Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Produksi dan Pemasaran Jamur Tiram Berbasis Digital di Kabupaten Sumedang Jawa Barat Kartib Bayu; Yogi Makbul; Pringgo Dwiyantoro; Edi Kusniadi; Andhika Riyadi; Ari Nurfadillah; Ari Munawar; Gilang Fauzy M
Prosiding Seminar Nasional Ekonomi dan Bisnis Vol. 1 (2021): Prosiding Seminar Nasional Ekonomi dan Bisnis
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.168 KB)

Abstract

Terjadinya wabah pandemi Covid 19 berdampak terhadap penurunan permintaan jamur tiram segar, keterlambatan pengiriman, dan kualitas jamur cepat rusak, sehingga harga jual menjadi rendah bahkan sampai tidak bisa dijual. Para petani jamur tiram di Kabupaten Sumedang belum melakukan pengaturan produksi dan teknis pemasarannya dilakukan secara langsung. Dilain pihak jika produksi berkurang permintaan pasar tidak terpenuhi, padahal petani lain kelebihan produksi, akhirnya petani rugi karena produknya rusak dan tidak bisa dijual. Tujuan terapan inovasi adalah untuk mengetahui karakteristik pengusaha jamur dan kondisi usaha jamur pada masa pandemi Covid 19, dampak pandemi Covid 19 terhadap aktivitas usaha, dan membangun sistem informasi manajemen produksi dan manajemen pemasaran jamur tiram berbasis digital. Metode yang digunakan yaitu wawancara dan observasi lapangan, desain Platform digital, pembuatan platform digital, literasi Platform digital, Uji coba (treatmnent) lapangan, implementasi dan pendampingan pengoperasian dan pemanfaatan platform sistem informasi manajemen. Setiap tahapan kegiatan dilakukan kajian dan analisis. Unit analisisnya adalah pengusaha jamur sebanyak 21 orang di Kabupaten Sumedang. Teknis analisis adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Hasil terapan inovasi menunjukkan bahwa karakteristik pengusaha jamur tiram berdasarkan umur, pendidikan, dan pengalaman berusaha jamur cukup memadai untuk mengelola usaha jamur secara profesional. Nilai omset usaha jamur tiram selama pandemi Covid 19 rata-rata Rp 10.839.524 per bulan dan penyerapanan tenaga kerja rata-rata 3 orang per perusahaan. Selama pandemi Covid 19 aktivitas usaha jamur tiram masih tetap beroperasi walaupun terjadi penurunan kapasitas produksi. Pembangunan platform digital sistem informasi manajemen produksi dan pemasaran jamur tiram telah mengakomodasi keragaman variasi objek yang menjadi komoditas dan pola kegiatan ekonomi dari pengusaha jamur. Implementasi platform digital sistem informasi manajemen produksi dan manajemen pemasaran, telah dapat memenuhi kebutuhan para pengguna, sebagian besar sudah paham dalam pengoperasian dan pemanafaatan platform serta informasi yang disajikan sudah lengkap sesuai dengan kebutuhan para pengusaha jamur. Kata Kunci : Manajemen Produksi, Manajemen Pemasaran, Jamur Tiram, dan Platform digital
Application of SWOT Analysis and Porter’s Five Forces As a Foundation for Formulating Marketing Strategies: (Case Study of The Patuha Geothermal Area, Bandung Regency) Putra, Muh Rifqi Ananda Putra; Pratama, Ricky Karya; Dwiyantoro, Pringgo
Journal of Mandalika Review Vol. 3 No. 2 (2024): Journal of Mandalika Review
Publisher : Politeknik Pariwisata Lombok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55701/mandalika.v3i2.129

Abstract

Abstract Introduction: This study develops previous research by combining SWOT and Porter's Five Forces Models as a basis for determining tourism marketing strategies at the Patuha Geothermal Destination in Bandung Regency. The Patuha Geothermal Destination in Bandung Regency has become one of the geothermal tourism areas that has great potential, so this research is expected to contribute to the development of sustainable tourism. Methodology: The analytical method used is quantitative data analysis method and case studies using two well-known strategic analysis frameworks, namely SWOT Analysis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) and Porter's Five Forces as a basis for formulating marketing strategies. Findings: The results of this research show that the SWOT results are in quadrant II so that in developing and planning the marketing of the Geothermal Patuha destination, it is necessary to implement diverse and innovative strategies as an effort to utilize internal resources and anticipate competitor threats. Apart from that, using the Porter's Five Forces approach, the appropriate strategy model for the Patuha Geothermal destination marketing strategy is to develop market penetration. Conclusion: Based on the results of the analysis using Porter's Five Forces approach, the recommended strategy for maintaining Patuha Geothermal tourism potential is through an intensive approach with market development strategies that involve more active promotional activities and offering more competitive prices to visitors. Keywords: SWOT Analysis, Porter's Five Forces Model, Marketing Strategy
ANALISIS STRATEGI MENGGUNAKAN BAURAN PEMASARAN 7P DENGAN PENDEKATAN SWOT PADA AKOMODASI WISATA BOBOCABIN RANCA UPAS Ulfa, Nurul; Isnaini, Berliani Nur; Dwiyantoro, Pringgo
Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah Vol 18, No 3 (2024): Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47256/kji.v18i3.668

Abstract

AbstractThis research discusses the marketing strategy for Bobocabin as one of the lodging accommodations in Ranca Upas, Bandung Regency. Its cool climate and extraordinary natural beauty are a special attraction for tourists who come. The purpose of this research is to identify the 7P marketing mix as well as how the strengths, weaknesses, opportunities, and threats at Bobocabin Ranca Upas. This research uses a qualitative approach. Resulting in all marketing mix variables that positively influence the development of Bobocabin in Ranca Upas. The concept of cabin lodging with multisensor technology (product) and strategic location (place) are strengths while the limitations of the cabin (process) are weaknesses seen through SWOT analysis and IFAS/EFAS matrix, Bobocabin has been assessed to have a stable position. The recommendation for further research is to conduct research with the same object using other collaborative strategies so that it can be used as a better reference for Bobocabin Rancaupas.Keywords: Marketing Mix 7P; SWOT; BobocabinAbstrakPenelitian ini akan membahas tentang penerapan strategi pemasaran untuk Bobocabin sebagai salah satu akomodasi penginapan yang ada di Ranca Upas,  Kabupaten Bandung. Iklimnya yang dingin dan sejuk serta menawarkan keindahan alam yang luar biasa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi bauran  pemasaran 7P serta bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada Bobocabin Ranca Upas. Penelitian ini menggunakan pendekatan  kualitatif. Menghasilkan seluruh variabel bauran pemasaran yang berpengaruh secara positif untuk pengembangan Bobocabin di Ranca Upas. Konsep penginapan kabin dengan teknologi multisensor (product) dan lokasi strategis (place) menjadi kekuatan sedangkan keterbatasan kabin (process) menjadi kelemahan dilihat melalui analisis SWOT dan matriks IFAS/EFAS, Bobocabin sudah dinilai memiliki posisi yang stabil. Adapun rekomendasi bagi penelitian selanjutnya adalah melakukan penelitian dengan objek yang sama dengan menggunakan strategi kolaborasi lainnya sehingga dapat dijadikan acuan yang lebih baik bagi Bobocabin Rancaupas.Kata Kunci: Bauran Pemasaran 7P; SWOT; Bobocabin
Analisis RACE Planning Framework sebagai Strategi Pemasaran Digital Destinasi Pariwisata di Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta Fasya, Muhammad Najih; Dwiyantoro, Pringgo
JOM Vol 5 No 3 (2024): Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, September
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijhass.v5i3.4384

Abstract

Ditetapkannya Sumbu Filosofi Yogyakarta: “The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks” sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tanggal 18 September 2023 di Riyadh, Arab Saudi diharapkan Yogyakarta dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi peradaban dunia. Dengan adanya banyak sumber daya pusaka di Yogyakarta dan minat tinggi dari para wisatawan untuk mengunjunginya, seharusnya menjadi alasan yang kuat bagi pihak-pihak terkait untuk serius memformulasikan strategi pengembangan wisata sejarah dan budaya di Yogyakarta. Namun masih terdapat keterbatasan bahan promosi layanan wisatawan yang disediakan di Kawasan Sumbu Filosofi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan strategi pemasaran digital destinasi pariwisata di Kawasan Sumbu Filosofi melalui analisis RACE Planning Framework. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil analisis maka dihasilkan strategi “Meningkatkan Kualitas Promosi dan Pemasaran Kawasan Sumbu Filosofi sebagai Destinasi Wisata melalui Pemasaran Digital” yang melahirkan dua program yaitu pengembangan promosi wisata budaya dan sejarah Kawasan Sumbu Filosofi dan pengadaan paket wisata Kawasan Sumbu Filosofi.
Development of Destination Branding with Unique Selling Proposition Approach: A Case Study at Kampung Adat Ratenggaro, NTT Caesar Achmad Firjaun Faqih Aziz; Yumna Alifa; Pringgo Dwiyantoro; Banung Grahita
Jurnal Kepariwisataan: Destinasi, Hospitalitas dan Perjalanan Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Research and Community Service Center, Politeknik Pariwisata NHI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34013/jk.v9i1.1864

Abstract

This study explores on the development of destination branding for Kampung Adat Ratenggaro, a traditional village in East Nusa Tenggara, Indonesia, using the Unique Selling Proposition (USP) approach. The research aims to identify and leverage the village's cultural and natural assets to create a compelling brand identity. The scope includes an analysis of current tourism conditions, strategic opportunities, and the formulation of branding strategies tailored to highlight destination uniqueness. A qualitative approach was employed, incorporating SOAR analysis using Internal & External Factor Analysis Summary to prioritize strategic initiatives and mapping strengths, weaknesses, opportunities, and aspirations. Key findings reveal that Kampung Adat Ratenggaro holds significant potential as a cultural tourism destination, supported by its architectural heritage, traditional weaving, and vibrant ceremonies. The proposed branding concept, "Harmony of Tana Uma Tau," emphasizes the harmonious relationship between nature, culture, and people. This approach strengthens market positioning, enhances competitiveness, and promotes sustainable tourism development. The study concludes that a USP-driven branding strategy, combined with stakeholder collaboration, can effectively increase tourism appeal and community engagement. Recommendations include the implementation of digital marketing campaigns, infrastructure development to improve visitor experience, and capacity-building programs for local stakeholders. These efforts aim to establish Kampung Adat Ratenggaro as a leading cultural tourism destination, contributing to Indonesia's broader cultural tourism agenda.
Policy network fragmentation and the conflict paradox in metropolitan traffic governance: Evidence from greater Bandung, Indonesia Pringgo Dwiyantoro; Deni Nugraha; Tuntun Salamatun Zen
Journal of Advanced Sciences and Mathematics Education Vol. 6 No. 2 (2026): Journal of Advanced Sciences and Mathematics Education
Publisher : CV. FOUNDAE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58524/jasme.v6i2.1290

Abstract

Background: Traffic congestion in the Greater Bandung Metropolitan Area (KMBR) has evolved into a complex governance challenge characterized by a “conflict paradox,” in which localized traffic interventions unintentionally generate congestion spillovers across administrative boundaries. Despite regular intergovernmental coordination, congestion remains persistent across the metropolitan region. Aims: This study examines how policy network fragmentation contributes to the conflict paradox and assesses the effectiveness of collaborative governance in metropolitan traffic management. Method: A descriptive-explorative qualitative approach was employed. Data were collected through in-depth interviews with transportation officials from five jurisdictions within the KMBR and complemented by regulatory document analysis, including West Java Provincial Regulation No. 12 of 2014. The analysis was guided by Van Waarden’s policy network framework and Ansell and Gash’s collaborative governance model. Results: The findings reveal that metropolitan traffic governance is constrained by fragmented institutional structures, asymmetric power relations, and predominantly non-binding coordination mechanisms. Although coordination forums occur regularly, collaboration remains procedural rather than strategic. The prevalence of parochial ego-sectoralism encourages jurisdictions to prioritize local political and budgetary interests, causing traffic interventions to shift congestion problems across boundaries and reinforce the conflict paradox. Conclusion: Traffic congestion in the KMBR is fundamentally a governance issue rooted in policy network fragmentation and collaborative failure. Strengthening metropolitan governance through legally enforceable and integrated coordination mechanisms is essential for achieving sustainable regional mobility.