Astri Hanjarwati
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Is Online Learning Accessible During COVID-19 Pandemic? Voices and Experiences of UIN Sunan Kalijaga Students with Disabilities Ro'fah, Ro'fah; Hanjarwati, Astri; Suprihatiningrum, Jamil
Nadwa Vol 14, No 1 (2020): Islamic Education and Radicalism
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2020.14.1.5672

Abstract

The study seeks to examine the voices and experiences of students with disabilities in navigating online learning during the COVID-19. Based on in-depth interviews with thirty-four students with various disabilities of UIN Sunan Kalijaga, this study attempts to answer how these students experiencing online learning, what challenges they encounter, and what strategies they are using to navigate this new way of learning. Results show most students prefer conventional face-to-face learning, compared to the online learning one. Students reported various challenges they experienced, the most important of which is the high cost of internet access. Other challenges include the inaccessibility of the e-learning system with respect to the platform of online learning and the learning activities. Students also concerned with the absence of supports that they normally received from the university’s disability office (Pusat Layanan Difabel/ PLD). These challenges have encouraged students to seek help from family members, peers, and lecturers.Abstrak Studi ini berupaya untuk mengevaluasi pendapat dan pengalaman siswa penyandang cacat dalam menavigasi pembelajaran online selama COVID-19. Berdasarkan wawancara mendalam dengan tigapuluh empat mahasiswa dengan berbagai kecacatan di UIN Sunan Kalijaga, penelitian ini mencoba menjawab bagaimana para siswa ini mengalami pembelajaran online, tantangan apa yang mereka hadapi, dan strategi apa yang mereka gunakan untuk menavigasi cara belajar baru ini. Hasil menunjukkan sebagian besar siswa lebih suka pembelajaran tatap muka konvensional, dibandingkan dengan pembelajaran online. Siswa melaporkan berbagai tantangan yang mereka alami, yang terpenting adalah tingginya biaya akses internet. Tantangan lain termasuk tidak dapat diaksesnya sistem e-learning sehubungan dengan platform pembelajaran online dan kegiatan pembelajaran. Siswa juga khawatir dengan tidak adanya dukungan yang biasanya mereka terima dari Pusat Layanan Difabel (PLD) universitas. Tantangan-tantangan ini telah mendorong siswa untuk mencari bantuan dari anggota keluarga, teman sebaya, dan dosen
PERSEPSI PENYANDANG DISABILITAS DAN STAKEHOLDER UNTUK MEMPROMOSIKAN DAN MENGEMBANGKAN KOMUNITAS INKLUSIF DI DIY DAN ASIA TENGGARA Hanjarwati, Astri; Suprihatiningrum, Jamil; Aminah, Siti
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v13i12.1625

Abstract

 This research was conducted to investigate the perceptions of persons with disabilities and stakeholders regarding the promotion and development of Friendly and Inclusive Communities in Bantul Regency, DIY and Kendari City, Southeast Sulawesi. The study was designed using transformative mixed-method, with the framework of KIPA (Knowledge, Inclusion, Participation, and Access) as a theoretical framework core. The first step was carried out by an empirical survey through distributing questionnaires to 48 respondents in Bantul Regency and 52 respondents in Kendari City. The results of data analysis from questionnaire contents were processed through descriptive statistics to describe respondents' perceptions quantitatively. Quantitative results are used as a reference in qualitative data collection, namely through in-depth interviews with selected respondents. The results of the study show that both persons with disabilities and stakeholders have a positive perception of the promotion and development of a friendly and inclusive community in their area. Although knowledge about disability, inclusion and the issues that surround it is still limited, but both persons with disabilities and stakeholders claim the need for a Friendly and Inclusive Community to be realized. Repondents of persons with disabilities also added that participation and access to development by and for persons with disabilities needs to be improved both in terms of quantity and quality.Penelitian ini dilakukan untuk menginvestigasi persepsi penyandang disabilitas dan stakeholders mengenai promosi dan pengembangan Komunitas Ramah dan Inklusif di Kabupaten Bantul, DIY dan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Penelitian didesain menggunakan transformative mixed-method, dengan kerangka KIPA (Knowledge, Inclusion, Participation, and Access) sebagai core theoretical framework. Langkah pertama dilakukan dengan survey empiris melalui penyebaran kuesioner kepada 48 responden di Kabupaten Bantul dan 52 responden di Kota Kendari. Hasil analisis data dari isian kuesioner diolah melalui statistik deskriptif untuk menggambarkan persepsi responden secara kuantitatif. Hasil kuantitatif dijadikan sebagai rujukan dalam pengambilan data secara kualitatif, yaitu melalui in-depth interview kepada responden terpilih. Hasil penelitian menunjukkan baik penyandang disabilitas maupun stakeholders memiliki persepsi yang positif terhadap promosi dan pengembangan Komunitas Ramah dan Inklusif di daerah mereka. Meskipun pengetahuan mengenai disabilitas, inklusi dan isu-isu yang melingkupinya masih terbatas, namun baik penyandang disabiltias dan stakeholders mengaku perlunya Komunitas Ramah dan Inklusif untuk diwujudkan. Reponden penyandang disabilitas juga menambahkan bahwa partisipasi dan akses pembangunan oleh dan untuk penyandang disabilitas perlu ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas.   
Is Online Learning Accessible During COVID-19 Pandemic? Voices and Experiences of UIN Sunan Kalijaga Students with Disabilities Ro'fah, Ro'fah; Hanjarwati, Astri; Suprihatiningrum, Jamil
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 1 (2020): Islamic Education and Radicalism
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2020.14.1.5672

Abstract

The study seeks to examine the voices and experiences of students with disabilities in navigating online learning during the COVID-19. Based on in-depth interviews with thirty-four students with various disabilities of UIN Sunan Kalijaga, this study attempts to answer how these students experiencing online learning, what challenges they encounter, and what strategies they are using to navigate this new way of learning. Results show most students prefer conventional face-to-face learning, compared to the online learning one. Students reported various challenges they experienced, the most important of which is the high cost of internet access. Other challenges include the inaccessibility of the e-learning system with respect to the platform of online learning and the learning activities. Students also concerned with the absence of supports that they normally received from the university’s disability office (Pusat Layanan Difabel/ PLD). These challenges have encouraged students to seek help from family members, peers, and lecturers.Abstrak Studi ini berupaya untuk mengevaluasi pendapat dan pengalaman siswa penyandang cacat dalam menavigasi pembelajaran online selama COVID-19. Berdasarkan wawancara mendalam dengan tigapuluh empat mahasiswa dengan berbagai kecacatan di UIN Sunan Kalijaga, penelitian ini mencoba menjawab bagaimana para siswa ini mengalami pembelajaran online, tantangan apa yang mereka hadapi, dan strategi apa yang mereka gunakan untuk menavigasi cara belajar baru ini. Hasil menunjukkan sebagian besar siswa lebih suka pembelajaran tatap muka konvensional, dibandingkan dengan pembelajaran online. Siswa melaporkan berbagai tantangan yang mereka alami, yang terpenting adalah tingginya biaya akses internet. Tantangan lain termasuk tidak dapat diaksesnya sistem e-learning sehubungan dengan platform pembelajaran online dan kegiatan pembelajaran. Siswa juga khawatir dengan tidak adanya dukungan yang biasanya mereka terima dari Pusat Layanan Difabel (PLD) universitas. Tantangan-tantangan ini telah mendorong siswa untuk mencari bantuan dari anggota keluarga, teman sebaya, dan dosen
Is Online Learning Accessible During COVID-19 Pandemic? Voices and Experiences of UIN Sunan Kalijaga Students with Disabilities Ro'fah Ro'fah; Astri Hanjarwati; Jamil Suprihatiningrum
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 1 (2020): Islamic Education and Radicalism
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2020.14.1.5672

Abstract

The study seeks to examine the voices and experiences of students with disabilities in navigating online learning during the COVID-19. Based on in-depth interviews with thirty-four students with various disabilities of UIN Sunan Kalijaga, this study attempts to answer how these students experiencing online learning, what challenges they encounter, and what strategies they are using to navigate this new way of learning. Results show most students prefer conventional face-to-face learning, compared to the online learning one. Students reported various challenges they experienced, the most important of which is the high cost of internet access. Other challenges include the inaccessibility of the e-learning system with respect to the platform of online learning and the learning activities. Students also concerned with the absence of supports that they normally received from the university’s disability office (Pusat Layanan Difabel/ PLD). These challenges have encouraged students to seek help from family members, peers, and lecturers.Abstrak Studi ini berupaya untuk mengevaluasi pendapat dan pengalaman siswa penyandang cacat dalam menavigasi pembelajaran online selama COVID-19. Berdasarkan wawancara mendalam dengan tigapuluh empat mahasiswa dengan berbagai kecacatan di UIN Sunan Kalijaga, penelitian ini mencoba menjawab bagaimana para siswa ini mengalami pembelajaran online, tantangan apa yang mereka hadapi, dan strategi apa yang mereka gunakan untuk menavigasi cara belajar baru ini. Hasil menunjukkan sebagian besar siswa lebih suka pembelajaran tatap muka konvensional, dibandingkan dengan pembelajaran online. Siswa melaporkan berbagai tantangan yang mereka alami, yang terpenting adalah tingginya biaya akses internet. Tantangan lain termasuk tidak dapat diaksesnya sistem e-learning sehubungan dengan platform pembelajaran online dan kegiatan pembelajaran. Siswa juga khawatir dengan tidak adanya dukungan yang biasanya mereka terima dari Pusat Layanan Difabel (PLD) universitas. Tantangan-tantangan ini telah mendorong siswa untuk mencari bantuan dari anggota keluarga, teman sebaya, dan dosen
Survei Aksesibilitas Fisik dan Sosial sebagai Dasar Penyusunan Grand Design Desa Inklusif Astri Hanjarwati; Jamil Suprihatiningrum; Siti Aminah
JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat) Vol 8, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Departement of Nonformal Education, Graduate Scholl of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppm.v8i1.24266

Abstract

Abstrak: Desa Trimurti memiliki jumlah penyandang disabilitas tertinggi di Kabupaten Bantul. Hal ini menjadikan Desa Trimurti berpotensi untuk  menjadi desa inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aksesibilitas fisik dan sosial penyandang disabilitas. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian survei, dengan sampel 60 penyandang disabilitas (30% dari total jumlah penyandang disabilitas). Analisis data secara deskriptif menggunakan spss versi 23. Hasilnya survei  menunjukkan: (1) aksesibilitas sosial di Desa Trimurti sangat baik ditunjukkan dengan sikap terhadap penyandang disabilitas yang baik; ketersediaan layanan pendidikan, kesehatan dan informasi sangat baik. (2) aksesibilitas fisik menunjukkan bahwa  sebagian besar bangunan fisik tidak dapat diakses, kecuali Sekolah Khusus (SLB) dan Puskesmas Srandakan. (3)  aksesibilitas finansial, kebijakan dan pengetahuan para penyandang cacat masih sangat terbatas; penyandang disabilitas tidak memiliki akses ke modal dan peluang kerja. Berdasarkan pada hasil survei tersebut dapat disusun kebijakan yang inklusif sehingga terwujud desa inklusif yang ramah terhadap penyandang disabilitas Survey of Physical and Social Accessibility as a Base Preparation of the Inclusive Village Grand Design Abstract: Trimurti Village has the highest number of persons with disabilities in Bantul Regency. This makes Trimurti Village has the potential to become an inclusive village. This study aims to determine the physical and social accessibility of persons with disabilities. The research method used was survey research, with a sample of 60 people with disabilities (30% of the total number of people with disabilities). Descriptive data analysis using SPSS version 23. The survey results show: (1) social accessibility in the village of Trimurti is very well demonstrated by a good attitude towards persons with disabilities; the availability of education, health and information services is very good. (2) physical accessibility shows that most of the physical buildings are inaccessible, except for Special Schools (SLB) and the Heatlh Center (Puskesmas) Srandakan. (3) financial accessibility, policy and knowledge of people with disabilities is still very limited; people with disabilities do not have access to capital and employment opportunities. Based on the results of the survey, inclusive policies can be developed so that an inclusive village that is friendly to people with disabilities can be developed. 
Aset Penghidupan Penyandang Paraplegia Sebelum dan Setelah Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Bantul Astri Hanjarwati
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0402-04

Abstract

People with paraplegia of victims of the earthquake in Bantul District in 2006 were new disabled people who suffered spinal damage and used a wheelchair for daily mobility. A new diffable is someone who became disabled not from birth but because of an accident, natural disaster and degenerative pain. The number of people with paraplegia in 2006 earthquake was 442 people. The amount is not small that requires policy and treatment so they can continue their lives properly. An assessment of livelihood assets after a disaster (being disabled) is important to do. The purpose of this study is to analyze the differences in the condition of livelihood assets before the disaster, shortly after the disaster and current conditions. The locations of this study were six sub-districts in Bantul Regency with the largest number of paraplegia sufferers with a population of 124 people, and 44 people are taken using stratified random sampling. The data were taken using using a questionnaire. The analysis used is a scale assessment. The research results show that human capital, physical capital and financial capital have decreased from before the earthquake disaster, while social capital has increased in conditions after the earthquake disaster. Improvement of the livelihoods condition from shortly after the disaster to the current condition (10 years after the disaster) is influenced by two factors, they are the livelihood strategies of people with paraplegia and the government, NGO and family support interventions.[Penyandang paraplegia korban bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul tahun 2006 merupakan difabel baru yang mengalami kerusakan tulang belakang dan mobilitas sehari-hari menggunakan kursi roda. Difabel baru adalah seseorang yang menjadi difabel bukan sejak lahir tetapi karena kecelakaan, bencana alam dan sakit degeneratif. Jumlah penyandang paraplegia akibat gempa bumi tahun 2006 yaitu 442 orang. Jumlah yang tidak sedikit ini memerlukan kebijakan dan penanganan agar mereka dapat melanjutkan kehidupannya secara layak. Asesmen mengenai aset penghidupan setelah bencana (menjadi difabel) penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan kondisi aset penghidupan sebelum bencana, sesaat setelah bencana dan kondisi saat ini. Lokasi penelitian adalah enam kecamatan di Kabupaten Bantul dengan jumlah penyandang paraplegia terbanyak dengan jumlah populasi 124 orang, dan diambil sampel dengan metode stratified random sampling sebanyak 44 orang. Pengambilan data dengan teknik survei menggunakan kuesioner. Analisis yang digunakan adalah penilaian skala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal manusia, modal fisik dan modal keuangan mengalami penurunan dari sebelum bencana gempa bumi, sedangkan modal sosial mengalami kenaikan pada kondisi setelah bencana gempa bumi. Peningkatan kondisi aset penghidupan dari sesaat setelah bencana menjadi kondisi saat ini (10 tahun setelah bencana) dipengaruhi oleh dua faktor yaitu strategi penghidupan penyandang paraplegia dan intervensi pemerintah, LSM dan daya dukung keluarga.]
Model Pendidikan Karakter Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Astri Hanjarwati; Asep Jahidin; Noorkamlila Noorkamila; Siti Solehah
IJER (Indonesian Journal of Educational Research) Vol. 2 No. 1 (2017): Volume 2 No 1 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.874 KB) | DOI: 10.30631/ijer.v2i1.36

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pendidikan karakter di Komunitas Belajar Qaryah Tayyibah (KBQT) yang berlokasi di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kabupaten Slatiga, Propinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan pemeriksaan kebasahan data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1)Kurikulum pembelajaran Komunitas Belajar Qoryah Thayyibah diserahkan kepada siswa, mereka bebas untuk menentukan apa yang ingin mereka pelajari, (2)Penentuan jam belajar di Komunitas Belajar Qoryah Thayyibah betul-betul diserahkan sepenuhnya kepada murid, (3)Kegiatan penting dan rutin dilakukan oleh para siswa adalah Tawasi, (4)Melakukan MOS di desa dan lingkungan dimana sekolah berada, (5)Kegiatan yang dibarengkan dengan masa otientasi siswa (MOS) pada awal tahun pembelajaran ketika siswa baru pertamakali masuk sekolah adalah salah satnya membersihkan sampah di lingkungan luar sekolah, (6) Dalam konteks dakwah bil hal Komunitas Belajar Qoryah Thayyibah juga dengan dengan demikian telah berkontribusi positif terhadap penyadaran masyarakat akan pentingnya memelihara dan berinteraksi dengan lingkungan. Kata kunci : Pendidikan karakter, Komunitas belajar, Tawasi Abstract [Model of Character Education At Qaryah Thayyibah Learning Community]. This study aims at finding the model of character education model in Qaryah Tayyibah Learning Community (KBQT) located in Kalibening Village, Tingkir Subdistrict, Slatiga Regency, Central Java Province. This research used qualitative-descriptive method, where the study employed interview, observation, and documentation as data collecting techniques, and well as using triangulation as data trustworthiness technique. The results of the study are: (1) The learning curriculum of Qoryah Thayyibah Learning Community is given to the students, they are free to decide what they want to study, (2) The determination of study hours in Qoryah Thayyibah Learning Community is really left entirely to the students, (3) important and routine done by the students is Tawasi, (4) Conducting MOS in the village and the environment where the school is located, (5) The activity that is accompanied by the student's otientation (MOS) at the beginning of the learning year when the new student first enters school is one of the cleaning (6) In the context of dakwah bil the Community Learning Qoryah Thayyibah also thereby has contributed positively to the awareness of the community about the importance of maintaining and interacting with the environment. Keywords : Character education, Community learning, Tawasi
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KORBAN BENCANA GEMPA BUMI DI KABUPATEN BANTUL TAHUN 2006 MENJADI DIFABLE DAKSA Astri Hanjarwati; Muh. Aris Marfai; M. Pramono Hadi; R. Rijanta
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1354

Abstract

The magnitude of the risk due to a disaster depends on several factors, namely the hazard (natural hazard), vulnerability, and capacity. The earthquake that occurred in 2006 in Bantul District caused the death toll, damage to the building, and the victim who suffered severe injuries to become people with disability. The purpose of this study is to analyze the factors causing earthquake victims to be people with disability. Questionnaires were distributed to 130 respondents, using simple random sampling technique. Based on the result of the research, the factors causing difable daksa are (1) threats: all difable daksa live in earthquake prone areas, (2) vulnerability: house building made from material that easily collapsed, (3) capacity: have knowledge and means of disaster mitigation, (4) community behavior during earthquake disaster: people do not know how to safely handle earthquake disaster.Besarnya risiko akibat suatu bencana tergantung pada beberapa faktor, yaitu ancaman (natural hazard), kerentanan (vulnerability)dan kapasitas/ kemampuan(capacity). Gempa bumi yang terjadi tahun 2006 di Kabupaten Bantul menyebabkan korban meninggal dunia, kerusakan bangunan dan korban yang mengalami luka parah sehingga menjadi difable daksa. Tujuan penelitian adalah menganalisis faktor-faktor penyebab korban bencana gempa bumi menjadi difable daksa. Kuesioner di sebar kepada 130 responden, dengan teknik simple random sampling. Berdasarkan pada hasil penelitian faktor-faktor penyebab menjadi difable daksa adalah (1) ancaman: semua difable daksa tinggal pada daerah rawan bencana gempa bumi, (2) kerentanan: bangunan rumah terbuat dari material yang mudah roboh, (3) kapasitas/ kemampuan: tidak mempunyai pengetahuan dan sarana mitigasi bencana, (4) perilaku masyarakat ketika terjadi bencana gempa bumi: masyarakat tidak mengetahui bagaimana cara aman menghadapi bencana gempa bumi.Key Word: Earthquake, Difabel, Capability and Ri
REVEALING THE FACES OF RURAL POVERTY IN INDONESIA: A CASE FROM TEMANGGUNG, CENTRAL JAVA Rofah Rofah; Astri Hanjarwati; Jamil Suprihatiningrum
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i2.2758

Abstract

Previous research on poverty in rural areas of Indonesia has identified structural poverty as a significant underlying cause. The objective of this article is to provide an overview of the internal and external factors contributing to poverty in rural Java. The study utilized quantitative research methods and was conducted in the Merah Village, Temanggung, Central Java, which was selected as a representative area falling within the national poverty threshold. The findings indicated that rural communities were confronted not only with structural poverty issues such as limited access to economic resources, education, and empowerment. In addition, cultural poverty further compounded the issue, as it was characterized by pervasive perceptions of subjective well-being among the rural communities, with a majority (81.7%) feeling poor and uncertain about finding a way out of their situation, while only a minority (18.3%) felt prosperous. The prevalent perception of cultural poverty is closely intertwined with the structural characteristics of Javanese society, particularly the concept of 'nerimo', which can be interpreted as the belief that poverty is a God-given destiny that cannot be rejected or altered.Berbagai studi terdahulu tentang kemiskinan pedesaan di Indonesia telah mengungkapkan kemiskinan struktural telah menjadi penyebab utama. Artikel ini bermakud untuk mendeskripsikan penyebab internal dan eksternal kemiskinan di pedesaan Jawa. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif, dengan mengambil lokasi di Desa Merah, Temanggung, Jawa Tengah sebagai representasi dari wilayah yang masih berada dalam garis kemiskinan nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pedesaan tidak hanya dihadapkan pada problem kemiskinan struktural seperti misalnya minimnya akses ke sumber-sumber ekonomi, pendidikan, dan pemberdayaan. Namun juga semakin diperparah dengan kemiskinan kultural yang ditandai dengan kuatnya persepsi terhadap kesejahteraan subyektif, seperti misalnya perasaan bahwa mereka adalah orang miskin dan kebingungan bagaimana mencari jalan keluar atas situasi tersebut (81,7%), selebihnya hanya 18,3% yang merasa sejahtera. Kuatnya persepsi kemiskinan kultural ini berkaitan erat dengan karakter struktur masyarakat Jawa yang ‘nerimo’, yang dapat diartikan sebagai keyakinan bahwa kemiskinan mereka adalah takdir tuhan yang tidak bisa ditolak.
REFLEKSI PEMBELAJARAN ONLINE MAHASISWA DIFABEL NETRA DI MASA PANDEMI COVID-19 Astri Hanjarwati; Aulia Rahmi; Mawar Rahayuning Astuti; Sinta Ristiyanti
Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama Vol. 23 No. 1 (2023):
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/aplikasia.v23i1.3290

Abstract

The existence of a pandemic requires education to transform face-to-face learning into online learning. This condition forces all elements to adapt quickly, including students with visual impairments. This study aims to explore the experiences of students with visual disabilities during online learning during the pandemic. A qualitative research approach with a descriptive case study method was chosen as the approach in this study. Research data was collected by conducting structured interviews with open questions to 15 students with visual disabilities at UIN Sunan Kalijaga. The data that has been collected is then analyzed using thematic analysis according to Braun and Clarke, namely re-reading the data, coding, searching for themes, reviewing themes, determining a definite theme, and writing the results of the analysis. Data validity uses re-checking of information to respondents. The findings reveal that students with visual disabilities have had various experiences, both negative and positive experiences while carrying out online learning during the pandemic. The results of this study emphasize educational institution stakeholders to involve the voice and participation of students with visual disabilities in designing learning to have adequate accessibility.