Nadia Ushfuri Amini
Universitas Bhakti Kencana

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh pesan edukasi kesehatan terhadap citra Rumah Sakit Alfi Fauzia Hakim; Madinatul Munawaroh; Nadia Ushfuri Amini; Bilqis Annisa; Anti Restiani Febrianti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 2 No 2 (2022): Perawatan Pasien Yang Menderita Tuberkulosis Paru
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v2i2.294

Abstract

Background: Providing educational messages by health workers to patients and their families is a form of service provided by the hospital where the patient is treated and gets treatment. The quality of health services is currently getting high demands from people who are increasingly aware of health. Good service quality affects the high level of satisfaction of patients and their families as a public audience. This will also affect the image that is formed about the hospital. Purpose: To determine the effect of health education messages on the image of the Hospital institution. Methods: The method used is quantitative, with an explanatory survey approach. Results: The results of this study show that the results of the validity test on all questions in the questionnaire are valid, the results of the reliability test of the questionnaire state that they are reliable. The effect of giving health education messages in the form of tips directly on the image has a greater value, namely 11.4%, compared to information processing, both the central route, which is 4.5% and the peripheral route, which is 0.2%. Conclusion: There is an influence on health education messages in the form of tips on the image of Hospital institutions in Bandung Regency, West Java, both directly and through information processing, but it is very small and not significant.   Pendahuluan: Pemberian pesan-pesan edukasi oleh tenaga kesehatan kepada pasien dan keluarga pasien merupakan salah satu bentuk pelayanan yang diberikan rumah sakit tempat pasien tersebut berobat dan mendapatkan tindakan. Kualitas pelayanan kesehatan saat ini mendapatkan tuntutan yang tinggi dari masyarakat yang semakin sadar akan kesehatan. Kualitas pelayanan yang baik berpengaruh pada tingginya tingkat kepuasan pasien dan keluarga pasien sebagai publik khalayak. Hal ini akan berpengaruh juga pada citra yang terbentuk mengenai rumah sakit tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pesan edukasi kesehatan terhadap citra lembaga Rumah Sakit. Metode: Metode yang digunakan adalah kuantitatif, dengan pendekatan survei eksplanatori. Hasil: Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa hasil uji validitas pada semua butir pertanyaan dalam kuesioner valid, hasil uji reliabilitas kuesioner menyatakan reliabel. Pengaruh pemberian pesan edukasi kesehatan berupa tips secara langsung terhadap citra memiliki nilai lebih besar, yaitu 11,4%, dibandingkan melalui pemrosesan informasi, baik jalur sentral yaitu 4,5% maupun jalur periferal yaitu 0,2%. Simpulan: Terdapat pengaruh pada pesan edukasi kesehatan berupa tips terhadap citra lembaga Rumah Sakit di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, baik secara langsung maupun melalui pemrosesan informasi, namun sangat kecil dan tidak signifikan.
Komunikasi Terapeutik Motif dan makna sukarelawan sebagai pelaku komunikasi terapeutik: Studi fenomenologi mengenai motif sukarelawan sebagai pelaku komunikasi terapeutik melalui metode kasih sayang di Yayasan Penyandang Disabilitas Mental Mentari Hati Tasikmalaya Nadia Ushfuri Amini
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 1 No. 2 (2022): Kecerdasan emosi dengan perilaku agresi remaja
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v1i2.293

Abstract

Background: The Mentari Hati Tasikmalaya Foundation is a social rehabilitation center that accommodates and treats people with mental disabilities or people with mental disorders from the streets with the 'Compassion' method and humanizes humans. This foundation was established because of Dadang Heryadi's concern for the many people with mental disorders on the streets. The phenomenon about the Mentari Hati Foundation and therapeutic communication through the 'Love' method is carried out by volunteers in treating patients with mental disabilities, where volunteers carry out social actions sincerely and selflessly, volunteers treat mental patients like normal people and consider patients as their own family. Purpose: Assessing the motives of volunteers and the meaning of the experience they have when carrying out therapeutic communication through the 'Affection Method' Methods: In analyzing these problems, Alfred Schutz's phenomenological theory, social action theory, social construction theory, Fundamental Interpersonal Relations Orientations (FIRO) theory, motivation theory and empathy theory are used. The research methodology uses a constructivism paradigm with phenomenological research methods and a qualitative research approach. The research location was conducted at the Mentari Hati Foundation, research informants were selected purposively by taking 3 (three) key informants and 3 (three) supporting informants. Results: Each informant has a different opinion regarding therapeutic communication through the 'Love' method at the Mentari Hati Foundation. The motives of the volunteers consist of in order to motive and because motive. Conclusion: The meaning of being a volunteer is social, spiritual, affection and empathy.   Pendahuluan: Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya merupakan sebuah panti rehabilitasi sosial yang menampung dan mengobati penyandang disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari jalanan dengan metode ‘Kasih Sayang’ dan memanusiakan manusia. Yayasan ini didirikan karena kepedulian Dadang Heryadi yang prihatin dengan banyaknya orang dengan gangguan jiwa di jalanan. Fenomena tentang Yayasan Mentari Hati dan komunikasi terapeutik melalui metode ‘Kasih Sayang’ dilakukan oleh para sukarelawan dalam mengobati pasien disabilitas mental, dimana sukarelawan melakukan tindakan sosial dengan ikhlas dan tanpa pamrih, sukarelawan memperlakukan pasien gangguan jiwa seperti orang normal dan menganggap pasien sebagai keluarganya sendiri. Tujuan: Mengkaji motif yang dimiliki sukarelawan dan pemaknaan terhadap pengalaman yang dimiliki ketika melakukan komunikasi terapeutik melalui ‘Metode Kasih Sayang’ Metode: Dalam menganalisa permasalahan tersebut maka digunakan teori fenomenologi Alfred Schutz, teori tindakan sosial, teori konstruksi sosial, teori Fundamental Interpersonal Relations Orientations (FIRO), teori motivasi dan teori empati. Metodologi penelitian ini menggunakan paradigma konstrutivisme dengan metode penelitian fenomenologi dan pendekatan penelitian kualitatif. Lokasi penelitian dilakukan di Yayasan Mentari Hati, informan penelitian dipilih secara purposive dengan mengambil 3 (tiga) key informant dan 3 (tiga) informan pendukung. Hasil:  Tiap-tiap informan memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai komunikasi terapeutik melalui metode ‘Kasih Sayang’ di Yayasan Mentari Hati. Adapun motif yang dimiliki sukarelawan terdiri dari in order to motive dan because motive. Simpulan: Makna dimiliki sukarelawan adalah makna sosial, spiritual, kasih sayang dan empati.
Literasi Informasi Kesehatan: Penyuluhan Informasi dalam Pencegahan Isu Hoaks Vaksinasi Covid-19 di Sosial Media bagi Pelajar SMK di Jawa Barat Nadia Ushfuri Amini; Ade Tika Herawati; Madinatul Munawwaroh; Agung Sutriyawan; Asep Aep Indarna; Sephia Indah Lutpiah; Bilqis Annisa
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 5 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v5i1.1029

Abstract

Literasi informasi Kesehatan dilakukan untuk memberi solusi dari persoalan yang dihadapi oleh siswa dan siswi SMK di Jawa Barat yang mengakses internet dengan tujuan untuk mendapatkan informasi, agar tidak terpapar informasi hoaks vaksinasi Covid-19. Pengabdian ini dilakukan dengan menggunakan  metode  workshop melalui penyuluhan informasi dalam pencegahan isu hoaks vaksinasi Covid-19 di sosial media. Kegiatan  ini dilaksanakan  secara  luring. Ada 42 (empat puluh dua) siswa SMK  yang mengikuti  secara  penuh  kegiatan  ini. Berdasarkan  rangkaian kegiatan  yang  telah  dilakukan, siswa dan siswi SMK Rancaekek merasa sangat terbantu dengan kegiatan yang dilakukan, terutama dengan pemberian penyuluhan terkait literasi informasi kesehatan.  Pengabdi  menemukan,  selama ini  banyak terdapat  siswa dan siswi yang masih kesulitan menyaring informasi fakta dan hoaks terkait vaksinasi Covid-19 dikarenakan  kurangnya  literasi informasi Kesehatan. Setelah  dilakukan  workshop literasi informasi Kesehatan dalam pencegahan isu hoaks vaksin Covid-19, siswa dan siswi dapat memilah informasi fakta dan hoaks, selain itu siswa dan siswi SMK Pasundan Rancaekek dapat mengetahui cara mencegah adan menanggulangi isu hoaks vaksinasi Covid-19. Health Information Literacy: Information Counseling in Preventing the Issue of Covid-19 Vaccination Hoaxes on Social Media for Vocational High School Students in West Java Health information literacy is carried out to provide solutions to problems faced by SMK students in West Java who access the internet with the aim of obtaining information, so as not to be exposed to hoax information about the Covid-19 vaccination. This service is carried out using the workshop method through information counseling in preventing the issue of Covid-19 vaccination hoaxes on social media. This activity is carried out offline. There were 40 (forty two) SMK students who fully participated in this activity. Based on the series of activities that have been carried out, students at SMK Rancaekek feel very helped by the activities carried out, especially by providing counseling related to health information literacy. The servant found that so far there have been many students who still have difficulty sifting through factual and hoax information related to the Covid-19 vaccination due to a lack of health information literacy. After holding a health information literacy workshop in preventing the issue of Covid-19 vaccine hoaxes, students can sort out factual and hoax information. In addition, students at Pasundan Rancaekek Vocational School can find out how to prevent and deal with the issue of Covid-19 vaccination hoaxes.
Literasi Kesehatan: Edukasi “Bijak dalam Konsumsi Obat dan Makanan pada Anak” di Kecamatan Panyileukan Kota Bandung Nadia Ushfuri Amini; Herni Kusriani; Entris Sutrisno; Fitriani Mardiana; Siti Rokmah; Sephia Indah Lutpiah; Selvi Restiani
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 6 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v6i2.1804

Abstract

Program Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan ibu-ibu Tim PKK dan Posyandu di Kecamatan Panyileukan Kota Bandung, terutama dalam penggunaan obat dan pemilihan makanan yang bijak untuk anak-anak. Program ini melibatkan 30 peserta yang terdiri dari ibu-ibu PKK dan kader Posyandu. Metode yang digunakan adalah workshop edukasi "Bijak Konsumsi Obat dan Makanan pada Anak", yang dilaksanakan secara luring dengan menggunakan media audio visual dan metode ceramah. Hasil program menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta tentang literasi kesehatan. Sebelum edukasi, rata-rata skor pengetahuan mereka adalah 7.467 dengan total skor 224 poin. Setelah edukasi, rata-rata skor meningkat menjadi 8.433 dengan total skor 253 poin. Peningkatan ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta tentang penggunaan obat yang aman dan pemilihan makanan bergizi bagi anak-anak. Rekomendasi dari program ini adalah untuk melanjutkan kolaborasi dengan Kelurahan Cipadung Kidul, Dinas Kesehatan Kota Bandung, dan Puskesmas setempat untuk memperluas cakupan edukasi literasi kesehatan ke seluruh kelurahan di Kota Bandung. Selain itu, diharapkan edukasi literasi kesehatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan peningkatan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan. Health Literacy: Education "Wisely Consuming Medicine and Food for Children" in Panyileukan District, Bandung City This Community Service Program aims to enhance the health literacy of PKK (Family Welfare Movement) and Posyandu (Integrated Health Service Post) mothers in Panyileukan District, Bandung City, particularly regarding the wise use of medicine and food selection for children. The program involved 30 participants, comprising PKK mothers and Posyandu cadres. The method used was a workshop titled "Wise Consumption of Medicine and Food for Children," conducted offline using audio-visual media and lecture methods. The program results showed an improvement in participants' knowledge of health literacy. Before the education, their average knowledge score was 7.467 with a total score of 224 points. After the education, the average score increased to 8.433 with a total score of 253 points. This increase indicates that the education provided was effective in enhancing the participants' understanding of safe medication use and selecting nutritious food for children. The recommendation from this program is to continue collaboration with Cipadung Kidul Village, the Bandung City Health Office, and local health centers to expand the scope of health literacy education to all villages in Bandung City. Additionally, it is hoped that this health literacy education can be conducted continuously to ensure sustainable improvement in community health.
Penguatan Komunikasi Kesehatan dan Kesehatan Mental sebagai Strategi Pencegahan Burnout pada Tenaga Kesehatan di Klinik Kota Bandung Dedeh Dahliah; Mufti Fauzi Rahman; Nadia Ushfuri Amini; Ermilda Ermilda; Nur Rakhmanto Heryana; Yusuf Bukhori
Madani : Indonesian Journal of Civil Society Vol. 8 No. 2 (2026): Madani : Agustus 2026
Publisher : Politeknik Negeri Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35970/an1nsd07

Abstract

This community service program is aimed to up the capacity of workers in clinics under the Indonesian Clinic Association (ASKLIN) of Bandung city with strengthening of health communication and mental health as an effort to prevent burnout. The activity was implemented on December 4th, 2025, at Bhakti Kencana University, and followed by 38 participant from various clinics in Bandung City. The methods  used is seminars, workshops, role plays, and simulations with materials like effective communication of health, stress management, mindfulness and self-care technique. Based on he result of pre-test and post-test, this program showed that  there is an increase of uderstanding from participant around 9.53% . It means that this program had a positive impact on increasing awareness and practical skills in preventing burnout of workers in clinical health service facilities.   Keywords : health communication, mental health, burnout
Kegiatan promotif-preventif kesehatan keluarga dan pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi pengelolaan sampah Agus Mi’raj Derajat; Rahmat Santoso; Yunisa Mega Pasha; Ina Sugiharti; Madinatul Munawaroh; Dewi Kurnia; Nadia Ushfuri Amini; Roganda Situmorang
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4419

Abstract

Background: Indonesia faces significant health challenges, ranging from the double burden of disease to issues regarding the distribution of medical facilities and personnel. Official data from the Indonesian Ministry of Health and Statistics Indonesia (BPS) indicate that the country is grappling with a double health burden: a high prevalence of infectious diseases alongside a surge in non-communicable diseases. Consequently, educational interventions are required to provide insights aimed at improving health outcomes. Purpose: To enhance public knowledge regarding the risks of stunting, adolescent early marriage, and hypertension, and to provide guided training on household waste management and the adoption of clean and healthy living behaviors. Method: This initiative consisted of interactive education and training interventions conducted in Mandalahaji Village, Pacet District, Bandung Regency. Forty-two residents participated in the program, which involved eight lecturers and twenty-six students. Participant knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational activities. Knowledge was evaluated by comparing pretest and posttest results, while participant skills were assessed through observations of waste sorting practices, health cadres conducting screening visits, and the implementation of clean and healthy living behaviors. These results were analyzed descriptively to provide an overview of healthy living behaviors implementation and to evaluate the success of the educational activities. Results: Evaluation showed an improvement in participants' knowledge and skills across the entire series of activities, with achievements approaching or exceeding the minimum target of 70% of the total program target. Post-test results indicated that the number of participants demonstrating a "good" level of knowledge was 38 (90.5%) for waste management; 40 (95.2%) for balanced nutrition and immunization; 38 (90.5%) for screening techniques and hypertension; and 42 (100.0%) for the prevention of early marriage. Additionally, 40 participants (95.2%) demonstrated a "good" level of knowledge regarding clean and healthy living behavior following the educational activities. Conclusion: The program successfully improved community knowledge and skills regarding household waste management, balanced nutrition, early detection of hypertension, adolescent reproductive health, and healthy living behavior, with outcomes approaching or meeting the minimum target of 70% of the program's objectives. Suggestion: Periodic follow-up support by health volunteers and waste bank administrators is necessary to ensure the sustainability of waste management and healthy living behaviors practices. Health volunteers need to continue monitoring changes in community behavioral patterns specifically waste sorting practices, screening visits, and healthy living behaviors implementation in the subsequent months to ensure the program's impact is sustained. Keywords: Community empowerment; Family health education; Healthy living behaviors; Household waste management Pendahuluan: Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar di bidang kesehatan, mulai dari beban ganda penyakit hingga masalah penyebaran fasilitas dan tenaga medis. Data resmi dari Kementerian Kesehatan RI dan Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia menghadapi beban ganda kesehatan, yaitu tingginya penyakit menular serta lonjakan penyakit tidak menular. Sehingga diperlukan intervensi edukasi untuk memberikan wawasan sebagai upaya perbaikan derajat kesehatan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai risiko stunting, pernikahan dini pada remaja, hipertensi, serta pelatihan dengan pendampingan pengelolaan sampah rumah tangga dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Metode: Kegiatan ini merupakan edukasi interaktif dengan intervensi pelatihan yang dilaksanakan di Desa Mandalahaji, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini diikuti 42 warga untuk menjadi partisipan. Pelaksanaan kegiatan melibatkan 8 orang dosen serta 26 orang mahasiswa. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi pengetahuan dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest, sedangkan untuk tingkat kemampuan partisipan di evaluasi berdasarkan observasi ketika melakukan praktik pemilahan sampah, kader dalam melakukan kunjungan skrining, dan penerapan PHBS. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk memberikan gambaran penerapan PHBS dan menilai keberhasilan kegiatan edukasi. Hasil: Evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta pada seluruh rangkaian kegiatan, dengan capaian mendekati atau melampaui target minimal 70 persen dari total sasaran program. Berdasarkan posttest menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dalam kategori baik menjadi sebanyak 38 partisipan (90.5%), untuk tingkat pengetahuan mengenai gizi seimbang dan imunisasi dalam kategori baik menjadi sebanyak 40 partisipan (95.2%), untuk tingkat pengetahuan mengenai teknik skrining dan hipertensi dalam kategori baik menjadi sebanyak 38 partisipan (90.5%), untuk tingkat pengetahuan mengenai pencegahan pernikahan dini dalam kategori baik menjadi sebanyak 42 partisipan (100.0%). Sedangkan untuk tingkat pengetahuan mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kategori baik menjadi sebanyak 40 partisipan (95.2%) setelah kegiatan edukasi. Simpulan: Program berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, gizi seimbang, deteksi dini hipertensi, kesehatan reproduksi remaja, dan PHBS, dengan capaian mendekati atau memenuhi target minimal 70 persen dari sasaran program. Saran: Perlu dilakukan pendampingan lanjutan secara berkala oleh kader kesehatan dan pengurus bank sampah agar praktik pengelolaan sampah dan PHBS dapat berjalan berkelanjutan. Pemantauan perubahan pola perilaku masyarakat (praktik pemilahan sampah, kunjungan skrining, dan penerapan PHBS) perlu terus dilakukan oleh kader kesehatan pada bulan-bulan berikutnya untuk memastikan keberlanjutan dampak program.