Fitri Arlinkasari, Fitri
Fakultas Psikologi Universitas YARSI

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Hope of Success and Fear of Failure Predicting Academic Procrastination Students Who Working on a Thesis Akmal, Sari Zakiah; Arlinkasari, Fitri; Febriani, Andi Ulfa
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.782 KB) | DOI: 10.24127/gdn.v7i1.724

Abstract

Students, who are working on the thesis, have some difficulties caused by internal and external factors. Those problems can disrupt the completion of their thesis, such as the tendency to do academic procrastination. Increasing achievement motivation can reduce academic procrastination. This study aims to look at the role of achievement motivation (hope of success and fear of failure) in predicting academic procrastination. The study used a quantitative approach by distributing academic procrastination and achievement motivation questionnaires. The study involved 182 students who were working on a thesis as samples, which were obtained by using accidental sampling technique. Data were analyzed using multiple regressions. It showed that the hope of success and fear of failure have a significant role in predicting academic procrastination (R2 = 13.8%, F = 14,356, p <0.05). The hope of success can decrease academic procrastination, while fear of failure can improve it. Thus, interventions to reduce academic procrastination can be delivered by increasing students hope of success.
Should Students Engaged to Their Study? (Academic Burnout and School-Engagement among Students) Arlinkasari, Fitri; Akmal, Sari Zakiah; Rauf, Nur Wahyuni
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.237 KB) | DOI: 10.24127/gdn.v7i1.727

Abstract

Inability to deal with lectures efficiently leads students vulnerable to academic burnout. Burnout contributes to the high dropout rate among students, and this phenomenon has occurred on several universities in Indonesia. To overcome these problems, students should generate the feelings, attitudes and positive attitude towards the academic demands, or known as school engagement. School involvement is a predictor of students’ dropout rate. This study aims to analyze the dropout problem in many private universities in Jakarta by examining the psychological variables: academic burnout and school engagement. 208 students from some private university in Jakarta participated and fulfilled two questionnaires: academic burnout and school engagement that has been modified to suit the college setting. Correlation of the variables showed r= - 0.399 (p = 0.000). This means that school engagement plays a role in reducing academic burnout among students. These findings contribute a reference for academic counseling to support the decreasing of students’ dropout rate.
Perbedaan Kesuksesan Karir Subjektif Berdasarkan Tipe Orientasi Karir pada Karyawan Middle Level Career di Jakarta Akmal, Sari Zakiah; Arlinkasari, Fitri; Andryani, Intan
Mediapsi Vol 2, No 1 (2016): JUNE
Publisher : MEDIAPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.285 KB) | DOI: 10.21776/ub.mps.2016.002.01.5

Abstract

Karyawan akan melewati beberapa tahapan untuk mencapai kesuksesan karir. Karyawan pada tahap middle level career adalah mereka yang telah memiliki pengalaman dan diharapkan telah melakukan evaluasi terhadap pencapaian karirnya. Setelah melakukan evaluasi, karyawan akan lebih mengetahui sejauh mana kesuksesan karir yang telah dicapainya. Kesuksesan karir mengandung dua makna, yaitu kesuksesan karir secara objektif dan subjektif. Dalam perjalanan karir karyawan, orientasi karir merupakan indikator yang penting untuk mencapai kesuksesan karir. Terdapat lima tipe orientasi karir yang memiliki karakteristik berbeda yaitu, getting high, getting balanced, getting secure, getting free, dan getting ahead. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk melihat perbedaan kesuksesan karir subjektif berdasarkan tipe orientasi karir pada karyawan middle level career. Subjek penelitian diperoleh dengan menggunakan incidental sampling terhadap sebanyak 205 orang karyawan middle level career yang bekerja di daerah Jakarta. Data penelitian diolah dengan menggunakan teknik statistik parametrik one way anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kesuksesan karir subjektif yang signifikan berdasarkan tipe orientasi karir (F = 3.942; p = 0.004 < 0.05). Karyawan dengan tipe orientasi getting ahead memiliki kesuksesan karir subjektif yang lebih tinggi dibandingkan karyawan dengan tipe orientasi karir lainnya. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan sebagai bahan pertimbangan dalam proses seleksi dan promosi karyawan yang sesuai dengan orientasi karirnya.
Akankah masyarakat yang bahagia menjaga lingkungannya? Fitri Arlinkasari; Riselligia Caninsti; Putri Ufairah Radyanti
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.755 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3846

Abstract

ABSTRAK Berbagai studi sebelumnya mengungkap bahwa ketika individu dapat menunjukkan perilaku yang berkontribusi terhadap pelestarian alam, dapat dikatakan bahwa individu tersebut memiliki subjective well-being (SWB) yang tinggi karena perilaku ekologi dikategorikan sebagai perilaku positif yang berkontribusi pada munculnya perasaan positif, seperti kebahagiaan dan kepuasan. Individu dengan SWB yang baik juga diketahui akan mampu menunjukkan perilaku pro-lingkungan karena perilaku tersebut bisa meningkatkan kualitas lingkungan hidup mereka yang secara timbal balik meningkatkan kepuasan hidup mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku pro-lingkungan dan SWB pada masyarakat Jakarta, sebagai salah satu kota besar dengan tingkat masalah lingkungan yang tinggi. Penelitian ini diikuti oleh dua ratus sembilan belas responden yang merupakan warga Jakarta yang berusia 20-40 tahun dengan status sosial ekonomi menengah ke a ditunjukkan oleh pendapatan yang lebih besar dari biaya, dan kemampuan menabung. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku pro-lingkungan dengan SWB (r = 0,075; ρ = 0.268> 0.05). Temuan dari penelitian ini akan berguna untuk penelitian selanjutnya, terutama dalam mengukur faktor lain yang memprediksi perilaku pro-lingkungan pada masyarakat perkotaan, serta merancang intervensi yang tepat untuk memodifikasi perilaku pro-lingkungan mereka. Kata Kunci: Perilaku Pro-lingkungan, Subjective Well-being ABSTRACT Previous studies found that when individuals can demonstrate behaviors that contribute to nature preservation, it can be said that he has a high level of Subjective Well-being (SWB). It is because the ecological behavior is categorized as positive action which contributes to the emergence of the positive feelings, such as happiness and satisfaction. Vice versa, individual with good SWB found would be able to show pro-environmental behavior as it could improve the quality of their environment which reciprocally promotes their general life-satisfaction. However, study related to SWB and pro-environmental behavior in Indonesia has never been conducted before. Therefore this study aims to determine the relationship between pro-environmental behavior and SWB among Jakarta citizen. This study involved two hundred and nineteen Jakarta’s people aged 20-40 years old with middle socioeconomic status indicated by incomes, which is greater than expenses and saving ability. The results reflected that there was no significant relationship between pro-environmental behavior and SWB (r = 0.075, ρ=0268>0.05). This study provides a different insight into how to change urban society’s behavior to be more concerned about their environment. Findings from this study will be useful for subsequent research, particularly in assessing other factors associated with pro-environmental behavior, as well as designing appropriate interventions to modify their environmental behavior. Keywords: Pro-Environmental Behavior, Subjective Well-Being
PERAN PERCEIVED RESTORATIVENESS TERHADAP ENVIRONMENTAL ATTITUDE PADA ANAK SEKOLAH DASAR Johan Satria Putra; Dania Dania; Fitri Arlinkasari
Jurnal Ecopsy Vol 5, No 3 (2018): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.352 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v5i3.5517

Abstract

Jumlah ruang terbuka hijau yang terus mengalami penurunan setiap tahunnya, dapat berdampak pada diri anak karena mereka akan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mendapatkan paparan lingkungan alami. Salah satu manfaat yang dapat diperoleh anak ketika menghabiskan waktunya di lingkungan yang alami, adalah anak dapat mengalami perceived restorativeness. Perceived restorativeness dapat membantu anak untuk lepas dari kelelahan psikologis yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari, serta mendorong sikap peduli anak terhadap lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh perceived restorativeness terhadap environmental attitude pada anak sekolah dasar. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 siswa kelas 5 dari SD Negeri dan Sekolah Alam di Jakarta yang diambil menggunakan quota sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur Perceived restorativeness Components Scale For Children (PRCS-C II) dan Children’s Environmental Perceptions Scale (CEPS). Berdasarkan hasil uji regresi diperoleh hasil bahwa terdapat peran yang signifikan dari perceived restorativeness terhadap environmental attitude pada anak sekolah dasar, dengan kontribusi sebesar 7,5%.
PERAN AWARENESS OF CONSEQUENCES TERHADAP PERILAKU PRO-LINGKUNGAN PADA WARGA JAKARTA Fitri Arlinkasari
Journal of Psychological Science and Profession Vol 2, No 3 (2018): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306 KB) | DOI: 10.24198/jpsp.v2i3.21600

Abstract

Menurut laporan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, pada tahun 2018, Provinsi DKI Jakarta merupakan daerah yang memiliki indeks kualitas lingkungan hidup yang cukup rendah, dengan kisaran nilai 35.78%. Fakta ini juga diungkapkan oleh dinas kebersihan DKI Jakarta pada tahun 2016 bahwa Jakarta merupakan kota besar yangmenghasilkan sampah yang cukup banyak, yaitu 6.5 – 7 ton per hari. Permasalahan sampah tidak terlepas dari perilaku manusia yang kurang memperhatikan kondisi lingkungannya. Perilaku membuang sampah sembarangan kini sudah menjadi kebiasan masyarakatdan dianggap sebagai hal yang biasa. Untuk mengurangi sampah yang jumlahnya semakin banyak diperlukan kesadaran masyarakat untuk berperilaku pro-lingkungan. Perilaku pro-lingkungan dipengaruhui oleh beberapa faktor salah satunya adalah awareness ofconsequences (AC). AC adalah kecenderungan untuk menjadi sadar atas konsekuensi atau dampak dari perilaku kita pada orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah AC berperan terhadap perilaku pro-lingkungan pada masyarakat Jakarta. Penelitimenggunakan metode penelitian kuantitatif dengan tipe korelasional dengan Incidental Sampling. Penelitian ini memiliki sampel sebanyak 332 responden dengan beberapa karakteristik demografi. Berdasarkan hasil uji regresi ditemukan bahwa AC memiliki peranterhadap perilaku pro lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi AC yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi juga perilaku pro-lingkungan seseorang. Peran AC terhadap perilaku pro-lingkungan dapat dilihat dari nilai R Square Change sebesar 0,171 atau 17%. Hal ini berarti awareness of consequences berperan sebesar 17% dan 83% dipengaruhui oleh faktor-faktor yang lain. 
Peran Emotional Interference Terhadap Organization of Study Pada Mahasiswa: Peran Mediasi Prokrastinasi Akademik Dalam Model Self-Regulated Learning Andria, Nadira Putri; Arlinkasari, Fitri
Jurnal Online Psikogenesis Vol 12 No 1 (2024): June
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v12i1.4069

Abstract

The COVID-19 pandemic has caused major changes in the education system with online learning as a solution. Good Self-Regulated Learning (SRL) is important in online learning. This study aims to determine the mediating role of academic procrastination on emotional interference in the organization of study among students who attend online lectures and determine the role of emotional interference in the organization of study. The research method used is quantitative non-experimental. The research subjects consisted of 153 active college students who had attended online lectures in the Greater Jakarta area. Measuring tools used include Difficulties in Engaging Goal-Directed Behavior (GOALS), Cognitive and Metacognitive Strategies: Organization and Academic Procrastination Scale (APS). The results showed that emotional interference has a direct negative and significant effect on the organization of study (β = -0.069, p=0.003). Emotional interference has a significant positive role in academic procrastination (β = 0.142, p&lt;.001). The mediating variable, namelyacademic procrastination, has a significant negative effect on the organization of study (β = -0.275, p=.001). There is a significant negative indirect effect of emotional interference on organization of study with the path of emotional interference to academic procrastination and academic procrastination to organization of study (β = -0.039, p=0.003). There is a total pathway (β = -0.108, p&lt;.001). The results of the study show that academic procrastination can play a role as a mediating variable, and emotional interference plays a negative and significant role in predicting organization of study.
Bagaimana Lingkungan Kota Memengaruhi Kebahagiaan Anak? Sebuah Tinjauan Pelingkupan Arlinkasari, Fitri; Kusristanti, Chandradewi; Putra, Johan Satria
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 40 No 1 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 1, 2025)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v40i1.6844

Abstract

Child-Friendly City Initiatives (CFCI) emphasizes the importance of creating urban environments that support children’s health and well-being. This scoping review maps studies that examine the relationship between urban environmental characteristics and children’s happiness (well-being) with children as participants. Based on a systematic search of four databases (Web of Science [WoS], SAGE Journals, Scopus, and ProQuest), eight articles were identified that met the inclusion criteria, namely: (a) empirical studies involving children’s perspectives; (b) studies examining the relationship between urban environmental features and children’s happiness (well-being); and (c) studies published in peer-reviewed English-language journals between 2004-2024. This scoping review revealed that there are five main environmental features that influence children’s happiness (well-being), namely: (1) built environment; (2) natural environment; (3) play areas; (4) traffic conditions; and (5) cohesive social environment. These features influence children's happiness (well-being) through three underlying mechanisms, namely: (1) psychological; (2) social; and (3) physical activity. Moderating factors such as age, socioeconomic status, and gender identity were also identified as influencing the strength of the relationship between environmental features and children's happiness (well-being). This scoping review also produces recommendations for future study directions to enrich the understanding of the relationship between urban environments and children's happiness (well-being) in urban areas.
Facilitator Roles in Parenting Education Programs for Low-Income Families in Jakarta and Pandeglang: [Peran Fasilitator dalam Program Pendidikan Pengasuhan Bagi Keluarga Berpenghasilan Rendah di Jakarta dan Pandeglang] Arlinkasari, Fitri; Hestyanti, Yohana; Abraham, Natasha; Fitriani, Andi; Henry, Eddy; Herarti, Fitriana
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 39 No 1 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 1, 2024)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v39i1.5826

Abstract

This study explores the complexities and diversities of the facilitator roles in parenting education programs. The objective is to evaluate how these responsibilities could potentially deviate or expand beyond standard protocols, ultimately contributing to the improvement of parent or caregiver experiences within these programs. Focusing on low-income families in the Indonesian urban and rural contexts, this study emphasizes the crucial role of effective parenting education in empowering parents or caregivers to nurture their children. Focus Group Discussions (FGDs) and participant observation were used to collect data from both facilitators and parents involved in the program. The aim was to explore the facilitators' role in supporting the education (learning) experience of the participating parents or caregivers. This was analyzed based on the perceptions of both facilitators and parents or caregivers. Thematic analysis revealed the diverse functions of facilitators and their impact on the education (learning) experience. While facilitators typically fulfill conventional roles as managers, moderators, educators, and motivators, they occasionally take on additional roles, acting as resource providers to support parents in their parenting journey better. Two distinct patterns emerged from the study: (1) Parents receive personalized assistance and support when facilitators exceed their designated functions, resulting in increased program engagement; (2) However, this extension of certain key functions of facilitators' roles may inadvertently create challenges in maintaining the program's integrity and unique education (learning) mode, particularly in self-learning contexts. Studi ini mengeksplorasi kompleksitas dan keragaman peran fasilitator dalam program pendidikan pengasuhan. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana tanggung jawab ini berpotensi menyimpang atau meluas melampaui protokol standar, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan pengalaman orang tua atau pengasuh dalam program tersebut. Berfokus pada keluarga berpenghasilan rendah dalam konteks perkotaan dan pedesaan di Indonesia, studi ini menekankan pentingnya peran pendidikan pengasuhan yang efektif dalam memberdayakan orang tua atau pengasuh untuk mengasuh anak mereka. Focus Group Discussion (FGD) dan observasi partisipan digunakan untuk mengumpulkan data, baik dari fasilitator maupun orang tua yang terlibat dalam program. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi peran fasilitator dalam mendukung pengalaman pendidikan (pembelajaran) orang tua atau pengasuh yang berpartisipasi. Hal ini dianalisis berdasarkan persepsi fasilitator dan orang tua atau pengasuh. Analisis tematik mengungkap beragam fungsi fasilitator dan dampaknya terhadap pengalaman pendidikan (pembelajaran). Walaupun fasilitator biasanya menjalankan peran konvensional sebagai manajer, moderator, pendidik, dan motivator, mereka terkadang mengambil peran tambahan, bertindak sebagai penyedia sumber daya untuk mendukung orang tua dalam perjalanan pengasuhan mereka dengan lebih baik. Dua pola berbeda muncul dalam studi ini: (1) Orang tua menerima bantuan dan dukungan yang dipersonalisasi ketika fasilitator melampaui fungsi yang ditentukan, sehingga meningkatkan keterlibatan program; (2) Namun, perluasan fungsi utama tertentu dari peran fasilitator dapat secara tidak sengaja menciptakan tantangan dalam menjaga integritas program dan mode pendidikan (pembelajaran) yang unik, khususnya dalam konteks belajar mandiri.
Perbedaan Kesuksesan Karir Subjektif Berdasarkan Tipe Orientasi Karir pada Karyawan Middle Level Career di Jakarta Akmal, Sari Zakiah; Arlinkasari, Fitri; Andryani, Intan
Mediapsi Vol 2 No 1 (2016): JUNE
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2016.002.01.5

Abstract

Karyawan akan melewati beberapa tahapan untuk mencapai kesuksesan karir. Karyawan pada tahap middle level career adalah mereka yang telah memiliki pengalaman dan diharapkan telah melakukan evaluasi terhadap pencapaian karirnya. Setelah melakukan evaluasi, karyawan akan lebih mengetahui sejauh mana kesuksesan karir yang telah dicapainya. Kesuksesan karir mengandung dua makna, yaitu kesuksesan karir secara objektif dan subjektif. Dalam perjalanan karir karyawan, orientasi karir merupakan indikator yang penting untuk mencapai kesuksesan karir. Terdapat lima tipe orientasi karir yang memiliki karakteristik berbeda yaitu, getting high, getting balanced, getting secure, getting free, dan getting ahead. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk melihat perbedaan kesuksesan karir subjektif berdasarkan tipe orientasi karir pada karyawan middle level career. Subjek penelitian diperoleh dengan menggunakan incidental sampling terhadap sebanyak 205 orang karyawan middle level career yang bekerja di daerah Jakarta. Data penelitian diolah dengan menggunakan teknik statistik parametrik one way anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kesuksesan karir subjektif yang signifikan berdasarkan tipe orientasi karir (F = 3.942; p = 0.004 < 0.05). Karyawan dengan tipe orientasi getting ahead memiliki kesuksesan karir subjektif yang lebih tinggi dibandingkan karyawan dengan tipe orientasi karir lainnya. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan sebagai bahan pertimbangan dalam proses seleksi dan promosi karyawan yang sesuai dengan orientasi karirnya.