Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PRAKTIK PILOT PROJECT REFORMULASI PRODUKSI PENYELAMATAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA WEDANG ROJO BERBASIS KEMITRAAN GREEN CULTURE BERKELANJUTAN PADA DESA PARIWISATA NONGKOSAWIT Harto Wicaksono; Himmatul Ulya; Annisa Aulia Savitri; Nadia; Candra Prawira Utama; Rizky Firmansyah Saputra
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 3 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i3.3636

Abstract

Kelurahan Nongkosawit, salah satu desa wisata di Kota Semarang, memiliki potensi keanekaragaman hayati berupa tanaman obat tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui minuman herbal Wedang Rojo. Namun, keterbatasan pada aspek standar produksi, higienitas, legalitas, branding, dan pemasaran digital menyebabkan produk ini belum memiliki daya saing sebagai komoditas unggulan desa wisata. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas kelompok PKK dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam memproduksi dan memasarkan Wedang Rojo secara profesional, higienis, dan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah Community Based Participatory Research (CBPR) melalui observasi, FGD, pelatihan, pendampingan produksi, reformulasi, penyusunan SOP, rebranding, desain kemasan, serta pelatihan pemasaran digital. Hasil program menunjukkan terjadinya transformasi signifikan, meliputi standarisasi formulasi dan proses produksi berbasis uji laboratorium, peningkatan keamanan pangan, penyiapan legalitas P-IRT, identitas merek baru Wedang Rojo Omah Pang, desain kemasan informatif dan estetis, serta peningkatan literasi pemasaran digital. Uji pasar awal memperlihatkan penerimaan konsumen yang positif terhadap kualitas rasa, tampilan produk, dan narasi budaya. Program ini membuktikan bahwa kolaborasi partisipatoris dan pendekatan green culture efektif dalam menguatkan ekonomi lokal sekaligus melestarikan warisan budaya. Model pemberdayaan ini berpotensi direplikasi pada desa wisata lain yang berbasis komoditas lokal.
Kesadaran dan Transformasi Model Pendidikan Pranikah Masyarakat Madura melalui Tradisi Ngabula Mutiatus Soleha; Harto Wicaksono
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i1.33946

Abstract

Early marriage within the Madurese community, particularly in Bendungan Hamlet, is a social practice shaped by matchmaking traditions, religious beliefs, and deeply rooted cultural norms. This practice is often carried out at a young age and may lead to psychological, social, and marital challenges when prospective spouses lack sufficient preparation. This study aims to examine premarital education awareness among the Madurese community, the implementation of premarital education through the ngabula tradition from an Islamic perspective, and the transformation of premarital education models in contemporary society. The research adopts a qualitative narrative approach, employing observation, semi-structured interviews, and documentation as data collection techniques. Ten informants were selected using a snowball sampling method, consisting of religious leaders, female ngabula participants, early-married couples, and community members. Data were analyzed through thematic analysis and interpreted using Paulo Freire’s theory of consciousness alongside Arnold van Gennep’s rites of passage framework. The findings indicate that premarital education awareness develops across three levels of consciousness: magical, naive, and critical. The ngabula tradition functions as a form of non-formal premarital education that contributes to the development of mental, social, moral, and religious readiness among prospective spouses, particularly women. Furthermore, the ngabula tradition has undergone transformations in terms of practice and meaning while continuing to preserve its religious and cultural values. These values play an important role in supporting the formation of sakinah, mawaddah, and warahmah families within the Madurese social context.