Patricius Neonnub
Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

REAKTUALISASI ETIKA, SOSIAL, DAN POLITIK DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT Patricius Neonnub
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 14 No 1 (2023): LUMEN VERITATIS: Jurnal Filsafat dan Teologi| APRIL 2023
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/lumenveritatis.v14i2.2301

Abstract

Etika tanggung jawab levinian mengungkapkan gagasan untuk menempatkan orang lain sebagai subjek yang unik dan berbeda sama sekali melalui wajah mereka yang terlihat. Konsekuensinya adalah pihak lain harus dihormati dan dihargai sebagai subyek. Sekaligus kehadiran orang lain menjadi tanggung jawab “aku”, tidak menyerap orang lain untuk disamakan dengan diriku atau bahkan ditaklukkan atau dikuasai. Pemahaman politik kita tereduksi hanya pada pemahaman kontestasi politik elektoral saja. Politik kehilangan maknanya sebagai bentuk hidup bersama untuk mencapai kebaikan bersama (Bonum Commune). Pasal tersebut mengusulkan agar pendidikan Indonesia memasukkan pendidikan politik ke dalam kurikulum pendidikan nasional dan pendidikan multikultural lebih ditekankan di sekolah agar persoalan primordial tidak berkembang pesat, dan generasi mendatang dapat menerima realitas plural Indonesia.
MENJADIKAN CINTA SEBAGAI PRINSIP NORMATIF DALAM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK: ANALISIS FILOSOFIS DAN KATEKETIS ATAS FRATELLI TUTTI Patricius Neonnub; Octovianus Kosat
Bahasa Indonesia Vol 26 No 1 (2026): April 2026
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34150/jpak.v26i1.1014

Abstract

The global ethical crisis, intensified by digital culture, has reduced love to a mere emotional expression, stripping it of its normative force in the public sphere. Pope Francis’ encyclical Fratelli Tutti (2020) offers a corrective by presenting love as the foundation of universal fraternity; however, its integration into Catholic religious education remains underexplored. This study aims to analyze love as a normative principle through the lens of Thomistic meta-ethics (ordo amoris) and examine its pedagogical implications for Catholic Religious Education in the digital era. Employing a philosophical-theological analysis and critical document study, this research synthesizes magisterial teaching, Aquinas’ moral teleology, and contextual catechetical methodologies. The primary contribution of this work lies in mapping a conceptual pathway from normative ethics to pedagogy by embedding ordo amoris into instructional strategies responsive to pluralism and algorithmic polarization. Findings affirm that a Catholic education grounded in normative love not only resists sentimental moralism but also functions as a transformative agent for social renewal, advancing the vision of universal fraternity advocated in Fratelli Tutti.
Maria as Nai Mnuke: Guardian of Land, Body, and Dignity—Reinterpreting Marian Devotion in the Mollo Indigenous Community Siprianus Soleman Senda; Helidorus F. Anin; Patricius Neonnub; Hendriko Dicky Tae Della; Oswaldus Agusto Haki Mamulak
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 11 No 1 (2026)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jw.v11i1.51190

Abstract

Marian devotion occupies a central place in Indonesian Catholic spirituality, yet it is frequently understood as an expression of personal piety detached from questions of gender justice and ecological responsibility. This study examines how Marian devotion is reinterpreted within the Mollo indigenous community of East Nusa Tenggara through the concept of Nai Mnuke. This contextual theological construct integrates Catholic Mariology with indigenous relational cosmology. Employing a qualitative approach grounded in reflective ethnography, the study collected data through participant observation, semi-structured interviews, focus group discussions, and document analysis in five villages where Marian devotion and customary practices remain closely intertwined. The findings reveal that Marian devotion functions as a relational religious praxis through which believers cultivate moral agency, communal solidarity, and ecological responsibility. Mollo women emerge as active theological interpreters who negotiate inherited devotional traditions in dialogue with their lived experiences, while Nai Mnuke provides a theological language that connects women’s dignity, care for the land, and Catholic faith within a shared moral horizon. Rather than representing a departure from Catholic orthodoxy, this reinterpretation deepens Marian devotion through creative dialogue between ecclesial tradition and indigenous wisdom. The study contributes to contextual Mariology by integrating Thomistic personalism, contextual feminist hermeneutics, and ecofeminism into a coherent analytical framework for understanding Marian devotion as lived religion. It further demonstrates that contextual Marian devotion can serve as a constructive theological resource for strengthening women’s agency, ecological stewardship, and pastoral engagement within indigenous Catholic communities.  
Self-determination dan Tanggungjawab Moral dalam Konflik Institusional: Perspektif Personalisme Karol Wojtyla Patricius Neonnub
Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik institusional sering dijelaskan melalui kategori struktural seperti kegagalan tata kelola, ketidakseimbangan kekuasaan, atau disfungsi organisasi. Pendekatan-pendekatan ini memang membantu menjelaskan kondisi sistemik yang memungkinkan konflik muncul, namun sering mengabaikan pertanyaan filosofis yang lebih mendasar: siapa sebenarnya agen moral dalam konflik institusional? Artikel ini berargumen bahwa penjelasan struktural tidak memadai tanpa dasar filosofis mengenai hakikat tindakan manusia. Dengan memanfaatkan dialog antara metafisika tindakan Thomistik dan personalisme Karol Wojtyła, artikel ini mengusulkan interpretasi alternatif terhadap konflik institusional sebagai momen penentuan diri moral (self-determination). Dalam tradisi Thomistik, tindakan moral (actus humanus) berakar pada kesatuan antara pengetahuan intelektual dan kehendak bebas, sehingga tanggung jawab moral terletak pada pribadi manusia, bukan pada struktur kolektif. Wojtyła memperdalam perspektif ini dengan menunjukkan bahwa tindakan manusia memiliki dimensi refleksif di mana individu tidak hanya bertindak di dunia, tetapi juga membentuk identitas moralnya melalui tindakan tersebut. Berdasarkan kerangka ini, artikel ini menunjukkan bahwa konflik institusional tidak dapat dipahami semata-mata sebagai gangguan organisasi, tetapi sebagai peristiwa moral di mana individu menghadapi ketegangan antara loyalitas institusional dan kesetiaan terhadap kebenaran. Dengan mengintegrasikan metafisika Thomistik dan personalisme Wojtyła, penelitian ini menawarkan interpretasi personalistik tentang konflik institusional yang menegaskan peran tak tergantikan dari agensi moral pribadi dalam kehidupan komunitas. Artikel ini menyimpulkan bahwa bahkan dalam struktur institusional yang paling kompleks sekalipun, tanggung jawab moral pada akhirnya kembali kepada pribadi manusia sebagai subjek tindakan bebas yang berorientasi pada kebenaran.   Kata kunci: konflik institusional; agensi moral; personalisme; Karol Wojtyła; metafisika tindakan Thomistik; tanggung jawab moral; kebaikan bersama
MENIMBANG LITERASI DIGITAL UNTUK PELESTARIAN BAHASA DAN BUDAYA: RETHINKING DIGITAL LITERACY FOR CULTURAL AND LINGUISTIC PRESERVATION Patricius Neonnub
Jubindo: Jurnal Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 3 (2025): Jurnal Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berargumen bahwa model literasi digital yang bersifat tekno-instrumental, pendekatan yang menitikberatkan pada penguasaan keterampilan teknis dalam penggunaan perangkat digital, tidak memadai secara etis dalam konteks pascakolonial dan berpotensi menimbulkan erosi budaya yang terselubung di balik klaim kemajuan. Dengan menjadikan Indonesia sebagai studi kasus, penelitian ini menyerukan perubahan normatif yang membingkai ulang literasi digital sebagai praksis filosofis yang mencakup dimensi etika dan kultural. Melalui penanaman prinsip keadilan dalam setiap proses pembelajaran daring, kerangka yang ditawarkan bertujuan mengarahkan literasi digital pada hasil yang transformatif, sekaligus melestarikan warisan budaya serta melindungi keberlangsungan lebih dari 700 bahasa lokal.
Revitalisasi filsafat skolastik dalam pendidikan agama Katolik: upaya kontekstualisasi tradisi Gereja di Keuskupan Agung Kupang Patricius Neonnub
Pastoralia Vol. 6 No. 2 (2025): Edisi Desember
Publisher : STIPAS Keuskupan Agung Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70449/pastoral.v6i2.213

Abstract

The crisis of relativism, post-truth, and the weak rationality of faith among the young generation of Catholics in Indonesia, especially in the Kupang Archdiocese, demands a new approach in Catholic religious education. This article offers a revitalization of scholastic philosophy, particularly the dialectical method of Saint Thomas Aquinas, as a framework for culturally and spiritually relevant, contextually grounded catechesis. This study employs a qualitative literature review approach, drawing on scholastic traditions, Church documents, and national Catholic religious education policies. The results of the study show that the scholastic method—with a quaestio–obiectio–responsio–ad obiecta pattern—can be inculcated in religious learning in formal schools through critical dialogue, faith reflection, and the use of local cultural symbols. The main contribution of this article is the offer of a scholastic–contextual integrative model that unites the intellectual tradition of the Church with contemporary pedagogical needs. The implications of this research include the need to train PAK teachers as reflective catechists, so that the scholastic tradition is not only a historical heritage, but also a living tradition that forms a reasoned faith.