Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penciptaan Karya Tari “DUALISME” : Dua Perasaan yang Bertolak Belakang Fattahul Anugraha; Sherli Novalinda; Wardi Metro
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2022): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v6i1.3727

Abstract

Karya tari “Dualisme”  terinspirasi dari Gangguan Psikis yang ada di sekitar masyarakat. Gangguan tersebut adalah ‘Gangguan Bipolar’, merupakan gangguan mood atau suasana hati yang kronis ditandai dengan episode manik (bahagia), episode depresi mayor (sedih), dan episode campuran. Untuk menggarap konsep ini pengkarya mempunyai ide garapan, menggunakan ekspresi wajah serta tubuh sebagai media ungkap dan komunikasi serta properti kerangka pintu di tengahnya memiliki papan sekat berwarna merah dan hitam yang diinterpretasikan sebagai ruang pembeda dan pembatas antara manik dan depresi mayor. Metode yang digunakan dalam karya ini di antaranya, observasi, pengolahan data, studi pustaka, pemilihan pendukung karya, eksplorasi, penataan gerak, improvisasi, dan evaluasi. Karya ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama menggambarkan episode manik, bagian kedua menggambarkan episode depresi mayor, dan bagian ketiga menggambarkan episode campuran
Visualizing the Incantatory Power of the Sijundai Ritual: A Reinterpretation of Magical Phenomena through the Dance Work Migrasi Magis Ariefin Alham Jaya Putra; Fattahul Anugraha; Zulfikar Rizki Ananda; Suaida Suaida
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 2 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i2.4801

Abstract

Migrasi Magis is a research-based dance creation that reinterprets the Sijundai magical phenomenon in Minangkabau culture. The ritual involves the use of spells and saluang music believed to possess supernatural power that psychologically and physically affects victims. Through observation, exploration, improvisation, formation, and evaluation, the artist transforms elements of space, time, energy, and property into visual symbols of the spell’s potency. The reinterpretation approach transforms this spiritual practice into an artistic expression through dance theatre, marked by dramatic tension, symbolism, and emotional intensity. The work embodies magical aesthetics derived from traditional rituals while portraying human desires, vengeance, and remorse. Migrasi Magis demonstrates how dance serves as a reflective space for social, spiritual, and psychological phenomena within Minangkabau society. Field data were collected through interviews with shamans, performance observations, and literature review, strengthening conceptual validity, aesthetic choices, and cultural context. This work illustrates that performing arts can negotiate tradition and modernity through contextual artistic interpretation
Ciluah : Interpretasi dari Fenomena Silang Peran Gender Laki-Laki Feminim dan Perempuan Maskulin Celsa Novia Biwis; Oktavianus Oktavianus; Emri Emri; Fattahul Anugraha
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/q5dxkz53

Abstract

Karya tari Ciluah terinspirasi dari fenomena sosial di Nagari Mandiangin, Kabupaten Pasaman Barat, yang memperlihatkan pergeseran dan perpaduan sifat maskulin dan feminim dalam kehidupan masyarakat. Karya ini mengangkat dua tokoh dengan karakter yang bertolak belakang, yaitu laki-laki berkarakter feminin yang bekerja sebagai biduan orgen dengan penampilan dan ekspresi yang lembut, serta perempuan maskulin seperti Ibu Maria yang mencari lokan di sungai untuk membantu perekonomian keluarga. Aktivitas yang penuh risiko dan tuntutan hidup membentuk keberanian, ketangguhan, dan disiplin pada sosok perempuan tersebut. Fenomena tersebut kemudian diinterpretasikan ke dalam karya tari bertema sosial dengan tipe garap abstrak. Melalui eksplorasi gerak, ekspresi, dan suasana pertunjukan, Ciluah menggambarkan keberanian, kelembutan, perjuangan, serta kompleksitas peran gender yang terbentuk oleh lingkungan, pekerjaan, dan kondisi kehidupan masyarakat. Karya ini disusun dalam tiga struktur garap suasana dan telah dipentaskan di Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam, Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Reinterpretation of Minangkabau Boys’ Merantau Culture in Dance Creation Fattahul Anugraha; Ariefin Alham Jaya Putra; Syahril Syahril; Zulfikar Rizki Ananda; Suaida Suaida
Melayu Arts and Performance Journal Vol 9, No 1 (2026): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v9i1.6304

Abstract

This article discusses the creation process of the dance work Budaya Merantau, which originates from the socio-cultural phenomenon of migration in Minangkabau society. The study focuses on how the surau, as a space for religious education, customary learning, martial arts practice, and character formation among Minangkabau boys, is reinterpreted as a conceptual foundation for dance creation. The main issue addressed is how migration patterns expressed in Minangkabau proverbs and oral philosophy can be transformed into a choreographic method. This study employs a research-based creation method involving observation, interviews, literature review, documentation, data analysis, movement exploration, exploration of space-time-energy, property experimentation, rehearsal, and performance. The creation process reveals that the pattern of merantau can be structured into three dramatic parts: the encouragement to migrate, the ability to socialize and adapt in a new environment, and the longing for the homeland. These structures are embodied through movements derived from Minangkabau pencak silat, everyday gestures, shifting floor patterns, the use of sarong and white fabric, Minangkabau musical idioms, and religious expressions associated with the memory of the surau. The article argues that merantau can be understood not only as social mobility but also as a creative method for producing contemporary dance based on tradition.