Dinamika pendidikan di era globalisasi menuntut desain kurikulum kontemporer yang tidak hanya berfokus pada prestasi akademik di bidang STEM, tetapi juga menyentuh aspek moral-spiritual peserta didik. Dominasi pendekatan sekuler-positivistik dalam kurikulum modern saat ini memicu risiko sekularisasi akademik dan degradasi moral. Studi ini bertujuan untuk memetakan secara komprehensif urgensi, berbagai model, dan kendala operasional dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam kurikulum modern untuk menghilangkan dikotomi pengetahuan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode tinjauan pustaka. Data sekunder dikumpulkan secara digital dari draf artikel jurnal ilmiah nasional (terindeks Sinta) dan internasional (terindeks Scopus/WoS) yang bereputasi dalam lima tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai Islam (tauhid, akhlak, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi) melalui materi, metode, budaya, dan evaluasi mampu menciptakan pembelajaran holistik yang menyelaraskan kecerdasan intelektual dan spiritual. Konsep integrasi ini diimplementasikan melalui Model Infusi, Model Tematik, dan Model Filosofis, serta mengadaptasi tipologi kurikulum terintegrasi Robin Fogarty (Model Terhubung, Berjaring, Terintegrasi, dan Bersarang). Meskipun ideal, implementasi di lapangan menghadapi hambatan multidimensional seperti mentalitas silo (resistensi psikologis pendidik), keterbatasan perangkat pengajaran terintegrasi, kekakuan manajemen birokrasi jadwal sekolah, dan kompleksitas pengembangan instrumen penilaian autentik multi-aspek. Sebagai solusi praktis, perlu untuk mengoptimalkan komunitas pembelajaran lintas disiplin, merekonstruksi kebijakan, menerapkan sistem penjadwalan blok, dan menumbuhkan fleksibilitas dalam kepemimpinan sekolah untuk mendukung keberlanjutan kurikulum integratif adaptif tanpa merendahkan nilai-nilai agama.