Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGUASAAN KATA 会, 能, 可以 MAHASISWA PRODI TIONGKOK UNPAD DAN ANALISIS REALITAS Yogi Bagus Adhimas; Dwi Nur Cahyani Sri Kusumaningtyas; Zalikha Dista Aulia Zuliana
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 11 No. 2 (2023): Stilitika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v11i2.2796

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang pentingnya kata kerja bantu dalam bahasa Mandarin, yaitu kata 会, 能, dan 可以, yang dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan kata “bisa”. Ketiga kata tersebut memiliki arti yang hampir mirip, namuntidak dapat saling menggantikan, karena memiliki aturannya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa Prodi Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran dalam penguasaan katanya dan bagaimana bahasa ibu mempengaruhi mereka dalam mempelajarinya. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, mayoritas responden masih mengalami kesulitan dalam menggunakan ketiga kata kerja bantu tersebut. Salah satu akar permasalahannya adalah dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu tidak memiliki padanan kata yang sesuai dengan kata kerja bantu tersebut sehingga sulit dipahami, walaupun beberapa ranah seperti budaya yang dibawa oleh bahasa itu sendiri memiliki kesamaan, antara bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin.
Forger Family’s Double Lives in Spy x Family (2022): A Psychoanalytic Approach Susan Oktaviana; Dwi Nur Cahyani Sri Kusumaningtyas
Journal of English Language and Education Vol 11, No 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jele.v11i3.2351

Abstract

This study explores the psychological dynamics of double lives as depicted in the Forger family in Spy x Family (2022). Using a descriptive qualitative approach and applying Sigmund Freud’s psychoanalytic theory of id, ego, and superego, this research analyses how the characters of the Forger Family (Loid, Yor, and Anya) construct and negotiate their identities while maintaining concealed roles. Data were collected from selected scenes, dialogues, and character interactions in the first season of the series. The analyses reveal that Loid is driven by ego and rationality; Yor reflects the struggle between id and social morality; and Anya represents the tension between desire, self-control, and moral development, while their concealed identities simultaneously generate psychological tensions that shape and influence their interpersonal relationships. This study highlights the relevance of psychoanalytic perspectives in understanding how concealed identities influence emotional dynamics in fictional family structures. 
Pelatihan dan Pendampingan Penulisan Lirik Jula Juli untuk Melestarikan Budaya pada Siswa SMAN 12 Surabaya Dwi Nur Cahyani Sri Kusumaningtyas; Lisetyo Ariyanti; Much Koiri; Ali Mustofa; Dwi Imroatu Julaikah
ABISATYA : Journal of Community Engagement Vol. 1 No. 2 (2023): ABISATYA: Journal of Community Engagement
Publisher : Center for Community Service and Science and Technology Marketing - The Institute for Research and Community Service Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/abisatya.v1i2.26369

Abstract

Abstrak Pelatihan penulisan lirik Jula Juli di SMAN 12 Surabaya merupakan inisiatif yang berfokus pada pengembangan kreativitas siswa dalam melestarikan budaya lokal. Sekolah ini dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan karena SMAN 12 Surabaya memiliki komitmen yang tinggi terhadap peningkatan keterampilan siswa dalam berbagai aspek, termasuk kegiatan seni dan budaya. SMAN 12 Surabaya, sebagai lembaga pendidikan, mendukung penuh pelatihan ini sebagai bagian dari upaya mereka untuk memberikan pengalaman belajar yang holistik kepada siswa. Dalam pelatihan ini, tidak hanya siswa yang menjadi peserta utama, tetapi juga melibatkan sejumlah guru sebagai fasilitator. Para guru tersebut memiliki peran penting dalam mendampingi siswa dalam proses pembelajaran kreatif, memberikan bimbingan, dan mendukung mereka dalam mengasah kemampuan menulis lirik Jula Juli. Metode yang diadopsi dalam pelatihan ini adalah partisipatif, di mana siswa diajak untuk aktif berpartisipasi dalam setiap aspek pembelajaran. Pertemuan tatap muka dilakukan selama dua kali untuk menyampaikan teori dasar mengenai penulisan lirik Jula Juli. Pada pertemuan ini, guru dan pembimbing memberikan pemahaman mendalam tentang aspek-aspek kreatif dalam menulis lirik, serta memberikan inspirasi dari karya-karya lirik Jula Juli yang sudah ada. Selain pertemuan tatap muka, pelatihan ini juga memanfaatkan teknologi dengan mengadakan dua kali pertemuan virtual melalui Google Classroom. Platform ini digunakan untuk sesi praktikum, di mana siswa dapat secara langsung mengaplikasikan teori yang telah dipelajari. Pembimbing memberikan umpan balik secara langsung, memandu siswa untuk mengatasi hambatan, dan membantu mereka mengembangkan kemampuan menulis lirik Jula Juli secara lebih mendalam. Pentingnya memberikan pelatihan penulisan lirik Jula Juli ini karena mereka adalah generasi muda dan pada masa yang emas sehingga diharapkan melalui pelatihan ini, siswa siswi SMA dapat melestarikan budaya khas Jawa Timur ini. Dalam pelatihan ini, SMAN 12 Surabaya juga berperan aktif dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan mendukung. Mereka menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, termasuk ruang kelas dan akses ke teknologi yang diperlukan. Dukungan ini menjadi landasan kuat untuk keberhasilan pelatihan penulisan lirik Jula Juli sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya lokal dan mendukung perkembangan kreativitas siswa.
Membangun Literasi Reflektif bagi Komunitas Penulis di Sekolah Jawa Timur melalui Kegiatan Bedah Buku dan Workshop Puisi Bertema Kartini Dwi Nur Cahyani Sri Kusumaningtyas; Zulidya Rusnalasari; Pratiwi Retnaningdyah; Ayu Saraswati; Suyanti Umayfa; Audrey Titaley; Revalina Fauzia; Brillyan Pakerti
ABISATYA : Journal of Community Engagement Vol. 3 No. 2 (2025): ABISATYA: Journal of Community Engagement
Publisher : Center for Community Service and Science and Technology Marketing - The Institute for Research and Community Service Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/abisatya.v3i2.46537

Abstract

The community service program entitled Building Reflective Literacy for the Writer Community in East Java Schools through Book Review Activities and Kartini-Themed Poetry Workshops aims to improve reflective literacy and creative expression skills among educators and literacy practitioners. This program is motivated by the limited space for teachers and the writing community in schools to develop reflective literacy practices that integrate cultural values and gender awareness. The main purpose of this activity is to strengthen participants' understanding of Kartini's emancipation spirit through literary exploration, especially by associating historical reflection with the context of today's education. The implementation of the program includes two main activities: a book review of Kartini's Trilogy which presents authors and academic speakers, and a workshop on writing reflective poems inspired by Kartini's values of struggle. The methods used include participatory dialogue, collaborative learning, and creative writing practices, which allow participants to interact critically with the text while expressing personal reflection through literary works. The results of the activity showed an increase in participants' awareness of gender equality issues, literary appreciation, and creative writing skills. In addition, this activity encourages collaboration between schools, teachers, students, and literacy communities in East Java, forming a sustainable network for future literacy development. The novelty of this program lies in the integration of cultural heritage, reflective pedagogy, and creative expression as a means of community empowerment. Overall, this activity shows that reflective literacy can be an effective forum to strengthen the value of education, cultural understanding, and social cohesion within the framework of sustainable community development.
The Eros Thanatos Dilemma In Shewn’s Sun/Shine (2015): A Psychoanalytic Study Hafiz Seno Pamungkas; Dwi Nur Cahyani Sri Kusumaningtyas
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 1 No. 3 (2026): Mei-Juli
Publisher : Samudra Ilmu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Song lyrics have become an important medium for representing psychological experiences and emotional struggles. Previous psychoanalytic studies have mainly examined defense mechanisms, inner conflict, and psychological aspects in various songs, while the psychological conflict between Eros and Thanatos in Shewn's Sun/Shine remains unexplored. Therefore, this study aims to analyze the representation of Eros, Thanatos, and the psychological conflict between these opposing instincts in the song. This research employs a qualitative approach using Freud's psychoanalytic theory. The data consist of the lyrics of Sun/Shine, which were analyzed through qualitative textual analysis. The findings reveal that Thanatos is represented through drowning, darkness, emotional suffocation, and identity loss, whereas Eros is represented through hope, sunlight, empathy, prayer, and the desire for recovery. The lyrics also portray psychological conflict through four binary oppositions: survival versus withdrawal, hope versus despair, connection versus isolation, and recovery versus emotional collapse. This study contributes theoretically to psychoanalytic literary criticism by extending Freud's theory to contemporary Indonesian independent music and practically by providing insight into how song lyrics represent psychological struggles through symbolic language.
Representing Trauma Through Fragmented Memory in Charlotte Wells' Aftersun (2022): A Caruthian Analysis Yazid Mishbahul Fikri; Dwi Nur Cahyani Sri Kusumaningtyas
Journal of Cultural Narratives in Digital Society Vol. 2 No. 1 (2026): Cultural Narrative in Digital Society
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jcnds.v2i1.55587

Abstract

Trauma is often represented in films through memory, emotional distance, and fragmented storytelling rather than direct explanation. This study aims to analyze how trauma is represented through fragmented memory in Charlotte Wells' Aftersun (2022) by using Cathy Caruth's trauma theory. The study applies a qualitative descriptive method with a film studies approach. The primary data source is Aftersun (2022), while the data consists of scenes, dialogues, visual elements, and cinematic techniques related to trauma representation. The data were collected through repeated viewing, note-taking, and scene selection. The analysis focuses on Caruth's concepts of unclaimed experience, belatedness, and repetition. The findings show that trauma in Aftersun (2022) is represented through fragmented memories that gradually reveal emotional meaning. Through the use of camcorder footage, silence, visual repetition, spatial separation, and fragmented editing, the film portrays trauma as an unresolved experience that cannot be fully understood when it occurs. The study also finds that Sophie reconstructs her understanding of her father through retrospective interpretation, allowing traumatic meaning to emerge over time. Therefore, Aftersun (2022) represents trauma not through direct narrative explanation but through fragmented memory and cinematic form.