Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : inklusi journal of disability studies

Aksesibilitas Layanan Publik bagi Penyandang Paraplegia Korban Bencana Gempa Bumi DIY di Kabupaten Bantul Hanjarwati, Astri
INKLUSI Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.100202

Abstract

The research explores how people with paraplegia, a disability caused by the 2006 eartquake in Bantul Regency, Indonesia, access public services. They have spinal injuries that affect their mobility. It is crucial for ensuring access to public services for people with paraplegia is vital for their post-disaster recovery and resilience. The research uses a mixed method by combining data collected through a survey and in-depth interviews, observation, and documentation studies. The research involved 44 people with paraplegia as primary data sources. The research finds that, (1) Health services are free and the bulildings are wheelchair friendly for people with paraplegia; (2) Education services are available, but not inclusive and segregate students with disabilities; (3) Places of worship and mobility infrastructure are mostly accessible, but some need improvement. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana penyandang paraplegia, suatu disabilitas yang disebabkan oleh gempa bumi tahun 2006 di Kabupaten Bantul, Indonesia, mengakses layanan publik. Mereka mengalami cedera tulang belakang yang mempengaruhi mobilitas mereka. Sangat penting untuk memastikan akses layanan publik bagi penyandang paraplegia demi pemulihan dan ketahanan pasca bencana. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan menggabungkan data yang dikumpulkan melalui survei dan wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Penelitian ini melibatkan 44 penyandang paraplegia sebagai narasumber data primer. Hasil penelitian ini menemukan bahwa, (1) Layanan kesehatan dapat diakses secara gratis dan bangunan ramah bagi pengguna kursi roda termasuk penyandang paraplegia; (2) Layanan pendidikan tersedia, tetapi belum inklusif dan memisahkan siswa dengan disabilitas; (3) Tempat ibadah dan infrastruktur mobilitas sebagian besar dapat diakses, tetapi beberapa perlu perbaikan.
Evaluasi Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta Mengenai Pendidikan Inklusi Hanjarwati, Astri; Aminah, Siti
INKLUSI Vol. 1 No. 2 (2014)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.436 KB) | DOI: 10.14421/ijds.010206

Abstract

The main problem encountered in the field of education in Yogyakarta is the large number of children with special needs who do not get adequate educational services. Schools in the city of Yogyakarta tend to rejectandon the other hand, are lessaccessible to the crew. The number of complaints from the public push for education reformin the city of Yogyakarta, namely inclusive education. In 2008, drafted onthe concept of inclusive education policy in the city of Yogyakarta, which is then passed into the Mayor Regulation No.47 in 2008. With the inclusi on of education policy, the crew can obtain equivalent education with other normal children. A subsequent stage after the Mayoris Regulations Technical Guidance (technical guidelines) the implementation ofinclusive education. After completion oftechnical guidelines drawn up, the socialization and awareness of teachers in schools ranging from kindergarten tohigh school/vocational school in the city of Yogyakarta.
PRODADISA “Program Pemberdayaan Difabel Daksa” menuju Percontohan BKD (Balai Kerja Difabel) untuk Meningkatkan Kemandirian dan Life Skill Difabel Aminah, Siti; Suprihatiningrum, Jamil; Hanjarwati, Astri
INKLUSI Vol. 2 No. 2 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.1 KB) | DOI: 10.14421/ijds.2209

Abstract

Jumlah difabel daksa di kabupaten Bantul termasuk dalam kategori tinggi dibandingkan daerah lain, terutama pascagempa tahun 2006. Meskipun pemerintah telah memperhatikan keberlanjutan hidup yang layak bagi difabel, namun sampai saat ini, program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah belum memberikan dampak yang signifikan bagi kemandirian dan life skills bagi para difabel daksa. Salah satu lembaga difabel yang berperan dalam program pemberdayaan ini adalah Paguyuban Bangkit Bersama (PBB). Forum ini merupakan wadah dari perwakilan DPO seluruh (17) kecamatan di Kabupaten Bantul. FPDB sudah memiliki berbagai macam kegiatan pemberdayaan, diantaranya pembuatan dan reparasi sepatu roda, kerajinan anyaman bambu, dan pembuatan meja kursi untuk cafe. Sayangnya, FPDB belum memiliki manajemen SDM yang bagus dan tertata rapi, di samping hasil produk dari program pemberdayaan yang sebenarnya sudah layak jual, namun proses pemasaran yang kurang dapat menarik pasar. Oleh karenaitu, melalui Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini akan diusulkan PRODADISA (Program Pemberdayaan Difabel Daksa) yang meliputi kegiatan assessment, kelanjutan program yang diselenggarakan PBB, dan evaluasi program pemberdayaan difabel yang selama ini telah dilakukan oleh PBB bersama pemda kabupaten Bantul. Tujuan PRODADISA adalah untuk: meningkatkan kemampuan difabel daksa anggota PBB dalam hal manajemen SDM; membentuk masyarakat difabel yang mandiri dalam berwirausaha; memberikan pelatihan teknologi informasi kepada anggota FPDB dalam mendukung usahanya; memberikan pelatihan menjahit dan pengembangan produk jahit yang marketable. Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah FPDB menjadi percontohan Balai Kerja Difabel (BKD), sehingga sustainability kegiatan dapat terus terjaga.