Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Efisiensi Pemasaran Kopi Robusta di Kabupaten Bogor Vanesha Miranda; Yusalina Yusalina; Ratna Winandi Asmarantaka
Forum Agribisnis Vol 13 No 1 (2023): FA VOL 13 NO 1 MARET 2023
Publisher : Magister Science of Agribusiness, Department of Agribusiness, FEM-IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/fagb.13.1.95-109

Abstract

Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang berpotensi dalam pengembangan kopi Robusta dengan roduktivitas sebesar 875 kg/ha. Keterlibatan lembaga-lembaga pemasaran yang melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran mengakibatkan adanya perbedaan harga kopi Robusta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi saluran pemasaran, pelaksanaan fungsi-fungsi pemasaran, dan efisiensi saluran pemasaran kopi Robusta di Kabupaten Bogor. Penelitian ini mengambil sampel 50 responden petani dengan metode purposive sampling dan 12 lembaga pemasaran dengan metode snowball sampling. Metode analisis yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif untuk saluran dan fungsi lembaga pemasaran. Metode analisis kuantitatif untuk menghitung marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya, serta efisiensi pemasaran yang kemudian dideskripsikan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua jenis saluran pemasaran kopi Robusta di Kabupaten Bogor, yaitu saluran pemasaran umum dan khusus. Adapun yang membedakannya yaitu perlakuan yang diberikan pada green beans yang dihasilkan. Saluran pemasaran umum yang terdiri dari saluran pemasaran 1, 2, dan 3 berasal dari petik asalan, sedangkan saluran pemasaran khusus yang terdiri dari saluran pemasaran 4 dan 5 berasal dari petik merah. Efisiensi relatif pada saluran pemasaran umum berada pada saluran pemasaran 3 dengan nilai marjin dan tingkat efisiensi pemasaran terkecil, sedangkan pada saluran pemasaran khusus berada pada saluran pemasaran 4 dan merupakan saluran pemasaran yang dominan. Adopsi teknologi, perbaikan infrastruktur, dan optimalisasi keberadaan kelompok tani menjadi masukan untuk memaksimalkan kualitas dan kuantitas green beans.
Effect of Risk Management Practices on Production of Seaweed Farming: Evidence from Takalar, South Sulawesi, Indonesia Fariyanti, Anna; Utami, Anisa Dwi; Yanamisra, Alfira; Miranda , Vanesha; Muflikh, Yanti Nuraeni; Yanuar, Rahmat; Suprehatin, Suprehatin
AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Vol. 10 No. 2: July-December 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/agraris.v10i2.434

Abstract

Despite the potential to grow and earn more profit through export, the seaweed sector is dealing with several difficulties, including challenges in the production faced by smallholder farmers. Farmers have managed their seaweed farming by implementing several risk management practices. This study examined the effect of farmers’ risk management practices on seaweed production and the determinants of seaweed production risk management practices. This study utilized data from a survey of 100 farmers in Takalar Regency, a key seaweed production area in Indonesia, along with insights from a focus group discussion (FGD) with seaweed experts. A Cobb-Douglas production function and logistic regression were employed. The findings unveiled that seaweed farmers’ risk management practices had positively boosted their seaweed production. The findings also highlighted that such factors as education level, farming experience, farm size, and weather risk influenced the farmers’ practices of dealing with the production risk. Understanding the effect of risk management practices on farm production and the determinants of production risk management practices could assist policymakers in designing effective policies and farmers in being more innovative in their coping strategies to mitigate production risk, leading to improved productivity and income. The prioritized risk management practices for seaweed production focused on diversifying planting locations and harvesting under hot temperatures to mitigate production risks. In contrast, practices such as changing seeds, relocating, and adjusting cultivation methods were also crucial but less widely applied.
Kebijakan Pemasaran Kopi Robusta di Kabupaten Bogor Miranda, Vanesha; Yusalina
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 5 No 1 (2023): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0501.465-469

Abstract

Potensi Kabupaten Bogor untuk pengembangan kopi Robusta pada faktanya melibatkan beberapa lembaga pemasaran yang melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran. Pelaksanaan fungsi pemasaran menjadikan adanya penambahan nilai produk, sehingga terdapat perbedaan harga ditingkat produsen dan konsumen. Keterbatasan petani dalam mengakses dan menjangkau pasar konsumen akhir menjadi alasan dalam keterlibatan lembaga pemasaran. Policy brief ini sebagai langkah strategis dalam optimasi peran stakeholder dan policy maker dalam kegiatan pemasaran kopi Robusta di Kabupaten Bogor.
Pengembangan Kapasitas Petani melalui Pelatihan Farm Recording dan Digital Marketing di Desa Palon, Kabupaten Blora Anna Fariyanti; Herawati Herawati; Yanti Nuraeni Muflikh; Suprehatin Suprehatin; Vanesha Miranda
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 12 No. 1 (2026): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.12.1.35-45

Abstract

Community service activities were carried out in Palon Village, Jepon District, Blora Regency, a center for beef-cattle production. The initiative responded to the continued reliance on traditional practices, especially manual financial record-keeping and product marketing, which limit efficient, evidence-based decision-making and constrain market access to mostly local buyers. The capacity-building program equipped 27 participants (farmers, livestock keepers, and fish cultivators) with practical skills in farm recording and digital marketing through a participatory approach covering preparation, training, and evaluation with pre-test and post-test. Results show substantial gains: understanding of farm recording rose from 29,63% to 48,15%, while digital marketing comprehension increased from 37.04% to 88.89%. Two primary benefits followed: participants adopted structured financial records to track costs and revenues, and they gained digital-marketing skills that expanded market reach and increased income via online platforms. These outcomes demonstrate the program’s effectiveness in enhancing financial and digital literacy and equipping farmers with managerial and marketing capabilities aligned with the demands of the digital era.
Menguatkan Agroforestri Kopi Indonesia: Strategi Kebijakan Menghadapi Risiko Iklim dan Fragmentasi Regulasi Anisa Dwi Utami; Anna Fariyanti; Yusalina; Yanti Nuraeni Muflikh; Indah Maharani; Vanesha Miranda
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 8 No. 1 (2026): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0801.1577-1582

Abstract

Pengembangan agroforestri kopi penting sebagai respons terhadap meningkatnya risiko iklim, fluktuasi harga komoditas, dan tekanan organisme pengganggu tanaman yang menurunkan produktivitas serta pendapatan petani. Sistem agroforestri tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha, tetapi juga berfungsi sebagai strategi mitigasi risiko dengan menyediakan sumber pendapatan alternatif ketika produktivitas kopi menurun. Agroforestri sejalan dengan agenda pembangunan jangka panjang Indonesia, khususnya pengurangan emisi, restorasi lahan terdegradasi, dan peningkatan kesejahteraan petani kecil. Namun, adopsi agroforestri kopi masih menghadapi hambatan struktural dan kelembagaan, seperti fragmentasi regulasi antarsektor, keterbatasan akses teknologi, serta terbatasnya model sistem yang teruji dan siap direplikasi. Kebijakan pengembangan kopi di bawah Kementerian Pertanian belum secara eksplisit mengintegrasikan agroforestri, sementara praktik agroforestri lebih berkembang dalam kerangka kebijakan kehutanan. Di tingkat perencanaan, Bappenas telah mendorong pembangunan berkelanjutan, namun belum secara spesifik mengarusutamakan agroforestri kopi. Kondisi ini menyebabkan tidak adanya integrasi kebijakan yang efektif dari hulu hingga hilir. Maka dari itu, penyusunan kebijakan pengembangan agroforestri kopi yang berkelanjutan menjadi penting. Policy brief ini menawarkan rekomendasi kebijakan, yaitu integrasi kebijakan antarsektor, penguatan dukungan teknis di tingkat petani, penguatan kelembagaan dan akses pasar, penerapan sistem insentif bagi petani yang menerapkan agroforestri kopi, dan penyediaan skema pembiayaan  khusus untuk agroforestri kopi. Tanpa integrasi kebijakan, agroforestri kopi akan tetap menjadi potensi yang belum termanfaatkan secara optimal.