Medy Ompi
Universitas Sam Ratulangi

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KOMPOSISI FORAMINIFERA GENUS CALCARINA DI PERAIRAN DESA WINERU, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, SULAWESI UTARA Roosa C. Kalebos; Jane M. Mamuaja; Markus T. Lasut; Medy Ompi; Royke M. Rampengan; Kurniati Kemer
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.2.2024.57804

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi spesies dan mendeskripsikan morfologi foraminifera genus Calcarina di tiga habitat berbeda di Perairan Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan mencakup pengambilan sampel secara purposive sampling di tiga habitat: Daerah Terumbu Karang (DTK), Daerah Terumbu Karang Rubble (DTKR), dan Daerah Berpasir (DBP), pada kedalaman 1-2 meter. Sampel kemudian diproses di laboratorium melalui tahap pencucian, pengeringan, penjentikan, identifikasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Calcarina spengleri adalah spesies dominan di semua lokasi, dengan jumlah individu tertinggi dibandingkan spesies lain seperti Calcarina defrancei, Calcarina gaudichaudii, Calcarina hispida, dan Calcarina sp. Pola distribusi spesies ini mencerminkan variasi kondisi lingkungan dan faktor ekologi di masing-masing lokasi penelitian. Meskipun Calcarina memiliki kontribusi yang relatif kecil dalam komunitas foraminifera yang masuk dalam kelompok yang memiliki simbion (foraminifera bentik besar), dengan persentase 38,5% dari total individu, penelitian ini berhasil mendeskripsikan morfologi spesies dengan baik, termasuk bentuk, ciri, dan struktur cangkang yang unik. Distribusi geografis spesies ini luas di berbagai ekosistem perairan, termasuk di Perairan Desa Wineru, sebagaimana tercatat dalam World Foraminifera Database dan WoRMS. Kata kunci: Foraminifera Calcarina, Komposisi Spesies, Morfologi Spesies, Likupang
ESTIMASI BIOMASSA DAN SIMPANAN KARBON PADA AKAR MANGROVE DI DESA RATATOTOK MUARA KECAMATAN RATATOTOK KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PROVINSI SULAWESI UTARA Vildo Kasenda; Antonius P. Rumengan; Medy Ompi; Rignolda Djamaludin; Gustaf N. Mamangkey; Sandra Tilaar
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 3 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.3.2024.59883

Abstract

Mangrove merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang berhasil tumbuh dan berkembang pada habitat intertidal yang berada di antara daratan dan laut di daerah tropis dan sub tropis. Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang hidup di daerah pesisir pantai dan memiliki substrat berlumpur, muara sungai yang dipengaruhi oleh air laut serta dapat hidup di daerah dengan rentan salinitas yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi jenis mangrove, serta mengetahui nilai biomassa dan juga simpanan karbon pada akar mangrove di Desa Ratatotok Muara, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode line transek kuadrat yang meneliti jenis mangrove, jumlah biomassa pada mangrove,dan simpanan karbon pada akar mangrove. Penelitian ini dilakukan dengan total 3 transek, dan setiap transek memiliki jarak 50 m. Garis transek ditarik dari laut ke darat sepanjang 100 m, kemudian dibuat kuadran berukuran 10x10 m. Setiap kuadran diletakkan pada garis transek di titik 0-10 sampai 90-100 m. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan jenis mangrove yaitu Rhizophora sp, Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, dan Sonneratia alba. Hasil analisis nilai biomassa dan simpanan karbon pada akar mangrove cukup tinggi jumlah biomassa berkisar antara 34.15 -107.62 ton/ha.sedangkan jumlah simpanan karbon pada akar mangrove berkisar antara 16.04 – 54.58 ton/ha. Kata kunci: Mangrove, Estimasi , Biomassa,Karbon ,Ratatotok Muara
Gastropod in The Intertidal Zone Tiwoho and Tongkaina, North Sulawesi Budi A.R.D. Juliantoro; Erly Y. Kaligis; Natali D.C. Kumampuk; Kurniati Kemer; Carolus P. Paruntu; Medy Ompi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62358

Abstract

This study aimed to identify the species, measure species density, and assess the diversity, similarity, and dominance of gastropod communities in the intertidal zones of Tiwoho and Tongkaina. The belt transect method was used. A measuring tape was stretched for 30 meters along the lowest tide line, with a 1-meter width on each side (total width of 2 meters), running parallel to the shoreline. The distance between each transect was 5 meters, and three transects were set up at each site.  Gastropods were collected within the 30 × 2 meter transect area. Before collection, photographs of each gastropod still attached to the substrate were taken. Each sample was then placed in a labelled plastic bag according to its transect number. Samples were stored in a deep freezer in the laboratory before identification and measurement of their length and width. Identification was done to the lowest possible taxonomic level (genus or species) using identification guides. The results showed that 14 gastropod species were found at the Tiwoho site and 11 species at the Tongkaina site. The most abundant species at Tiwoho was Drupina grossularia, while Engina alveolata and Clivipollia incarnata were the most common at the Tongkaina. Both sites showed moderate diversity and high evenness, indicating a stable gastropod community. There were no dominant species at either site. Environmental conditions at both locations were considered suitable for gastropod habitation Keywords: Gastropod, Tiwoho, Tongkaina, belt transect, litoral zone   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kepadatan, keanekaragaman, kesamaan, dan dominasi gastropoda di zona intertidal Tiwoho dan Tongkaina. Metode yang digunakan adalah belt transect dengan panjang 30 meter dan lebar efektif 2 meter (1 meter ke kiri dan kanan garis utama), diletakkan di batas surut terendah sejajar garis pantai. Jarak antar transek adalah 5 meter dengan tiga kali ulangan di setiap lokasi. Sampel gastropoda dikumpulkan sepanjang transek (30 × 2 m), difoto saat masih menempel di substrat, kemudian dimasukkan ke dalam plastik berlabel nomor transek. Sampel disimpan dalam deep freezer sebelum dilakukan identifikasi hingga tingkat genus atau spesies di laboratorium, serta dilakukan pengukuran panjang dan lebar menggunakan buku identifikasi sebagai panduan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14 spesies gastropoda di stasiun Tiwoho dan 11 spesies di stasiun Tongkaina. Spesies dengan kepadatan tertinggi di Tiwoho adalah Drupina grosullaria, sedangkan di Tongkaina adalah Engina alveolata dan Clivipollia incarta. Keanekaragaman tergolong sedang, keseragaman populasi tinggi, dan tidak ditemukan spesies yang mendominasi di kedua lokasi. Parameter lingkungan di kedua stasiun mendukung kelangsungan hidup gastropoda. Kata kunci: Gastropoda, Tiwoho, Tongkaina, belt transect, zona litoral
Gastropod Density and Diversity in Tasik Ria Beach Tourism Area, North Sulawesi Aldi Tharo; Indri S. Manembu; Noldy Mamangkey; Inneke F. M. Rumengan; Medy Ompi; Rosita A. J. Lintang
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64406

Abstract

  Baseline information on intertidal gastropod assemblages is critical for managing tropical shorelines subject to growing recreational pressure. This study quantified species composition, density and diversity of gastropods along the intertidal zone of the Tasik Ria Beach Tourism Area, North Sulawesi, Indonesia. Sampling was conducted once at low tide along three 13 m land‑to‑sea transects spaced 50 m apart. Five 1 × 1 m quadrats were placed at 2 m intervals along each transect. Epifaunal gastropods were hand‑collected, while infaunal taxa were excavated to a depth of ~25 cm; all specimens were preserved in 70 % ethanol and identified using regional monographs and the World Register of Marine Species.A total of 24 gastropod species were recorded. Mean densities at the three stations were within ranges typically associated with minimally disturbed sandy‑muddy shores, indicating that habitat remains in comparatively good condition. Shannon–Wiener diversity values (H′) fell within the low‑to‑moderate category, whereas Simpson dominance coefficients (C) were moderate at all stations, reflecting the numerical prominence of Nassarius pullus. The assemblage structure suggests a moderately healthy intertidal community that is beginning to show signs of faunal dominance. Continued periodic recommended to detect potential shifts attributable to intensifying tourism, and to inform evidence‑based coastal management and conservation strategies. Keywords: Gastropods, density, diversity, dominance, and tourist area   Abstrak Informasi dasar tentang komunitas gastropoda di zona pasang surut sangat penting untuk mengelola pantai tropis yang menghadapi tekanan rekreasi yang meningkat. Riset ini mengukur komposisi spesies, kepadatan, dan keragaman gastropoda di zona pasang surut Area Wisata Pantai Tasik Ria, Sulawesi Utara, Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan sekali saat air surut sepanjang tiga transek darat-ke-laut berukuran 13 m dan berjarak 50 m satu sama lain. Lima kuadrat berukuran 1 × 1 m ditempatkan dengan jarak 2 m di sepanjang setiap transect. Gastropoda yang hidup di permukaan dikumpulkan secara manual, sementara taksa infaunal digali hingga kedalaman ~25 cm; semua spesimen diawetkan dalam etanol 70% dan diidentifikasi menggunakan monografi regional dan World Register of Marine Species.Total 24 spesies gastropoda tercatat. Kepadatan rata-rata di tiga stasiun berada dalam rentang yang umumnya terkait dengan pantai berpasir-berlumpur yang minim gangguan, menunjukkan bahwa habitat masih dalam kondisi relatif baik. Nilai keragaman Shannon–Wiener (H′) berada dalam kategori rendah hingga sedang, sedangkan koefisien dominansi Simpson (C) moderat, mencerminkan dominasi numerik Nassarius pullus. Struktur komunitas menunjukkan komunitas intertidal yang sehat namun mulai menunjukkan tanda-tanda dominasi fauna. Pemantauan berkala direkomendasikan untuk mendeteksi pergeseran potensial akibat pariwisata, serta mendukung strategi pengelolaan dan konservasi pesisir berbasis bukti. Kata kunci: Gastropoda, kepadatan, keanekaragaman, dominansi, kawasan wisata.
Abalone Haliotis varia in Tanjung Likupang, North Minahasa, North Sulawesi Bill A. Marongi; Medy Ompi; Erly Y. Kaligis; Farnis B. Boneka; Rosita A. J. Lintang; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64846

Abstract

Abalone (Haliotis varia) is a marine gastropod commonly known as a seven-eyed shell or sea snail. It serves as an important source of marine protein and plays a significant economic role for coastal communities. The abalone has been caught easily by fisherman.  As a result, the abalone population might decrease.  However, there has been limited information of its population in nature up to now. This study aimed to assess the species, density, size, and distribution pattern of abalone in the intertidal zone of Tanjung Likupang, North Sulawesi. Sampling was conducted using the quadrat transect method, with six 25×25 meter (625 m²) placed at two different sites. Each site had 3 replicated.  The results showed variations in abalone density between the two locations. Site 2 had a higher mean density (9.67 individuals/625 m² or 0.02 individuals/m²) compared to Site 1 (7 individuals/625 m² or 0.01 individuals/m²). Size variation at site 1 ranged from 32.9 mm to 52.1 mm (average 40.59 mm), while Site 2 ranged from 20.3 mm to 44 mm (average 38.78 mm). However, statistical analysis indicated no significant difference in both average density and shell length between the two sites. Morisita’s index value was approximately 1 for both locations, suggesting a random distribution pattern. These findings provide a preliminary understanding of the current status of abalone populations in Tanjung Likupang. Keywords: Abalone, Haliotis varia, density, size distribution   Abstrak Abalon (Haliotis varia) merupakan gastropoda laut yang dikenal sebagai sumber protein dan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat pesisir. Abalone mudah ditangkap di alam oleh nelayan.  Hingga populasinya dihipotesa telah menurun di alam.  Namun informasi tentang popualsi abalone adalah masih terbatas sampai saat ini.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kepadatan, ukuran, dan pola distribusi abalon di daerah pasang surut Tanjung Likupang, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat, dengan ukuran 25x25 m (625 m²) ditemaptkan di 2 lokasi.  Maisng-masing lokasi memiliki 3 replikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kepadatan abalon antara kedua lokasi. Lokasi 2 memiliki kepadatan rata-rata lebih tinggi (9,67 individu/625 m² atau 0,02 individu/m²) dibandingkan dengan lokasi 1 (7 individu/625 m² atau 0,01 individu/m²). Ukuran panjang abalon di lokasi 1 berkisar antara 32,9 mm hingga 52,1 mm, dengan rata-rata 40,59 mm, sedangkan di lokasi 2 berkisar antara 20,3 mm hingga 44 mm, dengan rata-rata 38,78 mm. Meskipun terdapat perbedaan angka, uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam kepadatan maupun ukuran panjang antara dua lokasi. Nilai indeks Morisita di kedua lokasi mendekati 1, mengindikasikan pola distribusi individu abalon bersifat acak. Temuan ini memberikan gambaran awal tentang kondisi populasi abalon di kawasan Tanjung Likupang. Kata Kunci: Abalon, Haliotis varia, kepadatan, distribusi ukuran