Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Efistemologi Komunikasi dalam Al-Qur’an A Badru Rifa’i
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 2 No 3 (2021): Jurnal Syntax Imperatif : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : Rifa'Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-imperatif.v2i3.87

Abstract

Banyaknya teori-teori yang ditemukan oleh tokoh-tokoh ilmu komunikasi itu senantiasa bermunculan dan beragam yang sepertinya juga membingungkan, karena teori-teori yang mereka temukan adalah berdasarkan pengalaman, pengamatan subjektif dan terutama realitas social yang senantiasa berubah dan banyak factor yang mempengaruhinya, misalnya permasalahan ekonomi, era globalisasi dan informasi, dan oleh pesatnya teknologi. Dalam penelitian ini, peneliti mengguanakn metode studi pustaka (library research) terhadap lafadz-lafadz qaulan yang ada dalam Alquran. Lafadz-lafadz tersebut dianalisa dengan berbagai sumber kitab tafsir dan sumber pustaka lainnya. Hasil pembahasan yang terdapat dihasilkan dari penelitian ini Pertama, Dua lafazh qawlan pada periode pertama (ayat-ayat makiyyah) merupakan gambaran dimana kita berada pada posisi syarat sosial di bawah. Kedua, Ketika melihat konteks pewahyuaan dari ayat-ayat yang mengandung qawlan maka dapat di ambil makna sebagai berikut: (1) Ayat pertama Qawlan layyinan ini termasuk tahapan pertama diantara prinsip-prinsip yang terdapat pada ayat lain. (2) Ayat kedua qawlan kariiman : perkataan yang mulia perkataan yang baik dan sopan, (3) Ayat ketiga qawlan maysuran: ucapan yang pantas yakni ucapan yang lemah lembut. (4) Ayat keempat qawlan marufan mengandung makna tepat janji dan menggunakan metode yang baik, karena dengan metode yang baik akan menghasilkan suatu kebaikan. (5) Ayat kelima Ayat ini mengindikasikan komunikasi Sentuhan pendidikan, diharapkan bisa menjadikan bekal dan pelajaran hidup bagi komunikan.
PENGGUNAAN NASH DAN TUNTUTAN MASHLAHAH A Badru Rifa'i
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.953 KB)

Abstract

Islam sebagai agama samawi merupakan agama dengan tingkat universal yang tinggi. Dalam pelaksanaannya, Islam memberikan kemaslahatan dari segala lini pada setiap pengikutnya. Hal serupa juga diterapkan pada hukum Islam, atau dalam hal ini disebut nash. Nash dalam Islam erat kaitannya dengan hukum mutlak yang harus ditaati oleh setiap umatnya. Dalam penerapannya, nash kadang kala dianggap sebagai hukum yang tidak adil. Namun dalam sudut pandangan lain, nash kerap kali menunjukan arah positif terhadap kemaslahatan umat. Penelitian ini akan membahas tentang pola pandang nash terhadap kemaslahatan umat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan studi kasus mengenai beberapa perkara yang membutuhkan nash sebagai dasar hukum atas perkara tersebut. Adapun perkara yang dijadikan studi kasus dalam penelitian ini adalah aborsi, penggunaan plasenta binatang untuk kosmetik, serta pembakaran mayat. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa pembakaran mayat menurut nash dan pertimbangan lain dinyatakan haram kecuali tidak ada pilihan lain, penggunaan plasenta binatang untuk kosmetik dinyatakan halal dan haram, tergantung dari jenis apa hewan yang digunakan, apakah halal atau haram. Adapun kasus aborsi disini memiliki dua hukum yang berbeda, halal apabila dalam konteks medis, sedang haram apabila konteks kasus perkosaan atau tindak negatif lainnya. Kata Kunci: Nash dan Tuntutan Maslahah
Analisis Semiotika Nilai-Nilai Moral Agama pada Film Tarung Sarung sekar kinanti; A. Badru Rifa'i
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 1 No. 01 (2022): JISSC-DIKSI Februari 2022
Publisher : Prodi KPI STAI Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.105 KB) | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v1i01.61

Abstract

Film merupakan media alternatif dakwah dalam mengantarkan nilai- nilai ajaran Islam kepada khalayak masyarakat. Film juga berperan sebagai kontrol sosial apabila di dalamnya tercantum muatan data (edukatif ataupun persuasive). Seperti halnya halnya film Tarung Sarung di dalamnya memiliki nilai- nilai moral keagamaan melalui simbol- simbol adegan, bahasa, prilaku serta perilaku pada film tersebut spesialnya buat golongan anak muda. Riset ini bertujuan buat mengenali nilai- nilai moral keagamaan di kalangan remaja yang tercantum dalam film Tarung Sarung serta membagikan data supaya tetap mengambil nilai- nilai kebaikan dalam sesuatu tontonan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif (deskripsi kualitatif), sebab dengan tata cara ini bisa menggambarkan sesuatu kondisi secara apa terdapatnya. Dalam analisisnya menggunakan teori semiotika Ferdinad de Saussure. Setiap ciri kebahasaan pada dasarnya melaporkan suatu konsep serta sesuatu citra suara yang terkandung dalam film Tarung Sarung. Penelitian film Tarung Sarung merupakan film yang mengangkat isu budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai moral agama tentang pergaulan khususnya di kalangan remaja yaitu menjauhi kekerasan dan bersikap baik terhadap sesama, dilarang berlebihan terhadap sesuatu, larangan menyekutukan Allah SWT, doharuskan hormat kepada yang lebih tua, bersikap terhadap lawan jenis, dilarang sombong atau takabur, dan sebagai muslim harus kuat dan bersungguh-sungguh. The film is an alternative medium of da'wah in delivering the values ​​of Islamic teachings to the public. The film also acts as a social control if it contains data content (educative or persuasive). Like the film "Tarung Sarung", it has religious moral values ​​through scene symbols, language, behavior, and behavior in the film, especially for young people. This research aims to identify religious moral values ​​among teenagers listed in the film "Tarung Sarung" and share data so that they continue to take the values ​​of goodness in a spectacle. The research method uses a qualitative method with a descriptive approach (qualitative description) because this method can describe a condition as it is. In his analysis using the semiotic theory of Ferdinand de Saussure. Each linguistic feature basically reports a concept and a sound image contained in the film Tarung Sarung. The Film research Tarung Sarung is a film that raises local cultural issues that are full of religious moral values ​​about relationships, especially among teenagers, namely avoiding violence and being kind to others, prohibited from being excessive towards something, prohibiting associating partners with Allah SWT, respecting elders. , behave towards the opposite sex, it is forbidden to be arrogant or arrogant, and as a Muslim you must be strong and serious.
Analisis Semiotika Nilai-Nilai Moral Agama pada Film Tarung Sarung sekar kinanti; A. Badru Rifa'i
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 1 No. 01 (2022): JISSC-DIKSI Februari 2022
Publisher : Prodi KPI IAI Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.105 KB) | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v1i01.61

Abstract

Film merupakan media alternatif dakwah dalam mengantarkan nilai- nilai ajaran Islam kepada khalayak masyarakat. Film juga berperan sebagai kontrol sosial apabila di dalamnya tercantum muatan data (edukatif ataupun persuasive). Seperti halnya halnya film Tarung Sarung di dalamnya memiliki nilai- nilai moral keagamaan melalui simbol- simbol adegan, bahasa, prilaku serta perilaku pada film tersebut spesialnya buat golongan anak muda. Riset ini bertujuan buat mengenali nilai- nilai moral keagamaan di kalangan remaja yang tercantum dalam film Tarung Sarung serta membagikan data supaya tetap mengambil nilai- nilai kebaikan dalam sesuatu tontonan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif (deskripsi kualitatif), sebab dengan tata cara ini bisa menggambarkan sesuatu kondisi secara apa terdapatnya. Dalam analisisnya menggunakan teori semiotika Ferdinad de Saussure. Setiap ciri kebahasaan pada dasarnya melaporkan suatu konsep serta sesuatu citra suara yang terkandung dalam film Tarung Sarung. Penelitian film Tarung Sarung merupakan film yang mengangkat isu budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai moral agama tentang pergaulan khususnya di kalangan remaja yaitu menjauhi kekerasan dan bersikap baik terhadap sesama, dilarang berlebihan terhadap sesuatu, larangan menyekutukan Allah SWT, doharuskan hormat kepada yang lebih tua, bersikap terhadap lawan jenis, dilarang sombong atau takabur, dan sebagai muslim harus kuat dan bersungguh-sungguh. The film is an alternative medium of da'wah in delivering the values ​​of Islamic teachings to the public. The film also acts as a social control if it contains data content (educative or persuasive). Like the film "Tarung Sarung", it has religious moral values ​​through scene symbols, language, behavior, and behavior in the film, especially for young people. This research aims to identify religious moral values ​​among teenagers listed in the film "Tarung Sarung" and share data so that they continue to take the values ​​of goodness in a spectacle. The research method uses a qualitative method with a descriptive approach (qualitative description) because this method can describe a condition as it is. In his analysis using the semiotic theory of Ferdinand de Saussure. Each linguistic feature basically reports a concept and a sound image contained in the film Tarung Sarung. The Film research Tarung Sarung is a film that raises local cultural issues that are full of religious moral values ​​about relationships, especially among teenagers, namely avoiding violence and being kind to others, prohibited from being excessive towards something, prohibiting associating partners with Allah SWT, respecting elders. , behave towards the opposite sex, it is forbidden to be arrogant or arrogant, and as a Muslim you must be strong and serious.
Rambu-Rambu Komunikasi dalam Islam Badru Rifa'i
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 2 No. 01 (2023): JISSC-DIKSI Februari 2023
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v2i01.178

Abstract

Komunikasi Islam, yang merupakan seperangkat aturan dan prinsip yang diterapkan dalam berkomunikasi dalam Islam. Rambu-rambu ini didasarkan pada nilai-nilai kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang. Berkomunikasi dengan jelas dan jujur, sopan santun, dan memperhatikan pendapat orang lain adalah penting dalam komunikasi Islam. Menghormati perbedaan pendapat dan menghindari fitnah dan spekulasi juga penting dalam komunikasi Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang memfokuskan pada interpretasi dan analisis data dan studi literatur (library research) dengan menganalisis sumber-sumber seperti kitab-kitab klasik Islam, buku-buku teks, jurnal-jurnal ilmiah, dan artikel-artikel yang berkaitan dengan rambu-rambu komunikasi Islam. Hasil dan pembahasan tentang rambu-rambu komunikasi Islam memiliki pengaruh positif pada kualitas hubungan interpersonal dan komunikasi. Penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan rambu-rambu komunikasi Islam dalam praktik sehari-hari dapat membantu memecahkan masalah-masalah dan membangun kerjasama yang lebih baik antar individu dan masyarakat. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa implementasi rambu-rambu komunikasi Islam memiliki peran penting dalam membangun hubungan baik dan dapat membantu memecahkan masalah dan membangun komunikasi yang efektif dan berkualitas yaitu berkomunikasi dengan jelas dan jujur, berkomunikasi dengan sopan santun, mendengarkan dengan baik, menghormati perbedaan pendapat, menghindari fitnah dan spekulasi, berdakwah dengan lemah lembut, dan menjaga hubungan dengan orang lain.
Realitas Media dan Konstruksi Sosial Media Rifa'i, Badru
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 3 No. 01 (2024): JISSC-DIKSI Februari
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v3i01.259

Abstract

Media massa sebagai jendela realitas, tampaknya harus ditinjau dari perspektif lebih kritis. Ungkapan pesimistis atas realitas media ini bukan wacana baru dalam kajian ilmu komunikasi massa. Media kerapkali mengkonstruksi realitas sesuai dengan citra yang ingin dibangunnya. Tulisan ini mengkaji realitas media dan konstruksi sosial media. Dalam hal realitas media menyoroti peran-peran yang seharusnya dilakukan media massa beserta seluruh komponen yang ada di dalamnya. Teori yang digunakan untuk menggambarkan realitas dan konstruksi sosial media ini adalah teori fakta sosial, teori definisi sosial, dan teori konstruksi sosial. Teori fakta sosial melihat realitas sebagai sesuatu yang eksternal, objektif dan ada. Sedangkan teori konstruksi sosial berpandangan bahwa realitas memiliki dimensi subjektif dan objektif. Manusia merupakan instrumen dalam menciptakan realitas yang objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana ia memengaruhinya melalui proses internalisasi yang mencerminkan realitas yang subjektif. Perbedaan perspektif teori diatas telah melahirkan pembenaran bahwa berita adalah tafsir media terhadap realitas. Sedangkan pada perspektif lain, wartawan tidak boleh menambahkan opini pribadinya pada fakta yang diberitakan
Komodifikasi Agama dalam Wedding Organizer Syariah: Analisis Dinamika Budaya dan Ekonomi Rifa'i, A. Badru; Mukarom, Zaenal; Muhtadi, Asep Saeful
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v6i1.673

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena komodifikasi agama dalam industri wedding organizer (WO) berbasis syariah di Kota Bandung sebagai bentuk pertemuan antara nilai religius dan kepentingan pasar. Dengan pendekatan kualitatif dan studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana simbol-simbol keagamaan diadaptasi dan dipasarkan dalam layanan pernikahan untuk memenuhi kebutuhan konsumen Muslim urban. Hasil observasi dan dokumentasi menunjukkan bahwa WO syariah memadukan nilai spiritualitas dengan estetika modern untuk menciptakan pengalaman pernikahan yang dianggap Islami namun tetap menarik secara komersial. Fenomena ini memunculkan ambiguitas antara esensi sakral dan tujuan bisnis, sekaligus memperlihatkan peran media dan pemasaran dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap pernikahan Islami. Studi ini memberikan kontribusi pada wacana ekonomi-budaya dengan menyoroti dinamika antara agama, pasar, dan identitas dalam konteks modern, serta memberikan masukan praktis bagi pelaku industri dan pembuat kebijakan untuk menjaga keseimbangan antara komersialisasi dan integritas nilai-nilai religius.