Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

STRATEGI PENDIDIKAN NILAI DI SEKOLAH, STUDI KASUS GENERASI MILENIAL Muhamad Khosi'in; Mukh. Nursikin
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 4, No 4 (2023)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v4i4.120

Abstract

Strategi pendidikan pada hakikatnya adalah pengetahuan atau seni mendayagunakan semua faktor untuk mengamankan sasaran kependidikan yang hendak dicapai melalui perencanaan dan pengarahan dalam operasionalisasi.Pendidikan nilai adalah suatu pendidikan yang memberikan pengajaran tentang nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral dan etika kepada individu untuk membentuk karakter dan perilaku yang baik. Menurut Arifin Junaidi, pendidikan nilai adalah proses membentuk sikap dan tindakan manusia yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.Sedangkan menurut Nurcholish Madjid, pendidikan nilai adalah suatu upaya untuk mengembangkan akhlak atau moralitas yang baik pada individu, sehingga dapat membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur dan memiliki integritas yang tinggi.Dalam kehidupan masyarakat dewasa ini terdapat fenomena menarik yaitu maraknya budaya global (global culture) dan gaya hidup (life style) pop culture. Fenomena ini terjadi sebagai dampak dari arus globalisasi yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Salah satu fenomena penting proses globalisasi telah melahirkan generasi gadget, sebuah istilah yang digunakan untuk menandai munculnya generasi milenial.Ali dan Purwandi menyebutkan bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981 sampai dengan tahun 2000.Sementara para peneliti sosial dalam negeri (Indonesia) lainnya menggunakan tahun lahir mulai 1980-an sampai dengan tahun 2000- an untuk menentukan generasi milenial.
Penanaman Karakter Religius melalui Metode Pembiasaan pada Siswa SDIT Nurul Islam Tengaran Wasito Wasito; Mukh. Nursikin
ISLAMIKA Vol 5 No 4 (2023): OKTOBER
Publisher : Pendidikan Agama Islam STIT Palapa Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36088/islamika.v5i4.3694

Abstract

This study aims to analyze the cultivation of religious character through the habituation method to SDIT Nurul Islam Tengaran students. This type of research is descriptive qualitative. The research subjects consisted of students from SDIT Nurul Islam Tengaran. Data collection through interviews, observation and documentation. Data analysis techniques through data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the study show that the cultivation of religious character education at SDIT Nurul Islam Tengaran through the habituation method is reflected in the culture and activities as follows: shaking hands with the teacher in the morning, entering class by saying greetings, praying pre and post lessons, morning tahfid or memorizing al-Qur'an Juz 30-29-28, sunnah dhuha prayers, recite the Koran, perform midday prayers in congregation followed by mentoring and specifically on Fridays there is a BPI (Islamic Personal Development) program.
STRATEGI DAN PENDEKATAN PENDIDIKAN NILAI DAN KARAKTER DALAM MEWUJUDKAN PESERTA DIDIK YANG BERAKHLAKUL KARIMAH DI MADRASAH TSANAWIYAH DAARUL HUSNA KABUPATEN KUDUS Dinda Meilasari An Nisa; Laeli Zzakiyah; Mukh. Nursikin
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 4 (2023): Volume 6 No 4 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i4.21355

Abstract

Karakter dan semangat negara Indonesia mungkin akan hancur oleh derasnya arus globalisasi dan pengaruh budaya barat yang masuk melalui berbagai media antara lain televisi, film, dan media sosial. Cita-cita hidup yang sebelumnya dilindungi melemah dan akhirnya sirna. Untuk membantu berkembangnya generasi yang kuat dalam ilmu pengetahuan, akhlak, dan budi pekerti, seorang pendidik harus berjibaku dan bekerjasama antar para pendidik dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif, dan metode deskripstif dalam penyampaian data. Adapun pengumpulan data menggunakan cara observasi lapangan, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dan pendekatan yang dilakukan oleh guru MTS Daarul Husna kurang maksimal karena beberapa kendala salahsatunya adalah fasilitas. Akan tetapi hal tersebut tak memutuskan semangata para guru untuk tetap mengajar dengan setulus hati agar peserta didik dapat tumbuh dan berkembang dengan bekal akhlakul karimah.
Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan Islam dalam Pemikiran Buya Hamka dan Mahmud Yunus: Studi Komparatif dan Relevansinya bagi Pendidikan Kontemporer Ika Ayu Rohmiyanti; Mukh. Nursikin
Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/kognisi.v3i2.362

Abstract

Artikel ini menganalisis dan membandingkan konstruksi kurikulum pendidikan Islam dalam pemikiran Buya Hamka dan Mahmud Yunus serta menilai relevansinya bagi pendidikan Islam kontemporer. Naskah awal yang cenderung deskriptif-biografis direkonstruksi menjadi kajian komparatif berbasis telaah pustaka integratif. Sumber primer berupa karya-karya utama kedua tokoh yang membahas pendidikan, akhlak, pengajaran, dan lingkungan pendidikan, sedangkan sumber sekunder terdiri atas artikel ilmiah yang dapat diakses secara daring mengenai pemikiran Hamka, Mahmud Yunus, integrasi kurikulum, pendidikan karakter, dan reformasi pendidikan Islam. Analisis dilakukan melalui identifikasi unit gagasan, kategorisasi tema, perbandingan antarkategori, serta sintesis kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Hamka dan Mahmud Yunus sama-sama menolak reduksi pendidikan Islam menjadi transmisi pengetahuan agama semata. Keduanya menempatkan akhlak, kebermanfaatan sosial, keseimbangan dunia-akhirat, peran keteladanan pendidik, dan keterhubungan keluarga-sekolah-masyarakat sebagai unsur penting pendidikan. Perbedaannya terletak pada tekanan konseptual: Hamka lebih kuat pada pembentukan pribadi, kemerdekaan berpikir, adab, perkembangan potensi, dan relasi pendidikan dengan kebudayaan; sedangkan Mahmud Yunus lebih sistematis dalam merumuskan tujuan, struktur isi, metode, jenjang, pengajaran bahasa Arab, integrasi ilmu agama dan umum, serta pembaruan kelembagaan. Sintesis keduanya menghasilkan kerangka kurikulum Islam integratif-humanistik yang mencakup orientasi teologis-etis, integrasi pengetahuan, pedagogi aktif dan bertahap, pembentukan karakter, relevansi sosial, serta ekologi pendidikan kolaboratif. Temuan ini menegaskan bahwa pemikiran kedua tokoh tetap produktif sebagai sumber konseptual untuk merancang kurikulum yang religius, adaptif, tidak dikotomis, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik.
Strategi Pendidikan Nilai Berbasis Digital dalam Pembelajaran PAI untuk Penguatan Karakter Religius Peserta Didik Muhammad Nur Wafa Lutfi; Mukh. Nursikin
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 6 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i6.987

Abstract

Transformasi digital mengubah ruang tempat peserta didik memperoleh informasi, berinteraksi, dan mengambil keputusan moral. Artikel ini bertujuan merumuskan strategi pendidikan nilai dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghubungkan tujuan akhlak dengan praktik kewargaan digital. Penelitian menggunakan tinjauan literatur integratif dan analisis tematik terhadap artikel ilmiah tentang pendidikan karakter, nilai dan PAI, literasi digital, serta pedagogi teknologi. Sintesis menghasilkan kerangka INTEGRASI yang mencakup identifikasi konteks peserta didik, penetapan nilai, pemilihan teknologi, eksplorasi dilema, pendampingan guru, refleksi, aksi berulang, sinergi sekolah dan keluarga, serta indikator perilaku. Temuan konseptual utama ialah bahwa paparan konten religius tidak identik dengan internalisasi nilai; peserta didik perlu berlatih membuat keputusan, menerima umpan balik, dan menerapkan nilai dalam situasi digital yang autentik. Artikel ini menawarkan contoh kegiatan dan indikator penilaian kejujuran, tabayyun, kesantunan, tanggung jawab, dan kepedulian, sekaligus menjelaskan syarat penerapan berupa kesiapan guru, kesetaraan akses, perlindungan data, serta keselarasan kebijakan sekolah. Kerangka tersebut belum diuji secara empiris sehingga efektivitasnya masih perlu dinilai melalui studi implementasi dan pengukuran perilaku lintas waktu.
Teori Belajar Humanistik Carl Rogers dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang Inklusif dan Dialogis Nur Itsnaini; Mukh. Nursikin
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 6 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i6.1034

Abstract

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memerlukan ruang untuk memahami ajaran sekaligus menguji pertanyaan peserta didik secara bertanggung jawab. Artikel ini mengembangkan kerangka konseptual untuk menerapkan pendekatan berpusat pada pribadi Carl Rogers dalam pembelajaran PAI yang inklusif dan dialogis. Metodenya adalah tinjauan pustaka integratif terhadap artikel tentang relasi pendidik–peserta didik, dukungan otonomi, dialog kelas, pedagogi inklusif, asesmen formatif, dan pendidikan Islam. Sintesis tematik menghasilkan tiga prinsip relasional: keaslian guru, penerimaan terhadap martabat peserta didik, dan pemahaman empatik. Prinsip tersebut diterjemahkan menjadi praktik mendengar pertanyaan tanpa mempermalukan, memandu dialog berbasis sumber keagamaan, memberi penyangga belajar yang berbeda sesuai kebutuhan, dan menggunakan umpan balik formatif. Artikel ini menegaskan bahwa penerimaan terhadap pribadi peserta didik tidak berarti menganggap semua argumen keagamaan sama kuat; guru tetap bertanggung jawab atas ketepatan materi dan etika diskusi. Kerangka ini merupakan proposisi pedagogis yang memerlukan pengujian empiris dalam konteks sekolah dan jenjang yang berbeda.