Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Pengaruh Variasi Bahan Bakar Biomassa terhadap Mampu Nyala dan Kandungan Tar pada Reaktor Gasifikasi Tipe Updraft Abrar Ridwan; Budi Istana
Jurnal Engine: Energi, Manufaktur, dan Material Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2480.644 KB) | DOI: 10.30588/jeemm.v2i1.353

Abstract

Pada Gasifikasi tipe Updraft bahan bakar dimasukkan dari bagian atas dan udara masuk pada bagian bawah reaktor.Kekurangan dari gasifikasi tipe Updraft adalah gas yang keluar dari reaktor berada pada kondisi temperatur rendah (<500 0C), serta membawa tar yang terkondensasi serta minyak yang berasal dari proses pirolis. Pada penelitian ini akan membandingkan bahan bakar biomassa Tempurung Kelapa dan Pelepah Kelapa Sawit dari segi mampu nyala dan kandungan tar. Bahan bakar tersebut dibakar didalam reaktor sampai Syngas terproduksi, setelah Syngas berproduksi pada reaktor, penarikan tar dapat dilakukan dan penarikan tar dihentikan apabila Syngas pada reaktor telah padam. Dari hasil penelitian, didapat mampu nyala dari biomassa Tempurung kelapa selama 43 menit 14 detik sedangkan biomassa Pelepah kelapa sawit selama 10 menit 26 detik.Berat tar kering hasil proses gasifikasi yang ditimbang menggunakan timbangan digital pada Biomassa Tempurung kelapa adalah 8,99 g, sedangkan pada Biomassa Pelepah kelapa sawit adalah 4,62 g. Banyaknya gas sampel yang disedot pompa vakum pada Biomassa Tempurung kelapa adalah 138,58 liter sedangkan pada Biomassa Pelepah kelapa sawit adalah 133,88 liter. Massa tar pada setiap liter gas sampel Biomassa Tempurung kelapa adalah 0,064 gram/liter sedangkan Biomassa Pelepah kelapa sawit adalah 0,034 gram/liter.
STUDI PENGARUH PERLAKUAN ALKALI TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN MORFOLOGI KOMPOSIT SERAT PELEPAH KELAPA SAWIT BERMATRIK UREA FORMALDEHIDA Istana, Budi; Utami, Lega Putri
Jurnal Rekayasa Mesin Vol. 15 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/jrm.v15i2.1725

Abstract

Palm frond residue is one of the valuable wastes from palm oil plantations. This refuse can be repurposed and transformed into materials for producing acoustic composites. This study investigates the mechanical and morphology characteristics of a composite material reinforced with natural fiber palm fronds and a urea-formaldehyde (UF) as a matrix. Two parameters are formulated: the effect of alkali treatment on the fiber and the effect of density. The treatment parameter refers to the particles without treatment, 60 and 180 minutes of 2% alkaline immersion. Composite densities were determined with 0.4, 0.5, and 0.6 g/cm3. The composite was made using hot pressed at a pressure of 1.8 MPa, a temperature of 140OC for 5 minutes with 10% Urea Formaldehyde resin. Alkaline treatment and density of composite have a significant effect on mechanical and morphological characteristics. The best mechanical characteristics were obtained from panels with a 0.6 g/cm3 density, without treatment, MOE: 533.53 N/mm2. The results of this study have the potential to lead to the use of sustainable palm oil waste materials in novel products, which has a significant impact and great relevance not only from environmental aspects but also from social and economic aspects in Indonesia.
Rancang Bangun Mesin Pengayak Pupuk Organic Dari Pelepah Kelapa Sawit Bancin, chandra defri
TURBO [Tulisan Riset Berbasis Online] Vol 13, No 2 (2024): TURBO: Jurnal Program Studi Teknik Mesin
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/trb.v13i2.3618

Abstract

Pelepah sawit merupakan limbah yang terbuang begitu saja di area perkebunan. Limbah pelepah sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk pupuk kompos. Pelepah sawit yang telah dicacah kemudian diurai setelah penguraian pupuk kompos pelepah sawit harus diayak agar pupuk yang dihasilkan bersih dari kotoran dan sampah. dimana pengayakan pupuk kompos masih dilakukan secara manual, dimana pengayakan ini memakan banyak waktu dan tenaga manusia. Maka peneliti merancang sebuah alat untuk menyaring pupuk kompos yang digunakan untuk mengurangi sampah dari pelepah kelapa sawit. Mesin pengayak kompos dapat mempermudah memisahkan kompos dari kotoran dan sampah. Cara kerja mesin pengayak kompos adalah tenaga diteruskan dari motor penggerak dengan menyalurkan daya melalui puli dengan perantara sabuk (v) dan mengerakan Gearbox WPA 60,Gearbox meneruskan daya ke kopling dan universal joint, lalu diteruskan  kembali ke bearing, dan kemudian dihubungkan ke tabung ayakan dan akan memutar tabung ayakan. Tujuan dari pembuatan mesin pengayak ini adalah untuk mendapatkan hasil penyaringan kompos dengan kualitas yang lebih baik dan bersih dari sampah dan kotoran. Mesin pengayak ini dibuat untuk mencegah masuknya sampah dan kotoran pada saat proses pengayakan. Mesin pengayak ini memiliki dimensi panjang 1,5 cm, lebar 1 cm, dan tinggi 9 cm. Hasil pengujian mesin pengayak ini menunjukkan bahwa mesin ini mampu mengayak kompos dengan kapasitas 30 kg dalam waktu 30 detik
Study of Atmospheric Corrosion of Structural Steel Surrounding the Palm Oil Industry in the Region of Eastern Coastal and Northern Aceh Cut, Banta; Muhammad Zulfri; Syarizal Fonna; Syifaul Huzni; Ferry Safriwardy; Abdul Rahman; Budi Istana
JURNAL SURYA TEKNIKA Vol. 11 No. 2 (2024): JURNAL SURYA TEKNIKA
Publisher : Fakultas Teknik UMRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37859/jst.v11i2.8478

Abstract

Corrosion is the primary cause of premature infrastructure damage, affecting everything from homes and public spaces to industrial facilities, including the rapidly expanding palm oil industry in Aceh, particularly along its eastern and northern coasts. This rapid growth necessitates careful consideration of environmental impacts, including pollution, which can also degrade air quality. Pollutants increase the susceptibility of steel-reinforced structures to atmospheric corrosion. This research, therefore, investigates atmospheric corrosion of structural steel at several palm oil processing plants: PTPN 1 Tanjung Seumantoh in Aceh Tamiang, PT Ensem Sawita and PT Anugerah Fajar Rejeki (AFR) in East Aceh, and PTPN 1 Cot Girek in North Aceh.This study measures the atmospheric corrosion rate of structural steel typically used in industrial and nearby residential settings. Five steel types were tested: strip, angular, cylindrical, commercial plate, and low-carbon steel. Following the American Standard Testing and Material-G50 (ASTM G50), the mass loss method was used to calculate corrosion rates. After six months of exposure, all five steel types exhibited corrosion rates below 0.7 mils per year (mpy). This result showed that the relative corrosion resistance of structural steel is on outstanding category (<1mpy).