Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN SUPERPLASTICIZER DAN SILICA FUME TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR DENGAN FAS 0,3 Indra Syahrul Fuad
JURNAL DESIMINASI TEKNOLOGI VOLUME 9 NOMOR 2 JULI 2021
Publisher : UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52333/destek.v9i2.785

Abstract

Abstrak: Mortar merupakan salah satu bahan bangunan campuran dari semen, pasir dan air. Mortar merupakan komponen dari beton, diharapkan dengan memperbaiki mutu mortar maka mutu beton dapat ditingkatkan. Mortar mutu tinggi adalah mortar yang mempunyai karakteristis sebagai matrial yang sangat padat dengan kuat tekan bisa mencapai 150 Mpa. Jadi untuk membuat beton mutu tinggi harus mempelajari mortar mutu tinggi karena mortar merupakan komponen dari beton. Salah satu cara untuk meningkatkan kekuatan mortar adalah dengan cara meningkatkan kepadatan dengan mencari susunan gradasi ukuran butiran  yang dapat mengisi ruang kosong. Dengan penambahan agregat ringan berupa silica fume diharapkan mendapatkan kepadatan maksimum yaitu dengan menimalkan rongga kosong antara butiran/partikel. Selain untuk mengisi rongga kosong silica fume sebenarnya digunakan sebagai pengganti sebagian semen, untuk tujuan pengurangan kadar semen, meski pun tidak ekonomis silica fume bisa memperbaiki mutu mortar dengan mengoptimalkan kinerja semen dan sisa semen akan bereaksi membentuk gel atau pasta semen yang dapat mengisi rongga kosong. Untuk mendapatkan kepadatan yang maksimum maka digunakan bahan kimia berupa superplsticizer untuk menigkatkan kelecakan (workabilitiy), sehingga digunakan faktor air semen sebesar 0,3. Penelitian bertujuan untuk mengkaji peningkatan kuat tekan mortar akibat pemakaian aktor air semen sebesar 0,3 dan penambahan superplasticizer dan silica fume. Penelitian berupa studi eksperimental dengan membuat benda uji silinder berdiameter 50 mm dan tinggi 100 mm. Persentase superplastictizer 1,5% dengan silica fume 15% dan 30% dari berat semen. Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa mortar dengan bahan tambah admixture superplasticizer 1,5%  meningkatkan kelecakan campuran untuk faktor air semen yang rendah sehingga meningkatkan kuat tekan mortar.  Silica fume meningkatkan kenerja tekan mortar sehingga kuat tekannya meningat seiring penambahan persentase silica fume.   Kata kunci: superplasticizer, silica fume, kuat tekan mortar
ANALISIS PERSIMPANGAN JALAN BERSINYAL PADA PERSIMPANGAN PATAL DAN KAPASITAS JALAN MP. MANGKUNEGARA KOTA PALEMBANG Indra Syahrul Fuad; Yules Pramona Zulkarnain; Bahder Johan
JURNAL DESIMINASI TEKNOLOGI Volume 1 No.1 Januari 2013
Publisher : UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.583 KB) | DOI: 10.52333/destek.v1i1.157

Abstract

Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dan strategis untuk memperlancar pergerakan kebutuhanmasyarakat. Perencanaan dan pembangunan sarana dan prasarana transportasi, sangat mempengaruhi dan menentukanpeningkatan pertumbuhan perekonomian dalam menunjang pencapaian sasaran pembangunan dan hasil-hasilnya yangberdampak nyata pada perubahan yang konstruktif dalam masyarakat disemua aspek kehidupan.Pada penulisan jurnal ilmiah ini, pengambilan data primer berupa survei Lalu lintas Harian Rata-Rata padaSimpang Patal dan kapasitas jalan MP. Mangkunegara juga data sekunder berupa data geometrik jalan dan persimpanganyang selanjutnya dianalisis menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI). Sehingga dari analisispersimpangan dan ruas jalan ini dapat terlihat kebutuhan dan pemenuhan pelayanan jaringan jalan yang digunakan untukmengatasi persoalan terutama kemacetan maupun persoalan lalu lintas lainnya pada persimpangan Patal dan ruas jalanMP. Mangkunegara.Tingginya nilai V/C ratio pada persimpangan Patal menunjukkan bahwa tingkat pelayanan sudah tidak memadaiuntuk memenuhi kebutuhan lalu lintas. Maka alternatif pelebaran jalan atau pembangunan jembatan laying (fly over) danpengaturan lalu lintas disekitar wilayah persimpangan perlu dilaksanakanKata kunci : lalu lintas harian rata-rata, MKJI, persimpangan, ruas jalan, pemenuhan dan pelayanan jaringan jalan.
PERHITUNGAN NON REVENUE WATER ( NRW ) DAN TINGKAT KEPUASAN PELANGGAN PADA PDAM LEMATANG ENIM UNIT PELAYANAN PENDOPO KABUPATEN PALI Dini Harlini; Indra Syahrul Fuad; Reni Andayani; Wartini .
JURNAL DESIMINASI TEKNOLOGI Volume 4 No. 1 Januari 2016
Publisher : UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.956 KB) | DOI: 10.52333/destek.v4i1.216

Abstract

Abstrak: Pada PDAM Lematang Enim jumlah Air yang hilang masih sangat tinggi. Salah satu penyebab tingginya tingkat kebocoran adalah banyaknya kebocoran yang terjadi pada pipa distribusi. Agar pelayanan air PDAM ke masyarakat tidak terganggu dan dapat mencapai standart pelayanan maka harus memperhatikan aspek – aspek yang sangat berpengaruh yaitu kualitas, kuantitas dan Kontinuitas. Didalam penelitian ini,mengukur tingkat persentase Non Revenue Water (NRW) di PDAM Lematang Enim Unit Pelayanan Pendopo Kabupaten Pali, dan tingkat kepuasan pelanggan pengguna air di Desa Handayani Mulia PDAM Lematang Enim Unit Pelayanan Pendopo Kabupaten Pali.  Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat Persentase NRW di PDAM Lematang Enim Unit Pelayanan Pendopo Kabupaten Pali adalah 22,90 % angka ini menunjukan bahwa tingkat kehilangan air di PDAM Cabang Pendopo masih masuk kategori baik, dan angka tingkat kepuasan pelanggan di Desa Handayani Mulia PDAM Cabang Pendopo adalah 3,8078, angka ini menunjukkan bahwa pelanggan PDAM  Puas dengan air yang dikonsumsi dari PDAM Cabang Pendopo. Kata Kunci: Kehilangan air, non revenue water, kepuasan pelanggan.
PEMANFAATAN BAN BEKAS UNTUK FONDASI DANGKAL PADA INDUSTRI KONSTRUKSI PERUMAHAN MENJADI NILAI EKONOMIS Tolu Tamalika; Indra Syahrul Fuad
JURNAL DESIMINASI TEKNOLOGI Vol 10, No 1 (2022): VOL 10 No. 1 2022
Publisher : UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52333/destek.v10i1.860

Abstract

Abstrak: Perumahan siap huni Type 36 yang dianjurkan pemerintah melalui Dinas Perumahan berdasarkan hasil penelitian dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dirjen Bina Konstruksi pada jurnal edisi Juli – Agustus 2019 bahwa pondasi menggunakan bahan dari Ban Bekas cukup kuat untuk menahan beban pada konstruksi bangunan. Dan juga sangat kuat untuk tanah keras serta terjadinya sedikit penurunan pada tanah (Sumiyati Gunawan dkk, Jurnal Prosiding Edisi II Universitas Atmajaya Jogjakarta). Metoda yang digunakan dalam perhitungan biaya ban bekas adalah Koefisien Analisa Biaya Konstruksi Standar Nasional Indonesia untuk pondasi dangkal yaitu SNI Analisa Biaya Konstruksi (ABK) tentang Bangunan Gedung dan Perumahan tahun 2008. Estimasi jumlah biaya Konstruksi dihitung dengan perkiraan Koefisien Analisa Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk konstruksi bangunan gedung. Untuk perhitungan biaya pondasi batu bata dapat dihitung berdasarkan: panjang bidang pondasi = 35.4 m dengan luas penampang pondasi = 0.16 m2 dan volume Pondasi batu bata = 5.664 m3 , maka didapat biaya yang digunakan untuk membangun pondasi batu bata sebesar = Rp. 6.672.183,90,-. Sedangkan untuk biaya pondasi bahan ban bekas berdasarkan pada desain : kolom pondasi = 0,01125 m3 dengan tapak pondasi = 0,06041 m3 , maka diperoleh biaya untuk membangun 15 unit pondasi ban bekas adalah = Rp. 4.828.010,48,-. Sedangkan jumlah ban bekas yang digunakan sebanyak 15 unit dengan biaya = Rp. 375.000,-. Jadi total keseluruhan untuk biaya menggunakan pondasi ban bekas adalah sebesar Rp. 5.203.010,48,-. Penggunaan pondasi batu bata akan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 6.672.183,90,-, sedangkan menggunakan pondasi ban bekas biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 5.203.010,48,-. Jadi penggunaan pondasi ban bekas lebih hemat biaya dibandingkan dengan menggunakan pondasi batu bata dengan selisih Rp. 1.469.173,42,-. Kata kunci : SNI 03-2836 BSN 2008, pondasi ban bekas, estimasi biaya
Pengaruh Penggunaan Pasir Sungai Dengan Pasir Laut Terhadap Kuat Tekan Dan Lentur Pada Mutu Beton K-225 Indra Syahrul Fuad; Bazar Asmawi; Hermawan .
JURNAL DESIMINASI TEKNOLOGI Volume 3 No. 1 Januari 2015
Publisher : UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1368.219 KB) | DOI: 10.52333/destek.v3i1.23

Abstract

Abstrak: Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum digunakan. Bahanpenyusun beton terdiri dari bahan semen, agregat kasar, agregat halus, air. Untukmengetahuidanmempelajari perilaku elemen gabungan (bahan-bahan penyusun beton), kita memerlukanpengetahuan mengenai karakteristik masing-masing komponen. Karakteristik kualitasagregat halus yang digunakan sebagai komponen struktural beton memegang peranan pentingdalam menentukan karakteristik kualitas struktur beton yang dihasilkan, sebab agregat halusmengisi sebagian besar volume beton. Salah satunya diamati pada penelitian ini yaitu pasirlaut dari Provinsi Lampung yang memiliki karakteristik butiran yang kasar dan gradasi(susunan besar butiran) yang bervariasi serta memiliki kandungan garam-garaman klorida(Cl) dan sulfat (SO4) yang tidak melebihi batas yang ditetapkan.Penelitian ini juga mengamatipasir sungai dari Palembang, dimana pasir Sungai yang memiliki sumber (Quarry) yangcukup dan Pasir Sungai sering di gunakan untuk campuran pembuatan beton,akan tetapipasir sungai yang sering di gunakan dalam campuran pembuatan perlu di teliti lebih lanjutuntuk mengetahui kadar lumpur dari pasir sungai tersebut apakah pasir sungai yang akandi gunakan memiliki kadar lumpur yang layak dalam peraturan acuan campuran pembuatanbeton.Di dalam penelitian ini, menggunakan beton mutu K 225 yang merupakan campuran air,semen, agregat kasar,dan agregat halus dengan treatment yaitu mencuci dengan air tawardan yang tidak dicuci. Dan dilakukan pengujian kuat tekan dan kuat lentur, yang bertujuanuntuk mengetahui berapa besar pengurangan atau penambahan kuat tekan beton lenturterhadap faktor keamanan suatu bangunan, untuk dapat diaplikasikan pada bangunanbangunanmasyarakat umum.Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwadari hasil uji kuat tekan beton yang menggunakan pasir sungai dengan perlakuan (BPST)mengalami peningkatan 45,85 kg/cm2 atau sebesar 22,35 % dari beton yang menggunakanpasir sungai dalam kondisi sebenarnya (BPS). Sedangkan pada kuat tekan betonmenggunakan pasir laut dengan perlakuan (BPLT) mengalami peningkatan sebesar 6,25kg/cm2 atau sebesar 2,23 % dari beton yang menggunakan pasir laut dalam kondisisebenarnya (BPL). Kuat lentur beton yang menggunakan pasir sungai dengan perlakuan(BPST) mengalami peningkatan sebesar 6,8 kg/cm2atau sebesar 16,67 % dari pasir sungaidalam kondisi sebenarnya (BPS), kuat lentur yangmenggunakan pasir laut dengan perlakuan(BPLT) mengalami peningkatan sebesar 6,79 kg/cm2 atau sebesar 14,27 % dari pasir lautdalam keadaan yang sebenarnya (BPL).Kata Kunci: Pasir sungai, Pasir Laut, Kuat Tekan Beton, dan Kuat Lentur Beton.
Pengaruh Variasi Perendaman Beton Purun Tikus Terhadap Kuat Tekan dan Kuat Lentur Beton Ani Firda Firda; Indra Syahrul Fuad
FORUM MEKANIKA Vol 9 No 1 (2020): JURNAL FORUM MEKANIKA
Publisher : Sekolah Tinggi Teknik - PLN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33322/forummekanika.v9i1.883

Abstract

ABSTRAK Salah satu bahan tambah beton ialah serat (fiber). Serat dalam beton berfungsi untuk mencegah retak–retak sehingga menjadikan beton lebih daktail dari pada beton biasa dan untuk meningkatkan kekuatan tarik beton. Pemakaian beton pada lingkungan agresif sangat berpengaruh pada keawatan dan nilai kuat tekan dan tarik beton. Struktur beton dapat dikatakan berada pada lingkungan agresif manakala beton terus-menerus berada dalam lingkungan air laut, air rawa, tanah, dan kawasan industri dimana banya terkandung sulfat, beton akan menjadi rentan terhadap serangan sulfat yang dapat mengurangi durabilitas beton dan dapat membuat beton menjadi korosi. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan meneliti mengenai seberapa besar pengaruh variasi perendaman air PDAM Tirta Musi (pH=7) dan air rawa (pH<7) dan terhadap kuat tekan dan kuat lentur dengan tambahan serat purun tikus (eleocharis dulcis) sebesar 0.75% selama 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perendaman beton mutu fc’ = 20Mpa umur 28 hari menggunakan air rawa (pH=4.5), dapat menurunkan kuat tekan beton normal sebesar 11.63%, sedangkan pada beton purun tikus 0.75% sebesar 4.12%, dibanding beton perendaman air PDAM Tirta Musi (pH=6.5). Perendaman beton mutu fc’ = 20Mpa umur 28 hari menggunakan air rawa (pH=4.5), dapat menurunkan kuat lentur beton normal sebesar 14.8%, sedangkan pada beton purun tikus 0.75% sebesar 5.8%, dibanding beton perendaman air PDAM Tirta Musi (pH=6.5). Keywords : pH air, kuat tekan, kuat lentur, serat purun tikus.
PENGARUH PENAMBAHAN CANGKANG TELUR TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK BELAH BETON Indra Syahrul Fuad
JURNAL DESIMINASI TEKNOLOGI Volume 10 No. 2 Juli 2022
Publisher : UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52333/destek.v10i2.943

Abstract

Abstrak: Beton memiliki beberapa kekurangan seperti kuat tarik yang rendah dan adanya retakan pada beton akibat susut beton dan panas hidrasi akibat reaksi antara air dan semen, untuk itu perlu diperbaiki performanya. Salah satu cara meningkatkan performa dari beton adalah meningkat fungsi dari pada semen. Dimana pada saat semen ditambahkan air akan terjadi proses hidrasi yang menghasilkan gel dan sisa semen yang tidak berreaksi yaitu kalsium hidroksida. Untuk perlu mengoptimal sisa semen yang tidak berreaksi itu menjadi gel juga. Salah satu bahan alternatif untuk meningkat performa dari beton tersebut didalam penelitian ini digunakan cangkang telur. Kandungan kalsium pada cangkang telur cukup banya sehingga bisa dimanfatkan pada pembuatan beton. Salah satu cara meningkatkan performa dari beton adalah meningkat fungsi dari pada semen. Dimana pada saat semen ditambahkan air akan terjadi proses hidrasi yang menghasilkan gel dan sisa semen yang tidak berreaksi yaitu kalsium hidroksida. Untuk perlu mengoptimal sisa semen yang tidak berreaksi itu menjadi gel juga. Salah satu bahan alternatif untuk meningkat performa dari beton tersebut didalam penelitian ini digunakan cangkang telur. Kandungan kalsium pada cangkang telur cukup banya sehingga bisa dimanfatkan pada pembuatan beton. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapat hasil uji kuat tekan mengalami penurunan seiring bertambahnya persentase serbuk cangkang telur. Untuk hasil pengujian kuat tarik belah beton mengalami peningkatan pada saat penambahan serbuk cangkang telur sebesar 7,5% selanjutan mengalami penurunan pada penambahan serbuk cangkang telur sebesar 10% dan 12,5%.Kata kunci: serbuk cangkang telur, kuat tekan beton dan tarik belah beton
ANALISIS KUAT TEKAN DAN KUAT LENTUR CAMPURAN BETON DENGAN PENAMBAHAN SERBUK ARANG TEMPURUNG KELAPA War tini; Indra Syahrul Fuad
JURNAL DESIMINASI TEKNOLOGI Volume 11 No. 1 Januari 2023
Publisher : UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52333/destek.v11i1.1020

Abstract

Abstrak: Beton adalah material komposisi terdiri dari bahan dasar semen, agregat kasar, agregat halus, air dan dengan atau tanpa bahan tambah dengan perbandingan tertentu akan membentuk beton. Pada penelitian ini menggunakan bahan serbuk arang tempurung kelapa untuk campuran beton fc’20 sebagai pengganti agregat halus dengan variasi campuran 5%, 8%, dan 11% yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan nilai kuat tekan dan kuat lentur beton normal dengan penambahan serbuk arang tempurung kelapa. Adapun pengujian kuat tekan menggunakan alat cetak silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Kuat lentur dengan ukuran 15 x 15 x 30 cm. Jumlah benda uji kuat tekan normal adalah 27 sampel dan kuat tekan untuk campuran 15 sampel setiap variasi campuran untuk jumlah benda uji kuat lentur adalah 3 buah. Penambahan serbuk arang tempurung kelapa adalah 5%, 8%, dan 11% terhadap agregat halus dengan mutu fc’20 dan dilakukan pengujian kuat tekan dan kuat lentur. Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa dari hasil uji kuat tekan beton dengan nilai yang optimal ada pada campuran 8% dengan peningkatan sebesar 8% pada umur 28 hari dari beton normal, dengan persamaan  garis regresi liniernya Y’ = 11,924 + 0,427X, untuk hasil kuat lentur mengalami peningkatan pada campuran 8% sebesar 5% dan mengalami penurunan sebesar 25% dan 22% pada campuran 5% dan 11% dibandingkan beton normal, dengan persamaan garis regresi liniernya Y’ = 3,433 – 0,050X.Kata kunci: kuat tekan beton, kuat lentur beton, serbuk arang tempurung kelapa
Analisis Penjadwalan Waktu Pekerjaan Proyek Poltekkes Jurusan Farmasi Tahap I dalam Perspektif Manajemen Proyek Tolu Tamalika; Indra Syahrul Fuad
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.846 KB)

Abstract

Manajemen waktu dalam manajemen proyek (Project Management) sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dan kegagalan suatu proyek. Tolak ukur keberhasilan proyek biasanya dilihat dari waktu penyelesaian yang singkat dengan biaya yang minimal tanpa meninggalkan mutu hasil pekerjaan. Pengelolaan proyek secara sistematis diperlukan untuk memastikan waktu pelaksanaan proyek sesuai dengan kontrak atau bahkan bila diperlukan lebih cepat dari waktu kontrak sehingga biaya yang dikeluarkan bisa memberikan keuntungan. Penjadwalan proyek dengan Network (Jaringan Kerja) terdapat dua metode untuk menggambarkan activity network diagram yaitu: (Hendrickson, C., & Tung, A. 2008). Activity on Arrow (AOA), yang mana kegiatan digambarkan pada garis panah (arrow) dalam hal ini node merupakan suatu peristiwa (event).Activity on Node (AON), yang mana kegiatan digambarkan pada node dalam hal ini garis panah (arrow) merupakan hubungan logis antar kegiatan. Selain itu juga beberapa metode yang telah ditemukan oleh para ahli yaitu Bar Chart atau dikenal dengan Gantt Chart yang pertama kali digunakan oleh Hendri L. Gantt dan Analisis Jaringan Kerja atau Network Analysis, selain itu juga ada beberapa metode yang telah digunakan dalam perencanaan penjadwalan proyek yaitu Critical Path Method (CPM), Kurva S atau yang dikenal dengan Hannum Curve yang pertama kali digunakan oleh Warren T. Hannum seorang perwira Zeni Angkatan Darat Amerika Serikat. Dalam penjadwalan proyek juga dibutuhkan Struktur Kerja yang dikenal dengan WBS (Work Breakdown Structure) yang dapat diketahui ruang lingkup kerjanya (Project Scope). Lingkup kerja sebuah proyek pada umumnya sangat besar, tentunya tidak akan rampung dalam sehari. Besarnya ruang lingkup tersebut tentunya. Dari hasil analisa Network tersebut didapat bahwa terjadinya lintasan kritis (Critical Path Method) pada kegiatan : C – D – F – H – J – L dengan waktu 22 minggu bila dilihat dari hasil network dan lintasan kritis (Critical Path Method) tersebut didapat bahwa waktu terpanjang pekerjaan Pondasi dan Pekerjaan beton bertulang selama 6 minggu dan 3 minggu. Dari hasil analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa metode yang dipakai semuanya cocok untuk dilaksanakan hanya saja yang paling sering digunakan pada proyek – proyek konstruksi di Indonesia masih menggunakan metode Bar Chart dan S. Curve. Untuk metode lainnya hanya sebagai pembanding untuk membantu penjadwalan saja, bukan untuk pengambilan keputusan. Dikarenakan kelebihan dari S Curve dapat digabungkan dengan bar chart sehingga pengendalian proyek dapat dikontrol memalui S Curve. Hasil analisa perencanaan jadwal pekerjaan hasil akhirnya menggunakan Network menghasilkan waktu 22 minggu sama sepertinya halnya bila menggunakan Barchart. Hanya saja metode Network dapat menampilkan area Jalur Kritis (Critical Path Method). Sedangkan pada Work Breakdown Structure (WBS) hanya memperjelaskan ketergantungan antar organsasi dari organisasi yang paling atas sampai yang paling bawah.