Midawati Midawati, Midawati
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah

Sejarah Batik Tanah liek dan Pekerjaan Perempuan Perajin Batik di Kabupaten Dharmasraya Ella Hutriana Putri; M Midawati
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 8, No 1 (2020): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.041 KB) | DOI: 10.24127/hj.v8i1.2472

Abstract

Batik tanah liek merupakan batik khas yang berasal dari Sumatera Barat. Proses pengerjaan batik tanah liek hampir sama dengan batik pada umumnya namun ada beberapa perbedaan dalam proses pengerjaan dan motif yang digunakan. Dalam proses pengerjaan batik tanah liek proses pencelupan kain ke tanah liat dilakukan untuk mendapatkan warna alami tanah liat. Proses perendaman kedalam tanah liat dilakukan lebih kurang selama seminggu. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Semua kegiatan tersebut tidak terlepas dari pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Sumber daya manusia yang dipakai pada umumnya adalah perempuan yang bekerja paruh waktu untuk mengisi kekosongan waktu setelah mengurus rumah tangganya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk memahami fenomena sosial yang terjadi di masyarakat dengan cara terjun langsung ke lokasi penelitian. Daerah yang diambil dalam penelitian ini adalah di Kabupaten Dharmasraya. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pekerja perempuan sebagai perajin dan pengusaha batik yang berkecimpung dengan dunia batik tanah liek sejak 1995.Kata Kunci :Perempuan, batik tanah liek, perajin, pengusaha 
Ruang Poligami dalam Budaya Minangkabau: Tinjauan Historis Vitri Puspita Sari; Wannofri Samry; M. Midawati
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 9, No 2 (2021): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.001 KB) | DOI: 10.24127/hj.v9i2.3504

Abstract

Penelitian ini membahas tentang ruang poligami dalam budaya Minangkabau dengan tinjauan historis. Penulisan ini akan menggunakan metode sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi, serta menggunakan ilmu-ilmu sosial lainnya sebagai alatnya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah dalam budaya Minangkabau dapat memberi peluang untuk poligami. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa sistem sosial dan budaya Minangkabau telah memberi peluang untuk orang berpoligami serta pihak-pihak yang berpoligami. Hal ini disebabkan oleh dua faktor, pertama karena laki-laki dalam adat Minangkabau setelah menikah hanya berstatus sumando, di mana tidak boleh menetap lama-lama di rumah sang istri. Laki-laki yang berstatus sumando hanya untuk tujuan biologis/keturunan atau menghasilkan keturunan. Jadi tidak bisa menetap  lama-lama  di  rumah  sang istri. Faktor kedua yaitu karena kebutuhan ekonomi. Faktor kedua ini, biasanya untuk kedudukan laki-laki yang berstatus penghulu atau datuak. Hal ini untuk menaikkan prestise penghulu, di mana memiliki istri lebih dari satu menjadikan posisinya makin tinggi di dalam masyarakat.  
Female Palm Oil Plantation Workers PT Bakrie Pasaman Plantation Koto Balingka District, West Pasaman Regency 1998-2020 Putri, Fauziah Delsa; Midawati, Midawati; Gulo, Anatona
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 14, No 1 (2026): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v14i1.11130

Abstract

This study aims to see how the lives of female workers who work at PT. Bakrie Pasaman Plantation, Koto Balingka District, West Pasaman Regency in 1998-2020. The method used in this study is the historical method through four stages, namely, heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The results of this study indicate that the large-scale acceptance of women on the plantation of PT. Bakrie Pasaman Plantation in 1998 was due to the expansion of plantation land and the need for additional workers. women who work at PT. Bakrie Pasaman Plantation generally have low education, because they do not need higher education to work as laborers on oil palm plantations. The factors that encourage them to work as laborers are to meet the family's economy, have low education and feel bored. As laborers, women are able to improve the family's economy, improve their children's education and facilities (vehicles, communication tools and household furniture).
Acculturation of Sundanese Culture in Padang City in 1969-2020 Yenti, Yetri Ermi; Zulqaiyyim, Zulqaiyyim; Midawati, Midawati
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 12, No 2 (2024): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v12i2.9053

Abstract

This study aims to determine the process of acculturation of customs, traditions, language, and culinary between Sundanese and Minangkabau tribes in Padang City. The research method used is the historical method through four stages, namely first, heuristics, namely the stage of collecting data in the form of documents or books, articles, journals and interviews. Second, source criticism is testing data by conducting internal and external criticism of data from various sources. Third, interpretation, which is the interpretation of data so that it becomes a meaningful fact. The last stage is historical writing in the form of a thesis. The results show that cultural acculturation includes aspects of language, traditions, food and clothing. This acculturation is supported by marriage between ethnicities, economic relations, similarities in beliefs and views of life resulting in unity. The unity is maintained by individual cultural agents (Sundanese cultural activists in Padang City and groups (Paguyuban Warga Sunda Sumatera Barat, local government, ethnic Minang). The cultural activists agreed to create peace in everyday life according to their respective roles and positions, so that Sundanese culture has social engineering that can build harmony in Padang City.