Ronny Suwento, Ronny
Departemen Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, Dan Tenggorok, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Peran Instrumen Modifikasi Tes Daya Dengar sebagai Alat Skrining Gangguan Pendengaran pada Bayi Risiko Tinggi Usia 0-6 Bulan Rini Andriani; Rini Sekartini; Ronny Suwento; Jose RL Batubara
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.56 KB) | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.174-83

Abstract

Latar belakang. Gangguan pendengaran pada bayi dapat menghambat perkembangan bicara, bahasa, dankemampuan kognitif. Identifikasi dan intervensi segera dengan program skrining akan mencegah konsekuensitersebut. Pemeriksaan elektrofisiologi merupakan alat skrining yang direkomendasikan namun memerlukanalat khusus, biaya dan tenaga ahli, sehingga diperlukan kuesioner pendengaran (hearing checklist) sebagaialat skrining. Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan instrumen tes daya dengar sebagaialat skrining gangguan pendengaran yang kemudian dimodifikasi pada tahun 2005.Tujuan. Membandingkan sensitivitas dan spesifisitas instrumen modifikasi tes daya dengar (MTDD) dengan bakuemas pemeriksaan skrining pendengaran yaitu distortion-product otoacoustic emission (DPOAE) dan AABR.Metode. Studi potong-lintang di RSCM pada bayi usia 0-6 bulan dengan satu atau lebih faktor risikoseperti riwayat keluarga dengan tuli bawaan, infeksi TORCH, prematuritas, berat badan lahir rendah,hiperbilirubinemia dengan terapi sinar atau transfusi tukar, sepsis awitan lambat dan meningitis, nilai skorApgar rendah, distress pernapasan, pemakaian alat bantu napas dan pemakaian obat yang bersifat ototoksikselama lebih dari 5 hari. Subjek dilakukan pemeriksaan fisis, pertumbuhan dan perkembangan, MTDD,DPOAE dan AABR.Hasil. Enam puluh subjek diperoleh ikut dalam penelitian, lelaki lebih banyak dengan rasio 1,1:1. Sebagianbesar subjek merupakan anak pertama (38,3%), diasuh oleh orangtua (60%) dan memiliki 􀁴3 faktor risiko(70%). Pemakaian obat yang bersifat ototoksik (76,7%) merupakan faktor risiko terbanyak. Prevalensigangguan pendengaran berdasarkan MTDD 63,3% sedangkan kombinasi DPOAE dan AABR 11,7%. Umursubjek merupakan faktor yang secara bermakna mempengaruhi hasil MTDD (nilai p=0,032). Sensitivitasdan spesifisitas MTDD berturut-turut 85,7% dan 39,6%.Kesimpulan. Instrumen MTDD bukan merupakan alat skrining pendengaran yang ideal namun dibutuhkandan dapat digunakan di negara berkembang seperti Indonesia
Peran The Early Language Milestone Scale sebagai Uji Tapis terhadap Anak dengan Keterlambatan Bicara yang Diduga Disebabkan oleh Gangguan Pendengaran Sensorineural Nia Niasari; Hartono Gunardi; Ronny Suwento; Sudigdo Sastroasmoro
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.515 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.281-4

Abstract

Latar belakang. Salah satu penyebab keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran. Brain evokedresponse audiometry (BERA) memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi gangguanpendengaran, namun alat dan biaya pemeriksaan cukup mahal, dan tidak tersedia di pusat pelayanankesehatan primer di daerah terpencil. The early language milestone scale (ELMS) diharapkan mempunyaisensitivitas dan spesifisitas yang baik sebagai uji tapis keterlambatan bicara yang disebabkan oleh gangguanpendengaran, karena mengandung unsur auditory receptive dan auditory expressive.Tujuan. Membandingkan sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP), nilai duga negatif (NDN),rasio kemungkinan positif (RKP), dan rasio kemungkinan negatif (RKN) ELMS dalam mendeteksi gangguanpendengaran dengan baku emas BERA.Metode. Penelitian uji diagnostik ELMS dengan baku emas BERA di Departemen IKA dan Pusat KesehatanTelinga dan Gangguan Komunikasi (PKTGK) Departemen THT FKUI-RSCM. Pengambilan sampel secarakonsekutif dari bulan Februari sampai Agustus 2006, terkumpul 42 subjek dengan usia 12 sampai 47 bulan.Hasil. Sensitivitas 93% (IK95%:92 sampai 94), spesifisitas 15% (IK95%:5 sampai 26), NDP 71%(IK95%:57 sampai 85), dan NDN 50% (IK95%:35 sampai 65). Hasil RKP 1 dan RKN 0,5.Kesimpulan. Mengingat spesifisitas yang rendah, ELMS tidak dapat digunakan sebagai uji tapis keterlambatanbicara yang diduga disebabkan gangguan pendengaran sensorineural.
Skrining Gangguan Pendengaran pada Neonatus Risiko Tinggi Lily Rundjan; Idham Amir,; Ronny Suwento; Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.191 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.149-54

Abstract

Gangguan pendengaran pada masa bayi akan menyebabkan gangguan wicara, berbahasa,kognitif, masalah sosial, dan emosional. Identifikasi gangguan pendengaran secara dinidan intervensi yang sesuai sebelum usia 6 bulan terbukti dapat mencegah segalakonsekuensi tersebut. The Joint Committee on Infant Hearing tahun 1994merekomendasikan skrining pendengaran neonatus harus dilakukan sebelum usia 3 bulandan intervensi telah diberikan sebelum usia 6 bulan. Otoacoustic emissions (OAE) dan/atau automated auditory brainstem response (AABR) direkomendasikan sebagai metodeskrining pendengaran pada neonatus. Pemeriksaan ABR telah dikenal luas untuk menilaifungsi nervus auditorius, batang otak, dan korteks pendengaran. Pemeriksaan OAEsebagai penemuan baru dilaporkan dapat menilai fungsi koklea, bersifat non invasif,mudah dan cepat mengerjakannya, serta tidak mahal.