Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Panggung

Purpose Of Art Dan Kontribusinya Dalam Transformasi Budaya (Studi Kasus: Tari Jayengrana) Sumiati, Lilis
PANGGUNG Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i1.12

Abstract

 Tatanan budaya memiliki sifat elastis dan dinamis mengekor pada empunya pencetus ke- budayaan yang tiada lain adalah manusia. Sifatnya yang demikian berpeluang mengalami pe- rubahan menuju cita dengan pencitraan berbeda. Kebenaran budaya, agama, ilmu, dan filsa- fat sekalipun, senantiasa menjadi kejaran setiap insan dalam ruang dan waktu yang berbatas. Upaya menggapai perubahan budaya terkadang berbenturan dengan tatanan budaya tradisi. Suatu paradoksal antar dua sisi yang berbeda bahkan menjadi penghantar menuju keabadian.Perubahan budaya berdampak pada berbagai pola kehidupan tak terkecuali tekstual tarian. Perihal ini mewujud karena berhadapan dengan laku kreatif  para seniman yang didasarkan pada maksud seni (purpose of art ) yang pada setiap sistem menganut perbedaan. Kata kunci: Budaya, purpose of art, tekstual tarian, transformasi
Tari Wayang Karakter Satria Ladak Sumiati, Lilis
PANGGUNG Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i1.35

Abstract

Wayang dance is a dance expressing events in the stories of wayang. The events here among oth- ers are dances revealing the background of the story, theme, the name of the dance, characters, and philosophical elements. Of those various elements, the scope in this study is limited into matters of satria ladak character.Wayang dance satria ladak character living in several areas contains some significant differences in several aspects. The term differing the specialty of wayang dance is called sejak. The scope of se- jak is more for one’s style in dancing dance genre from the same ethnic. Therefore, the term sejak is firstly come out when seeing one’s performance in dancing, either referred to her/his choreography or to her/his specialty in performing the dance. Then, sejak owned by the individual is spread among his/her surrounding, so that it can be an icon in respective areas.The quantity of Wayang dance satria ladak is varied in each areas, such as sejak Sumedang is Dipati Karna dance. While Sejak Garut is Bambang Somantri dance, and sejak Bandung is Arayana dance. These materials are chosen as samples for comparative and interpretative study.Keywords: Wayang Dance, Satria Ladak, Sejak, comparative, interpretative.  
Eksplorasi Artistik Makna “Eusi Kosong” dalam Usik Penca: Refleksi Moral dan Spiritualitas Melalui Karya Seni Saefurridjal, Anggha Nugraha; Herdiani, Een; Sumiati, Lilis
PANGGUNG Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i1.3588

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan makna eusi kosong dalam usik penca melalui pendekatan eksplorasi artistik. Secara filosofis, eusi kosong melambangkan keseimbangan antara kekosongan dan isi serta mengandung nilai spiritual yang mengajarkan pengendalian diri dan introspeksi. Usik Penca tidak hanya melatih bela diri, tetapi juga menjadi sarana refleksi dalam mengendalikan hawa nafsu. Melalui metode etnografi dan practice-based research, penelitian ini mengintegrasikan eksplorasi gerakan dan pengalaman kreatif dalam proses reka cipta tari. Proses kreatif ini melibatkan reinterpretasi usik penca menjadi karya tari yang menyampaikan nilai-nilai filosofis dan spiritual. Keseimbangan tradisi dan inovasi menjadi inti dalam karya ini. Tari bukan sekadar ekspresi estetis, tetapi juga sarana edukasi dan refleksi moral. Hasil akhirnya adalah sebuah karya tari yang memvisualisasikan nilai-nilai spiritual dari usik Penca, yang dirancang untuk memperkuat apresiasi terhadap penca sebagai warisan budaya tak benda serta sarana untuk memperdalam pemahaman akan pengendalian diri di tengah tantangan era globalisasi. Sekaligus menegaskan relevansi seni tradisional melalui pendekatan artistik inovatif dalam seni kontemporer.
Kreativitas Tari Yudawiyata Sumiati, Lilis
PANGGUNG Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1137

Abstract

ABSTRACTThe Yuda Wiyata dance is an object of the research in the realm of artwork inspired by the SumedangWayang war dance. The motivation to do this is based on the reality that Sumedang Wayang dance is stillable to survive but experiences a stagnant life. This relity is a problem that must be broken down how tomake the repertoire survive and develop according to the times. As a solution by making dance modelsbased on these traditions. To carry an original dance work, the ability of creativity becomes a majormilestone. Thus, the theory of creativity was chosen as a surgical knife in explaining the problem. Tomaintain the typical characteristics of the case, the methods used lead to reconstruction, transformation,and innovation. These three methods are efforts to protect, utilize and develop that lead to conservation.The manifestation of Yuda Wiyata’s dance is in the form of a group presentation performed by sevenmale dancers. The structure of the dance is expressed through the form and content that illustrates thegallantry of the wadyabalad practicing war.Keywords: Creativity, Reconstruction, Transformation, Innovation, Yuda Wiyata DanceABSTRAKTari Yuda Wiyata merupakan objek penelitian dalam ranah karya seni yang terinspirasi dari tariperang wayang gaya Sumedang. Pendorong untuk melakukan hal tersebut, didasari oleh realitasbahwa tari Wayang gaya Sumedang masih mampu bertahan namun mengalami kehidupanyang stagnan. Realitas tersebut merupakan permasalahan yang mesti diurai bagaimana agarrepertoar tersebut dapat bertahan dan berkembang sesuai zaman. Sebagai solusinya dengancara membuat model karya tari yang berbasis pada tradisi tersebut. Untuk mengusung suatukarya tari yang original, kemampuan kreativitas menjadi tonggak utama. Dengan demikian,teori kreativitas dipilih sebagai pisau pembedah dalam mengeksplanasi permasalahan.Untuk mempertahankan ciri khas kasumedangan maka metode yang digunakan mengarahpada rekonstruksi, transformasi, dan inovasi. Ketiga metode ini sebagai upaya pelindungan,pemanfaatan, dan pengembangan yang mengarah pada ranah pelestarian. Perwujudan tariYuda Wiyata berupa penyajian secara kelompok yang dibawakan oleh tujuh orang penari pria.Struktur tarian diungkapkan melalui bentuk dan isi yang menggambarkan kegagahan para wadyabalad sedang berlatih perang.Kata Kunci: Kreativitas, Rekonstruksi, Transformasi, Inovasi, Tari Yuda Wiyata
Revitalisasi Tari Tradisi di Situasi Pandemi Sumiati, Lilis; Jatnika, Asep
PANGGUNG Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i4.1786

Abstract

Tari Wayang merupakan salah satu tari tradisi yang tumbuh dan berkembang di Jawa Barat. Salah satunya berkembang di Sumedang yang diciptakan oleh Raden Ono Lesmana Kartadikusumah sejak tahun 1930-an. Setelah menapaki sekitar 90 tahun, tari Yudawiyata mengalami kepunahan. Oleh karena itu, menggiring pembentukan motivasi untuk melakukan revitalisasi. Dasar pemikiran ini dilandasi bahwa tari tersebut menjadi satu-satunya bentuk karya tari perang wayang berpasangan gaya Sumedang. Tarian ini diwujudkan pada tahun 1957, yang menggambarkan tentang dua orang satria sedang berlatih perang sebelum memasuki medan laga. Upaya revitalisasi ini ditempuh dengan dua tahap yakni rekonstruksi dan implementasi. Tahap rekonstruksi menggunakan pendekatan interpretasi yang memuat (to ekspress), (to explain), dan (to translate) sedangkan kreativitas diarahkan pada ranah gubahan. Metode yang dianggap relevan dalam ranah revitalisasi yakni Participation Action Research (PAR). Metode tersebut memiliki kesinambungan, karena memuat siklus partisipasi, riset, dan aksi. Partisipasi merupakan bentuk sikap kepedulian untuk menghidupkan kembali tari Yudawiyata yang sudah punah, melalui rekonstruksi. Bentuk kepedulian tersebut dilatarbelakangi dengan adanya riset yang dilakukan sebelumnya. Kemudian aksi merupakan bentuk aktivitas dalam melakukan rekonstruksi dan implementasi tari Yudawiyata. Tahap implementasi dilakukan melalui pelatihan secara hybrid antara luring dan daring di Padepokan Sekar Pusaka Kata kunci: tari yudawiyata, rekonstruksi, kreativitas, implementasi
Tari Kele: Sebuah Gagasan Kreatif Neng Peking Khairunnisa, Az-zahra; Sumiati, Lilis; Azizah, Farah Nurul
PANGGUNG Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i3.3561

Abstract

ABSTRAK Tari Kele merupakan karya tari kreasi baru dari Kabupaten Ciamis yang diciptakan oleh Neng Peking pada tahun 2006 di Studio Titik Dua. Tarian ini merupakan tarian baru yang memuat nilai-nilai tentang fenomena budaya dari Upacara Adat Nyangku. Keunikan dari Tari ini yaitu menggunakan properti kele yang disimpan di atas kepala (disuhun) dan koreografinya dilakukan sambil menjinjit dengan memegang daun hanjuang. Hal tersebut menjadi daya tarik untuk diteliti lebih dalam dengan tujuan untuk mengetahui kreativitas Neng Peking dalam menciptakan Tari Kele. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori Rhodes mengenai 4P yaitu (person, process, press, product) dengan menggunakan metode kualitatif dalam prosedur pengumpulan datanya dilakukan melalui tiga tahapan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah Neng Peking sebagai pribadi kreatif (person) dengan adanya pendorong internal dan eksternal (press) untuk melakukan sebuah proses kreatif (process) yang cukup panjang dapat menghasilkan produk kreatif (product) yaitu Tari Kele yang berkualitas. Kata Kunci: Tari Kele, Kreasi Baru, Kreativitas, Neng Peking
Mencabar Kebenaran Teks: Menelisik Kelindan “Hanjuang Di Kutamaya” Dalam Naskah Dramatari Dan Kawih Sunda Sumiati, Lilis; Mulyati, Eti; Asyari, Pradasta
PANGGUNG Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i4.3904

Abstract

Every artwork  is viewed  as a network of interconnected meaning, forming a dynamic structure akin to a spider's web. This view is reflected in Dance Drama and Sundanese Kawih, both of which adapt the Jaya Perkosa episode from the Babad Sumedang script. To analyze this relationship, the intertextuality approach is employed to trace the interlocking texts and meanings. On the other hand, the critical discourse approach is used to dissect how both voice criticism and discourse are shaped by the historical relations. As a result, the two works reproduce the content of the Babad Sumedang to reflect current social, political, and cultural conditions. Intertextuality contributes to connecting old texts with contemporary contexts, thereby facilitating a meeting between tradition and modernity. This process demonstrates that cultural texts are continually in dynamic negotiation with an ever-evolving reality.