dien; Jeannette F. Pangemanan; Srie J. Sondakh; Steelma V. Rantung
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.45896

Abstract

Abstract The purpose of this study was to analyze the extent to which the contribution of coastal women's businesses to hand line fishermen's household income in Tateli Weru Village, Mandolang District, Minahasa Regency, North Sulawesi Province. The method used in this research is survey. The data collected consists of primary data and secondary data. Data collection was carried out through observation, interviews, questionnaires and documentation, both photo documentation and retrieval of written documents from relevant agencies. The data obtained were analysed by quantitative descriptive analysis and qualitative descriptive analysis, then analysed the contribution of the hand line fisherman's wife's business to the fishermen's family income. Based on the results of the study, it can be concluded that the contribution of the fishing rod fishermen's income to family income is in the form of work as a seller of yellow rice, petibo, seller of pop ice / cendol / shaved ice, cake seller, fresh fish seller, stall business, fried food seller. The average contribution of hand line fishermen's wives from various jobs is 52.85% Keywords: contribution; fisherman's wife income; Tateli Weru Abstrak Tujuan penelitian ini ialah menganalisis sejauh mana kontribusi usaha perempuan pesisir terhadap pendapatan rumah tangga nelayan pancing ulur di Desa Tateli Weru Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, kuisioner dan dokumentasi baik itu dokumentasi foto maupun pengambilan dokumen tertulis pada instansi terkait. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif, selanjutnya dilakukan analisis kontribusi usaha istri nelayan pancing ulur pada pendapatan keluarga nelayan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kontribusi pendapatan istri nelayan pancing ulur terhadap pendapatan keluarga dalam bentuk pekerjaan sebagai penjual nasi kuning, petibo, penjual pop ice/cendol/es cukur, penjual kue, penjual ikan segar, usaha warung, penjual gorengan. Rata-rata kontribusi isteri nelayan pancing ulur dari berbagai pekerjaan yaitu sebesar 52,85% Kata kunci: kontribusi; pendapatan istri nelayan; Tateli Weru
ANALISIS FINANSIAL USAHA PEMASARAN IKAN NILA DI DESA WARUKAPAS KECAMATAN DIMEMBE KABUPATEN MINAHASA UTARA Josua Lenox Siby; Srie J. Sondakh; Swenekhe S. Durand; Jardie A. Andaki; Djuwita R.R. Aling; Grace O. Tambani
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.46099

Abstract

Abstract The potential for Indonesian aquaculture land is quite large, supported by Indonesia's natural conditions which have favorable physiographical diversity for aquaculture. The water temperature in the tropics is relatively high and stable throughout the year, allowing cultivation activities to take place throughout the year. Diverse landscape and coastal typologies provide opportunities for the development of diverse cultivation commodities. Warukapas Village is one of the tilapia producing villages. It was recorded that tilapia produced in 2010 amounted to 500 tons with an area of ​​15 ha. Warukapas village is one of the tilapia producing villages. It was recorded that 500 tons of tilapia were produced in 2011 with an area of ​​15 ha. The tilapia business is one of the people's choices because tilapia is a type of commercial fish that is profitable. The purpose of this study was to determine the financial feasibility of the tilapia marketing business which is a community business in Warukapas Village, Dimembe District, North Minahasa Regency and the benefits obtained in this study are to provide information on the feasibility of the tilapia business, and can be initial data for future research development. as well as providing insight into knowledge for writers about the feasibility of tilapia business in the village of Warukapas. Methods in data collection using purposive sampling method. The data collected consists of primary data and secondary data. Furthermore, financial analysis, namely Operating Profit, Net Profit, Profit Rate, Benefit Cost Ratio, Profitability, Break Event Point. The results of the study show that the marketing of tilapia in Warukapas Village has a marketing chain that starts from fish farmers to collecting traders after which it is distributed to consumers. The results of the feasibility analysis of tilapia marketing business in Warukapas Village through calculations, namely the value of Operating Profit gets a result of IDR 156,782,000, the value of Net Profit is IDR 149,248,167, Profit Rate gets a percentage of 504%, BCR value shows 6.04 indicating that the business is feasible to run, Profitability shows a value of 382% including the very good category, BEP or break-even point which includes Sales BEP of Rp. 8,593,399.11, and the unit BEP value is 245.525 birds. So the results given through calculations using existing financial analysis tools show that the tilapia marketing business in Warukapas Village is very feasible to run   Keywords: financial analysis; tilapia fish; Warukapas Village   Abstrak Potensi lahan perikanan budidaya Indonesia cukup besar didukung oleh kondisi alam Indonesia yang mempunyai keragaman fisiografis menguntungkan untuk akuakultur. Temperatur air wilayah tropis relatif tinggi dan stabil sepanjang tahun memungkinkan kegiatan budidaya berlangsung sepanjang tahun. Tipologi bentang lahan dan pesisir yang beragam memberi peluang untuk pengembangan komoditas budidaya yang beragam. Desa Warukapas merupakan salah satu Desa penghasil ikan nila. Tercatat ikan nila yang di produksi pada tahun 2010 sebesar 500-ton dengan luas areal sebesar 15 ha. Desa Warukapas merupakan salah satu desa penghasil ikan nila. Tercatat ikan nila yang di produksi pada tahun 2011 sebanyak 500-ton dengan luas areal sebesar 15 ha. Usaha ikan nila menjadi salah satu pilihan masyarakat di karenakan ikan nila merupakan salah satu jenis ikan komersial yang menguntungkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan finansial dari usaha pemasaran ikan nila yang menjadi usaha masyarakat di Desa Warukapas Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara serta manfaat yang didapatkan dalam penelitian ini adalah memberikan informasi layak tidaknya usaha ikan nila, dan bisa menjadi data awal untuk pengembangan penelitian dikemudian hari serta memberikan wawasan pengetahuan bagi penulis tentang kelayakan usaha ikan nila di desa Warukapas. Metode dalam pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Selanjutnya, menganalisis finansial yaitu Operating Profit, Net Profit, Profit Rate, Benefit Cost Ratio, Rentabilitas, Break Event Point. Hasil dari penelitian bahwa pemasaran ikan nila di Desa Warukapas memiliki rantai pemasaran yang dimulai dari Petani Ikan ke pedagang pengumupul setelah itu disalurkan ke konsumen. Hasil analisis kelayakan usaha pemasaran ikan nila di Desa Warukapas melalui perhitungan yaitu nilai Operating Profit mendapatkan hasil sebesar Rp 156.782.000, nilai dari Net Profit sebesar Rp Rp 149.248.167, Profit Rate mendapatkan persentase sebesar 504%, nila BCR menunjukkan 6,04 menandakan bahwa usaha tersebut layak dijalankan, Rentabilitas menunjukkan nilai 382% termasuk kategori baik sekali, BEP atau titik impas yang meliputi BEP Penjualan sebesar Rp. 8.593.399,11, dan nilai BEP satuan sebesar 245,525 ekor. Maka dengan hasil yang diberikan lewat perhitungan menggunakan alat analisis finansial yang ada menunjukkan bahwa usaha pemasaran ikan nila di Desa Warukapas sangat layak untuk dijalankan.   Kata kunci: analisis finansial; ikan nila; Desa Warukapas
NILAI EKONOMI TIDAK LANGSUNG EKOSISTEM MANGROVE DI KELURAHAN PINTU KOTA KECAMATAN LEMBEH UTARA KOTA BITUNG Joshua Junior Rumengan; Jardie A. Andaki; Florence V. Longdong; Srie J. Sondakh; Siti Suhaeni; Djuwita R.R. Aling
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.46104

Abstract

Abstract The purpose of this study was to identify indirect benefits and calculate the indirect economic value of mangrove ecosystems in Pintu Kota Village, Lembeh Utara District, Bitung City. The population in this study are people who own houses and use wells in Pintu Kota Village. The data collection method uses the sampling method, which only takes a portion of the sample from the population. Sampling using incidental sampling technique. The data collected is in the form of primary data and secondary data. Primary data were obtained through interviews and direct field observations. Secondary data was obtained from existing data at the village office or from previous studies. Based on the results of the study, it can be concluded that the indirect benefits of mangrove ecosystems in Pintu Kota Village, Lembeh Utara District, Bitung City are as windbreaks, abrasion prevention, wave arrestors and seawater intrusion barriers. The indirect economic value of the mangrove ecosystem in Pintu Kota Village, Lembeh Utara District, Bitung City for windbreaks is Rp565,782,656/year, for preventing abrasion is Rp4,216,299,500/year, for wave barriers is Rp229,866,184/year, and for anchoring seawater intrusion, which is Rp26,912,550,000/year. The total indirect economic value of the mangrove ecosystem in Pintu Kota Village, Lembeh Utara District, Bitung City, is Rp43,515,887,480/year.   Keywords: economic value, indirect benefits, mangrove   Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi manfaat tidak langsung dan menghitung nilai ekonomi tidak langsung ekosistem mangrove di Kelurahan Pintu Kota Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang memiliki rumah dan menggunakan sumur di Kelurahan Pintu Kota. Metode pengumpulan data menggunakan metode sampling, dimana hanya mengambil sebagian sampel dari populasi. Pengambilan sampel menggunakan teknik incidental sampling. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, dan observasi langsung ke lapangan. Data sekunder diperoleh dari data yang sudah ada pada kantor kelurahan ataupun dari penelitian-penelitian terdahulu. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa manfaat tidak langsung ekosistem mangrove di Kelurahan Pintu Kota Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung yaitu sebagai penahan angin, pencegah abrasi, penahan gelombang dan penahan intrusi air laut. Nilai ekonomi tidak langsung ekosistem mangrove di Kelurahan Pintu Kota Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung untuk penahan angin yaitu Rp565.782.656/tahun, untuk pencegah abrasi yaitu Rp4.216.299.500/tahun, untuk penahan gelombang yaitu Rp229.866.184/tahun, dan untuk penahan intrusi air laut yaitu Rp26.912.550.000/tahun. Total nilai ekonomi tidak langsung ekosistem mangrove di Kelurahan Pintu Kota Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung yaitu Rp43.515.887.480/tahun.   Kata Kunci: nilai ekonomi, manfaat tidak langsung, mangrove
ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PENGOLAHAN IKAN KAYU DI PT. CELEBES MINAPRATAMA KOTA BITUNG Patrisia Hurup; Grace O. Tambani; Nurdin Jusuf; Victoria E.N. Manoppo; Florence V. Longdong; Srie J. Sondakh
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.46138

Abstract

Abstract Added value is added value that occurs because a commodity undergoes processing, transportation and storage in a production process (use of functional input). Added value is influenced by technical factors and non-technical factors. This study aims to identify and analyze the added value of wooden fish processing at PT. Celebes Minapratama Bitung City. The method used in this study was a survey, the data taken in this study consisted of primary data and secondary data. Primary data is data obtained from interviews using questionnaires and direct field observations. Primary data collection in this study was carried out using the census method. The respondents in this study were production managers, heads of personnel and heads of finance. Secondary data is data obtained from various written sources both from related agencies, companies and literature related to added value analysis. The data analysis used in this study is a qualitative descriptive analysis and a quantitative descriptive analysis. The data described in the qualitative descriptive analysis is in the form of an explanation regarding the general condition of the fishing industry, organizational structure, workforce, products and processing activities of PT. Sulawesi Minapratama. Quantitative descriptive analysis was carried out to analyze the added value of wooden fish products using an analysis tool in the form of Microsoft Excel. Systematically the added value function (NT) using the method of Hayami, et al (1987) in Nurhayati (2004) can be formulated as NT = f (T,H,U,h) The results of the study can be concluded: 1). The factors that affect the added value of wood fish processing are: Input and output, input and output prices, labor and labor wages. 2). The added value for wood fish products of size <1 kg is an added value of Rp.477,400,000, sizes> 1 kg is Rp.263,640,000 and for tuna is Rp.205,320,000. Based on the results of the research, it is suggested that there should be an increase in added value so that PT. Celebes Minapratama get higher profits and there is a need for socialization on the use of timber fish for public consumption.   Keywords: processing; wooden fish; fish company, added value   Abstrak Nilai tambah merupakan pertambahan nilai yang terjadi karena suatu komoditi mengalami proses pengolahan, pengangkutan, dan penyimpanan dalam suatu proses produksi (penggunaan input fungsional). Nilai tambah dipengaruhi oleh faktor teknis dan faktor non teknis. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi dan memganalisis nilai tambah pengolahan ikan kayu di PT. Celebes Minapratama Kota Bitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei, data yang diambil dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner dan observasi langsung ke lapangan. Pengambilan data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sensus. Adapun responden dalam penelitian ini adalah manajer produksi, kepala bagian personalia dan kepala bagian keuangan. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari berbagai sumber tertulis baik dari instansi terkait, perusahaan maupun pustaka yang berhubungan dengan analisis nilai tambah. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif. Data yang digambarkan dalam analisis deskriptif kualitatif berupa penjelasan mengenai keadaan umum industri perikanan, struktur organisasi, tenaga kerja, produk dan kegiatan pengolahan PT. Celebes Minapratama. Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan guna menganalisis nilai tambah produk ikan kayu dengan menggunakan alat bantu analisis berupa microsoft excel. Secara sistematis fungsi nilai tambah (NT) menggunakan metode Hayami, dkk (1987) dalam Nurhayati (2004) dapat dirumuskan NT = f (T,H,U,h) Hasil penelitian dapat disimpulkan: 1). Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tambah untuk pengolahan ikan kayu yaitu: Input dan output, harga input dan output, tenaga kerja dan upah tenaga kerja. 2). Nilai tambah pada produk ikan kayu ukuran <1 kg terjadi nilai tambah sebesar Rp.477.400.000, ukuran >1 kg sebesar Rp.263.640.000 dan untuk ikan tongkol sebesar Rp.205.320.000. Berdasarkan hasil penelitian disarankan perlu adanya peningkatan nilai tambah sehingga PT. Celebes Minapratama mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dan perlu adanya sosialisasi pemanfaatan ikan kayu untuk konsumsi umum.   Kata kunci: pengolahan; ikan kayu; perusahaan ikan, nilai tambah
STUDI USAHA TRANSPORTASI TAXI LAUT DI PULAU TALISE KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Hardiansyah Djunaidi; Srie J. Sondakh; Victoria E.N. Manoppo; Nurdin Jusuf; Siti Suhaeni; Olvie V. Kotambunan
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.46154

Abstract

Abstract Transportation is one of the means that is needed by humans when they are on the move, especially in terms of fulfilling economic needs. Transportation exists with various travel media, namely by land, sea and air. The distance from Talise Island to the capital city of West Likupang District is 21 km, so that people use sea transportation as their main means of activity, using viber boats, ketinting boats and body boats which are often used by the community as a means of inter-island sea transportation. Based on this background, it is necessary to conduct a study to provide an overview of how the inter-island sea taxi transportation business is on Talise Island, West Likupang District. The method used in this research is survey method. The data collection method used was a census. The population in this study were all inter-island sea taxi transportation entrepreneurs on Talise Island, West Likupang District. The time needed to carry out the research is approximately 5 months, from September to January 2023. The results of the research were analyzed based on quantitative descriptive and qualitative descriptive analysis. The results of the analysis carried out can be concluded that the investment required in the sea taxi business on Talise Island is Rp. 172,000,000, while the total costs incurred in the sea taxi business on Talise Island amounted to Rp. 155,930,000. The results of the analysis of the feasibility of a sea taxi business on Talise Island show a net profit of Rp. 25,736,667: Operating profit of IDR 43,166,667.; the value of the positive profit rate is equal to 14.17%; The profitability is 14.96%. The BCR value > 1 is 1.17%, which means that this business is feasible. Sales proceeds or service revenue of IDR 181,666,667 and passengers of 4,600 people above the BEP receipts (BEP receipts IDR 93,939,394) and the BEP for passenger units (BEP Units 2,147 people) and the Payback Period is 2 years 4 months 2 days.   Keywords: boat, transportation; investment; feasibility; Talise   Abstrak Transportasi merupakan salah satu sarana yang sangat dibutuhkan manusia ketika beraktivitas, apalagi dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi. Transportasi ada dengan berbagai media perjalanan, yaitu melalui daratan, lautan dan udara. Jarak dari Pulau Talise ke Ibukota Kecamatan Likupang Barat yaitu 21 km, sehingga masyarakat menggunakan trasportasi laut sebagai sarana utama untuk beraktivitas, dengan menggunakan perahu viber, perahu ketinting dan perahu body yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai salah satu alat transportasi laut antar pulau. Berdasarkan latar belakang ini maka perlu dilakukan studi guna memberikan gambaran umum tentang bagaimana keadaan usaha transportasi taksi laut antar pulau yang ada di Pulau Talise Kecamatan Likupang Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Metode pengambilan data yang dilakukan adalah sensus.. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan pengusaha transportasi taksi laut antar pulau yang ada di Pulau Talise Kecamatan Likupang Barat. Waktu yang diperlukan dalam melaksanakan penelitian kurang lebih 5 bulan, yaitu dari bulan September–Januari 2023. Hasil penelitian dianalisis berdasarkan analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa investasi yang dibutuhkan dalam usaha taksi laut di Pulau Talise adalah sebesar Rp. 172.000.000, sedangkan total biaya yang dikeluarkan dalam usaha taksi laut di Pulau Talise adalah sebesar Rp. 155.930.000. Hasil analisis kelayakan usaha taksi laut di Pulau Talise diperoleh keuntungan bersih per tahun sebesar Rp. 25.736.667: Operating profit sebesar Rp.43.166.667.; nilai profit ratenya positif yaitu sebesar 14,17%; Rentabilitasnya yaitu 14,96%. Nilai BCR > 1 yaitu 1,17% yang artinya usaha ini layak dijalankan. Hasil penjualan atau pendapatan jasa Rp 181.666.667 dan penumpang sebanyak 4.600 orang diatas BEP penerimaan (BEP penerimaan Rp. 93.939.394) maupun BEP satuan penumpang (BEP Satuan 2.147 orang) dan Payback Periodnya 2 tahun 4 bulan 2 hari.   Kata kunci: perahu, transportasi; investasi; kelayakan usaha; Talise  
MANAJEMEN USAHA PERIKANAN TANGKAP PANCING ULUR DI DESA KATIALADA KECAMATAN KWANDANG KABUPATEN GORONTALO UTARA Isnawati Mangopa; Srie J. Sondakh; Swenekhe S. Durand; Jardie A. Andaki; Djuwita R.R. Aling; Grace O. Tambani
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.46174

Abstract

Abstract Katialada Village is one of the villages in Kwandang District, North Gorontalo Regency, Gorontalo Province, which is on the north coast of Gorontalo where as many as 208 people depend on the sea for their lives. Capture fisheries are fisheries whose business base is in the form of fishing in the sea or in public waters. The aim of the Handline research is a simple fishing line. Usually it only consists of a fishing line, fishing line and sinkers and is operated by one person and the fishing line goes directly to the hand. The aim of this research is to find out the management of hand line capture fisheries business. The basic method used in this research is a case study, the data collected consists of primary data and secondary data and data analysis using qualitative descriptive analysis and quantitative descriptive analysis. The results of the research are based on the analysis of hand line business in Katialada Village with an operating profit of Rp214,831,400, net profit or absolute profit from hand line business, namely Rp21,466,400. Based on the analysis results of the hand line fishing business in Katialada Village that has been carried out, it can be concluded that the hand line fishing business is feasible to run.   Keywords: company, canned fish, labour, value chain, gender   Abstrak Desa Katialada merupakan salah satu Desa di Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo yang ada di pesisir utara Gorontalo dimana sebanyak 208 jiwa menggantungkan hidupnya di lautan. Perikanan Tangkap adalah perikanan yang basis usahanya berupa penangkapan ikan di laut maupun di perairan umum. Tujuan dari penelitin Pancing Ulur (handline) yaitu pancing yang sederhana. Biasanya hanya terdiri dari pancing, tali pancing dan pemberat serta dioperasikan oleh satu orang dan tali pancing langsung ke tangan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui manejemen usaha perikanan tangkap pancing ulur. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder serta analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian berdasarkan analisis usaha pancing ulur di Desa Katialada dengan operating profit yaitu Rp214.831.400, net profit atau keuntungan absolut dari usaha pancing ulur yaitu Rp21.466.400. berdasarkan hasil analisis usaha pancing ulur di Desa Katialada yang telah dilakukan dapat disimpulakan bahwa usaha perikanan tangkap pancing ulur ini layak dijalankan.   Kata kunci: manajemen; pancing ulur; Desa Katialada
GENDER PADA RANTAI NILAI PRODUK PENGOLAHAN IKAN KALENG DI PT. SAMUDRA MANDIRI SENTOSA KOTA BITUNG Brigita Angelita Pangerapan; Jardie A. Andaki; Swenekhe S. Durand; Srie J. Sondakh; Steelma V. Rantung; Olvie V. Kotambunan
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.46180

Abstract

Abstract This study aims to identify and analyse gender differences in the damage to the value of canned fish processing products at PT. Samudra Mandiri Sentosa. The method used in this research is a case study approach. A case study is research that is conducted centrally on a particular case to be observed and analysed carefully to completion. Case study data were obtained by interviewing, observing and studying various documents related to the topic under study. Data collection in this study was carried out by the sampling method, while the sampling method used was purposive sampling, which was carried out by taking subjects who were not based on strata, random or region but based on research objectives. Data collection was carried out on workers at PT. Samudra Mandiri Sentosa Bitung Bitung City. Based on the results of the research and discussion it can be interpreted: 1) there are gender differences in each value chain of canned fish processing products at PT. Samudra Mandiri Sentosa Bitung Bitung City starting from reception, skinning, loinning, packing, case up and labelling at PT. Samudra Mandiri Sentosa Bitung City of Bitung; 2) the role of women is more (84.36%) in lighter jobs because it requires extra skill and precision and diligence from female workers, while men (15.64%) are more in heavy work and use machines.   Keywords: company; canned fish; labour; value chain; gender   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perbedaan gender pada rantai nilai produk pengolahan ikan kaleng di PT. Samudra Mandiri Sentosa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus. Studi kasus adalah penelitian yang dilakukan secara terfokus pada suatu kasus tertentu untuk diamati dan dianalisis secara cermat sampai tuntas. Data studi kasus diperoleh dengan wawancara, observasi dan mempelajari berbagai dokumen yang terkait dengan topik yang diteliti. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode sampling, adapun pengambilan sampling menggunakan metode purposive sampling, yaitu dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan strata, random atau daerah tetapi didasarkan pada tujuan penelitian. Pengambilan data dilakukan pada pekerja di PT. Samudra Mandiri Sentosa Bitung Kota Bitung. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan: 1) terdapat perbedaan gender pada setiap rantai nilai produk pengolahan ikan kaleng di PT. Samudra Mandiri Sentosa Bitung Kota Bitung mulai dari bagian receiving, skinning, loinning, packing, case up dan labeling di PT. Samudra Mandiri Sentosa Bitung Kota Bitung; 2) peranan perempuan lebih banyak (84,36%) pada pekerjaan yang lebih ringan karena membutuhkan keterampilan dan ketelitian ekstra serta ketekunan dari tenaga kerja perempuan, sedangkan laki-laki (15,64%) lebih pada pekerjaan yang berat dan menggunakan mesin.   Kata kunci: perusahaan; ikan kaleng; tenaga kerja; rantai nilai; gender