Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Exploring the Sociodemographic Characteristics and Staple Food Consumption Patterns of Low-Income People in Kendari City, Indonesia Sitti Aida Adha Taridala; Dwi Rinnarsari Noraduola; La Ode Muhammad Golok Jaya; Arsy Aysyah Anas; Azzahra Miftahul Firdausah
Buletin Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Vol. 24 No. 2 (2022)
Publisher : Department of Agribusiness, Halu Oleo University Jointly with Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - Indonesian Society of Agricultural Economics (PERHEPI/ISAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.426 KB) | DOI: 10.37149/bpsosek.v24i2.226

Abstract

The city's attractiveness encourages urbanization, namely the movement of people from rural to urban areas. Urbanization accompanied by a transition to diet will significantly impact the food system. This study aims to analyze low-income people's sociodemographic characteristics and consumption patterns. This research was conducted in Kendari City. Data collection was carried out in October-November 2021. Determining the research location began by selecting densely populated residential areas in Kendari City. Based on the Geographic Information System (GIS) results, dense residential blocks were obtained in Mandonga District, namely several Neighborhood Units (RT) in Korumba Village and residential blocks in several RTs in Petoaha Village, Abeli District, which are on the coast of Kendari Bay. The low-income people (LIP) population was obtained from data on Social Assistance recipients in each sample village. The total sample is 20% of the population, covering 194 household respondents and extracting data and information using a combination of the food recall and weighing methods. The variables in this study are sociodemographic characteristics, including age, education, number of family members, and gender; house and Yard, as well as variables related to food sources of carbohydrates consumed by MBR households in the last 3 (three) days, including the type, quantity, price, and expenditure of food. Data analysis was carried out in a qualitative descriptive manner, with cross-tabulations and percentages. The results showed that the respondents were at an average age of 44.91 years, the length of schooling was 8.27 years, the number of family members was 4 (four), and most were women, reaching 150 people. Most respondents have houses made of planks (wood), namely 97 people, with yards that have not been fully utilized for agricultural activities. The staple food consumption pattern of the respondent's family is dominated by rice (0.48 kg), and the amount of consumption of sago and cassava is minimal, only 0.07 kg and 0.05 kg, respectively. The most significant expenditure for food sources of carbohydrates is to buy rice, which is IDR 4,756/day. Therefore, policies are needed to encourage urban agricultural activities and revitalize the utilization of non-rice staple foods. Need to be disseminated. One form is not assisting in the form of rice to LIP when there is a government assistance program.
Membangun Desa Melalui Bimbingan Teknis Perencanaan Master Plan Desa Wisata Leppe Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe Ma’ruf, Annas; Kadir, Ishak; Hasan, La Ode Amrul; Ahdiyani, Wisdha; Firdausah, Azzahra Miftahul
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Terapan (JPMIT) Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Vokasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpmit.v5i2.46180

Abstract

Desa Leppe berada di wilayah pesisir dan lautan yang digunakan untuk berbagai kegiatan seperti Pelabuhan penyebrangan, industri, agrobisnis dan agroindustri rekreasi dan pariwisata. Berbagai potensi diupayakan menjadi desa yang mandiri dengan memaksimalkan potensi desa, membangun dan meningkatkan perekonomian warga desa. Masterplan harus dipersiapkan dengan baik dan melibatkan peran perangkat desa dan masyarakat dalam penyusunannya, agar rencana tata ruang desa dapat menjadi arahan yang tepat dalam mengambil keputusan untuk membangun desa. Metode pelaksanaan pada tahap pertama dilakukan kegiatan urun rembuk, perkenalan para dosen pengabdi, tujuan kegiatan, program-program kegiatan kepada para apparat desa, serta beberapa warga. Tahap kedua dilakukan pengumpulan Data, hal ini ditujukan untuk mengetahui data Primer, sekunder data lokasi dan pendukung. Tahap ketiga dilakukan analisis kebutuhan perencanaan/ akar permasalahan. Kemudian tahap ke empat dilakukan bimbingan teknis perencanaan master plan, menekankan keterlibatan masyarakat sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan dan pendidikan untuk pemberdayaan masyarakat. Kesimpulan kegiatan bimbingan teknis perencanaan masterplan desa bahwa anggota masyarakat, tokoh masyarakat dan aparat desa dalam memahami posisi desa yang nantinya bisa dikembangkan menjadi desa wisata pesisir. Pelaksanaan pkm di desa Leppe telah berjalan sesuai dengan rencana kegiatan dalam program kerja yang telah disusun yaitu membangun desa melalui bimbingan teknis perencanaan master plan desa wisata Leppe Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe.
Evaluasi Kesesuaian Potensi Kontekstual dalam Penerapan konsep Kontemporer Revitalisasi Pasar Sarijadi Ahdiyani, Wisdha; Azzahra Miftahul Firdausah
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2: Januari 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v3i2.2823

Abstract

Pasar tradisional yang sangat lekat dengan citra kumuh, becek dan tidak menarik. Akibatnya masyarakat kelas menengah atas lebih memilih berbelanja dan berwisata di mall dan pasar modern. Revitalisasi Pasar Sarijadi merupakan pilot project bagi revitalisasi pasar lainnya di Kota Bandung. Setelah proses pembangunan pasar hasil revitalisasi, diperlukan sebuah evaluasi untuk melihat ketepatsasaran fasilitas ini bagi masyarakatnya. Lingkungan Pasar Sarijadi merupakan pemukiman berupa kompleks perumahan dan gated community mengindikasikan lingkungan kalangan menengah atas yang memiliki daya beli tinggi dan animo untuk berbelanja. Potensinya berdampingan dengan tiga perguruan tinggi dimana mahasiswa membutuhkan makanan, tempat berkumpul dan mengerjakan tugas. Secara konteks lingkungan Sari Jadi selain membutuhkan pasar juga membutuhkan pusat konsumsi baru bagi kaum muda. Semangat baru ini berupaya menarik minat  warga untuk berkunjung ke pasar dengan tiga konsep utama revitalisasi pemerintah yaitu: keren, kreatif, dan multifungsi. Kebutuhan ruang berdasarkan pangsa pasar mendorong pemerintah merevitalisasi pasar dengan konsep keren, kreatif dan multifungsi yang menambahkan fasilitas-fasilitas untuk kaum menengah atas dan kaum muda. Terakhir, perwujudan konsep keren, kreatif dan multifungsi ditejemahkan dalam penyediaan fasilitas pada pasar, yaitu : koperasi, pasar basah (yang menjual sayur-mayur, daging dan sembako), produk kerajianan atau art and craft, pakaian, cafe, food court dan coworking space.
Analisa Ketersediaan Ruang Terbuka Publik di Lingkungan Fakultas Teknik UHO: Tinjauan Fungsi Sosial dan Estetika Wisdha Ahdiyani; Astri Puspita; Azzahra Miftahul Firdausah; Wa Ode Nartin Hamundu; Weko Indira Romanti Aulia; Abdi Juryan Ladianto
MEDIA KONSTRUKSI Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jmk.v10i1.173

Abstract

Ruang terbuka publik (RTP) merupakan bagian penting dalam perencanaan kampus yang berfungsi tidak hanya sebagai elemen ekologis, tetapi juga sosial dan estetis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan, distribusi, serta fungsi sosial dan estetika RTP di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo (UHO). Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi literatur, observasi lapangan, dokumentasi visual, dan pemetaan spasial. Hasil studi menunjukkan bahwa RTP seperti plaza, taman, selasar, gazebo, dan area kantin dimanfaatkan secara aktif oleh mahasiswa untuk kegiatan sosial, diskusi akademik, makan bersama, serta ekspresi seni. Dari sisi estetika, unsur vegetasi, tata letak ruang yang harmonis, serta pencahayaan alami menciptakan suasana yang nyaman, sejuk, dan mendukung citra kampus hijau. Namun demikian, masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu dibenahi, terutama dalam hal pencahayaan buatan, keberadaan papan informasi atau signage, serta perawatan fasilitas pendukung seperti bangku taman. Temuan ini menegaskan pentingnya penyediaan dan pengelolaan RTP yang lebih terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan agar dapat terus mendukung keberlanjutan lingkungan, interaksi sosial, dan kualitas kehidupan kampus yang lebih baik di masa mendatang.
Social And Ecological Movements: Edukasi Anti-Bullying dan Peduli Lingkungan Mahapati, Wa Ode Sitti Warsita; Firdausah, Azzahra Miftahul; Ahdiyani, Wisdha; Yuliana, Anita; Rahman, Muhammad Iqbal A. A.; Singarimbun, Aldo Putra; Tapsil, Tapsil
MARHALADO: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Februari: MARHALADO: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : PT. Arsil Reka Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62287/marhalado.v4i1.194

Abstract

The community service activity titled Social and Ecological Movements: Anti-Bullying Education and Environmental Care was conducted in response to increasing social and ecological issues within the community, particularly regarding bullying behavior and low awareness of environmental conservation. This program aims to foster critical awareness, build social empathy, and encourage behavioral change through an educational and participatory approach. The implementation methods included material presentations, interactive discussions, case simulations, and simple practical activities related to environmental care. The target participants included students and the surrounding community, emphasizing the interconnectedness between human values, social solidarity, and ecological responsibility. The results showed an increased understanding among participants regarding the negative impacts of bullying on individuals and communities, as well as the growth of a proactive attitude toward protecting the environment through daily actions. Overall, this activity contributed to strengthening the community's social capacity and instilling values of sustainability as part of communal life.