Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

The Correlation Between Demographic Characteristics With Wash Practices In Stunting Locus Salsabila Nabilla Puspa Ilham; Laili Rahayuwati; Witdiawati Witdiawati; Iqbal Pramukti; Gusgus Ghraha Ramdhanie
Journal of Nursing Care Vol 6, No 1 (2023): Journal of Nursing Care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v6i1.44393

Abstract

Human factors are very complex in the spread of disease. Stunting is caused by chronic malnutrition and infections in toddlers. Lack of access to clean water, hygiene, and sanitation contributes to stunting. Demographic factors can affect a person’s motivation to maintain hygiene. This study aims to be determined the correlation between demographic characteristics and water, sanitation, and hygiene (WASH) practices at the stunting locus. The method in this study used a correlational quantitative method with a cross-sectional design to be measured demographic characteristic and WASH practices variables. The study population consisted of Sukamulya village residents, and 463 Sukamulya village residents were sampled using total sampling. SPSS Version 26 for Windows was used for univariate and bivariate Chi-Square analysis. The results showed that 228 (49.2%) out of 463 of respondents had poor WASH practices. The results of the correlation test showed that there was a correlation between level of education and WASH practices with a score of Chi-Square 17,564 (p-value = 0,002). There is a correlation between education level and WASH practices at the stunting locus. Education affects a person’s perspective and decision-making, including environmental hygiene and health. Thus, the government and policymakers should hold WASH programs to educate the public about keeping the stunting locus clean.
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Orangtua dengan Praktik Pemberian Makan pada Balita dalam Upaya Pencegahan Stunting Nuraulia Aghnia Armansyah; Laili Rahayuwati; Witdiawati Witdiawati
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i5.8541

Abstract

ABSTRACT Stunting is a chronic malnutrition problem that occurs because of inadequate intake of micro and/or macro nutrients due to inappropriate child feeding practices. Inappropriate child feeding practice can be influenced by individual and household level factors including parent’s education and parental income. This study aims to determine the relationship between the parent’s education level and parental income with the practice of feeding toddler to prevent stunting. This research is a correlative descriptive study with a cross-sectional approach. The population in this study are families with toddlers who live in Sukamulya Village, Bandung Regency. The sample of the study was 76 people chosen by total sampling. The results showed that most of the respondents (81.6%) had secondary education and had low income (56.6%), but the level of child feeding practices was in the poor category (56.6%). It can be concluded that there is no correlation between education level and parental income with child feeding practices (p0.05). However, the implementation of appropriate child feeding practices should be improved and applied through health education and empowering community groups to prevent stunting.  Keywords: Child Feeding Practices, Stunting Prevention, Education Level, Parental Income  ABSTRAK Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang salah satunya disebabkan karena rendahnya pemenuhan zat gizi mikro dan/atau makro akibat praktik pemberian makan anak yang tidak tepat. Ketidakoptimalan praktik pemberian makan anak dapat dipengaruhi oleh faktor kepentingan tingkat individu dan rumah tangga meliputi pendidikan dan pendapatan orangtua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pendapatan orangtua dengan praktik pemberian makan pada balita dalam upaya pencegahan stunting. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga dengan balita yang tinggal di Desa Sukamulya, Kabupaten Bandung. Sampel penelitian diambil dengan metode total sampling sebanyak 76 orang. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden (81,6%) berpendidikan menengah dan berpendapatan rendah (56,6%), namun tingkat praktik pemberian makan anak berada pada kategori kurang baik (56,6%). Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dan pendapatan orangtua terhadap praktik pemberian makan anak (p0,05). Meskipun begitu, pelaksanaan praktik pemberian makan anak yang tepat harus tetap ditingkatkan baik melalui pendidikan kesehatan maupun pemberdayaan kelompok masyarakat sebagai upaya dalam mencegah kejadian stunting. Kata Kunci: Praktik Pemberian Makan Anak, Pencegahan Stunting, Tingkat Pendapatan, Tingkat Pendidikan.
Perilaku Pencegahan HIV/AIDS pada Remaja: Self-Efficacy, Perceived Benefits dan Behavioral Intentions Witdiawati Witdiawati; Nisa Humaerotul Jannah; Umar Sumarna; Dadang Purnama
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i9.11132

Abstract

ABSTRACT HIV/AIDS cases in Indonesia continue to increase every year. Adolescent groups have a high risk of spreading and transmitting HIV/AIDS. The purpose of this study was to identify the behavioral features of adolescents in the prevention of HIV/AIDS. This research used quantitative descriptive method with cross sectional approach on 94 respondents of adolescents in Pangandaran Village. The behavioral instrument for HIV/AIDS prevention uses the Sexual Behavioral Abstine HIV/AIDS Questionnaire (SBAHAQ). The average age of respondents was 16.37 (SD=0.77). The highest response was women (62.8%). Most respondents already have positive behavior in HIV/AIDS prevention (76.6%), based on self-efficacy sub-variables mostly positive behavior (97.9%), perceived benefit mostly positive (97.9%) and behavior intention mostly positive (93.6%). HIV/AIDS prevention behavior is mostly good. But there are still some adolescent  who behave negatively. It is important to integrate and socialize HIV/AIDS prevention in adolescent activity programs. Further research on factors influencing adolescent behavior in HIV/AIDS prevention is needed with a larger sample size.  Keywords : Adolescent, Self Efficacy, Behavior, HIV/AIDS  ABSTRAK Kasus HIV/AIDS di Indonesia terus menerus meningkat pada setiap tahunnya. Kelompok remaja memiliki resiko yang cukup tinggi dalam penyebaran serta penularannya HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gambaran perilaku remaja dalam pencegahan HIV/AIDS. Penelitan ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional pada 94 responden remaja di Desa Pangandaran. Instrumen perilaku pencegahan HIV/AIDS mengunakan Sexual Behavioral Abstine HIV/AIDS Questionnaire (SBAHAQ). Rata-rata usia responden adalah 16.37 (SD=0,77). Respon terbanyak adalah perempuan (62.8%). Sebagian besar responden sudah memilki perilaku positif dalam pencegahan HIV/AIDS sebesar (76.6%), berdasarkan sub variabel self efficacy sebagian besar berperilaku positif (97.9%), perceived benefit sebagian besar positif (97.9%) dan behavior intention sebagian besar positif (93.6%). Perilaku pencegahan HIV/AIDS sebagian besar sudah baik. Namun masih ada beberapa remaja yang berperilaku negatif. Penting adanya integrasi dan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS pada program kegiatan remaja. Penelitian lanjutan terkait faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku remaja dalam pencegahan HIV/AIDS diperlukan dengan jumlah sampel yang lebih besar.  Kata Kunci : Remaja, Self Efficacy, Perilaku, HIV/AIDS
PkM Sosialisasi Aksi Bergizi Sebagai Upaya Pencegahan Anemia pada Siswa di SMPN 3 Garut Witdiawati Witdiawati; Dadang Purnama; Rohmalia M Noor
GUYUB: Journal of Community Engagement Vol 4, No 2 (2023): Pendampingan Peningkatan Ekonomi, Kesehatan, dan Pendidikan
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/guyub.v4i2.6545

Abstract

Currently, the prevalence of anemia in adolescents is still high. Anemia in adolescents is one of them caused by insufficient nutritional intake. Socialization is needed to increase adolescent knowledge and understanding of the importance of nutrition to prevent anemia. #AksiBergizi is one of the government's efforts in realizing healthy and anemia-free adolescents. Socialization activities for nutritious actions were carried out at SMPN 3 Garut with a health education method approach through a series of morning exercise activities together, breakfast together, giving material and giving blood-added tablets for female students. The activity was attended by 147 students. Of the total 41 students who were checked for HB, 21 students (51.2%) had low HB. Blood tablets were given to 88 female students.  Socialization of nutritious action is effective in increasing the understanding and knowledge of SMPN 3 Garut students in the prevention of anemia. There needs to be synergy between educational institutions and local health service institutions for the sustainability of school health programs.
Tingkat Hardiness pada Mahasiswa dalam Menghadapi Pembelajaran Online Masa Pandemi Cah Soniman Nitema Gea; Iyus Yosep; Udin Rosidin; Indra Maulana; Witdiawati Witdiawati
Jurnal Keperawatan Silampari Vol 6 No 2 (2023): Jurnal Keperawatan Silampari
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/jks.v7i1.4342

Abstract

This study aims to determine the hardiness of 2018 Unpad Faculty of Nursing final-year students dealing with online learning during a pandemic. The research method used in this research is a quantitative descriptive method. The results showed that 108 students (70.6%) of FKep Unpad A'2018 had moderate hardiness. In conclusion, the resilience and hardiness of FKep Unpad A'2018 students are in the medium category. Keywords: Hardiness, Student, COVID-19 Pandemic, Online Learning
Pentingnya Diet Hipertensi pada Lansia Hipertensi di Rw 05 Ciwalen Garut Nina Sumarni; Udin Rosidin; Dadang Purnama; Iwan Shalahhudin; Witdiawati Witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i5.14648

Abstract

ABSTRAK Meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia telah menjadi sebuah fenomena yang berdampak langsung pada peningkatan jumlah lansia di negara iniTop of Form, salah satu masalah kesehatan yang paling umum pada orang tua adalah hipertensi. Hipertensi cenderung mengalami peningkatan seiring bertambahnya usia disebabkan oleh perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh, gaya hidup, dan faktor genetik. Hipertensi telah meningkat sebesar 80 persen. Jumlah hipertensi di negara-negara berkembang meningkat dari 639 juta pada tahun 2000 menjadi 1,15 miliar pada tahun 2025. Pendekatan holistik dan efektif dapat dikembangkan dalam manajemen asuhan kesehatan lansia ialah dengan mengendalikan pola makan, pengobatan, serta olahraga yang teratur. Penerapan diet rendah hipertensi dapat berhasil jika penderita hipertensi memiliki pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga yang baik terhadap pelaksanaan diet. Kurangnya Pengetahuan masyarakat tentang diet dapat menyebabkan kurangnya kesadaran dalam menjaga dan pencegahan terjadinya peningkatan tekanan darah. Tujuan kegiatan adalah memberikan pendidikan kesehatan pada para penderita hipertensi yang berada di Rw 05 tentang pentingnya diet hipertensi. Metode yang Digunakan metode ceramah dengan alat bantu Power Point, Poster, dan video. Kegiatan diikuti oleh 36 orang. Sebelum Ceramah diet hipertensi, para peserta diberi pretest selama 20 menit dengan hasil skor rata rata pretest 65, dan setelah diberikan ceramah dan tanya jawab dilakukan lagi posttest dengan skor rata rata 87. Setelah dilakukan ceramah dan Tanya jawab terdapat peningkatan pengetahuan tentang pentingnya diet hipertensi sebesar 22 poin. Terdapat peningkatan pengetahuan setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang” Pentingnya Diet pada penderita hipertensi di RW 05 Ciwalen Garut. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Diet Hipertensi, Lansia  ABSTRACT Increasing life expectancy in Indonesia has become a phenomenon that has a direct impact on the increase in the number of elderly people in this country, one of the most common health problems in older people is hypertension. Hypertension tends to increase with age due to physiological changes that occur in the body, lifestyle and genetic factors. Hypertension has increased by 80 percent. The number of hypertension in developing countries increased from 639 million in 2000 to 1.15 billion in 2025. A holistic and effective approach can be developed in the management of elderly health care by controlling diet, medication, and regular exercise. Implementing a low-hypertension diet can be successful if hypertension sufferers have good knowledge, attitudes, and family support for implementing the diet. Lack of public knowledge about diet can lead to a lack of awareness in maintaining and preventing increased blood pressure. The activity aims to provide health education to hypertension sufferers in Rw 05 about the importance of a hypertension diet. The method used is the lecture method using PowerPoint, posters, and videos. The activity was attended by 36 people. Before the hypertension diet lecture, the participants were given a pretest for 20 minutes with an average pretest score of 65, and after being given a lecture and question and answer, a posttest was carried out again with an average score of 87. After the lecture and question and answer there was an increase in knowledge about the importance of diet. hypertension by 22 points. There was an increase in knowledge after health education was carried out about "The Importance of Diet for Hypertension Sufferers in RW 05 Ciwalen Garut." Keywords: Health Education, Hypertension Diet, Elderly
Gambaran Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi dan Infeksi Menular Seksual di Wilayah Kelurahan Kota Wetan Kecamatan Garut Kota Nara Raihani; Witdiawati Witdiawati; Neti Juniarti
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i2.17396

Abstract

ABSTRACT During adolescence, adolescents will be faced with challenges ranging from limited access to education, minimal job opportunities, to health risks such as initial pregnancy, sexually transmitted infections, drug abuse, and HIV/AIDS. The purpose of this research was to assess the extent of adolescent knowledge about reproductive health and sexually transmitted infections in the Kota Wetan Village Area, Garut City District. The research method used was a survey method utilizing a quantitative descriptive design. The population in this study was 741 adolescents aged 10-18 years in RW 6,7,8,9,10,12,14,15,16,17,18,19 and RW 20 in Kota Wetan Village. The sampling technique applied in this study was total sampling. The questionnaire on the level of knowledge about reproductive health and sexually transmitted infections was the instrument used in this study. Data were collected from January 17, 2024 to January 24, 2024. This study has obtained a research permit from the National Unity and Politics Agency of Garut Regency with the Practical Number 072/0001-Bakesbangpol/I/2024. Data analysis was carried out using the frequency distribution method. The findings of the research revealed that  many as 561 adolescents (75.7%) had good knowledge related to reproductive health and 180 adolescents (24.3%) had poor knowledge related to reproductive health, as many as 486 adolescents (65.6%) had good knowledge related to Sexually Transmitted Infections and 255 adolescents (34.4%) had poor knowledge related to Sexually Transmitted Infections, as many as 360 (48.6%) adolescents had good knowledge and 381 (51.4%) adolescents had poor knowledge related to HIV/AIDS. The conclusion of this research indicates that most of adolescents have good knowledge related to Reproductive Health and Sexually Transmitted Infections, but the majority have poor knowledge related to HIV/AIDS. Keywords: Sexually Transmitted Infections, Community Nursing, Reproductive Health, Adolescents  ABSTRAK Pada masa remaja, remaja akan dihadapkan tantangan mulai dari akses pendidikan yang terbatas, kesempatan kerja yang minim, hingga risiko kesehatan seperti kehamilan usia dini, infeksi menular seksual, penyalahgunaan narkoba, dan HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan infeksi menular seksual di Wilayah Kelurahan kota Wetan Kecamatan Garut Kota. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode survery dengan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 741 remaja dengan usia 10 – 18 tahun RW 6,7,8,9,10,12,14,15,16,17,18,19 dan RW 20 di Kelurahan Kota Wetan. Teknik sampling yang diterapkan dalam studi ini adalah total sampling. Kuesioner tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan Infeksi Menular Seksual merupakan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan sejak tanggal 17 Januari 2024 – 24 Januari 2024. Penelitian ini telah mendapatkan izin penelitian dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Garut dengan Nomor Praktikum 072/0001-Bakesbangpol/I/2024. Analisis data dilakukan dengan cara distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 561 remaja (75,7%)  memiliki pengetahuan yang baik terkait kesehatan reproduksi dan 180 remaja (24,3%) memiliki pengetahuan yang kurang terkait kesehatan reproduksi, sebanyak 486 remaja (65,6%) memiliki pengetahuan yang baik terkait Infeksi Menular Seksual dan 255 remaja (34,4%) memiliki pengetahuan yang kurang terkait Infeksi Menular Seksual, sebanyak 360 (48,6%) remaja memiliki pengetahuan yang baik dan 381 (51,4%) remaja memiliki pengetahuan yang kurang terkait HIV/AIDS. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas remaja memiliki pengetahuan yang baik terkait Kesehatan Reproduksi dan Infeksi Menuar Seksual, namun mayoritas memiliki pengetahuan yang kurang terkait HIV/AIDS. Kata Kunci: Infeksi Menular Seksual, Keperawatan Komunitas, Kesehatan Reproduksi, Remaja
Norma Subjektif Perawatan Kaki Penderita Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Babakan Sari Syifa Nabilla Putri; Witdiawati Witdiawati; Udin Rosidin
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24541

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is a chronic disease with an increasing prevalence and a risk of various complications, including foot ulcers. The importance of foot care in preventing such complications is well-established, yet patient compliance remains influenced by a variety of psychosocial factors, including subjective norms. The objective of this study is to provide the description of subjective norms of diabetes mellitus patients related to foot care behaviour in the working area of the Babakan Sari Community Health Centre. This study used a quantitative, descriptive design with a sample of 79 diabetes mellitus patients, selected using purposive sampling. Data were collected using a questionnaire based on the modified Theory of Planned Behavior, and analysed descriptively. The results indicated that the majority of respondents (70.9%) exhibited poor subjective norms regarding foot care behavior. This finding suggests that individuals with diabetes may not perceive sufficient social support or normative pressure from their immediate environment, including family, peers, and health professionals, to engage in regular foot care practices.The subjective norms of people with diabetes mellitus regarding foot care remain relatively low. These findings emphasise the importance of strengthening social support and the role of the surrounding environment in improving foot care behaviour at primary healthcare level. Keywords: Diabetes Mellitus, Foot Care, Subjective Norms.  ABSTRAK Diabetes melitus merupakan penyakit kronik dengan prevalensi yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan berbagai komplikasi, salah satunya ulkus kaki. Perawatan kaki merupakan perilaku yang diperlukan dalam pencegahan komplikasi tersebut, tetapi kepatuhan pasien masih dipengaruhi oleh berbagai faktor psikososial, termasuk norma subjektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran norma subjektif penderita diabetes melitus terkait perilaku perawatan kaki di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari.  Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan sampel sebanyak 79 penderita diabetes melitus yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis Theory of Planned Behavior yang telah dimodifikasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (70,9%) memiliki norma subjektif yang kurang baik terhadap perilaku perawatan kaki. Temuan ini mengindikasikan bahwa penderita diabetes belum merasakan dukungan sosial atau tekanan normatif yang cukup kuat dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, teman sebaya, dan tenaga kesehatan, untuk melakukan perawatan kaki secara konsisten. Norma subjektif penderita diabetes melitus terkait perawatan kaki masih relatif rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan dukungan sosial dan peran lingkungan sekitar dalam upaya meningkatkan perilaku perawatan kaki di tingkat pelayanan kesehatan primer. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Norma Subjektif, Perawatan Kaki.
Hubungan Antara Usia dan Pengetahuan dengan Persepsi Stigma HIV/AIDS Pada Ibu Rumah Tangga di Kabupaten Garut Hartiah Haroen; Wahyuni Maria Prasetyo Hutomo; Citra Windani Mambangsari; Witdiawati Witdiawati; Hasniatisari Harun
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i1.12991

Abstract

ABSTRACT There are approximately 5,100 new Human Immunodeficiency Virus (HIV) infections in the Housewife (IRT) group every year, and 35% of them are infected from their partners. This rate is higher than HIV cases in other groups such as the MSM (man sex with man). West Java is one of the four provinces with the highest number of HIV/AIDS cases in Indonesia. One of the districts in West Java with a high rate of HIV transmission is Garut Regency, where the estimation of 1,681 people with HIV/AIDS. To determine the relationship between age and knowledge with the perception of HIV/AIDS stigma among housewives. This research is a quantitative research with a cross sectional approach. Data collection was conducted in May 2023 and located in Village X, Garut Regency, West Java. The study population was housewives with inclusion criteria of women of childbearing age (aged 20-49 years) who resided permanently in the ciwalen sub-district area using purposive sampling technique as many as 97 housewives. Data collection was conducted door to door using a questionnaire which included demographic characteristics data, knowledge about HIV/AIDS using the HIV-KQ-18 Instrument consisting of 18 question items and perceived stigma using the stigma questionnaire from Berger's HIV Stigma Scale (HSS). Data were analyzed using SPSS software (Version 21), frequency distribution analysis and chi-square test. The research results showed that the majority of housewives (64 people, 66.0%) had poor knowledge about HIV, (32.0%) had high stigma about HIV and (34.0%) had low stigma. Meanwhile, only a few (34.0%) of the housewives had good knowledge and (25.8%) the housewives' stigma about HIV was low. Relationship between domestic workers' knowledge and stigma about HIV (P0.021). The majority of housewives in the early adulthood stage (55 people, 56.7%), had high stigma (28.9%) and low stigma (27.8%), low stigma was more often found in late adulthood housewives (53.4%). Age was related to stigma about HIV (P 0.014). To increase knowledge about HIV and reduce stigma in society, efforts are being made to increase knowledge and group discussions about HIV/AIDS. Keywords: HIV/AIDS, Housewives, Age, Knowledge, Stigma.  ABSTRAK Terdapat 5.100 infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) baru  pada kelompok Ibu Rumah Tangga (IRT) setiap tahunya dan sebagian besar 35% tertular dari pasangannya, angkat tersebut lebih tinggi dibandingkan kasus HIV pada kelompok lainnya seperti kelompok MSM (man sex with man). Jawa Barat merupakan salah satu dari empat provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Salah satu kabupaten di Jawa Barat yang  angka penularan HIV-nya tinggi adalah Kabupaten Garut,  perkiraan jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) sebanyak 1.681 orang. Diketahui hubungan usia dan pengetahuan dengan persepsi stigma  HIV/AIDS pada ibu rumah tangga. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2023 dan berlokasi di Desa X, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Populasi penelitian adalah ibu rumah tangga dengan kriteria inklusi wanita usia subur (usia 20-49 tahun) yang bertempat tinggal tetap di wilayah tersebut dengan menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 97 ibu rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan secara door to door dengan menggunakan kuesioner yang meliputi data karakteristik demografi, pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan menggunakan Instrumen HIV-KQ-18 yang terdiri dari 18 item pertanyaan dan stigma yang dirasakan dengan menggunakan kuesioner stigma dari Berger's HIV Stigma Scale (HSS). Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS (Versi 21), analisis distribusi frekuensi dan uji chi-square. Penelitian menunjukan mayoritas IRT (64 orang, 66,0%) memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang HIV, (32.0%) memiliki stigma tentang HIV yang tinggi dan (34,0%) yang memiliki Stigma rendah. Sementara hanya sedikit (34,0%) diantara IRT yang memiliki pengetahuan baik dan (25,8%) stigma IRT tentang HIV yang rendah. Hubungan pengetahuan dan stigma IRT tentang HIV (P0.021). Mayoritas Usia IRT pada tahap dewasa awal (55 orang, 56.7%), memiliki  stigma tinggi (28,9%) dan stigma rendah( 27,8%), stigma rendah lebih banyak dijumpai pada IRT Usia dewasa akhir (53,4%). Usia memiliki hubungan dengan stigma tentang HIV (P 0.014). Untuk meningkatkan pengetahuan tentang HIV dan mengurangi stigma di masyarakat  dilakukan upaya-upaya peningkatan pengetahuan dan  diskusi kelompok bersama tentang HIV/ AIDS. Kata Kunci: HIV/AIDS, Ibu Rumah Tangga, Usia, Pengetahuan, Stigma.