p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Medika Hutama
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN PADA MASA PANDEMIC COVID-19 Nova Riani
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 03 April (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini, dunia telah digemparkan dengan adanya penyebaran virus yakni Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Virus ini cukup meresahkan masyarakat karena sangat mematikan dan tidak sedikit orang yang telah terpapar virus. COVID-19 pada awalnya terjadi di Wuhan dan diidentifikasi sebagai pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui. Virus ini diidentifikasi dari sampel tenggorokan pada satu pasien oleh Chinese Center For Disease Control And Prevention (CDC) dan kemudian dinamai sebagai “2019 Novel Corona Virus (2019NCOV) oleh World Health Organization (WHO). Setelah peningkatan jumlah kasus yang semakin tinggi, WHO mengumumkan COVID-19 sebagai penyakit endemic disebabkan oleh SARS-CoV-2 dan kemudian pada akhirnya WHO mengumumkan Kembali COVID-19 sebagai pandemi (Ge et al., 2020). Menghadapi situasi kritis ini, petugas kesehatan di garis terdepan yang terlibat langsung dalam diagnosis, pengobatan, dan perawatan pasien COVID-19 berisiko terhadap stres psikologis dan gejala kesehatan mental lainnya. Meningkatnya jumlah kasus yang dikonfirmasi, beban kerja yang berat, peralatan perlindungan diri yang menipis, meluasnya liputan media, kurangnya obatobatan tertentu, dan perasaan tidak didukung merupakan faktor-faktor yang berkontribusi pada kesehatan mental petugas kesehatan (Lai et al., 2020). Mahasiswa keperawatan merupakan salah satu calon tenaga Kesehatan seringkali menghadapi tantangan dalam berbagai kondisi dan situasi. Mahasiswa secara subjektif mengevaluasi persyaratan. Beberapa mahasiswa menilai persyaratan sebagai tantangan, yang lain sebagai masalah yang dapat menyebabkan konflik. Perubahan situasi yang dialami seseorang dapat menimbulkan perasaan cemas, takut, khawatir, dan cemas terkait dengan masalah internal dan eksternal yang dikenal dengan istilah kecemasan. dan tidak semua mahasiswa termotivasi untuk terlibat dalam praktik klinis. Ini biasanya merupakan stresor lain bagi mahasiswa. Mahasiswa keperawatan sering mengalami kecemasan selama pendidikan keperawatan, termasuk praktik klinis. Kecemasan yang parah selama praktik klinis dapat mencegah siswa melakukan intervensi dengan pasien dan bahkan membahayakan mereka. Praktik klinik di rumah sakit dapat menjadi sumber kecemasan yang besar bagi mahasiswa, terutama ketika melakukannya untuk pertama kalinya, karena ini adalah intervensi langsung pertama mahasiswa dengan klien (Sugiharno et al., 2022). Mahasiswa menjadi cemas karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman, serta takut melakukan kesalahan dalam praktik keperawatan karena preceptor membuat mahasiswa bertanggung jawab terhadap pasiennya. Beberapa mahasiswa merasa tidak aman tentang perilaku perawatan mereka, karena mereka tidak mendapatkan dukungan dari preceptor/staf perawat untuk memperoleh keterampilan baru. Hal lain yang mereka rasakan selama pembelajaran klinis adalah jantung berdebar kencang (Trybahari et al., 2019) Studi sebelumnya oleh Buhari (2020) menemukan banyak mahasiswa mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah nyata dalam praktik klinis. Penyebab masalah dalam praktik klinis sangat bervariasi, antara lain karena mahasiswa baru pertama kali praktik klinis, memiliki pemahaman tugas yang terbatas, lingkungan baru, dan pengalaman langsung berinteraksi dengan pasien. Keberhasilan praktik klinik dipengaruhi oleh kesiapan pengetahuan, mental, emosional dan adanya lingkungan belajar yang kondusif Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan dari jenis kelamin (p =0,001), tingkat pengetahuan (p=0,00), dan ketersediaan APD (0,00) terhadap kecemasan mahasiswa prodi DIII keperawatan selama masa pandemi COVID-19. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami kecemasan akibat pandemi COVID-19 yang juga disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah meningkatnya kecemasan pada mahasiswa perawat perempuan, ketersediaan APD yang kurang memadai, ketakutan penularan pada anggota keluarga lainnya, dan pengetahuan mahasiswa.
DAMPAK PENDEMI COVID-19 TERHADAP KESEHATAN MENTAL MASYARAKAT Nova Riani
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari kota Wuhan, China menjelang akhir tahun 2019 dimana penyebarannya terjadi dengan cepat dan menimbulkan bahaya pandemi lainnya ( Masyah, 2020). WHO menganggap virus corona sudah diatur sebagai pandemi. Secara internasional pada 11 November 2020, jumlah 50.810.763 kasus yang dikonfirmasi dicatat dengan 1.263.844 kematian diumumkan (CFR 2,48%). Coronavirus pada dasarnya telah mengubah perilaku sosial individu hanya dalam hitungan bulan. Stigma tentang virus corona mulai muncul. Mulai dari pemecatan hingga mengkorbankan individu yang terjangkit virus corona, seperti pekerja kesehatan, pasien, anggota keluarga pasien, bahkan jenazah orang yang terjangkit virus corona (Ridlo, 2020) Pada tanggal 02 Maret 2020 Indonesia mengkonfirmasi kasus pertama virus corona dengan 2 kasus awal. Menjelang akhir Maret 2020, tim Coronavirus memberikan aturan untuk media reaksi cepat dan perspektif kesejahteraan umum yang diidentifikasi dengan penularan Coronavirus di Indonesia ( Masyah, 2020). Ditemukannya masyarakat Indonesia yang terkonfirmasi Covid-19 yang dapat menyebabkan kesehatan mental pada masyarakat. Gangguan kesehatan mental yang paling banyak dikenal adalah kecemasan dan depresi. Pada batasnya, individu dengan masalah yang berat kemungkinan besar tidak dapat bangun atau merawat dirinya sendiri secara aktual dan individu dengan masalah kegelisahan tertentu kemungkinan besar tidak akan dapat keluar dari rumah atau mungkin memiliki kebiasaan kebiasaan untuk membantu meringankan rasa takut. Dampak pandemi virus corona terhadap kesehatan mental. Menurut WHO (2020) munculnya pandemi menyebabkan stress pada masyarakat. Meskipun sejauh ini belum ada survei yang disengaja tentang efek virus corona terhadap kesejahteraan psikologis, berbagai penyelidikan yang diidentifikasi dengan pandemic justru memengaruhi kesehatan emosional penderitanya (Puji Asmaul Chusna etall, 2020). Masyarakat menjadi semakin p anik d an takut karena pasien yang terjangkit terus bertambah dan menyebar ke luar dari China termasuk Indonesia. Terdapat kurang lebih 200 negara yang telah terjangkit virus ini. Negara dengan kasus konfirmasi terbanyak yaitu Amerika Serikat dengan kurang lebih 186.046 kasus, lalu Italia dengan 105.792 kasus, dan Spanyol dengan 95.923 kasus pada tahun 2020. Kehadiran wabah atau virus ini memberikan dampak atau pengaruh pada masyarakat Indonesia, bukan hanya dampak yang terjadi pa da k esehatan fisik, akan tetapi kondisi psikologis setiap invidu dan masyarakat ikut terpengaruh juga. Brook dkk (2020) mengungkapkan bahwa ada beberapa dampak psikologi ketika pandemi terjadi yang dirasakan oleh masyarakat seperti gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder), kegelisahan, kebingungan, ketakutan akan afaksi, frustasi, insomania, dan merasa diri tidak berdaya. Adapun kondisi paling parah pada seseorang adalah munculnya kasus xenofobial, bahkan kasus bunuh diri sering kali terjadi karena sebagian orang takut terinfeksi oleh virus yang dianggap paling mematikan itu. Berdasarkan analisis dan kajian yang telah dilakukan penulis, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa COVID-19 membawa pengaruh terhadap kesehatan mental masyarakat di wilayah pondok ranggon.
STUDI LITERATUR: TERAPI KEPERAWATAN TERHADAP KOPING KELUARGA PASIEN GANGGUAN JIWA Nova Riani
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia/ Gangguan jiwa adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menimbulkan pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang aneh dan terganggu yang memiliki gejala-gejala positif, seperti waham, halusinasi, disorganisasi pikiran dan bicara, serta perilaku tidak teratur dan gejala-gejala negatif, seperti afek datar, tidak memiliki kemauan, dan menarik diri dari masyarakat atau rasa ketidaknyamanan (Retnowati, 2012). Permasalahan yang terjadi pada pasien skizofrenia tidak hanya melibatkan pasien itu sendiri tetapi juga melibatkan keluarga sebagai orang terdekat dari pasien tersebut. Keluarga mempunyai beban tersendiri saat merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Terapi keperawatan diberikan kepala keluarga agar koping keluarga lebih efektif dalam menghadapi situasi yang ditimbulkan selama perawatan pasien skizofrenia. Penelitian ini menggunakan studi literatur, artikel diperoleh dari 1 data base yaitu Google Scholar dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Tema artikel yang digunakan yaitu terapi keperawatan terkait dengan koping keluarga pasien skizofrenia Literature ini bertujuan untuk mengetahui terapi keperawatan yang dapat digunakan pada keluarga agar koping keluarga lebih efektif. Hasil dari studi literatur didaptkan bahwa yang mampu mengatasi masalah koping keluarga pada pasien dengan gangguan jiwa/ skhizofernia yaitu terapi keperawatan spesialis namun dilakukan penelitian lebih lanjut tentang terapi keperawatan komplementer pada keluarga dengan masalah koping keluarga khususnya pada klien dengan gangguan jiwa/ skizofernia.