Indri Astuti Handayani
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 70% Kulit Pisang Kepok Kuning (Musa acuminata x Musa balbisiana) dengan Metode Ekstraksi Sokhletasi Putri Eka Sari; Indri Astuti Handayani; Senny Listy K.F.; Ade Saranita
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.81861

Abstract

Jerawat merupakan infeksi kulit yang biasa muncul pada wajah, leher, dada dan punggung. Penggunaan antibiotik untuk jerawat dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi bakteri serta dapat menimbulkan kerusakan organ dan imuno hipersensitivitas. Pisang kepok kuning (Musa acuminata x Musa balbisiana) merupakan tanaman yang banyak di konsumsi di Indonesia, namun produk samping berupa kulit belum dimanfaatkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol 70% kulit pisang kepok kuning (Musa acuminata x Musa balbisiana) yang diperoleh dari metode ekstraksi sokhletasi terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ekstraksi sokhletasi. Konsentrasi yang lebih tinggi dari senyawa flavonoid akan terdeteksi dengan etanol 70% karena polaritas yang lebih tinggi daripada etanol murni. Dengan penambahan air pada etanol murni sampai 30% untuk menjadi etanol 70% polaritas pelarut menjadi meningkat. Uji aktivitas aktibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram dengan klindamisin sebagai kontrol positif dan etanol 70% sebagai kontrol negatif. Penggunaan etanol 70% sebagai kontrol negatif karena menyesuaikan dengan pelarut yang digunakan untuk ekstraksi. Klindamisin sebagai kontrol positif digunakan sebagai pembanding aktivitas antibakteri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% kulit pisang kepok kuning (Musa acumintana x Musa balbisiana) didapatkan zona hambat bakteri  pada konsentrasi 100x103 µg/mL.
Penetapan Kadar Formalin pada Tahu Putih yang Dijual di Pasar Kranggan Bekasi dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis pada April 2025 Ivan Santoso; Pricillya Maria Loimalitna; Wulan Sucianingrum; Pra Panca Bayu Chandra; Indri Astuti Handayani
Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol.3 No.3 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The misuse of formalin as a preservative in food products, particularly white tofu, is still frequently found, despite its prohibition due to harmful health effects such as respiratory tract irritation, internal organ damage, and even cancer risk. White tofu is one of the food items that is vulnerable to formalin addition to extend its shelf life and improve texture. The aim of this study was to identify and determine the formalin content in white tofu sold at Kranggan Market, Bekasi, using the UV-Vis spectrophotometry method. This research employed a descriptive quantitative method. The analysis was carried out through both qualitative and quantitative testing on 14 white tofu samples obtained from Kranggan Market. The qualitative test, using Schiff reagent, KMnO₄, and Fehling’s solution, showed that 7 samples gave positive reactions indicating the presence of formalin. The quantitative test was conducted using UV-Vis spectrophotometry at a maximum wavelength of 550 nm, and a standard curve was obtained with a correlation coefficient (R) of 0.991. The results showed that 8 samples contained formalin, with concentrations ranging from 0.00018% w/w to 0.00104% w/w. The UV-Vis spectrophotometry method proved to be sensitive and accurate in detecting formalin in food samples. These findings indicate that some white tofu sold at Kranggan Market still contains formalin, highlighting the need for stricter food safety monitoring in traditional markets.