Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

REVITALISASI SENI TRADISI DI RANCAKALONG SUMEDANG JAWA BARAT Sumiati, Lilis; Budi, Dinda Satya Upaja
Abdi Seni Vol. 15 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/abdiseni.v15i1.5462

Abstract

The Sumedang style Wayang dance is a monumental work created by Raden Ono Lesmana Kartadikusumah in the 1930s. After surviving for around 90 years, there is one dance that has been recognized as part of Indonesia's Intangible Cultural Heritage (WBTB) in 2022, namely the Jayengrana Dance. Apart from dancing, Sumedang has a natural wealth of bamboo which has the potential to be developed towards a creative economy. Based on these two factors, motivated to do Community Service (PKM) in Rancakalong. The choice of place was considered on the basis of the availability of potential human resources and natural resources and as a continuation of the ISBI Bandung student street vendors.The method that will be applied in this PKM, uses the Participation Action Research (PAR) method. This method has continuity because it contains cycles of participation, research, and action. Participation is a form of caring attitude to spread the Jayengrana Dance again and build a community of bamboo musical instrument craftsmen. This form of concern is motivated by previous research. Then action is a form of activity in conducting PKM in the form of revitalization.This PKM focused on two forms of activity, namely the Jayengrana Dance training and the Workshop on Making Bamboo Musical Instruments which textually and contextually became an important part of the Sumedang community, especially the course participants who were members of the Arimbi Studio and the same time empowered the Sumedang Rancakalong Geotheater. The results of this training were then evaluated internally in the form of tides and flashmobs.
Kreativitas Tari Yudawiyata Sumiati, Lilis
PANGGUNG Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1137

Abstract

ABSTRACTThe Yuda Wiyata dance is an object of the research in the realm of artwork inspired by the SumedangWayang war dance. The motivation to do this is based on the reality that Sumedang Wayang dance is stillable to survive but experiences a stagnant life. This relity is a problem that must be broken down how tomake the repertoire survive and develop according to the times. As a solution by making dance modelsbased on these traditions. To carry an original dance work, the ability of creativity becomes a majormilestone. Thus, the theory of creativity was chosen as a surgical knife in explaining the problem. Tomaintain the typical characteristics of the case, the methods used lead to reconstruction, transformation,and innovation. These three methods are efforts to protect, utilize and develop that lead to conservation.The manifestation of Yuda Wiyata’s dance is in the form of a group presentation performed by sevenmale dancers. The structure of the dance is expressed through the form and content that illustrates thegallantry of the wadyabalad practicing war.Keywords: Creativity, Reconstruction, Transformation, Innovation, Yuda Wiyata DanceABSTRAKTari Yuda Wiyata merupakan objek penelitian dalam ranah karya seni yang terinspirasi dari tariperang wayang gaya Sumedang. Pendorong untuk melakukan hal tersebut, didasari oleh realitasbahwa tari Wayang gaya Sumedang masih mampu bertahan namun mengalami kehidupanyang stagnan. Realitas tersebut merupakan permasalahan yang mesti diurai bagaimana agarrepertoar tersebut dapat bertahan dan berkembang sesuai zaman. Sebagai solusinya dengancara membuat model karya tari yang berbasis pada tradisi tersebut. Untuk mengusung suatukarya tari yang original, kemampuan kreativitas menjadi tonggak utama. Dengan demikian,teori kreativitas dipilih sebagai pisau pembedah dalam mengeksplanasi permasalahan.Untuk mempertahankan ciri khas kasumedangan maka metode yang digunakan mengarahpada rekonstruksi, transformasi, dan inovasi. Ketiga metode ini sebagai upaya pelindungan,pemanfaatan, dan pengembangan yang mengarah pada ranah pelestarian. Perwujudan tariYuda Wiyata berupa penyajian secara kelompok yang dibawakan oleh tujuh orang penari pria.Struktur tarian diungkapkan melalui bentuk dan isi yang menggambarkan kegagahan para wadyabalad sedang berlatih perang.Kata Kunci: Kreativitas, Rekonstruksi, Transformasi, Inovasi, Tari Yuda Wiyata
Revitalisasi Tari Tradisi di Situasi Pandemi Sumiati, Lilis; Jatnika, Asep
PANGGUNG Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i4.1786

Abstract

Tari Wayang merupakan salah satu tari tradisi yang tumbuh dan berkembang di Jawa Barat. Salah satunya berkembang di Sumedang yang diciptakan oleh Raden Ono Lesmana Kartadikusumah sejak tahun 1930-an. Setelah menapaki sekitar 90 tahun, tari Yudawiyata mengalami kepunahan. Oleh karena itu, menggiring pembentukan motivasi untuk melakukan revitalisasi. Dasar pemikiran ini dilandasi bahwa tari tersebut menjadi satu-satunya bentuk karya tari perang wayang berpasangan gaya Sumedang. Tarian ini diwujudkan pada tahun 1957, yang menggambarkan tentang dua orang satria sedang berlatih perang sebelum memasuki medan laga. Upaya revitalisasi ini ditempuh dengan dua tahap yakni rekonstruksi dan implementasi. Tahap rekonstruksi menggunakan pendekatan interpretasi yang memuat (to ekspress), (to explain), dan (to translate) sedangkan kreativitas diarahkan pada ranah gubahan. Metode yang dianggap relevan dalam ranah revitalisasi yakni Participation Action Research (PAR). Metode tersebut memiliki kesinambungan, karena memuat siklus partisipasi, riset, dan aksi. Partisipasi merupakan bentuk sikap kepedulian untuk menghidupkan kembali tari Yudawiyata yang sudah punah, melalui rekonstruksi. Bentuk kepedulian tersebut dilatarbelakangi dengan adanya riset yang dilakukan sebelumnya. Kemudian aksi merupakan bentuk aktivitas dalam melakukan rekonstruksi dan implementasi tari Yudawiyata. Tahap implementasi dilakukan melalui pelatihan secara hybrid antara luring dan daring di Padepokan Sekar Pusaka Kata kunci: tari yudawiyata, rekonstruksi, kreativitas, implementasi
Tari Kele: Sebuah Gagasan Kreatif Neng Peking Khairunnisa, Az-zahra; Sumiati, Lilis; Azizah, Farah Nurul
PANGGUNG Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i3.3561

Abstract

ABSTRAK Tari Kele merupakan karya tari kreasi baru dari Kabupaten Ciamis yang diciptakan oleh Neng Peking pada tahun 2006 di Studio Titik Dua. Tarian ini merupakan tarian baru yang memuat nilai-nilai tentang fenomena budaya dari Upacara Adat Nyangku. Keunikan dari Tari ini yaitu menggunakan properti kele yang disimpan di atas kepala (disuhun) dan koreografinya dilakukan sambil menjinjit dengan memegang daun hanjuang. Hal tersebut menjadi daya tarik untuk diteliti lebih dalam dengan tujuan untuk mengetahui kreativitas Neng Peking dalam menciptakan Tari Kele. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori Rhodes mengenai 4P yaitu (person, process, press, product) dengan menggunakan metode kualitatif dalam prosedur pengumpulan datanya dilakukan melalui tiga tahapan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah Neng Peking sebagai pribadi kreatif (person) dengan adanya pendorong internal dan eksternal (press) untuk melakukan sebuah proses kreatif (process) yang cukup panjang dapat menghasilkan produk kreatif (product) yaitu Tari Kele yang berkualitas. Kata Kunci: Tari Kele, Kreasi Baru, Kreativitas, Neng Peking
Mencabar Kebenaran Teks: Menelisik Kelindan “Hanjuang Di Kutamaya” Dalam Naskah Dramatari Dan Kawih Sunda Sumiati, Lilis; Mulyati, Eti; Asyari, Pradasta
PANGGUNG Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i4.3904

Abstract

Every artwork  is viewed  as a network of interconnected meaning, forming a dynamic structure akin to a spider's web. This view is reflected in Dance Drama and Sundanese Kawih, both of which adapt the Jaya Perkosa episode from the Babad Sumedang script. To analyze this relationship, the intertextuality approach is employed to trace the interlocking texts and meanings. On the other hand, the critical discourse approach is used to dissect how both voice criticism and discourse are shaped by the historical relations. As a result, the two works reproduce the content of the Babad Sumedang to reflect current social, political, and cultural conditions. Intertextuality contributes to connecting old texts with contemporary contexts, thereby facilitating a meeting between tradition and modernity. This process demonstrates that cultural texts are continually in dynamic negotiation with an ever-evolving reality.