Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Film: Memperlicin Jalan Dakwah Muhtadi, Asep Saeful
Prophetica Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film can be catogerized as one of the many communications media because its function to deliver a message. Furthermore, of course film can be one of the most important media in dakwah activities. As a engineered audio-visual media, film can be a potential media to transform religious messages. Therefore, it is undoubtedly that the presence of film not only as solely entertainment, but also can be full of values message, in this case, dakwah Islam.
Strategi komunikasi terapeutik dalam pengobatan korban kekerasan seksual Encep Dulwahab; Yeni Huriyani; Asep Saeful Muhtadi
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 8, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.067 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v8i1.21878

Abstract

Tindak kekerasan seksual setiap tahunnya mengalami peningkatan, baik daerah perkotaan maupun pedesaan, menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Berbagai strategi dilakukan dalam mengatasi kekerasan seksual pada korban agar bisa segera pulih. Strategi yang dipakai di antaranya mempraktikkan komunikasi terapeutik para relawan dan pendamping dalam melakukan rehabilitasi para para korban kekerasan seksual. Dengan menggunakan metode studi kasus, teknik pengumpulan data wawancara mendalam dan observasi, penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu tentang strategi komunikasi terapeutik yang dilakukan tim relawan dalam pengobatan korban kekerasan seksual. Penelitian ini menghasilkan beberapa catatan penting mengenai strategi komunikasi terapeutik yang dilakukan tim relawan dan pendamping, yaitu melakukan komunikasi terapeutik secara bertahap kepada korban, dan setiap tahapannya memiliki tindakan-tindakan yang berbeda, namun tetap berkesinambungan antara tindakan yang satu dengan tindakan yang lainnya. Tahap pertama disebut sebagai tahap prapendampingan dengan melakukan penggalian informasi sebanyak-banyakya mengenai kondisi korban. Penggaliannya dilakukan kepada keluarga dan pihak-pihak yang bisa memberikan informasi akurat, dan setelah terkumpul datanya dilakukan klasifikasi korban. Tahap kedua, yaitu pendampingan, yaitu melakukan pendekatan kepada para korban agar korban terbuka dan percaya pada tim relawan. Tim relawan melakukan cara yang persuasif dan empati pada korban. Tahap ketiga, yaitu pasca pendampingan. Pada tahap ini tim terus melakukan komunikasi sebagai bentuk pemantauan terhadap perkembangan para korban kekerasan seksual. Agar tidak terjadi lagi kekerasan seksual, sebaiknya dilakukan keterbukaan dan keberanian dalam berkomunikasi di lingkungan keluarga maupun lingkungan tempat tinggal, sehingga ada keberanian dari anak yang akan atau menjadi korban kekerasan seksual untuk mengungkapkan apa yang dialaminya.
Functions and Values of Ritual “Larung Sesaji Kelud” in the local Community of Mount Kelud Anam Miftakhul Huda; Atwar Bajari; Asep Saeful Muhtadi; Dadang Rahmat
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 10, No 2 (2017): (Accredited Sinta 3)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v10i2.2744

Abstract

Larung sesaji kelud is a customary ritual that has a crater of Mount Kelud. It is a traditional Javanese cultural ceremony. This ceremony is held every month Suro (Javanese calendar). This ritual is held in the Sugihwaras Village, Ngancar District, Kediri. This research uses qualitative method. Qualitative method is a research procedure that produces descriptive data in the form of written or oral data of the people observed. The data in this research are the result of interview with informant and act of perpetrator of ceremony. Larung sesaji means to reject the oath of Lembu Suro vaunted by Goddess Kilisuci. “Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung " besides this sacred ritual as a form of gratitude to the god as a ruler, and also to reverence to the ruler of Mount Kelud. Larung sesaji Kelud as cultural preservation has spiritual values, as well as tourism asset so it can improve the economy of the surrounding community.
Strategi rebranding hubungan masyarakat LAZISNU pada upaya pengentasan kemiskinan di Jawa Barat Hoerul Umam; Muhammad Yusuf Wibisono; Dadang Kahmad; Asep Saeful Muhtadi
PRofesi Humas Vol 6, No 2 (2022): PRofesi Humas Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 10/E/KPT/2019
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/prh.v6i2.35288

Abstract

Kemiskinan masih menjadi masalah di Indonesia. Sementara itu, pengelolaan zakat dapat menjadi kekuatan masyarakat untuk pengentasan kemiskinan di negeri berpenduduk mayoritas Islam ini. Di Indonesia sendiri memang sudah ada beberapa badan atau organisasi yang bertanggungjawab dalam mengumpulkan dan mengelola zakat salah satunya adalah lembaga zakat milik Nahdlatul Ulama. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implementasi program pengentasan kemiskinan di Jawa Barat melalui zakat yang dilakukan oleh lembaga filantropi Islam LAZISNU (Lembaga Zakat Infaq Sodaqoh Nahdlatul Ulama). Sumber data penelitian ini adalah tokoh-tokoh yang dianggap penting dari NU-Care LAZISNU Jawa Barat. Kepada mereka dan kantor mereka diadakan pengamatan, wawancara, dan pengumpulan dokumen sebagai langkah-langkah pengumpulan data. Data kemudian dianalisis dengan model interaktif dari Miles dan Huberman, yaitu dengan cara pereduksian, penyajian, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum lahirnya LAZISNU, filantropi NU (Nahdlatul Ulama) awalnya terpusat pada peran kiai dan pesantren sehingga tidak bisa dilepaskan dari praktik wakaf yang berasal dari keluarga kiai maupun bantuan dari masyarakat sekitar baik dalam bentuk zakat, infaq, maupun sedekah. Namun demikian, masyarakat belum terbiasa dengan perilaku filantropi tersebut dari segi kelembagaan. Masyarakat selama ini lebih percaya pada perorangan untuk menitipkan dermanya. Di sinilah perlunya upaya-upaya pengembangan program filantropi menjadi sebuah perilaku yang memasyarakat. Kajian ini memperlihatkan upaya-upaya tersebut di lingkungan Nahdlatul Ulama Jawa Barat dengan cara melakukan rebranding pada lembaga zakat, infaq, dan sedekahnya.
Strategi Indosat Mempertahankan Pelanggan melalui Customer Relationship Management novrianti hasri; Asep Saeful Muhtadi; Dono Darsono
Reputation: Jurnal Hubungan Masyarakat Vol 1 No 2 (2018): Humas: Jurnal Ilmu Hubungan Masyarakat
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/reputation.v1i2.302

Abstract

Customer Relationship Management suatu solusi yang menerapkan investasi teknologi informasi masa kini, perusahaan dapat memahami siapa pelanggan, apa yang mereka butuhkan, sehingga perusahaan dapat mempertahankan pelanggan yang setia. Tujuan penelitian menggambarkan mengenai Indosat Ooredoo menciptakan sebuah program/produk mendapatkan customer baru (new suscribre), cara Indosat Ooredoo memperluas hubungannya dalam jangka panjang dan jangka pendek, cara Indosat Ooredoo dalam mengukur cara kerja CRM sehingga terciptanya customer value. Konsep yang digunakan adalah konsep Customer Relationship Management dari Fandy Tjiptono. Landasan penelitian ini berpijak pada konsep customer relationship management yang mengacu kepada strategi dan pelanggan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif dan paradigma konstruktivistik, adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dan observasi partisipatif.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan: pertama, Indosat ooredoo menciptakan sebuah program/produk untuk mendapatkan customer baru (new subscriber) melalui identifikasi kebutuhan pelanggan, media informasi dan promosi, analisa kompetitor, pemantauan data komsumsi, dan evaluasi purnabeli. Kedua, Membangun hubungan dengan pelanggan dalam jangka panjang dan jangka pendek dengan pendekatan emosi pelanggan, kualitas pelayanan, kepuasaan pelanggan, loyalitas pelanggan, dan retensi pelanggan. Ketiga, Mengukur cara kerja CRM untuk terciptanya customer value dengan Komunikasi dan profiling pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan, dan mengembangkan potensi pelanggan dari database. Customer Relationship Management is a solution that applies information technology investments today, companies can understand who customers are, what they need, so that the company can maintain loyal customers. The research objective describes Indosat Ooredoo creating a program / product to get new customers (new customers), the way Indosat Ooredoo extends its relationship in the long term and short term, the way Indosat Ooredoo measures how CRM works to create customer value. The concept used is the concept of Customer Relationship Management from Fandy Tjiptono. The foundation of this research rests on the concept of customer relationship management which refers to strategies and customers. This research was conducted using a case study method with a qualitative approach and constructivist paradigm, while the data collection techniques carried out in this study were in-depth interviews and participatory observation. Based on the results of the study, the following conclusions were drawn: first, Indosat Ooredoo created a program / product to get new subscribers through identification of customer needs, media information and promotion, competitor analysis, monitoring consumer data, and post-sale evaluation. Second, building relationships with customers in the long and short term with the customer's emotional approach, service quality, customer satisfaction, customer loyalty, and customer retention. Third, Measure the way CRM works to create customer value by communicating and profiling customers, understanding customer needs, and developing potential customers from the database.
Radix of Prophetic Communicology: Ethical Perspective of the Qur'an Asep Saeful Muhtadi
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 3, No 1 (2021): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Communication ethics has a signal footing (cue) in the ethical concepts of the Qur'an. These cues show instructions on how to build smarter and more civilized communication ethics which are more popularly called "prophetic communication". This article tries to find the argumentative radix of prophetic communication ethics in the Islamic tradition, especially the Qur'an and the Sunnah of the prophet. Text analysis and historical context are used as approaches and methods in exploring cues related to prophetic communication from Islamic tradition sources. The results show that prophetic communication cues get a foothold in the tradition of Islamic texts that can improve communication theories that develop in the West which are more oriented towards communication humanism by denying ethical and moral values which are also the natural basis of humans (sunnatullah). Several ethical concepts, such as qaul with its various conditional attributes, are revealed as evidence of these ethical cues through an interpretive approach. Likewise, its history is revealed in various forms and roles, including the role and involvement of God as an element of communicators (communicators).Keywords: prophetic communication, Qur'an ethics, qaul, and sunnah (tradition) AbstrakEtika komunikasi memiliki pijakan signal (isyarat) dalam konsep-konsep etik Qur’an. Isyarat tersebut menunjukan adanya petunjuk bagaimana membangun etika komunikasi yang lebih smart dan beradab yang lebih populer disebut ”komunikasi profetik”. Artikel ini mencoba mencari akar argumentatif etika komunikasi profetik dalam tradisi Islam, terutama Qur’an dan Sunah nabi. Analisis teks dan konteks historis digunakan sebagai pendekatan dan metode dalam menggali isyarat-isyarat terkait komunikasi profetik dari sumber-sumber tradisi Islam. Hasilnya menunjukan bahwa isyarat komunikasi profetik mendapat pijakan dalam tradisi teks Islam yang dapat memperbaiki teori-teori komunikasi yang berkembang di Barat yang lebih berorientasi pada humanisme komunikasi dengan menafikan nilai-nilai etik dan moral yang juga menjadi landasan natural manusia (sunnatullah). Beberapa konsep etik, seperti qaul dengan ragam atribut kondisionalnya diungkap sebagai bukti isyarat-isyarat etik tersebut melalui pendekatan tafsir. Begitu juga historisnya diungkap dalam ragam bentuk dan peran, termasuk peran dan keterlibatan Tuhan sebagai elemen pelaku komunikasi (komunikator).Kata kunci: Komunikasi Profetik, etik qur’an, qaul, dan Sunnah (tradisi).
Radikalisme Agama, Tinjauan Sosial Politik Asep Saeful Muhtadi
Socio Politica : Jurnal Ilmiah Jurusan Sosiologi Vol 8, No 1 (2018): Jurnal Socio-Politica
Publisher : FISIP UIN SGD Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.027 KB) | DOI: 10.15575/socio-politica.v8i1.3486

Abstract

This article examines some phenomena of religious radicalism ended in violence and frequently caused massive physical and psychological victims. The phenomena of radicalism could be analyzed involving various variables, like social, political, economic, including cultural variables. The tragedy of Cikeusik was a kind of violence emerged from subjective religious interpretation, exclusivism, and external political situation. Outside those factors, the weak of the “state” in preventing conflicts and being a significant contributor.
Radix of Prophetic Communicology: Ethical Perspective of the Qur'an Muhtadi, Asep Saeful
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 3 No. 1 (2021): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Communication ethics has a signal footing (cue) in the ethical concepts of the Qur'an. These cues show instructions on how to build smarter and more civilized communication ethics which are more popularly called "prophetic communication". This article tries to find the argumentative radix of prophetic communication ethics in the Islamic tradition, especially the Qur'an and the Sunnah of the prophet. Text analysis and historical context are used as approaches and methods in exploring cues related to prophetic communication from Islamic tradition sources. The results show that prophetic communication cues get a foothold in the tradition of Islamic texts that can improve communication theories that develop in the West which are more oriented towards communication humanism by denying ethical and moral values which are also the natural basis of humans (sunnatullah). Several ethical concepts, such as qaul with its various conditional attributes, are revealed as evidence of these ethical cues through an interpretive approach. Likewise, its history is revealed in various forms and roles, including the role and involvement of God as an element of communicators (communicators). Keywords: Prophetic communication, quran ethics, qaul, Sunnah (tradition).   Abstrak Etika komunikasi memiliki pijakan signal (isyarat) dalam konsep-konsep etik Qur’an. Isyarat tersebut menunjukan adanya petunjuk bagaimana membangun etika komunikasi yang lebih smart dan beradab yang lebih populer disebut “komunikasi profetik”. Artikel ini mencoba mencari akar argumentatif etika komunikasi profetik dalam tradisi Islam, terutama Qur’an dan Sunah nabi. Analisis teks dan konteks historis digunakan sebagai pendekatan dan metode dalam menggali isyarat-isyarat terkait komunikasi profetik dari sumber-sumber tradisi Islam. Hasilnya menunjukan bahwa isyarat komunikasi profetik mendapat pijakan dalam tradisi teks Islam yang dapat memperbaiki teori-teori komunikasi yang berkembang di Barat yang lebih berorientasi pada humanisme komunikasi dengan menafikan nilai-nilai etik dan moral yang juga menjadi landasan natural manusia (sunnatullah). Beberapa konsep etik, seperti qaul dengan ragam atribut kondisionalnya diungkap sebagai bukti isyarat-isyarat etik tersebut melalui pendekatan tafsir. Begitu juga historisnya diungkap dalam ragam bentuk dan peran, termasuk peran dan keterlibatan Tuhan sebagai elemen pelaku komunikasi (komunikator). Kata kunci: Komunikasi Profetik, etik qur’an, qaul, Sunnah (tradisi).
Kiai dan Komunikasi Politik Praktis di Pondok Buntet Pesantren Cirebon Fikri, Syarhabil Ali; Muhtadi, Asep Saeful; Ma'arif, Bambang Saiful
Jurnal Perspektif Vol 8, No 2 (2024): Jurnal Perspektif: Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jp.v8i2.297

Abstract

Komunikasi politik memainkan peran penting di hampir semua kelompok masyarakat, termasuk pesantren. Sebagai pesantren protagonis, kiai memainkan peran sentral dalam komunikasi politik pesantren. Kharisma Kiai menjadi tokoh banyak politisi. Hal ini terjadi karena adanya simbiosis mutualisme yang mengarah kebudaya pragmatis antara dunia pesantren dengan kepentingan politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses persamaan pesan politik oleh kiai dalam politik praktis, khususnya yang terjadi di pondok pesantren Buntet Cirebon. Keefektifan Kiai sebagai komunikator politik di pesantren dapat diterjemahkan dalam proses mobilisasi santri oleh kiai untuk memasuki dunia politik. Menggambarkan reaksi masyarakat terhadap keterlibatannya dalam politik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus instrumen tunggal. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi one-step flow dan teori patron-klien. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan berbagai data yang tersedia di berbagai jurnal. Penelitian menunjukkan, kiai dengan statusnya sebagai patron politik berperan penting dalam proses politik. Kiai muncul sebagai elit pesantren yang diharapkan mempunyai sikap politiknya setiap pemilu. Dalam praktiknya, kiai menggunakan mimbar atau pengajian sebagai sarana politik. Dengan berkembangnya teknologi saat ini, tidak dapat dihindari bahwa kiai akan menggunakan berbagai produk informasi teknologi dalam berbagai cara dan pilihan. Kiai sebagai tokoh agama berperan sebagai agen sosialisasi politik, sehingga tidak dapat lepas dari kepentingan politik .
Al-Ma'un Praxis Movement in Empowering Destitute Families by the Students Haq, Andri Moewashi Idharoel; Muhtadi, Asep Saeful; Kahmad, Dadang; AS, Enjang
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 5, No 2 (2022): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v5i2.18019

Abstract

This research aims to analyze the Al-Maun Praxis movement as a new religion-based social movement in Indonesia, implicating its role and influence in educational institutions. The phenomenon of the Al-Ma'un praxis movement developed by Muhammadiyah universities has been studied scientifically by a sociological approach, especially the new social movement with its two theories; the theory of resource mobilization and identity-oriented theory. However, this research shows that those two theories can be used simultaneously by prioritizing the identity-oriented approach and then analyzing the resource mobilization theory. This research discusses the Muhammadiyah organization with the Al-Ma'un Praxis Movement Program at PTM as a model for a new religious-based social movement in Indonesia; in identity-oriented theory, Muhammadiyah as Movement Identity and Surat Al-Ma'un as Movement Theology, and Muhammadiyah as Movement Ideology. The more comprehensive areas in the idea of resource mobilization are: Islam and Mohammadness (Agama Islam dan Kemuhammadiyahan; AIK) as medium to mobilize Muhammadiyah resources, the capital of resource mobilization comes from Muhammadiyah residents at Muhammadiyah Universities, Mobilization of resources in the form of empowerment of charity and creativity based on Muhammadiyah philanthropy.