Idil Hamzah
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Tinjauan Profetik Nabi Muhammad SAW Idil Hamzah; Zainal Abidin
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 9 No 01 (2023): Menyusuri Turats Ulama Nusantara, Memperkokoh Moderasi Islam
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2204.648 KB) | DOI: 10.51925/inc.v9i01.78

Abstract

Tulisan ini mengeksplor bagaimana jejak peradaban profetik Nabi Muhammad Saw. Dalam menguraikan penjelasan ini ada tiga pokok pembahasan, pertama mengenai kondisi masyarakat Arab pra Islam, jejak profetik Nabi di Mekkah dan Jejak profetik di Madinah. Pembahasan tiga hal utama ini merupakan pijakan yang melekat dengan sirah Nabawi. Melalui deskriptif-analitis dari beberapa sumber referensi, makalah ini menunjukkan kondisi masyarakat Arab pra Islam, penulis menguraikan bagaimana persebaran geografis, kepercayaan yang dianut, politik yang melingkupi, dan budaya yang diagungkan. Sementara era di Mekkah, Nabi melakukan dekonstruksi sistem keyakinan dan adanya doktrin tentang eskatologis. Adapun pembahasan terkait era Madinah, penulis membahas tiga hal yang utama yakni membangun masjid, reformasi struktural, dan terbentuknya piagam Madinah. Dari penjelasan tersebut, peradaban profetik kenabian Muhammad Saw. berjalan dengan proses yang Panjang dari yang fokus pada keyakinan/keimanan menuju pada masyarakat ideal yang sejahtera, aman terlindungi, dan persaudaaran yang kuat dengan sebutan masyarakat Madani. This article explores how the traces of the prophetic civilization of the Prophet Muhammad (peace be upon him). In describing this explanation there are three points of discussion, first about the condition of pre-Islamic Arab society, prophetic traces of the Prophet in Mecca and prophetic traces in Medina. The discussion of these three main things is the foothold attached to the Prophet's sirah. Through descriptive-analytical from several reference sources, this paper shows the condition of pre-Islamic Arab society, the author outlines how geographical distribution, beliefs adhered to, politics surrounded, and culture glorified. While in Mecca, the Prophet deconstructed the belief system and the existence of eschatological doctrines. As for the discussion related to the Medina era, the author discusses three main things, namely building mosques, structural reforms, and the formation of the Medina charter. From this explanation, the prophetic civilization of the prophethood of Muhammad (peace be upon him) went with a long process from focusing on faith / faith to an ideal society that was prosperous, safe, protected, and strong trade called civil society.
Maqashid Syari 'Ah Prespektif Mutazilah: Tela'ah Penafsiran Al Qadi Abdul Jabbar Dalam Tanzih Al-Quran 'An Al-Mataha'in Idil Hamzah; Muhtarul Alif
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 01 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v2i01.394

Abstract

Tulisan ini membahas Maqashid Syariah Prespektif Mu???tazilah dengan mengkaji pemikiran salah satu tokohnya, yaitu Al-Qadhi Abdul Jabbar dalam kitabnya Tanzi??h al-Qur???an ???an al-Mat??ha???in. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang sumber datanya diperoleh dari kepustakaan (Library research). Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa, Pada dasarnya, prinsip maqashid Al-Qadhi Abdul Jabbar sejalan dengan prinsip keadilan Tuhan yang merupakan salah satu asas dasar pandangan Mu???tazilah, yakni wujub al-aslah bagi Allah. salah satu maqasid ???ammah yang dapat dengan mudah ditemukan dalam penafsirannya adalah bahwa Allah menghendaki perkara paling maslahat, tidak membebani mukallaf di luar kapasitas, serta memberikan kebebasan bagi mukallaf untuk memilih. Sedangkan salah satu maqasid khassah yang dapat dilihat dari penafsirannya, khususnya dalam permasalan pernikahan, adalah bahwa Allah menghendaki manusia untuk menjaga hubungan kekeluargaan serta bersabar terhadap ketidaksukaan tabiat yang terkadang muncul dalam relasi suami istri. Qadhi Abdul Jabbar dalam menentukan maqasid, umumnya mendasarkan kepada akal, kecuali dalam permasalahan ibadah yang dapat diketahui melalui pendengaran atau riwayat.
Historicity Review of Verses and Chapters in the Qur'an Idil Hamzah; Bustanul Karim
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 2 No 1 (2024): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol21.2024.73-86

Abstract

Al-Qur’an terdiri dari surah, ayat, kalimat,kata, dan huruf. Dari kesemuanya disusun dengan sangat mengagumkan. Dahulu para ulama tidak terlalu banyak menelisik susunan al-Qur’an tersebut, akan tetapi belakangan struktur ini menjadi bagian yang menarik untuk dikaji para ulama’. Termasuk apakah susunan ini ditetapkan oleh nabi atau tidak. Tulisan ini menelaah historisitas penentuan ayat dan surah dalam al-Qur’an dengan menggali argumentasi para ulama’ dalam melakukan kesimpulan atas pendapatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan analisis isi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa para ulama memiliki sudut pandang yang berbeda beda dalam menentukan batasan ayat dan surah dalam al-Qur’an. Meski demikian para ulama bertawaqquf setelah melakukan upaya menggali data yang bersumber dari riwayat yang disandarkan kepada Nabi Saw. Terkait perbedaan pandangan batasan ayat dan surah serta perihal yang melingkupinya‚ hal ini berkisar pada asumsi atas keyakinan sebuah ijtihad   ulama’ dalam menggali dan memahami suatu hadis yang sampai kepadanya serta analisa yang dihasilkan dari penelitiannya dengan sudut pandang suatu riwayat.
Diskursus Term Mufrad Jamak: Analisis Semantik dan Siyaq Lafadz Rihun dan al-Riyah dalam Penafsiran Andi Marwati; Idil Hamzah
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 2 No 2 (2024): ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol22.2024.57-72

Abstract

Term mufrad dan jamak merupakan salah satu kaidah kebahasaan dalam Al-Qur’an untuk mendalami pemahaman studi tafsir. Seperti kaidah tafsir pada umumnya, term mufrad dan jamak berarti ketentuan yang membantu penafsir untuk menarik makna, khususnya terkait redaksi yang memiliki makna tertentu. Penelitian ini mengkaji penggunaan istilah "rihun" (ريح) dan "riyah" (رياح) dalam Al-Qur'an dari perspektif semantik dan siyaq (konteks). Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah library research (penelitian pustaka) dengan fokus utama adalah menganalisis nuansa makna dan implikasi penggunaan kedua istilah tersebut dalam berbagai konteks ayat Al-Qur'an. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa jika Al-Qur’an mencantumkan bentuk jamak al-riyah, maka yang dimaksud lebih kepada hal positif yakni seperti nikmat dan rahmat. Sedangkan, apabila digunakan dalam bentuk mufrad yakni rihun, makna yang diisyaratkan adalah lebih dominan mengarah kepada hal negatif seperti bencana alam atau azab Allah. Terdapat fleksibilitas dan kompleksitas dalam penggunaannya yang bergantung pada konteks yang lebih luas. Analisis siyaq mengungkapkan bahwa makna kedua istilah ini tidak hanya ditentukan oleh definisi leksikal, tetapi juga oleh konteks ayat, surah, dan tema keseluruhan Al-Qur'an. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang nuansa linguistik Al-Qur'an dan pentingnya konteks dalam interpretasi. Implikasi penelitian ini relevan untuk studi tafsir Al-Qur'an, linguistik Arab, dan pemahaman teks-teks keagamaan secara umum.
NAHDLATUL ULAMAS CONCEPT OF PROMOTING GLOBAL HARMONY THROUGH RELIGION TWENTY Mulawarman Hannase; Idil Hamzah; Akbar Akbar; Mostafa Zahran
Al-Qalam Vol. 30 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v30i1.1460

Abstract

This article explores the concept of Nahdatul Ulama in promoting global harmony through the R 20 activities. The research employs a qualitative method with data sourced from library research. The article concludes that R 20 has taken concrete steps, facilitated by Nahdatul Ulama, to foster global harmony. These efforts culminated in a collective agreement termed the Communique focusing on four key aspects elucidating religion as a conflict resolution: firstly, tolerance (Tasamuh), in the dynamics of social diversity, emphasizing the development of tolerant attitudes among religious communities as an expression of the ability to bear the burden of differing perspectives. Secondly, ecotheology, a theological concept exploring the interconnectedness of religion and nature, encourages integrating spiritual dimensions with environmental responsibilities. Thirdly, Interfaith Dialogue underscores the necessity for in-depth dialogues to achieve peace among nations and religions. With openness, communication, and compassion, conflicts are viewed as opportunities to enhance understanding, fostering harmonious relationships among religious practitioners. Lastly, the article highlights the active roles of government and religious leaders in addressing extremism and intolerance, contributing to the realization of harmony. The concept used by NU as a basis for compiling the 'Communique' is special because it specifies universal religious values and strengthens the national program, namely Religious Moderation. This is based on NU's commitment as a religious organization that maintains traditionalist theological values as well as being a guardian of national policy.