Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Kajian Spasial Penempatan Fasilitas Sosial di Pemukiman Padat Kota Bandung: Analisis Space Syntax Studi Kasus : Wilayah Kelurahan Burangrang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung Ramadhan, Try; Ramadhan, Gema; Wijaya, Karto; Permana, Asep Yudi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:. Burangrang Urban Village is one of the densely populated residential areas in the center of Bandung. The density of settlements in the center of the city must be supported by the availability of social facilities to develop the social, economic, and cultural quality of the population. Nevertheless, the residential area still lacks an integrated social facility to accommodate the social activities of the community for the entire settlement. Social facilities have an important role to play in increasing the social values of the population by providing space for interaction. Such social facilities should be located in easily accessible areas to accommodate social interaction for all dispersed community settlements. This paper aims to determine the potential placement of social facilities to strengthen social interaction in the neighborhood of the burangrang urban village. The method used is qualitative method with explorative approach through space syntax analysis, to see the connectivity, integration and level of potential destinations of space that can be achieved by the settlement in the area. The data were taken by non-participant observation and secondary data related to the road network and its achievement from settlement in the area.Keyword: social facilities, housing, space syntax Abstrak: Wilayah Kelurahan Burangrang merupakan salah satu daerah pemukiman padat yang berada di tengah Kota Bandung. Padatnya permukiman di tengah kota tersebut harus didukung oleh ketersediaan fasilitas sosial untuk mengembangkan kualitas sosial, ekonomi, dan budaya penduduk. Meskipun begitu, wilayah pemukiman tersebut masih belum terdapat fasilitas sosial yang terintegrasi untuk mewadahi kegiatan sosial masyarakat untuk seluruh pemukiman tersebut. Fasilitas sosial memiliki peran penting untuk meningkatkan nilai-nilai sosial penduduk dengan menyediakan ruang untuk interaksi. Fasilitas sosial tersebut harus ditempatkan di area yang mudah dijangkau agar dapat mewadahi interaksi sosial untuk semua komunitas di pemukiman yang tersebar. Tulisan ini bertujuan untuk menentukan potensi penempatan fasilitas sosial untuk memperkuat interaksi sosial di lingkungan wilayah kelurahan burangrang. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif melalui analisis space syntax, untuk melihat konektivitas, integrasi dan tingkat potensi destinasi ruang yang dapat digapai oleh pemukiman di area tersebut. Data diambil dengan cara observasi non-partisipan dan data sekunder terkait dengan jaringan jalan dan ketercapaiannya dari permukiman di wilayah tersebut.Kata Kunci: fasilitas sosial, pemukiman, space syntax
ANALISIS KONFIGURASI RUANG PONDOKAN MAHASISWA DI KAWASAN TAMAN HEWAN BALUBUR - TAMANSARI, BANDUNG Permana, Asep Yudi; Wijaya, Karto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In simple terms, space can be interpreted as a container of activity. The complexity of an urban environment begins with a variety of activities which then affect the arrangement of space. The variety of activities requires an effective and efficient space configuration that is determined by the formation of spatial structures. As part of a configuration, space is not only a node, but also a path or path that is generally public. This node and path connects the fields and binds them in a relationship system (lingkage system). The research method uses a space configuration analysis approach through calculation of total depth, mean depth, and RA. Next is a descriptive analysis. The research parameters consisted of: connectivity, integrity, intelligibility, and axial line. The results of the study showed that space configuration occurred resulting in 7 (seven) spatial configurations.Keyword: Connectivity, integrity, intelligibility, lingkageAbstrak: Secara sederhana, ruang dapat diartikan sebagai wadah aktivitas. Kompleksitas yang dimiliki lingkungan perkotaan dimulai dengan beragamnya aktivitas yang kemudian berdampak pada susunan ruang. Beragamnya aktivitas membutuhkan konfigurasi ruang yang efektif dan efisien yang ditentukan dari pembetukan struktur ruang. Sebagai bagian darisebuah konfigurasi, ruang tidak hanya berbentuk node, tetapi juga path atau jalur yang umumnya bersifat publik. Node dan path ini menghubungkan lahan-lahan dan mengikatnya dalam suatu sistem hubungan (lingkage system). Metode penelitian menggunakan pendekatan analisis konfigurasi ruang melalui perhitungan total depth, mean depth, dan RA. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif. Parameter penelitian terdiri dari: cennectivity, integrity, intelligibility, dan axial line.  Hasil penelitian menunjukkan konfugiransi ruang yang terjadi menghasilkan 7 (tujuh) konfigurasi ruang.Kata Kunci: Konektivitas, integritas, kejelasan, keterkaitan
PEMANFAATAN URBAN FARMING MELALUI KONSEP ECO-VILLAGE DI KAMPUNG PARALON BOJONGSOANG KABUPATEN BANDUNG Wijaya, Karto; Permana, Asep Yudi; Hidayat, Syarip; Wibowo, Heru
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Bojongsoang Village as one of the areas in Bojongsoang District is a densely populated area, where there is a shift and transfer of green functions to built up land (such as: new housing, industry / factories and others). Land for the green lane has become built up land (built into a house), this makes what should be productive land become unproductive land. In addition, with the increasing pressure of green land into developed land, demanding the community to optimize the land they have as productive land.The understanding of space which is only understood as a horizontal plane as land that can be used as productive land must be changed. Space is not only implemented in the horizontal plane but can also utilize the vertical plane to have high flexibility as land that can be processed as productive land. The urban farming model as an urban agriculture program that has long been developing is a potential activity in supporting the sustainability and survival of a district.The purpose of this study is to determine the Eco Village model in the Paralon village area as an Eco-Architecture concept in supporting the development of Sustainable Cities, as one of the eco-architecture models in urban villages by utilizing their respective land and space.Keyword: Eco-Architecture, Eco Village, Green SettlementAbstrak: Desa Bojongsoang sebagai salah satu wilayah di Kecamatan Bojongsoang merupakan kawasan yang padat penduduk, di mana terdapat pergeseran dan pengalih fungsilahan hijau menjadi lahan terbangun (seperti: perumahan baru, industri/pabrik dan lain-lain). Lahan-lahan untuk jalur hijau menjadi lahan terbangun (dibangun menjadi rumah tinggal), hal inilah menjadikan yang seharusnya menjadi lahan produktif menjadi lahan yang tidak produktif. Di samping itu dengan semakin tertekannya lahan hijau menjadi lahan terbangun, menuntut masyarakat untuk mengoptimalkan lahan yang dimiliki sebagai lahan produktif. Pemahaman ruang yang hanya dipahami sebagai bidang horizontal sebagai lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan produktif harus sudah mulai dirubah. Ruang tidak hanya diimplementasikan ke dalam bidang horizontal akan tetapi juga bisa memanfaatkan bidang vertikal menpunyai fleksibilitas yang cukup tinggi sebagai lahan yang bisa diolah sebagai lahan produktif. Model urban farming sebagai salah satu program pertanian perkotaan yang sudah lama berkembang merupakan aktivitas yang cukup potensial dalam menunjang keberlanjutan (sustainable) dan kebertahanan (survival) dari sebuah kabupaten.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan model Eco Village di wilayah desa Paralon sebagai konsep Eco-Architecture dalam mendukung pengembangan Kota Berkelanjutan, sebagai salah satu model eco-architecture di desa-desa perkotaan dengan memanfaatkan lahan dan ruang masing-masing.Kata Kunci: Arsitektur Ramah Lingkungan, Desa Ramah Lingkungan, Permukiman hijau  
PENGEMBANGAN DESAIN MICRO HOUSE DALAM MENUNJANG PROGRAM NET ZERO ENERGY BUILDINGS (NZE-Bs) Permana, Asep Yudi; Wijaya, Karto; Nurrahman, Hafiz; Permana, Aathira Farah Salsabilla
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Energy efficiency is a top priority in design, because design errors that result in wasteful energy will impact operational costs as long as the building operates. The opening protection in the facade should be adjusted according to their needs, for optimum use of sky light. Inhibiting the entry of solar heat into the room through the process of radiation, conduction or convection, optimum use of sky light and efforts to use building skin elements for shading are very wise efforts for energy savings. House construction planning must be careful and consider many things, including: physical potential. Physical potential is a consideration of building materials, geological conditions and local climate. Related to the issue of global warming that occurs in modern times, climate is a major consideration that needs to be resolved.The purpose of building design, especially in residential homes aims to create amenities for its inhabitants. Amenities are achieved through physical comfort, be it spatial comfort, thermal comfort, auditory comfort, or visual comfort.Energy waste is also caused by building designs that are not well integrated and even wrong and are not responsive to aspects of function, and climate. This is worsened by the tendency of the designers to prioritize aesthetic aspects (prevailing trends). The issue of green concepts and energy consumption efficiency through the Net Zero-Energy Buildings (NZE-Bs) program from the housing sector as a response to tackling global warming is already familiar in Indonesia, although its application has not yet been found significantly. Green concepts offered by housing developers are often merely marketing tricks and are not realized and grow the responsibility of the residents to look after them. Due to the lack of understanding of the green concept, housing developers tend to offer more a beautiful and green housing environment, not the actual green concept.Keyword: Socio-culture, Energy efficiency, Energy consumption, Environment. The green conceptAbstrak: Efisiensi energi merupakan prioritas utama dalam disain, karena kesalahan disain yang berakibat boros energi akan berdampak terhadap biaya opersional sepanjang bangunan tersebut beroperasi. Pelindung bukaan pada fasade sebaiknya dapat diatur sesuai kebutuhannya, untuk pemanfaatan terang langit seoptimal mungkin. Penghambatan masuknya panas matahari kedalam ruangan baik melalui proses radiasi, konduksi atau konveksi, pemanfaatan terang langit seoptimal mungkin serta upaya pemanfaatan elemen kulit bangunan untuk pembayangan merupakan upaya yang sangat bijaksana bagi penghematan energi. Perencanaan pembangunan rumah harus cermat dan mempertimbangkan banyak hal, antara lain: potensi fisik. Potensi fisik adalah pertimbangan akan bahan bangunan, kondisi geologis dan iklim setempat. Terkait dengan isu pemanasan global yang terjadi pada masa modern ini, iklim menjadi sebuah pertimbangan utama yang perlu diselesaikan.Tujuan desain bangunan khususnya pada rumah tinggal bertujuan menciptakan amenities bagi penghuninya. Amenities dicapai melalui kenyamanan fisik, baik itu spatial comfort, thermal comfort, auditory comfort, maupun visual comfort.Pemborosan energi juga disebabkan oleh desain bangunan yang tidak terintegrasi dengan baik bahkan salah dan tidak tanggap terhadap aspek fungsi, serta iklim. Hal tersebut diperparah yang kecenderungan para perancang lebih mementingkan aspek estetis (tren yang berlaku). Isu konsep hijau dan efisiensi konsumsi energi melalui program Net Zero-Energy Buildings (NZE-Bs) dari sektor perumahan sebagai respon untuk menanggulangi pemanasan global sudah tidak asing di Indonesia, walaupun penerapannya masih belum dapat ditemukan secara signifikan. Konsep hijau yang ditawarkan oleh pengembang perumahan seringkali hanya sebagai trik pemasaran belaka dan tidak diwujudkan serta ditumbuhkan tanggung jawab para penghuni untuk menjaganya. Akibat minimnya pemahaman mengenai konsep hijau tersebut, para pengembang perumahan cenderung lebih banyak menawarkan lingkungan perumahan yang asri dan hijau, bukan konsep hijau yang sebenarnya.Kata Kunci: Sosio-kultur, Efisiensi Energi, Konsumsi energi, Lingkungan, Konsep Hijau
IDENTIFIKASI BANGUNAN KUMUH YANG MEMPENGARUHI KUALITAS LINGKUNGAN PERMUKIMAN TAMANSARI KOTA BANDUNG Febrion, Churchil; Wijaya, Karto; Sugandi, Dedi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The density of urban settlements has resulted in poor visualization of the city, the need to improve the quality of buildings and rearrangement of the area which aims to improve the quality of visualization of the face of the city of Bandung for the better. Moreover, the area is located near one of Bandung's landmarks, namely the Pasopati bridge which is also an access to the city of Bandung. The high price of land and building materials causes a very dense residential environment, every existing land will be built as much as possible with bad construction values, of the many slum settlements in Bandung City, Tamansari is one of the settlements that are still slum. The buildings in the Tamansari area have various forms, the building area is relatively narrow and the material is minimal, and the construction is minimal. The tightness of the building distance makes road access in this area very narrow so that it cannot be used for evacuation routes and other emergency routes, another result of the density of the building is a lack of green open space or public facilities. This is what makes the visualization of this area worse and if you look at it from above the Pasopati bridge. The Pasopati Bridge is a bridge that stretches over this village and has become one of the city's icons, a bridge that connects the Pasteur area which is one of the access points to Bandung City to the center of Bandung City and across an area that has history and has even become an icon of the city of Bandung, namely Satay tower. This makes observers interested in researching slum buildings that have been built for a long time. The purpose of this study is to determine the level of slums on the banks of the Cikapundung river which is clearly visible from the bridge which is the access to the city gate of Bandung.
PENGARUH DIMENSI MOTIVASI, KARAKTERISTIK LINGKUNGAN, DAN AKTIVITAS PADA SENSE OF PLACE SHOPPING MALL Sitorus, Nurul Adha; Sukardi, Rahy Rachmawan; Wijaya, Karto; Kusuma, Hanson Endra
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The rapid growth of shopping malls in Indonesia creates differences in people's spending motivation. The main purpose of visiting shopping malls is not only for utilitarian activities but for hedonic activities. The difference in shopping motivation is related to the behavior patterns of visitors in carrying out activities. The characteristics of the mall environment play a role in influencing the selection of malls that visitors find attractive. Seeing this phenomenon, this study aims to see the causal relationship between motivation, characteristics of the physical environment, activities, and sense of place experienced by visitors at shopping malls. The research was conducted in two phases, qualitative and quantitative. From the analysis results obtained 7 dimensions of internal motivation, for the category of hedonic motivation (relaxation shopping, role shopping, social shopping, value shopping, adventure shopping), categories of utilitarian motivation (anticipated utility and efficiency shopping), 2 dimensions of physical environment characteristics (green open space). , completeness of facilities), 3 dimensions of activity (group/social, functional and recreational, and entertainment), 3 measurable variables of sense of place (want to visit again, want to linger, feel comfortable). Based on multivariate regression, the results obtained that internal motivation (social shopping) has a strong influence on sense of place, and environmental characteristics do not have a direct influence on sense of place but environmental characteristics encourage a strong influence for someone to carry out certain activities at the shopping mall. and the activities carried out also affect the sense of place in the shopping mall.Abstrak: Pesatnya pertumbuhan shopping mall saat ini, menyebabkan perbedaan motivasi berbelanja dalam mengunjungi mall. Tujuan utama mengunjungi mall bukan hanya melakukan aktivitas utilitarian tetapi juga aktivitas hedonik. Perbedaan ini berkaitan dengan pola perilaku pengunjung dalam melakukan aktivitas. Karakteristik lingkungan mall berperan dalam mempengaruhi pemilihan mall yang menurut pengunjung menarik. Melihat fenomena tersebut, adapun penelitian ini berusaha untuk melihat hubungan sebab akibat antara motivasi, karakteristik lingkungan fisik, aktivitas, dan sense of place yang dialami pengunjung saat di shopping mall. Penelitian dilakukan dalam dua fase, kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil analisis diperoleh 7 dimensi motivasi internal, untuk kategori motivasi hedonik (relaxation shopping, role shopping, social shopping, value shopping, adventure shopping), kategori motivasi utilitarian (anticipated utility dan efficency shopping ), 2 dimensi karakteristik lingkungan fisik ( ruang terbuka hijau, kelengkapan fasilitas), 3 dimensi aktivitas (berkelompok/sosial, fungsional dan rekreasional, dan hiburan), 3 variabel terukur sense of place (ingin berkunjung kembali, ingin berlama-lama, merasa nyaman). Berdasarkan regresi multivariat, diperoleh hasil motivasi internal (social shopping) memiliki pengaruh yang kuat terhadap sense of place, dan karakteristik lingkungan tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap sense of place namun karakteristik lingkungan mendorong pengaruh yang kuat bagi seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu di shopping mall, dan kegiatan yang dilakukan tersebut juga mempengaruhi sense of place di shopping mall
RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA KELURAHAN PELINDUNG HEWAN (RUSUNAWA PELWAN) Nurasili, Renita Ayuandra; Wijaya, Karto; Rahmat, Amat
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The rate of population growth in Indonesia is growing very rapidly, but this is not accompanied by the availability of adequate decent housing. Limited land in urban areas in Indonesia is one of the important issues behind the unavailability of decent housing for all groups. The decent housing that has been built offers prices that are not affordable for most people. This certainly needs to find a solution so that all people can still get decent housing by utilizing limited urban land, especially for people with middle to lower economic levels or Low Income Communities (MBR). Land efficiency by making residential terraces up or vertical can be a low-cost housing solution for MBR. Through the role of architecture in creating vertical settlements in the form of flats that meet standards, the concept of Pragmatic Architecture which prioritizes aspects of function over aesthetics is considered capable of answering the findings of certain problems that are real and measurable such as population density, limited land, allocation of funds, supporting facilities for the needs of daily residents. day, structure & construction and various other aspects. It is hoped that this functional design will be effective in improving the quality of life for the occupants of the flats in order to provide decent housing in limited urban land.Abstrak: Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia berkembang sangat pesat namun hal ini tidak diiringi dengan ketersediaan hunian layak yang memadai. Keterbatasan lahan di perkotaan di Indonesia menjadi salah satu isu penting dibalik tidak tersedianya hunian layak bagi semua kalangan. Adapun hunian layak yang terbangun menawarkan harga yang tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini tentu perlu dicari solusi agar seluruh kalangan masyarakat tetap mendapatkan hunian layak dengan memanfaatkan lahan perkotaan yang terbatas terkhusus bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Efisiensi lahan dengan membuat hunian bersusun keatas atau vertikal dapat menjadi solusi hunian murah bagi MBR. Melalui peran arsitektur guna menciptakan pemukiman vertikal berupa rumah susun yang memenuhi standar, konsep Arsitektur Pragmatik yang memprioritaskan aspek fungsi diatas estetika dinilai mampu menjawab temuan permasalahan tertentu yang nyata adanya serta dapat diukur seperti kepadatan penduduk, keterbatasan lahan, pengalokasian dana, fasilitas penunjang kebutuhan penghuni sehari hari, struktur & konstuksi dan berbagai aspek lainnya. Harapan dari desain yang fungsional ini dapat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup penghuni rumah susun dalam rangka memberikan hunian layak di keterbatasan lahan perkotaan.
EVALUASI EFEKTIFITAS PENYALURAN PROGRAM PERUMAHAN SUBSIDI (STUDI KASUS: PERUMAHAN RANCAEKEK PERMAI 2 BANDUNG) Sitorus, Nurul Adha; Putra, Hadi Jaya; Wijaya, Karto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai program subsidi perumahan yang telah disalurkan oleh pemerintah khususnya bagi golongan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih kerap terjadi berbagai permasalahan. Banyak ditemukan banyak unit rumah dimiliki oleh kelompok yang bukan sasarannya, banyaknya terdapat rumah yang sudah dibeli tetapi tidak dihuni oleh pemiliknya dan buruknya kondisi prasarana dan fisik bangunan, yang mana hal ini juga terjadi di Perumahan Rancaekek Permai 2, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Berangkat dari fenomena tersebut artikel ini mengkaji apakah penyaluran subsidi perumahan yang ada di Kecamatan Rancaekek apakah telah efektif atau belum. Penelitian ini menggunakan metode mix-method (kualitatif dan kuantitatif) dengan pengambilan data berupa in-depth interview terstruktur dan observasi. Wawancara dilakukan kepada 10 informan yang tinggal di Perumahan Rancaekek Permai 2, 1 Ketua Rukun Warga dan 1 Humas Pihak Pengembang. Analisis data menunjukkan persentase variabel mekanisme program 80% atau baik. Sedangkan, variabel produk perumahan memiliki persentase sebesar 33,75% atau tidak baik. Sehingga, Penelitian ini mengungkapkan bahwa penyaluran perumahan bersubsidi di Perumahan Rancaekek Permai 2 memiliki persentase sebesar 56,87% atau efektif. Meskipun demikian, persentase ini relatif kecil dan patut untuk ditingkatkan. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa aspek kelompok sasaran, fisik bangunan dan prasarana umum harus ditingkatkan dan harus dilakukan pengawasan ketat oleh pemerintah.
RATTAN CRAFTSMANSHIP CENTER AND WOODWORKING KABUPATEN CIREBON Wijaya, Karto; Qurani, Isti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Local cultural assets include the cultural wealth of an area, both in physical and non-physical aspects that grow and develop from generation to generation. Craftsmanship tends to have a fairly broad exploration of ideas in making works or products of their creation. Rattan as a local product that has become part of the body of the people of Cirebon Regency, especially the Galmantro Rattan Tourism Village. The activities and potentials in this village seem to give a "soul" to Tegalwangi Village which is rarely owned by other villages. The potential of this activity finally gives identity to the area and buildings that are designed to use the “spirit of place”as the  concept theme from this planning programming. This theme connected through the genius loci of local wisdom which has several basic materials to be connected to the design concept, namely Nusantara Architecture. Architecture Nusantara includes: The existence of a terrace / porch as a communal space. Rattan Craftsmanship Center and Woodworking West Java, especially Cirebon Regency, is planned by considering the local materials and values of Nusantara Architecture.Keyword: Craftsmanship, Rattan, Nusantara ArchitectureAbstrak: Aset budaya local termasuk kedalamnya ialah kekayaan budaya sebuah daerah, baik dalam aspek fisik maupun non-fisik yang tumbuh serta berkembang secara turun-temurun. Craftsmanship cenderung memiliki eksplorasi ide yang cukup luas dalam membuat karya atau produk ciptaanya. Rotan sebagai produk lokal yang telah menjadi bagian tubuh dari masyarakat Kabupaten Cirebon khususnya Kampung Wisata Rotan Galmantro. Aktivitas dan potensi di kampung ini seakan memberikan “jiwa” pada Desa Tegalwangi yang jarang dimiliki desa lain. Potensi dari kegiatan ini akhirnya memberikan identitas pada wilayah dan bangunan yang dirancang untuk menggunakan tema “spirit of place”- nya dari kawasan ini. Tema ini kemudian terhubung melalui genius loci dari kearifan lokal budaya setempat yang memiliki beberapa material dasar untuk dapat dihubungkan kepada konsep perancangan, yakni Arsitektur Nusantara Arsitektur Nusantara diantaranya ialah : Adanya teras / serambi sebagai ruang yang dipakai secara komunal. Rattan Craftsmanship Center and Woodworking Jawa Barat, khususnya Kabupaten Cirebon, direncanakan dengan mempertimbangkan material dan nilai-nilai lokal Arsitektur Nusantara.Kata Kunci: Craftsmanship, Rotan, Arsitektur Nusantara
KAJIAN SPASIAL AKSESIBILITAS KAWASAN PERBELANJAAN MENGGUNAKAN ANALISIS SPACE SYNTAX Wijaya, Karto; Ananda, Erfina Putri; Soekardi, Rahy R; Nurrohman, Faun
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i4.3891

Abstract

Abstract: Rapid urban growth and changes in people's lifestyle patterns have a significant impact on the dynamics of accessibility in shopping areas. Shopping centers and business areas are very crucial elements in meeting consumer needs. This study is related to the spatial study of accessibility of shopping areas in Kebon Jeruk Village, Bandung City, using space syntax analysis. The approach used in this study is quantitative and carried out spatially, where the method utilizes Space Syntax software. Intelligibility analysis or clarity value shows a significant relationship between connectivity and integrity. A space will be more easily recognized if it has a strong relationship between the two variables. The results of the analysis using the space syntax method show that the intelligibility value in the spatial configuration in the Kebon Jeruk Village Shopping Area reflects a high level of connectivity, especially focused on main routes such as Jalan Pasir Kaliki and Gardujati. The R² value of the road network in Kebon Jeruk Village is 0.709084, which indicates a moderate correlation and is approaching strong because it is approaching 1. With connectivity as the x variable and integration as the y variable, the intelligibility value is approaching strong, meaning a very good level of proximity to other spaces.Keyword: Accessibility, Urban Spatial Pattern, Space SyntaxAbstrak: Pertumbuhan pesat perkotaan dan perubahan pola gaya hidup masyarakat membawa dampak signifikan terhadap dinamika aksesibilitas di kawasan perbelanjaan. Pusat perbelanjaan dan kawasan bisnis menjadi elemen yang sangat krusial dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Studi ini terkait dengan kajian spasial aksesibilitas kawasan perbelanjaan di Kelurahan Kebon Jeruk, Kota Bandung, menggunakan analisis space syntax. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kuantitatif dan dilakukan secara spasial, dimana metodenya memanfaatkan perangkat lunak Space Syntax. Analisis Intelligibility atau nilai kejelasan memperlihatkan relasi yang signifikan antara connectivity dan integrity. Sebuah ruang akan lebih mudah dikenali apabila memiliki keterkaitan yang kuat dari kedua variabel tersebut. Hasil analisis menggunakan metode space syntax menunjukkan bahwa nilai intelligibility pada konfigurasi ruang di Kawasan Perbelanjaan Kelurahan Kebon Jeruk mencerminkan tingkat konektivitas yang tinggi, terutama terfokus pada jalur-jalur utama seperti Jalan Pasir Kaliki dan Gardujati. Nilai R² jaringan jalan di Kelurahan Kebon Jeruk yaitu 0,709084 yang mengindikasikan adanya kolerasi yang sedang dan menuju ke kuat karna mendekati 1. Dengan konektivitas sebagai variabel x dan integrasi sebagai variabel y, nilai intelligibility yang sedang menuju ke kuat, memiliki makna tingkat kedekatan yang sangat baik ke ruang – ruang lainnya.Kata Kunci: Aksebilitas, Pola Ruang Kota, Space Sintax