Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

USIA MENARCHE DAN LAMANYA MENSTRUASI DENGAN KEJADIAN  DISMENORE  PRIMER  PADA  SISWI  KELAS X DI SMK KESEHATAN BHAKTI KENCANA SUBANG INDARNA, ASEP AEP
Journal of Nursing and Public Health Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Dismenore dapat menimbulkan dampak bagi kegiatan atau aktivitas para wanita khususnya remaja. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan kepada 15 orang remaja putri kelas X di SMK Kesehatan Bhakti Kencana Subang yang telah mengalami menstruasi mengenai dismenore didapatkan hasil, 10 orang selalu mengalami nyeri saat menstruasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia menarche dan lamanya menstruasi dengan kejadian dismenore primer pada siswi kelas X di SMK Kesehatan Bhakti Kencana Subang. Metode: Metode Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yakni menghubungkan antara usia menarche dan lamanya menstruasi dengan kejadian dismenore primer. Populasi sebanyak 278 orang. Teknik pengambilan sampel adalah stratified random sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 74 orang dengan pengolahan data menggunakan distribusi frekuensi dengan analisa univariat dan bivariat. Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian didapatkan bahwa Kejadian dismenore lebih dari setengahnya mengalami dismenore sebanyak 40 orang (54,1%), usia menarche lebih dari setengahnya ≥ 12 tahun sebanyak 43 orang (58,1%) dan lamanya menstruasi responden sebagian besar ≤ 7 hari sebanyak 59 orang (79,7%). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara usia menarche dengan kejadian dismenore. Terdapat hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian dismenore. Saran bagi pihak sekolah perlu adanya pemberian informasi kepada siswi mengenai dismenore supaya siswi dapat memahami mengenai penanganan dismenore.
Upaya Peningkatan Kepatuhan Anak Sekolah Dasar terhadap Penerapan Protokol Kesehatan pada Masa Pandemi Covid-19 R. Nety Rustikayanti; Tri Nur Jayanti; Cucu Rokayah; Richa Noprianty; Inggrid Dirgahayu; Asep Aep Indarna
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Peduli Masyarakat: Maret 2022
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v4i1.742

Abstract

Pengumuman boleh digelarnya Pertemuan Tatap Muka di sekolah telah diiringi dengan penyelenggaran PTM Terbatas oleh beberapa sekolah di wilayah tertentu. Namun, rendahnya kepatuhan penerapan protokol kesehatan menyebabkan adanya temuan kasus terkonfirmasi positif selama PTM berlangsung, sehingga PTM dihentikan di beberapa sekolah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan anak terhadap penerapan protokol kesehatan saat PTM Terbatas pada masa pandemi Covid-19. Kegiatan dilakukan secara offline di SDN 216 Sondariah (22 siswa) dan SDN 086 Cimincrang (32 siswa) melalui 3 tahapan, yaitu sosialisasi, edukasi, dan simulasi. Materi edukasi meliputi aktivitas-aktivitas sebelum berangkat ke sekolah hingga setelah pulang ke rumah sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan. Pre-test dan post-test menggunakan kuesioner dan tanya jawab dalam Focus Group Discussion (FGD) dilakukan sebagai bentuk evaluasi kegiatan. Hasil pre-test, hasil tertinggi yaitu 80% terdapat pada pertanyaan tentang persiapan sebelum ke sekolah, aktivitas selama perjalanan ke sekolah, saat masuk ke gerbang sekolah, saat sedang dan setelah pembelajaran, sedangkan hasil terendah yaitu 30% terdapat pada pertanyaan aktivitas setelah pulang ke rumah dan cuci tangan. Hasil post-test, terdapat peningkatan menjadi 100% pada semua pertanyaan mengenai protokol kesehatan dari sebelum berangkat ke sekolah hingga setelah pulang ke rumah. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa kegiatan ini efektif meningkatkan pengetahuan tentang protokol kesehatan.
Hubungan Lama Menderita Diabetes Mellitus dan Kadar Gula Darah dengan Sensitivitas Kaki Sri Mulyani Rahayu; Vina Vitniawati; Asep Aep Indarna
Jurnal Keperawatan Vol 15 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.692 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v15i1.685

Abstract

Diabetes jangka panjang menyebabkan kerusakan pembuluh darah, saraf, dan struktur internal lainnya, menyebabkan suplai darah perifer (kaki dan tangan) semakin tersumbat, mengakibatkan neuropati, yang ditandai dengan hilangnya sensitivitas kaki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lama menderita diabetes melitus dan kadar gula darah dengan sensitivitas kaki penderita diabetes.Metode penelitian dengan deskriptif korelasi, populasi 40 orang, teknik sampling purposive, jumlah sampel 30 responden. Data dikumpulkan dengan cara wawancara, pemeriksaan gula darah, dan melakukan test sensitifitas kaki. Analisa data menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian ada hubungan antara lama menderita diabetes melitus dengan nilai sensitifitas kaki pada penderita diabetes melitus dengan p value 0.003 , α < 0,05 dan tidak ada hubungan antara kadar gula darah puasa dengan nilai sensitifitas kaki pada penderita diabetes melitus dengan p value 0.446 , α > 0,005. Hiperglikemia yang berkepanjangan mengakibatkan terjadinya reaksi glikosilasi. Degradasi glikosilasi protein mengarah pada pembentukan advanced glication end products α-dikarbonil dan 3-deoxyglucosone, yang pada akhirnya menyebabkan neuropati perifer diabetik, dan proses kerusakan saraf terkait dengan konsentrasi glukosa yang tinggi dalam darah, yang dapat menyebabkan kerusakan kimia pada saraf dan mengganggu saraf sensorik normal
Gambaran Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Psikiatri di Instasi Gawat Darurat Cucu Rokayah; Asep Aep Indarna
Jurnal Keperawatan Vol 15 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.642 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v15i1.708

Abstract

Orang dengan gangguan jiwa di masyarakat mengalami peningkatan sehingga yang mengalami kegawatdaruratan psikiatri juga mengalami peningkatan, sejalan dengan hal tersebut dibutuhkan penanganan kegawatdaruratan psikiatri sesuai dengan metode yang seharusnya agar tidak membahayakan pasien, tenaga Kesehatan, keluarga dan masyarakat. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi gambaran penatalaksanaan kegawatdaruratan psikiatri di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Jiwa. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Populasi  berjumlah 730 data rekam medik pasien yang melakukan kunjungan ke IGD RSJ. Pengumpulan data   dengan  pendekatan  retrospektif menggunakan data sekunder. Analisa data menggunakan persentase. Hasil peneilitian didapatkan sebanyak 576 responden (78.9 %) dengan observasi perilaku dan 154 responden (21.1%) dengan tindakan Fixasi/restrain. Analisis peneliti tujuan utama penanganan kegawatdaruratan adalah dengan menggunakan obat-obatan  sehingga dapat menenangkan pasien dan mengurangi agresivitas, dan tenaga medis baik perawat ataupun dokter melakukan pemeriksaan yang diperlukan. Kesimpulan penanganan kegawatdaruratan psikiatri diutamakan dengan terapi psikofarmaka, sedangkan untuk pelaksanaan restrain di lakukan apabila kondisi pasien tidak dapat ditenangkan dan membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Upaya Peningkatan Kepatuhan Anak Sekolah Dasar terhadap Penerapan Protokol Kesehatan pada Masa Pandemi Covid-19 R. Nety Rustikayanti; Tri Nur Jayanti; Cucu Rokayah; Richa Noprianty; Inggrid Dirgahayu; Asep Aep Indarna
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Peduli Masyarakat: Maret 2022
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v4i1.742

Abstract

Pengumuman boleh digelarnya Pertemuan Tatap Muka di sekolah telah diiringi dengan penyelenggaran PTM Terbatas oleh beberapa sekolah di wilayah tertentu. Namun, rendahnya kepatuhan penerapan protokol kesehatan menyebabkan adanya temuan kasus terkonfirmasi positif selama PTM berlangsung, sehingga PTM dihentikan di beberapa sekolah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan anak terhadap penerapan protokol kesehatan saat PTM Terbatas pada masa pandemi Covid-19. Kegiatan dilakukan secara offline di SDN 216 Sondariah (22 siswa) dan SDN 086 Cimincrang (32 siswa) melalui 3 tahapan, yaitu sosialisasi, edukasi, dan simulasi. Materi edukasi meliputi aktivitas-aktivitas sebelum berangkat ke sekolah hingga setelah pulang ke rumah sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan. Pre-test dan post-test menggunakan kuesioner dan tanya jawab dalam Focus Group Discussion (FGD) dilakukan sebagai bentuk evaluasi kegiatan. Hasil pre-test, hasil tertinggi yaitu 80% terdapat pada pertanyaan tentang persiapan sebelum ke sekolah, aktivitas selama perjalanan ke sekolah, saat masuk ke gerbang sekolah, saat sedang dan setelah pembelajaran, sedangkan hasil terendah yaitu 30% terdapat pada pertanyaan aktivitas setelah pulang ke rumah dan cuci tangan. Hasil post-test, terdapat peningkatan menjadi 100% pada semua pertanyaan mengenai protokol kesehatan dari sebelum berangkat ke sekolah hingga setelah pulang ke rumah. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa kegiatan ini efektif meningkatkan pengetahuan tentang protokol kesehatan.
Ketidakteraturan pola makan dengan kejadian dispepsia pada remaja Asep Aep Indarna; Suryadi Suryadi
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 2 No. 2 (2022): Efektivitas Penyuluhan Gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v2i2.303

Abstract

Background: Dyspepsia is a collection of symptoms in the form of pain or burning sensation in the epigastrium, a feeling of bloating, feeling full quickly, a feeling of fullness in the stomach which can be accompanied by nausea. Irregular eating patterns can lead to the emergence of various types of diseases due to an imbalance in the body factor that influences influence the incidence of dyspepsia syndrome. Dyspepsia syndrome is included in the top 10 diseases in West Java Province, precisely in Kabupaten Bandung, which is in first place in January, with 410 cases. Purpose: To identify the relationship between irregular eating patterns and the incidence of dyspepsia in adolescents in the working area of the Rancaekek Public Health Center. Methods: This study used an observational analytic research design with a cross-sectional study approach (cross-sectional study). The number of cases used was 47 people from a total population of 89 people. The sample collection technique was using purposive sampling, with data collection using a questionnaire totaling 26 questions through the Google form. The analysis used univariate and bivariate with a Chi-square test. Results: The results of the analysis showed that most of the respondents (53.2 percent) had irregular eating patterns. Most of the respondents as much as 72.3 percent experienced dyspepsia syndrome. There is a relationship between eating disorders and dyspepsia volume (p-value 0.001). Conclusion: There is a relationship between eating disorders and dyspepsia syndrome in the working of the Rancaekek Public Health Center. Pendahuluan: Dyspepsia merupakan kumpulan dari gejala berupa nyeri atau rasa terbakar di epigastrium , rasa kembung, cepat merasa kenyang, perut terasa penuh bisa disertai mual. Ketidakteraturan pola makan dapat mengakibatkan timbulnya berbagai jenis penyakit karena terjadi ketidakseimbangan dalam tubuh serta merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian sindrom dyspepsia. Sindrom dyspepsia masuk dalam 10 besar penyakit yang terdapat di Provinsi Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Bandung yang berada pada urutan pertama pada bulan Januari yaitu sebanyak 410 kasus. Tujuan: Mengidentifikasi hubungan ketidakteraturan pola makan dengan kejadian dyspepsia pada remaja di wilayah kerja puskesmas Rancaekek. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional (studi potong lintang). Jumlah sampel yang digunakan adalah 47 orang dari total populasi 89 orang. Teknik pengumpulan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner yang berjumlah 26 pertanyaan melalui google formulir. Analisa yang digunakan univariat dan bivariat dengan uji Chi-square. Hasil: Hasil analisa menunjukan sebagian besar responden 53,2 persen memiliki pola makan tidak teratur. Sebagian besar responden sebanyak 72,3 persen mengalami sindrom dispepsia. Ada hubungan antara ketidakteraturan makan dengan sindrom dispepsia (p value 0,001). Simpulan: Terdapat hubungan antara ketidakteraturan makan dengan sindrom dispepsia di wilayah kerja Puskesmas Rancaekek.
Pola makan, aktivitas fisik, gula darah, dan risiko luka kaki diabetik pada pasien diabetes melitus Tuti Suprapti; Asep Aep Indarna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.217

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder characterized by increased blood glucose (hyperglycemia). The prevalence of diabetes continues to increase until it reaches 578 million in 2030 and 700 million in 2045. Physical activity has an impact on insulin action in people at risk of diabetes mellitus. Lack of activity is one of the factors that plays a role in causing insulin resistance, Purpose: To analyze diet patterns, physical activity, and the risk of diabetic foot injuries in diabetes mellitus patients. Method: Descriptive analytical research using the sampling technique is accidental sampling, with a total sample of 40 DM patients without wounds. The instruments used were questionnaire sheets in the form of eating patterns and physical activity with international physical activity questionnaire (IPAQ) measuring instruments and blood sugar measuring instruments. The analysis used in this research is univariate analysis. Results: As many as 82.5% of blood sugar was controlled at 100-199 mg/dl, 90% of sufferers had a risk of injury using footwear, 75% felt heat in their feet, 95% felt their pulse in their feet was weak and irregular. The food frequency questionnaire (FFQ) consists of 28 staple foods in the form of white rice with a frequency of 4-6 times/day, 40%, fresh fish, and 42.5% consume meat with a frequency of 1-3 times/week, so it is necessary to take precautions to prevent neuropathy. . Conclusion: The type and amount of food greatly influences the incidence of DM, so assessment and screening of food patterns needs to be carried out. Apart from that, DM sufferers need to increase physical activity according to their abilities and the assessment of injury risk needs to be improved to prevent neuropathy. Suggestion: Health workers need to increase education about wound care, early detection of the risk of diabetic foot wounds, and carrying out physical activities such as foot exercises.   Keywords: Blood Sugar; Diabetes Mellitus; Physical Activity; Wound Prevention.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme kronis yang ditandai peningkatan glukosa darah (hiperglikemi). Prevalensi diabetes terus meningkat hingga mencapai 578 juta pada 2030 dan 700 juta di tahun 2045. Aktivitas fisik berdampak terhadap aksi insulin pada orang yang berisiko diabetes melitus. Kurangnya aktivitas merupakan salah satu faktor yang ikut berperan yang menyebabkan resistensi insulin,  Tujuan: Untuk menganalisa pola makan, aktivitas fisik, dan risiko luka kaki diabetik pada pasien DM. Metode: Penelitian deskriptif analitik menggunakan teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling,  dengan jumlah sampel 40 pasien DM tanpa luka. Instrumen yang digunakan  lembar kuesioner berupa pola makan dan aktivitas fisik dengan alat ukur international physical activity questionnaire (IPAQ) dan alat ukur gula darah. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat . Hasil: Sebanyak 82.5% gula darah terkontrol 100-199 mg/dl, risiko terjadinya luka 90% penderita menggunakan alas kaki, 75% merasakan panas pada kaki, 95% merasakan denyut nadi sedang di kaki. Food frekuensi quesionere (FFQ) sebanyak 28 makanan pokok berupa nasi putih dengan frekuensi 4-6 kali/hari, 40%  ikan segar, dan 42.5% mengkonsumsi daging dengan frekuensi 1-3 kali/minggu, sehingga perlu dilakukan pencegahan agar tidak terjadi neuropati. Simpulan: Jenis dan jumlah makanan sangat berpengaruh terhadap kejadian DM, sehingga pengkajian dan screening pola makanan perlu dilakukan. Selain itu, penderita DM perlu meningkatkan aktivitas fisik sesuai kemampuan dan pengkajian risiko luka perlu ditingkatkan untuk mencegah terjadinya neuropati. Saran: Petugas kesehatan perlu meningkatkan edukasi tentang perawatan luka, deteksi dini risiko luka kaki diabetik, dan dilakukannya aktivitas fisik seperti senam kaki.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Diabetes Melitus; Gula Darah; Pencegahan Luka.
Asuhan keperawatan pada lansia diabetes mellitus tipe II dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah Darajat, Agus Miraj; Fitri, Devi; Indarna, Asep Aep
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 1 (2023): Penanganan Kecemasan Pasien Menjelang Operasi
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i1.369

Abstract

Backgroung: Diabetes Mellitus in Indonesia is ranked 7th out of 10 countries with a total of 10.7 million sufferers. Indonesia is the only country in Southeast Asia on the list, so it can be estimated that Indonesia's contribution to the prevalence of diabetes cases in Southeast Asia. Purpose: Nursing care is a series of interactions with clients and the environment to achieve the goal of fulfilling needs and independence in caring for themselves. Method: Case studies are to explore a problem/phenomenon with detailed boundaries, have in-depth data collection and include various sources of information. This case study was conducted on two patients with type 2 diabetes mellitus with unstable blood sugar levels. Results: Based on the results of the study that patient 1 Mr. A is 77 years old and patient 2 Mrs. R, 77 years old, with a diagnosis of unstable blood glucose levels intervened in the form of setting a 3J diet every day for the management of hyperglycemia, the results showed that the problem was resolved in both patients. There was a temporary decrease in blood glucose in both patients with the following criteria: blood glucose levels improved, marked by decreased GDS values ​​in both patients. Patient 1 Mr.A from 352 mg/dL to 239 mg/dL and Patient 2 Mrs.R, from 241 to 168 mg/dL. The data was obtained after the implementation of diet education by regulating eating patterns with 3J (amount, type, schedule). Conclusion: Patients with type 2 diabetes mellitus with unstable blood sugar levels can implement diet education and hyperglycemia management. Suggestion: Executing nurses can provide comprehensive nursing care and education to every patient with diabetes mellitus. Keywords: Nursing Care; Diabetes Mellitus; Instability of Blood Sugar Levels Pendahuluan: Diabetes Mellitus di Indonesia berada di peringkat ke-7 di antara 10 negara dengan jumlah penderita sebesar 10,7 juta. Indonesia menjadi sațu-satunya negara di Asia Tenggara pada daftar tersebut, sehingga dapat diperkirakan besarnya kontribusi Indonesia terhadap prevalensi kasus diabetes di Asia Tenggara. Tujuan: Asuhan keperawatan merupakan rangkaian interaksi dengan klien dan lingkungan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian dalam merawat dirinya. Metode: Studi kasus yaitu untuk  mengeksplorasi suatu masalah/fenomena dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data  yang mendalam dan menyertakan berbagai sumber informasi. Studi kasus ini dilakukan pada dua  orang pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan ketidakstabilan kadar gula darah. Hasil: Berdasarkan hasil pengkajian bahwa pasien 1 Tn. A berusia 77 tahun dan pasien 2 Ny. R berusia 77 tahun, dengan diagnose ketidakstabilan kadar glukosa darah melakukan intervensi berupa pengaturan pola makan 3J setiap harinya untuk manajemen hiperglikemia, didapatkan hasil bahwa masalah teratasi pada kedua pasien. Terjadi penurunan glukosa darah sewaktupada kedua pasien dengan kriteria hasil : kadar glukosa dalam darah membaik, ditandai dengan nilai GDS pada kedua pasien menurun. Pasien 1 Tn.A dari 352 mg/dL menjadi 239 mg/dL dan Pasien 2 Ny.R , dari 241 menjadi 168 mg/dL. Data tersebut diperoleh setelah dilakukan implementasi berupa edukasi diet dengan mengatur pola makan dengan 3J (Jumlah,Jenis,Jadwal). Simpulan: Pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan ketidakstabilan kadar gula darah dapat dilakukan implementasi edukasi diet dan manajemen hiperglikeimia. Saran: Kepada perawat pelaksana dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan edukasi kepada setiap pasien diabetes mellitus.
Efektifitas therapy aktivitas kelompok terhadap kecemasan pada lansia penderita diabetes melitus Indarna, Asep Aep; Rahayu, Sri Mulyati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 2 (2023): Edisi Desember 2023: Penanggulangan penyakit berpotensi kejadian luar biasa
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i2.383

Abstract

Background: Elderly people with chronic illnesses are prone to experiencing anxiety, one of which is diabetes mellitus sufferers. Efforts made to overcome anxiety in the elderly can come from family factors, environmental factors, and group activity therapy (GAT). Purpose: To determine the effectiveness of group activity therapy (GAT on anxiety levels in elderly people with diabetes mellitus at PKM Cibiru, Bandung City. Method: With a quasi-experiment research design with a pre-posttest one-group design approach. The population of all elderly people suffering from diabetes mellitus is 40, with a sample of all elderly people suffering from diabetes mellitus of 40 taken using the total sampling method. The independent variable is group activity therapy (GAT), and the dependent variable is anxiety. The instruments used were questionnaire sheets and observation sheets. Statistical tests used the Wilcoxon test with a significance value of α = 0.05. The research results before the group activity therapy (GAT) activity from 40 respondents showed a moderate anxiety level of 65.5%. After the group activity therapy (GAT) activity, there was a ligth anxiety level of 72.5%. The Wilcoxon Sign Rank test in the treatment group showed ρ = 0.001, ρ < α. Conclusion: Meaning that group activity therapy (GAT) was effective in reducing anxiety levels in elderly people with diabetes mellitus Keywords: Anxiety; Elderly; Group Activity Therapy (GAT). Pendahuluan: Lansia dengan penyakit kronis, rentan mengalami kecemasan salah satunya adalah penderita diabetesmelitus. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi kecemasan pada lansia bisa dari faktor keluarga, kemudian faktor lingkungan dan terapi aktivitas kelompok (TAK). Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas terapi aktivitas kelompok (TAK) terhadap tingkat kecemasan pada lansia penderita diabetes melitus di PKM Cibiru Kota Bandung. Metode: Desain penelitianQuasy-Experiment dengan pendekatanpre posttest one group design. Populasi seluruh lansia penderita diabetes melitus sebanyak 40 orang dengan sampel seluruh lansia penderita diabetes melitussebesar 40 diambil menggunakan metode total sampling. Variabel independen terapi aktivitas kelompok (TAK), variabel dependen adalah kecemasan. Instrument yang digunakan adalah lembar kuesioner dan lembar observasi. Uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon Sign Rankdengan nilai kemaknaan α = 0,05. Hasil: Sebelum kegiatan terapi aktivitas kelompok (TAK) dari 40 responden terdapat tingkat kecemasan sedang 65,5 %, dan setelah kegiatan terapi aktivitas kelompok (TAK)terdapat tingkat kecemasan ringan72,5 %. Uji Wilcoxon Sign Rank pada lansia penderita diabetes melitus menunjukkan ρ = 0,001, ρ<α. Simpulan: Terapi aktivitas kelompok (TAK) efektif dilakukan untuk menurunkan tingkat kecemasan pada lansia penderita diabetes melitus.
Asuhan keperawatan pada lansia diabetes melitus dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah di Kecamatan Cibiru Kota Bandung Darajat, Agus Miraj; Muslim, Dede Nur Aziz; Indarna, Asep Aep; Pratidina, Eki; Rizqi, Soni Mochamad
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 1 (2024): Edisi Juli 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by hyperglycemia which occurs because the pancreas is unable to secrete insulin, insulin action is disrupted, or both. There has been an increase in the global prevalence of DM of around 8.3% in the 20-79 year age group and it is estimated that there are 2.2 million deaths with the percentage due to DM occurring before the age of 70 years, especially in developed countries. country. with low and middle economic status. Purpose: To compile the results of nursing care and identify the benefits of DM exercise in stabilizing the effectiveness of unstable sugar levels in nursing care for elderly DM. Method: Descriptive research with a case study approach on 2 elderly people suffering from diabetes mellitus (DM). This research was conducted in Cibiru District, Bandung City, using a nursing care format for the elderly. Examination data was collected using the Bartel Index and Katz Index on the elderly body. Researchers carry out inspection, palpation, auscultation and percussion on clients. Results: After being given 3J DM diet education, namely type, amount and hours as well as teaching DM exercises, sugar levels decreased, the feeling of tingling decreased, and they were able to do DM exercises. Conclusion: DM exercise is useful in controlling unstable glucose levels in elderly DM nursing care. Suggestion: There is a need for further examination and monitoring of elderly people who experience physical changes in DM sufferers so that their physical health is maintained. Community health centers can carry out intensive visit programs specifically for elderly people who require total dependency. Further research is needed by adding family support variables and actors that worsen elderly illnesses.   Keywords: Blood Glucose Instability; Diabetes Mellitus; Glucose Levels.   Pendahuluan: Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia yang terjadi karena pankreas tidak mampu mensekresi insulin, gangguan kerja insulin,ataupun keduanya. Terjadi peningkatan prevalensi global DM sekitar 8.3% pada kelompok usia 20-79 tahun dan diperkirakan terdapat 2.2 juta kematian dengan persentase akibat penyakit DM yang terjadi sebelum usia 70 tahun, khususnya di negara-negara dengan status ekonomi rendah dan menengah. Tujuan: Untuk menyusun hasil asuhan keperawatan dan mengidentifikasi manfaat senam DM dalam menstabilkan efektifitas ketidakstabilan kadar gula pada asuhan keperawatan lansia penderita DM. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus kepada 2 lansia yang mengalami diabetes melitus (DM). Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Cibiru Kota Bandung menggunakan format asuhan keperawatan pada lansia. Pengumpulan data pemeriksaan dengan cara Bartel Index dan Katz Indeks pada tubuh lansia. Peneliti melakukan tindakan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang dilakukan pada klien. Hasil: Setelah dilakukan edukasi diit DM 3J yaitu, jenis, jumlah, dan jam serta mengajarkan senam DM, kadar gula mengalami penurunan, kesemutan berkurang, dan mampu melakukan senam DM. Simpulan: Senam DM bermanfaat dalam mengontrol ketidakstabilan kadar glukosa pada asuhan keperawatan lansia dengan DM. Saran: Perlu adanya pemeriksaan dan pemantauan lebih lanjut pada lansia yang mengalami perubahan fisik dengan DM agar terjaga kesehatan jasmaninya. Pihak puskesmas dapat melakukan program khusus kunjungan intensif pada lansia yang membutuhkan ketergantungan total. Penelitian selanjutnya dibutuhkan dengan menambahkan variabel dukungan keluarga dan aktor yang memperberat penyakit lansia.   Kata Kunci: Diabetes Melitus; Kadar Glukosa; Ketidakstabilan Glukosa Darah.