Ivan Santoso
STIKes IKIFA

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISA GAMBARAN PENGETAHUAN PENGGUNAAN REBUSAN DAUN JAMBU BIJI (Psidium Guajava) SEBAGAI ANTIDIABETES TIPE 2 DI VILLA JATIRASA Ivan Santoso; Prapanca Bayu; M. Rizki Nurdiansyah
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 3 No. 2 (2024): JURNAL FARMASI IKIFA VOL.3 NO.2 JULI TAHUN 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh data observasi dimana Indonesia berstatus waspada diabetes karena menempati urutan ke-5 dari 10 negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi. Menurut data Riskesdas 2013 dan 2018, prevalensi diabetes di Indonesia cenderung meningkat dari 6,9% menjadi 8,5%. Sebagian besar kasus DM adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh faktor keturunan tetapi faktor tersebut hanya sebesar 5% dan pola gaya hidup yang diiringi pada perubahan pola makan yang tidak sehat dan tidak seimbang. Oleh karena itu peneliti menggunakan metode ekstraksi perebusan daun jambu biji untuk membantu menurunkan kadar gula dalam darah secara tradisional. Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Villa Jatirasa RW. 11 terhadap rebusan daun jambu biji (Psidium guajava) sebagai obat diabetes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling dan diperoleh sampel sebanyak 55 kepala keluarga atau yang mewakili kepala keluarga. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa responden memiliki pengetahuan tentang penyebab penyakit diabetes tipe 2 sejumlah 19 orang (35%), gejala diabetes tipe 2 sejumlah 21 orang (38%), pencegahan diabetes tipe 2 sejumlah 24 orang (44%), penggunaan obat herbal daun jambu biji (Psidium guajava) sejumlah 22 orang (40%), dan pengobatan diabetes tipe 2 sejumlah 28 orang (51%) dengan rata – rata dari 55 kepala keluarga atau yang mewakili kepala keluarga adalah 60.91% dengan kategori cukup.
PEMERIKSAAN KEBERADAAN KANDUNGAN NATRIUM SIKLAMAT PADA MINUMAN JAJANAN SEKOLAH DI SEKITAR SMPN 236 DAN SDN 05 PENGGILINGAN JAKARTA TIMUR BULAN APRIL 2023 Ivan santoso; Nina Rustiana; Pricillya Maria Loimalitna; Fransiska Senia Ginasari
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL FARMASI IKIFA VOL.4 NO.1 APRIL TAHUN 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan Tambahan Pangan yang paling sering digunakan adalah pemanis. Pemanis memiliki dua jenis yaitu pemanis alami dan pemanis buatan. Natrium siklamat menjadi salah satu jenis pemanis buatan yang popular di Indonesia. Ciri khas dari natrium siklamat adalah tidak meninggalkan rasa pahit sekuat sakarin, selain itu harga yang sangat murah membuat para produsen penjual minuman menggunakan Natrium siklamat karena rasa manis yang dihasilkan 30 kali lebih manis dari sukrosa. Menurut laporan tahunan BPOM tahun 2019 didapatkan pada pangan jajanan sekolah masih mengandung siklamat. Efek negatif mengkonsumsi natrium siklamat secara berlebihan seperti tremor, migrain, hingga kanker otak. Menurut peraturan kepala BPOM nomor 4 tahun 2014 kadar natrium siklamat adalah 250mg/kg. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberadaan natrium siklamat pada minuman jajanan sekolah. Penelitian ini merupakan metode deskriptif yang bersifat eksperimental untuk membuktikan atau mengetahui keberadaan natrium siklamat pada minuman jajanan sekolah. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian dasar untuk mengetahui keberadaan dan kadar natrium siklamat pada minuman jajanan sekolah. Populasi dalam penelitian ini adalah minuman jajanan sekolah yang dijual di sekitar SMPN 236 dan SDN 05 Penggilingan. Pemeriksaan keberadaan natrium siklamat dilakukan dengan uji pengendapan dengan terbentuknya endapan putih menandakan positif natrium siklamat dan uji dengan spektrofotometri UV-VIS yang memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 230 nm. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa dari tujuh sampel yang diujikan dengan uji pengendapan dan uji spektofotometri UV-VIS tidak didapatkan pemanis buatan Natrium Siklamat.
Penetapan Kadar Formalin pada Tahu Putih yang Dijual di Pasar Kranggan Bekasi dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis pada April 2025 Ivan Santoso; Pricillya Maria Loimalitna; Wulan Sucianingrum; Pra Panca Bayu Chandra; Indri Astuti Handayani
Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol.3 No.3 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The misuse of formalin as a preservative in food products, particularly white tofu, is still frequently found, despite its prohibition due to harmful health effects such as respiratory tract irritation, internal organ damage, and even cancer risk. White tofu is one of the food items that is vulnerable to formalin addition to extend its shelf life and improve texture. The aim of this study was to identify and determine the formalin content in white tofu sold at Kranggan Market, Bekasi, using the UV-Vis spectrophotometry method. This research employed a descriptive quantitative method. The analysis was carried out through both qualitative and quantitative testing on 14 white tofu samples obtained from Kranggan Market. The qualitative test, using Schiff reagent, KMnO₄, and Fehling’s solution, showed that 7 samples gave positive reactions indicating the presence of formalin. The quantitative test was conducted using UV-Vis spectrophotometry at a maximum wavelength of 550 nm, and a standard curve was obtained with a correlation coefficient (R) of 0.991. The results showed that 8 samples contained formalin, with concentrations ranging from 0.00018% w/w to 0.00104% w/w. The UV-Vis spectrophotometry method proved to be sensitive and accurate in detecting formalin in food samples. These findings indicate that some white tofu sold at Kranggan Market still contains formalin, highlighting the need for stricter food safety monitoring in traditional markets.