Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pendampingan Bidan Dalam Memberikan Konseling Kontrasepsi Dengan Menggunakan Alat Bantu Pengambil Keputusan Di Wilayah Kerja Puskesmas Socah Kabupaten Bangkalan Wayanti Sri; Wayanti Sri; Suryaningsih; Fitriah; Badriyah; Sutio Rahardjo; Hendriyani Feftin; Choirin Moch.; Rodiyatun; Esyuananik; Khasanah Uswatun; Nurlaili Anis; Irawati Deasy
Health Community Engagement Vol. 4 No. 1 (2022): Januari-April
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konseling dalam KB merupakan proses pertukaran informasi dan interaksi positif antara calon akseptor dan petugas untuk membantu mengenali kebutuhan kontrasepsi, memilih solusi terbaik dan membuat keputusan kontrasepsi yang akandigunakan dan paling sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi pasangan usia subur. Pengaturan jarak kehamilan selain untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak juga untuk menjamin terpenuhinya nutrisi bagi ibu dan anak serta menjaga perkembangan psikologi anak (WHO, 2005). Kebutuhan kontrasepsi ibu pasca persalinan akan terpenuhi dengan baik melalui pemberian konseling dengan berbagai metode kontrasepsi, mengatasi hambatan biaya serta menyediakan pelayanan metode kontrasepsi permanen dan metode jangkapanjang di berbagai fasilitas kesehatan (BKKBN,2014). Pelayanan KB yang berkualitas tidak hanya terkait dengan pelayanan 3 dalam pemasangan alat kontrasepsi akan tetapi juga terkait dengan pemberian konseling kepada akseptor maupun calon akseptor, sehingga calon akseptor semakin mantap dengan menentukan pilihan alat kontrasepsi. Informasi yang disampaikan oleh petugas konseling harus jelas, dapat dimengerti, serta terkait dengan masalah–masalah yang sedang dihadapi klien. Di samping itu untuk memudahkan dalam hal penyampaian materi konseling, petugas sebaiknya menggunakan alat bantu dalam proses konseling (Notoatmodjo, 2007). WHO telah mengembangkan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) berupa lembar balik (Flifchart) dan telah diadaptasi untuk Indonesia yang digunakan dalam proses konseling kontrasepsi. ABPK ber-KB (Flifchart) ini tidak hanya berisi informasi mutakhir kontrasepsi namun juga standar proses dan langkah konseling KB yang berlandaskan pada hak klien KB, sehingga ABPK ini memudahkan provider dalam menjelaskan materi konseling agar lebih optimal.
Hubungan Usia dan Paritas dengan Kejadian Partus Lama pada Ibu Bersalin di Puskesmas Galis Bangkalan Annisa' Rizky Firdhauzy; Dwi Wahyu Wulan Sulistyowati; Uswatun Khasanah; Yuni Ginarsih
Gema Bidan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gebindo.v13i2.207

Abstract

Partus lama merupakan masalah yang paling sering terjadi pada ibu bersalin. Faktor umur dan paritas merupakan faktor ibu yang mempengaruhi terjadinya partus lama. Penelitian ini merupakan penelitian  survei analitik yang bersifat cross sectional.  Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dari 122 responden. Data responden  diambil melalui rekam medik dan registrasi pasien. Variable independent pada penelitian ini adalah usia dan paritas. Variabel dependen adalah partus lama. Untuk menganalisis adanya suatu hubungan antara usia dan paritas dengan kejadian partus lama, maka menggunakan analisis uji statistik Chi-square. Hasil analisis chi square p= 0,000 < 0,005  menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia dan paritas dengan kejadian partus lama di Puskesmas Galis. Sebagian besar responden berusia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun. Sedangkan pada paritas sebagian besar adalah primi dan grandemulti. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa usia < 20 tahun dan > 35 tahun adalah usia yang berisiko mengalami partus lama. Karena pada usia < 20 tahun alat reproduksi ibu belum siap untuk dibuahi dan menopang berat badan janin yang semakin tumbuh besar. Sedangkan pada paritas berisiko adalah primi dan grandemult. Pada primi dikarenakan menerima kehamilan pertama kemungkinan rahim menjadi teregang oleh adanya janin. Pada grandemulti rahim mengalami penurunan fungsi yaitu tidak dapat lagi berkontraksi dengan baik akibat regangan uterus yang berulang ulang. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya dapat meneliti dengan menggunakan data primer agar dapat memperoleh banyak data dan informasi.
Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Keberhasilan Toilet Training pada Anak Usia 1-3 Tahun Hilyatul Adeliyah; Titi Maharrani; Rekawati Susilaningrum; Uswatun Khasanah
Gema Bidan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gebindo.v13i2.208

Abstract

Pola asuh orang tua merupakan pola pengasuhan anak yang berlaku dalam keluarga dimana pola asuh membentuk perilaku generasi berikut sesuai dengan norma dan nilai yang baik sesuai dengan kehidupan masyarakat. Pola asuh orang tua sangat bepengaruh dalam membantu keberhasilan toilet training pada anak secara maksimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua terhadap keberhasilan toilet training di Sekolah PG Al-Islah dan KB Al-Kautsar Desa Janganansem Jabon Sidoarjo. Desain penelitian ini menggunakan survei analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel penelitian adalah 36 anak PG Al-Islah dan 37 anak KB Al-Kautsar yang dipilih menggunakan Cluster Random Sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua sedangkan variabel dependennya adalah keberhasilan toilet training. Teknik pengumpulan data dilakukan secara primer dan sekunder melalui kuesioner. Analisis yang digunakan untuk menguji penelitian ini adalah chi-square. Hasil frekuensi pada pola asuh orang tua frekuesi terbanyak dengan pola asuh demokrasi sebanyak 38,36%, dan frekuensi toilet training pada anak terbanyak berhasil yaitu sebanyak 58,90%. Hasil statistik ini menyatakan nilai p-value 0,003 < α (0,05) terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan keberhasilan toilet training pada anak usia todler di PG Al-Islah dan KB Al-Kautsar di Desa Janganasem tahun 2024. Pola asuh orang tua menurut hurlock ada tiga yaitu demokratis, permisif dan otoriter. Adapun bebrapa faktor yang mempengaruhi pola asuh seperti kepribadian orang tua, tingkat pendidikan orang tua, jumlah anak, dan usia. Oleh karena itu, disarankan kepada orang tua untuk menerapkan pola asuh yang sesuai agar dapat membantu dalam keberhasilan toilet training anak.
Efektivitas Pijat Batuk Pilek dengan Lama Penyembuhan ISPA pada Balita Hilda Rizky Amelia; Sherly Jeniawaty; Uswatun Khasanah; Sukesi
Gema Bidan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gebindo.v13i2.209

Abstract

Batuk pilek rentan terjadi pada anak balita, apabila tidak segera ditangani dengan baik dapat berakibat pada terjadinya komplikasi yang memperberat kondisi anak. Pada tahun 2023 sampai bulan Oktober terjadi peningkatan kasus ISPA di Kecamatan Sepulu dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 30%. Pijat batuk pilek salah satu solusi mengatasi masalah penyakit batuk pilek dengan memperlancar peredaran darah dan meningkatan daya imunitas. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas pijat batuk pilek terhadap lama penyembuhan ISPA pada Balita. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode Quasi-Experimental. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita yang mengalami ISPA pada bulan Februari-April 2024 yang ada sebanyak 65 orang. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling sejumlah 30 responden. Untuk menganalisis adanya perbedaan digunakan Wilcoxon Signed Rank Test dengan taraf nyata 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyembuhan batuk sebelum mendapatkan perlakuan pijat sebagian besar responden adalah normal (73,3%). Sedangkan lama penyembuhan batuk setelah mendapatkan perlakuan pijat sebagian besar responden adalah cepat (70%). Dari hasil analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test hasil uji p value didapatkan p value = 0,000 maka H1 diterima yang artinya Pijat batuk pilek lebih efektiv terhadap lama penyembuhan ISPA pada balita. Disimpulkan bahwa pijat batuk pilek sangat efektiv dalam penyembuhan batuk pilek pada balita. Sehingga disarankan kepada ibu yang memiliki balita dan sedang mengalami batuk pilek untuk bisa melakukan piat batuk pilek pada anak.
Stunting Prevention from Upstream to Downstream by Empowering Adolescents through GEMASAZIPRO (Youth Movement for Nutrition and Reproductive Health): Pencegahan Stunting dari Hulu ke Hilir dengan Memberdayakan Remaja melalui GEMASAZIPRO (Gerakan Remaja Sadar Gizi dan Kesehatan Reproduksi) Sulikah; Nurlailis Saadah; Budi Joko Santosa; Uswatun Khasanah
JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat) Vol. 9 No. 4 (2025): Jati Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat)
Publisher : DPD Jatim Perkumpulan Dosen Indonesia Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marriages conducted during adolescence generally cause physiological, psychological, and socioeconomic problems. These problems include abortion due to an immature uterus or the mother's unpreparedness to care for a child, which can lead to stunting in children. Activities carried out in this community service include disseminating material on reproductive health and sex education, motivating adolescents to avoid early marriage, and fostering harmonious relationships between adolescents and their parents. This community service activity also provides training and mentoring for adolescents and increases their understanding and knowledge of reproductive health, sex education, and stunting prevention. This community service utilizes a combination of several models, including village community participation, community development, persuasiveness, and education. The results of the activities are an increase in adolescent knowledge and understanding of reproductive health, sex education and its impact, the importance of nutrition, and reproductive health. Adolescents are motivated and have a commitment and enthusiasm to graduate from school, harmonious relationships are established between adolescents and their parents, and a youth study group is formed, organized regularly by the mosque youth every month. The results of the activities also show the implementation of beneficial activities for adolescents, and the implementation of monthly youth integrated health posts (Posyandu) by youth cadres.
Family Health Promotion Through Dietary Management for Diabetes, Hypertension, and Household Waste Management: Promosi Kesehatan Keluarga Melalui Pengelolaan Makanan Kelompok DM, Hipertensi, dan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Nurlailis Saadah; Budi Yulianto; Rahayu Sumaningsih; Uswatun Khasanah
JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat) Vol. 9 No. 4 (2025): Jati Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat)
Publisher : DPD Jatim Perkumpulan Dosen Indonesia Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The number of DM (Diabetes Mellitus) and hypertension sufferers in Tambakrejo is increasing year by year. This requires breakthrough measures for prevention and treatment. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of food management in DM and hypertension client groups, as well as knowledge and understanding of disease prevention caused by unhealthy environments. The habit of Clean and Healthy Living (PHBS) can begin with independent household waste management. This activity was implemented by health cadres and elderly cadres, under the guidance of community service workers and students. The method used was a combination of community development models, participatory rural appraisal (PRA) models, and participatory technology development. After the implementation of the activity, there was a 20% decrease in the number of hypertension sufferers and a 15% decrease in DM sufferers. Monitoring, evaluation, and follow-up were carried out by the village head, village midwife, nurse from the Tambakrejo village health post, and the head of the Candirejo Community Health Center.
The Relationship Between Personal Hygiene Behavior and the Incidence of Vaginal Discharge Nurlailis Saadah; Fenti Suwarno Putri; Rahayu Sumaningsih; Uswatun Khasanah
International Journal of Advanced Health Science and Technology Vol. 4 No. 3 (2024): June
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/ijahst.v4i3.358

Abstract

Adolescence is a transitional period characterized by physical, emotional and psychological changes. Changes in physical aspects are the most important because they take place quickly, drastically and lead to reproductive organs. A person's understanding, attitude, and behavior related to maintaining personal hygiene, beautifying appearance, increasing self-esteem, and preventing disease together can be referred to as personal hygiene behavior. Vaginal discharge is one of the symptoms and signs of infectious diseases in women. The general objective of this study was to determine the relationship between personal hygiene behavior and the incidence of vaginal discharge. The type of research used observational analytic research methods with a cross-sectional approach. The study population was seventh and eighth grade students of SMPN 1 Ngariboyo totaling 179 students. The sampling technique in this study used simple random sampling, obtained a sample size of 124 students. The independent variable is personal hygiene behavior while the dependent variable is vaginal discharge. Data collection using a questionnaire. The results of the gamma correlation test show that there is a relationship between personal hygiene behavior and the incidence of vaginal discharge with a p value of 0.030 (<0.05). It can be concluded that there is a significant relationship between personal hygiene behavior and the incidence of vaginal discharge at SMPN 1 Ngariboyo. It is expected that female students can increase their knowledge in applying personal hygiene behavior towards the incidence of vaginal discharge.
Hubungan Usia dan Paritas dengan Kejadian Partus Lama pada Ibu Bersalin di Puskesmas Galis Bangkalan: The Relationship Between Age and Parity with The Incidence of Old Partus in Maternity at The Galis Bangkalan Health Center Annisa' Rizky Firdhauzy; Dwi Wahyu Wulan Sulistyowati; Uswatun Khasanah; Yuni Ginarsih
Gema Bidan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2024): September
Publisher : Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gebindo.v13i2.207

Abstract

Partus lama merupakan masalah yang paling sering terjadi pada ibu bersalin. Faktor umur dan paritas merupakan faktor ibu yang mempengaruhi terjadinya partus lama. Penelitian ini merupakan penelitian  survei analitik yang bersifat cross sectional.  Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dari 122 responden. Data responden  diambil melalui rekam medik dan registrasi pasien. Variable independent pada penelitian ini adalah usia dan paritas. Variabel dependen adalah partus lama. Untuk menganalisis adanya suatu hubungan antara usia dan paritas dengan kejadian partus lama, maka menggunakan analisis uji statistik Chi-square. Hasil analisis chi square p= 0,000 < 0,005  menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia dan paritas dengan kejadian partus lama di Puskesmas Galis. Sebagian besar responden berusia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun. Sedangkan pada paritas sebagian besar adalah primi dan grandemulti. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa usia < 20 tahun dan > 35 tahun adalah usia yang berisiko mengalami partus lama. Karena pada usia < 20 tahun alat reproduksi ibu belum siap untuk dibuahi dan menopang berat badan janin yang semakin tumbuh besar. Sedangkan pada paritas berisiko adalah primi dan grandemult. Pada primi dikarenakan menerima kehamilan pertama kemungkinan rahim menjadi teregang oleh adanya janin. Pada grandemulti rahim mengalami penurunan fungsi yaitu tidak dapat lagi berkontraksi dengan baik akibat regangan uterus yang berulang ulang. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya dapat meneliti dengan menggunakan data primer agar dapat memperoleh banyak data dan informasi.
Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Keberhasilan Toilet Training pada Anak Usia 1-3 Tahun: The Relationship Between Parenting and The Success of Toilet Training in Children Aged 1-3 Years Hilyatul Adeliyah; Titi Maharrani; Rekawati Susilaningrum; Uswatun Khasanah
Gema Bidan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2024): September
Publisher : Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gebindo.v13i2.208

Abstract

Pola asuh orang tua merupakan pola pengasuhan anak yang berlaku dalam keluarga dimana pola asuh membentuk perilaku generasi berikut sesuai dengan norma dan nilai yang baik sesuai dengan kehidupan masyarakat. Pola asuh orang tua sangat bepengaruh dalam membantu keberhasilan toilet training pada anak secara maksimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua terhadap keberhasilan toilet training di Sekolah PG Al-Islah dan KB Al-Kautsar Desa Janganansem Jabon Sidoarjo. Desain penelitian ini menggunakan survei analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel penelitian adalah 36 anak PG Al-Islah dan 37 anak KB Al-Kautsar yang dipilih menggunakan Cluster Random Sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua sedangkan variabel dependennya adalah keberhasilan toilet training. Teknik pengumpulan data dilakukan secara primer dan sekunder melalui kuesioner. Analisis yang digunakan untuk menguji penelitian ini adalah chi-square. Hasil frekuensi pada pola asuh orang tua frekuesi terbanyak dengan pola asuh demokrasi sebanyak 38,36%, dan frekuensi toilet training pada anak terbanyak berhasil yaitu sebanyak 58,90%. Hasil statistik ini menyatakan nilai p-value 0,003 < α (0,05) terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan keberhasilan toilet training pada anak usia todler di PG Al-Islah dan KB Al-Kautsar di Desa Janganasem tahun 2024. Pola asuh orang tua menurut hurlock ada tiga yaitu demokratis, permisif dan otoriter. Adapun bebrapa faktor yang mempengaruhi pola asuh seperti kepribadian orang tua, tingkat pendidikan orang tua, jumlah anak, dan usia. Oleh karena itu, disarankan kepada orang tua untuk menerapkan pola asuh yang sesuai agar dapat membantu dalam keberhasilan toilet training anak.
Efektivitas Pijat Batuk Pilek dengan Lama Penyembuhan ISPA pada Balita: The Effectiveness of Cough and Cold Massage with the Healing Time of ISPA in Toddlers Hilda Rizky Amelia; Sherly Jeniawaty; Uswatun Khasanah; Sukesi
Gema Bidan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2024): September
Publisher : Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gebindo.v13i2.209

Abstract

Batuk pilek rentan terjadi pada anak balita, apabila tidak segera ditangani dengan baik dapat berakibat pada terjadinya komplikasi yang memperberat kondisi anak. Pada tahun 2023 sampai bulan Oktober terjadi peningkatan kasus ISPA di Kecamatan Sepulu dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 30%. Pijat batuk pilek salah satu solusi mengatasi masalah penyakit batuk pilek dengan memperlancar peredaran darah dan meningkatan daya imunitas. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas pijat batuk pilek terhadap lama penyembuhan ISPA pada Balita. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode Quasi-Experimental. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita yang mengalami ISPA pada bulan Februari-April 2024 yang ada sebanyak 65 orang. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling sejumlah 30 responden. Untuk menganalisis adanya perbedaan digunakan Wilcoxon Signed Rank Test dengan taraf nyata 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyembuhan batuk sebelum mendapatkan perlakuan pijat sebagian besar responden adalah normal (73,3%). Sedangkan lama penyembuhan batuk setelah mendapatkan perlakuan pijat sebagian besar responden adalah cepat (70%). Dari hasil analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test hasil uji p value didapatkan p value = 0,000 maka H1 diterima yang artinya Pijat batuk pilek lebih efektiv terhadap lama penyembuhan ISPA pada balita. Disimpulkan bahwa pijat batuk pilek sangat efektiv dalam penyembuhan batuk pilek pada balita. Sehingga disarankan kepada ibu yang memiliki balita dan sedang mengalami batuk pilek untuk bisa melakukan piat batuk pilek pada anak.