Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal KACA

Representasi Kearifan Lokal dalam Al-Qur’an: Dari Takdir Keberadaan Manusia Hingga Terbentuknya Relasi Sosial Islami, Wildah Nurul; Wahyudi, Chafid
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i2.833

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tahapan genesis kearifan lokal dengan pendekatan interdidipliner untuk membangun relasi manusia dengan lingkungannya. Langkah yang dilakukan adalah dengan menelaah sinergitas antara eksistensial manusia dan nilai-nilai kearifan lokal dalam perspektif Al-Qur’an. Untuk mengidentifikasi ayat-ayat Al-Qur’an terkait kearifan lokal, maka digunakan pendekatan filsafat eksistensialisme Heidegger dan pendekatan sosiologi Emile Durkheim. Ada lima tahapan dalam bingkai kearifan lokal yakni 1. Tahap kesadaran eksistensial manusia dijelaskan dalam Q.S. Fussilat [41]: 53, 2. Tahap keyakinan eksistensial manusia sebagai takdir dijelaskan dalam Q.S. Al-Hujurat [49]: 13, 3. Tahap bertahan dalam eksistensi melalui kasb (usaha manusia) dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 286, 4. Tahap kesadaran eksistensial manusia terikat nilai (qimah) dijelaskan dalam Q.S. Ali ‘Imran [3]: 104, 5. Tahap membangun sinergitas eksistensial manusia dan nilai kearifan lokal dalam ruang society 5.0 dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an. Meskipun manusia hidup dalam kebebasan untuk menyatu dengan dunia digital, namun tetap terikat dengan konsensus nilai yang disepakati komunitas sebagai warisan bersama yaitu nilai-nilai kearifan lokal. Di sinilah letak sinergitas antara eksistensial manusia dan kearifan lokal.
Hermeneutika Fiqh: Gagasan Epistemologi Pesantren Oliviatie, Shava; Wahyudi, Chafid
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.1160

Abstract

Tulisan ini mengkaji hermeneutika fiqh sebagai paradigma epistemologis pesantren dalam menjembatani dialektika antara tradisi keilmuan Islam klasik dan tantangan modernitas. Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fi al-din memiliki kekayaan tradisi keilmuan yang berakar pada teks-teks turats, namun seringkali terjebak dalam formalisme normatif yang menjauh dari dimensi sosial dan moral hukum Islam. Melalui pendekatan hermeneutik, fiqh ditempatkan bukan sekadar sebagai sistem hukum yang mengatur halal dan haram, tetapi sebagai instrumen epistemik yang dinamis dan terbuka terhadap perubahan historis. Artikel ini menelaah integrasi hermeneutika filosofis (Gadamer), sosial (Asad), dan moral (Abou El-Fadl) ke dalam praksis keilmuan pesantren untuk membangun sistem pengetahuan yang kontekstual, kritis, dan humanistik. Pendekatan ini mendorong transformasi pesantren dari lembaga reproduksi teks menuju pusat produksi pengetahuan integratif-interkonektif yang memadukan wahyu, rasio, dan realitas sosial. Dengan demikian, hermeneutika fiqh berfungsi sebagai jantung pembaruan epistemologi pesantren yang meneguhkan peran fiqh sebagai etika sosial dan sumber keadilan dalam masyarakat modern.