Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Penerapan teknik relaksasi genggam jari untuk mengurangi nyeri pada pasien dengan post operasi appendectomy Badrujamaludin, Asep; Rismayanti, Rismayanti; Ismafiaty, Ismafiaty; Bangun, Argi Virgona
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 3 (2025): July Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i3.1114

Abstract

Background: Pain management treatments can be performed using pharmacological and non-pharmacological methods. Non-pharmacological therapies are used as support for pharmacological therapies to reduce the duration of pain episodes that are short in nature, lasting for a few seconds or minutes. Some forms of non-pharmacological treatment are through deep breath relaxation techniques, changes in body position, massage, hot-cold therapy, and finger grip relaxation. Purpose: To determine the effectiveness of the application of finger grip relaxation in reducing pain intensity in patients with acute pain after appendectomy surgery. Method: This study uses descriptive research with a case report design in the form of nursing care, by applying EBN (evidence based nursing) to one subject. The research subject was a 21-year-old man who experienced acute pain due to postoperative appendectomy. Data was collected through interview & observation methods. Results: After three interventions with a frequency of 1x/day, there was a significant decrease in pain intensity from 7 to 2. Conclusion: This shows that there is an effective application of finger grip relaxation to reduce pain intensity in patients post appendectomy surgery. With this study, it is hoped that it can increase knowledge and be used as a useful reference source regarding finger grip relaxation interventions in acute pain problems in postoperative appendectomy patients.   Keywords: Appendectomy; Finger Grip Relaxation; Pain.   Pendahuluan: Penanganan pengelolaan nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan metode farmakologis dan nonfarmakologis. Terapi non-farmakologis digunakan sebagai dukungan bagi terapi farmakologis guna mengurangi durasi episode nyeri yang bersifat singkat, berlangsung selama beberapa detik atau menit. Beberapa  bentuk penanganan non farmakologi adalah melalui teknik relaksasi nafas dalam, perubahan posisi tubuh, pijatan, terapi panas-dingin, dan relaksasi genggam jari. Tujuan: Untuk   mengetahui efektifitas penerapan relaksasi genggam jari dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien dengan nyeri akut post operasi apendiktomi. Metode: Penelitian deskriptif dengan desain  case report dalam bentuk asuhan keperawatan dengan mengaplikasikan EBN (evidence based nursing) pada satu subjek. Subjek penelitian merupakan seorang laki-laki berusia 21 tahun yang mengalami nyeri akut akibat post operasi appendiktomi. Data dikumpulkan melalui metode wawancara dan observasi. Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama tiga kali dengan frekuensi 1x/hari, terdapat adanya penurunan intensitas nyeri yang signifikan dari 7 ke 2. Simpulan: Ada efektifitas penerapan relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi appendiktomi. Saran: Penelitian ini diharapkan  dapat meningkatkan pengetahuan dan  dijadikan sebagai sumber referensi yang bermanfaat mengenai intervensi relaksasi genggam jari pada masalah nyeri akut pada pasien post operasi apendiktomi.   Kata kunci : Appendektomi; Nyeri; Relaksasi Genggam Jari.
Berkebun Sebagai Terapi Menurunkan Stres Lanjut Usia Di Panti Sosial Tresna Werdha Sukmana, Arief Wibawa; Nadirawati, Nadirawati; Bangun, Argi Virgona
Jurnal of Community Health Development Vol 6 No 2 (2025): Journal Of Community Health Development Terbitan Bulan Juli 2025
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jchd.2025.6.2.15678

Abstract

Lanjut usia merupakan kelompok rentan yang berisiko mengalami stres akibat perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Keterbatasan aktivitas serta kurangnya interaksi sosial di panti werdha seringkali memperburuk kondisi tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia melalui terapi berkebun sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis untuk menurunkan tingkat stres. Kegiatan dilaksanakan di Panti Werdha Asuhan Bunda Bandung, sebanyak 24 lansia, dengan metode pelatihan berkebun, dan praktik langsung yang disesuaikan dengan kemampuan fisik lansia. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan pengukuran tingkat stres menggunakan kuesioner DASS sebelum dan sesudah intervensi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya penurunan tingkat stres, peningkatan semangat, serta keterlibatan aktif lansia dalam kegiatan berkebun. Terapi berkebun terbukti memberikan manfaat tidak hanya secara psikologis tetapi juga meningkatkan kualitas hidup lansia. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi program berkelanjutan di panti werdha sebagai bagian dari intervensi promotif dan preventif dalam keperawatan komunitas.
Impact of Haemodialysis: Analysis of Haemoglobin Levels and Blood Pressure Control in Patients with End-Stage Renal Disease Bangun, Argi Virgona; Baroka, Nurani Saxena; Santoso, M. Budi
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 10 No. 5 (2024): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v10i5.755

Abstract

Aims: To analyze the effect of hemodialysis on hemoglobin levels and blood pressure in patients with End Stage Renal Disease (ESRD). Method: The study used a one-group pretest-posttest design with 17 respondents. Data were collected using EDTA tubes, sphygmomanometers, and stethoscopes. A paired t-test and Wilcoxon signed-rank test were applied to analyze the significance of changes between pretest and posttest results Results: The mean hemoglobin level before hemodialysis was 7.92 g/dL and increased to 8.50 g/dL after hemodialysis (p = 0.001). The mean systolic blood pressure decreased from 136.6 mmHg before to 124.0 mmHg after hemodialysis (p = 0.003). However, there was no significant difference in diastolic blood pressure, with an average of 80.6 mmHg before and 78.6 mmHg after hemodialysis (p = 0.180). Conclusion: It can be concluded that hemodialysis significantly increases hemoglobin levels and reduces systolic blood pressure in ESRD patients, while diastolic blood pressure remains unchanged. Regular monitoring of hemoglobin and systolic blood pressure is crucial for managing patient health. Hemodialysis effectively raises hemoglobin levels and reduces systolic blood pressure in ESRD patients. Regular monitoring of both parameters is essential for effective patient management. While the findings highlight the benefits of hemodialysis, the limited sample size may restrict the generalizability of the results. Further studies with larger sample sizes are needed to confirm these findings and explore the long-term implications.
Sosialisasi pengelolaan dismenorea dan pencegahan anemia pada remaja melalui intervensi berbasis digital (SMART TEEN) Suryati, Yayat; Rudhiati, Fauziah; Murtiningsih, Murtiningsih; Inayah, Iin; Bangun, Argi Virgona; Imelisa, Rahmi; Carmo, Elisa Adelia do; Tumbol, Monika Anggelia; Silva, Sanzina Agus da
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2691

Abstract

Background: Among adolescent girls, dysmenorrhea and anemia are two common yet under-recognized health problems. Dysmenorrhea, or menstrual pain, affects a significant proportion of adolescent girls worldwide. Adolescent girls commonly face reproductive health issues such as dysmenorrhea and anemia, which significantly impact their academic performance and quality of life. Purpose: To empower adolescents to manage dysmenorrhea and prevent anemia through digital-based health education. Method: The program was conducted in 2026 at SMAN IV Cimahi, targeting adolescent girls who met the inclusion criteria (aged 15-18 years, having a menstrual cycle, and no chronic gynecological diseases). The program population comprised all female students, using a purposive sampling technique to obtain a sample of 139 respondents. Material was delivered through lectures and discussions, as well as through interactive digital audio-visual videos, including mobile applications and social media platforms. Knowledge levels were measured using a 30-item multiple-choice questionnaire covering the mechanisms of dysmenorrhea, non-pharmacological management, an iron-rich diet, and knowledge of menstrual cycle tracking. Qualitative data were coded thematically and triangulated with quantitative results. Results: Demonstrated a significant increase in reproductive health literacy and a better understanding of anemia prevention strategies. Data showed that the average age of respondents was 16.37 years with a standard deviation of ±0.56 years, and the majority of respondents (82) were 16 years old. The average score for respondents' knowledge about dysmenorrhea ranged from 80 to 92 points, and their knowledge about anemia ranged from 89 to 92 points. Conclusion: Educational activities with digital-based interventions proved effective in improving adolescent health literacy, particularly in the areas of dysmenorrhea management and anemia prevention. Furthermore, positive qualitative feedback about the digital format highlighted its relevance and appeal to adolescents, aligning with broader eHealth engagement trends. The synergy between digital education and peer learning, self-monitoring, and institutional support emerged as key factors for the intervention's success. Suggestion: Integration of digital health education with existing school curricula and health promotion programs is needed to ensure consistency and strengthen learning across contexts. It is also hoped that future activities will include education with the ability to adapt interventions to cultural and socioeconomic environments so that they can be more accessible to the community and implemented broadly. Keywords: Adolescent health; Anemia prevention; Digital intervention; Health education Pendahuluan: Di antara remaja perempuan, dismenore dan anemia merupakan dua masalah kesehatan yang paling umum namun kurang mendapat perhatian. Dismenore, atau nyeri menstruasi, memengaruhi sebagian besar remaja perempuan di seluruh dunia. Remaja putri umumnya menghadapi masalah kesehatan reproduksi seperti dismenore dan anemia, yang secara signifikan memengaruhi prestasi akademik dan kualitas hidup mereka. Tujuan: Untuk memberdayakan remaja dalam mengelola dismenore dan mencegah anemia melalui pendidikan kesehatan berbasis digital. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2026 di SMAN IV Cimahi dengan sasaran remaja putri yang memenuhi kriteria inklusi (usia 15-18 tahun, siklus menstruasi, tidak memiliki penyakit ginekologis kronis). Populasi kegiatan adalah seluruh siswi, dengan menggunakan teknik purposive sampling mendapatkan sampel sebanyak 139 responden. Penyampaian materi dilakukan melalui ceramah dan diskusi, serta menyimak audio visual video berupa digital interaktif, termasuk aplikasi seluler dan platform media sosial. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner berupa 30 soal pilihan ganda yang mencakup mekanisme dismenore, penanganan non-farmakologis, diet kaya zat besi, dan pengetahuan pelacakan siklus menstruasi. Data kualitatif dikodekan secara tematik dan ditriangulasi dengan hasil kuantitatif. Hasil: Menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi kesehatan reproduksi, dan pemahaman yang lebih baik tentang strategi pencegahan anemia. Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 16.37 tahun dengan standar deviasi ±0.56 tahun dan sebagian besar responden berusia 16 tahun yaitu sebanyak 82 (59.0%). Rata-rata pencapaian skor pengetahuan responden tentang dismenorea berada di rentang 80-92 poin dan skor pengetahuan tentang anemia berada di rentang 89-92 poin. Simpulan: Kegiatan edukasi dengan intervensi berbasis digital terbukti efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja, khususnya dalam bidang manajemen dismenore dan pencegahan anemia. Selain itu, umpan balik kualitatif yang positif tentang format digital menyoroti relevansi dan daya tariknya pada kalangan remaja yang sejalan dengan tren keterlibatan eHealth yang lebih luas. Sinergi antara pendidikan digital dengan pembelajaran sebaya, pemantauan diri, dan dukungan institusional muncul sebagai faktor kunci keberhasilan intervensi.  Saran: Perlu dilakukan integrasi bagaimana pendidikan kesehatan digital dapat diintegrasikan dengan kurikulum sekolah dan program promosi kesehatan yang ada untuk memastikan konsistensi dan memperkuat pembelajaran di berbagai konteks. Diharapkan juga pada kegiatan selanjutnya untuk melakukan edukasi dengan kemampuan adaptasi intervensi terhadap lingkungan budaya dan sosial ekonomi sehingga dapat lebih mudah dijangkau oleh masyarakat dalam penerapannya secara luas.
Effect of Diabetes Self-Management Education on Quality of Life in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus: A Quasi-Experimental Study Najwatussikha, Najwatussikha; Bangun, Argi Virgona; Santoso, M. Budi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55949

Abstract

Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease that requires continuous self-management to prevent complications and maintain quality of life. Diabetes Self-Management Education (DSME) has been widely promoted as a structured educational intervention to improve patients’ self-care behaviors. To analyze the effect of a DSME program on quality of life among patients with type 2 diabetes mellitus. A quasi-experimental pretest–posttest control group study was conducted among patients with type 2 diabetes attending the outpatient clinic at RSUD Majalengka, Indonesia. A total of 106 participants were recruited using purposive sampling and divided into intervention (n=53) and control (n=53) groups. The intervention group received a structured DSME program consisting of four sessions covering diabetes knowledge, physical activity, nutrition management, and pharmacological therapy. Quality of life was measured using the Diabetes Quality of Life (DQOL) questionnaire before and after the intervention. Data were analyzed using statistical tests to compare within-group and between-group changes. Participants who received DSME showed greater improvement in Quality of life scores compared with the control group. The intervention supported better self-management behaviors, improved understanding of disease management, and increased patient engagement in their care. significantly improves quality of life among patients with type 2 diabetes mellitus and can be considered an effective educational strategy in outpatient care settings.