Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

FITUR KESALAHAN PENGGUNAAN EJAAN DALAM SURAT DINAS DI UNIVERSITAS Emmy Erwina; Hendra Mulia
Jurnal Semantik Vol 12, No 1 (2023): Volume 12 Number 1, February 2023
Publisher : STKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/semantik.v12i1.p89-100

Abstract

This study aims to get an overview of the features of spelling errors in the preparation of official letters and to find out the factors that cause written language errors in official letters at one of the universities in Medan City. The procedure of this study uses a qualitative descriptive analysis procedure. The data collection method in this study is in the form of a documentary method. The information analysis method uses language error analysis procedures, namely information identification, information classification, and determining the frequency of errors. The source of information for this research is in the form of official letters written at one of the universities in Medan City. Research information in the form of written language that contains spelling errors. The research results show that there are errors in the use of spelling, and these errors are listed in interlanguage errors, such as language transfer and transfer of training. The low ability of the Indonesian language writer of the letter is the cause of language errors. The results of this research can help other agencies to pay more attention to the use of the Indonesian language, and it is considered important to hold official letter-writing training by authorized institutions.
FUNCTIONALIZATION OF THE USE OF ENGLISH FOR TOUR GUIDE IN OKDO TOUR & TRAVEL MEDAN Bima Prana Chitra; Misla Geubrina; Hendra Mulia
JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT Vol 12 No 1 (2024): Vol 12 No 1 Januari 2024
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v12i1.5103

Abstract

English plays an important role in the tourism industry, especially in promoting overseas tours through tour guides. The communication that occurs between tour guides and tourists is related to the image of Indonesia by these tourists. By mastering foreign languages, as well as understanding the culture of various countries, it is expected to be able to provide the best service and be able to create a good impression or image which has the effect of increasing the Indonesian tourism industry. So in this study, functionalization of the use of English is needed so that the English language is easy to understand in order to the message conveyed by the speaker can be easily understood by the listener, especially for tour guides at Okdo Tour & Travel. The method used in this study is qualitative and data obtained through observation. Based on the research, it can be concluded that the tour guides lack of interest in honing English skills so that it affects the development of the potential that exists within the tour guides and it requires more professional English tutors so they can learn and use English in various activities.
Implicatures Generated from Non-Observances Maxim in The Interview of The Indonesian President: conversational implicature in Joko Widodo's interview Tiara Adena; Zuindra Zuindra; Hendra Mulia
Vernacular: Linguistics, Literature, Communication and Culture Journal Vol. 3 No. 2 (2024): January Edition 2024
Publisher : Universitas Harapan Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35447/vernacular.v3i2.837

Abstract

The aims of this research are to find out the conversational implicatures generated by President Jokowi during an interview with BBC News Indonesia. Additionally, it aims to identify which cooperative principles are disregarded to produce these implicatures. The research data consists of dialogues from the interview. To analyze the data, the researcher applies the theory of implicature and the non-observance maxims by Grice. In data analysis, the researcher employs the qualitative data method by Miles and Huberman (2014). The research findings reveal that there are 16 specific implicatures identified out of 18 data instances in the conversation, while the other 2 are general implicatures. Furthermore, the researcher identifies various forms of non-observance maxims, with the most frequently found was the flouting of the maxim of quantity.
Pelatihan Komunikasi Bahasa Inggris Berbasis Hospitality bagi Pelaku Pariwisata Tangkahan untuk Meningkatkan Kepuasan Wisatawan Mancanegara dan Citra Destinasi Wisata Zuindra; Hidayati; Hendra Mulia; Muhammad Royaat Haq; Jean Qathrunnada
Prioritas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 02 (2024): EDISI SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Harapan Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Ekowisata Tangkahan merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Langkat yang memiliki potensi besar dalam menarik wisatawan mancanegara. Namun, keterbatasan kemampuan komunikasi Bahasa Inggris dan penerapan prinsip hospitality di kalangan pelaku pariwisata masih menjadi kendala dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada wisatawan asing. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi komunikasi Bahasa Inggris berbasis hospitality bagi pelaku pariwisata Tangkahan guna meningkatkan kepuasan wisatawan mancanegara dan memperkuat citra destinasi wisata. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan identifikasi kebutuhan, pre-test, pelatihan, simulasi (role play), pendampingan lapangan, post-test, serta monitoring dan evaluasi. Peserta kegiatan berjumlah 20 orang yang terdiri atas pemandu wisata, pengelola homestay, pelaku UMKM, operator wisata, dan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kompetensi peserta yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata dari 59,45 pada pre-test menjadi 84,30 pada post-test atau meningkat sebesar 41,8%. Distribusi kemampuan peserta juga mengalami perubahan, di mana sebelum pelatihan sebanyak 50% peserta berada pada kategori rendah dan 50% pada kategori sedang, sedangkan setelah pelatihan 85% peserta mencapai kategori tinggi dan 15% berada pada kategori sedang. Survei kepuasan menunjukkan bahwa 90% peserta menyatakan sangat puas dan 10% menyatakan puas terhadap pelaksanaan program. Selain meningkatkan kemampuan komunikasi Bahasa Inggris, kegiatan ini juga meningkatkan kepercayaan diri peserta, kualitas pelayanan berbasis hospitality, serta kemampuan berinteraksi dengan wisatawan mancanegara. Program pengabdian ini terbukti efektif sebagai model pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata, memperkuat citra destinasi wisata Tangkahan, serta mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat.
Penguatan Kompetensi Pengelola Istana Maimun melalui Pelatihan Penulisan Konten Promosi Berbahasa Inggris Berbasis Warisan Budaya Melayu Deli Kiki Wardana; Hendra Mulia; Misla Geubrina; Vinya Hafizah Arini; Siti Aisyah
Prioritas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 02 (2025): EDISI SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Harapan Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemandu wisata memiliki peran strategis dalam membangun pengalaman wisatawan melalui penyampaian informasi yang komunikatif, akurat, dan berorientasi pada interpretasi budaya. Namun, hasil identifikasi kebutuhan pada pemandu wisata Istana Maimoon menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi Bahasa Inggris, penguasaan kosakata pariwisata, serta keterampilan menginterpretasikan warisan budaya Melayu kepada wisatawan mancanegara masih belum optimal. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan dan kepuasan wisatawan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi Bahasa Inggris berbasis warisan budaya Melayu bagi pemandu wisata Istana Maimoon sehingga mampu meningkatkan kualitas interpretasi budaya dan pelayanan kepada wisatawan mancanegara. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan analisis kebutuhan, penyusunan modul pelatihan, pelaksanaan pelatihan berbasis English for Tourism, heritage interpretation, storytelling, komunikasi lintas budaya, praktik lapangan, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Berdasarkan data simulasi yang digunakan sebagai contoh analisis, rata-rata nilai peserta meningkat dari 59,50 pada tahap pre-test menjadi 84,30 pada tahap post-test. Hasil observasi juga menunjukkan peningkatan pada aspek kelancaran komunikasi, penguasaan materi budaya Melayu, kemampuan storytelling, pelafalan, dan kepercayaan diri peserta. Selain itu, sebagian besar peserta memberikan respons sangat puas terhadap materi, metode, dan proses pendampingan selama pelatihan. Secara keseluruhan, program pelatihan menunjukkan potensi dalam meningkatkan kompetensi komunikasi profesional pemandu wisata sekaligus memperkuat kualitas interpretasi budaya Melayu sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan wisata heritage di Istana Maimoon. Ke depan, pelaksanaan program serupa perlu didukung oleh evaluasi berbasis data empiris dan pendampingan berkelanjutan agar dampaknya terhadap kepuasan wisatawan dan daya saing destinasi dapat diukur secara lebih komprehensif.