Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Hubungan Tingkat Keparahan dan Tingkat Kontrol dengan Kualitas Hidup Pasien Asma Bronkial di Poli Paru RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Risma Dwi Rahimah; Olviani, Yurida; Julianto Julianto; Solikin Solikin
Jurnal Siti Rufaidah Vol. 3 No. 3 (2025): :Jurnal Siti Rufaidah
Publisher : PPNI UNIMMAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jasira.v3i3.218

Abstract

Bronchial asthma is a chronic respiratory disease that significantly impacts the quality of life of sufferers. The severity and level of asthma control are important factors in determining a patient's condition. Data from the Pulmonary Clinic of Dr. H. Moch. Ansari Saleh Regional General Hospital (RSUD) show an increase in the number of asthma patients every year, necessitating further analysis of the factors that influence the quality of life of sufferers. This study aims to analyze the relationship between severity and control levels and the quality of life of bronchial asthma patients. This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 47 respondents selected using a purposive sampling method according to the inclusion criteria. The instruments used included a severity questionnaire based on the Global Initiative for Asthma (GINA) guidelines, the Asthma Control Test (ACT), and the Mini Asthma Quality of Life Questionnaire (Mini-AQLQ). Data analysis was performed using the Kendall's Tau-b test with a significance level of 0.05. The results showed that the majority of respondents were female (53.2%) and aged 31–45 years (36.2%). The highest asthma severity was mild persistent (29.8%), while the most dominant level of control was fully controlled (38.3%). The quality of life of the respondents was mostly in the moderate category (38.3%). Statistical tests showed a significant relationship between severity and quality of life (p = 0.003) and between control and quality of life (p = 0.001). It can be concluded that the higher the level of asthma severity, the lower the patient's quality of life tends to be, while better asthma control is associated with a better quality of life. These results emphasize the importance of early detection, optimal asthma control, and regular monitoring by healthcare professionals to improve patients' quality of life.
Hubungan Paparan Asap Rokok dengan Kejadian Asma Bronkial di Poli Paru RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Annisa, Nurul; Olviani, Yurida; Sary, Era Widia; Mulyani, Sri
Jurnal Siti Rufaidah Vol. 3 No. 3 (2025): :Jurnal Siti Rufaidah
Publisher : PPNI UNIMMAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jasira.v3i3.222

Abstract

Bronchial asthma is a chronic inflammatory disease of the airways that is often triggered by exposure to cigarette smoke, both active and passive. This exposure contains harmful substances such as nicotine, tar, and carbon monoxide that can irritate the airways, increase inflammation, and worsen asthma symptoms. This study aims to determine the relationship between cigarette smoke exposure and the incidence of bronchial asthma in patients at the Pulmonary Polyclinic of Dr. H. Moch. Ansari Saleh Regional General Hospital, Banjarmasin. The research method used a quantitative approach with a cross-sectional design. A sample of 47 patients was selected through purposive sampling according to the inclusion criteria. Data were collected through questionnaires and medical records, then analyzed using the Chi-Square test (α = 0.05). The results showed that the majority of respondents were passive smokers (61.70%), had family members who smoked (57.45%), and were exposed to cigarette smoke daily (55.32%). All respondents had been diagnosed with asthma by medical personnel, and 91.49% reported worsening symptoms after exposure to cigarette smoke. The chi-square test results showed a significant association between cigarette smoke exposure and the incidence of bronchial asthma (p = 0.026). This finding confirms that cigarette smoke exposure is an important risk factor that must be avoided to prevent relapse and worsening of asthma. Therefore, patient and family education regarding the dangers of cigarette smoke, the implementation of smoke-free areas, environmental support, and smoking cessation programs need to be continuously improved as strategies for controlling bronchial asthma.
Hubungan Lama Hospitalisasi Dengan Tingkat Kecemasan Orang Tua Pada Pasien Anak Penderita Ispa Di Ruang Merak Rumah Sakit Daerah Idaman Banjarbaru Nur Jannah, Wilda; Sigit Pramono, Yosra; Olviani, Yurida; Afni Oktavia, Nor
Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika) Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika)
Publisher : Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58550/jka.v11i2.336

Abstract

dapat menimbulkan perasaan tidak aman. Peran orang tua tidak terputus bagi anak saat mereka berada di Rumah Sakit pada kenyataannya, anak akan lebih membutuhkan peran orang tua dalam situasi ini daripada saat mereka tidak sakit. Tentu saja, hal itu memengaruhi kesehatan mental orang tua ketika mereka menanyakan kondisi anak mereka saat mereka menerima perawatan jika anak tersebut menunjukkan tandatanda ketidaknyamanan, kegelisahan, tangisan, atau kerewelan .Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan lama hospitalisasi dengan tingkat kecemasan orang tua pada pasien anak penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Ruang Merak Rumah Sakit Daerah Idaman Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan desain Cross-sectional. Populasi penelitian ini 368 orang tua yang anaknya menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Ruang Merak Rumah Sakit Idaman Banjarbaru dengan menggunakan purposive sampling dengan hasil berjumlah 79 responden. Analisis data menggunakan Spearman Rank didapatkan hasil p value (0,001) < (0,05) dapat disimpulkan adanya hubungan lama hospitalisasi dengan kecemasan orang tua pada pasien anak penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Ruang Merak Rumah Sakit Daerah Idaman Banjarbaru. Diharapkan para tenaga kesehatan, khususnya perawat yang ada diruangan merak agar bisa memberikan penjelasan kepada orang tua terkait lama perawatan sesuai dengan tingkat keparahan penyakit yang diderita anak.
Hubungan Edukasi Proses Penyembuhan Luka dengan Level Ansietas terhadap Pasien Pasca Operasi Debridement Saherna, Jenny; Olviani, Yurida; Hadrianti, Dessy; Rianty, Dewi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i3.13922

Abstract

ABSTRACT Education about the wound healing process is the main component of basic nursing intervention in helping to reduce anxiety levels in post-operative debridement, in this case, it is necessary to evaluate the patient’s understanding in receiving the information that has been conveyed by the nurse, so that the goal of reducing anxiety levels can be realized. Anxiety is one of the triggers for instability of vital signs which has an impact on the wound healing phase. The aim of the research was to look at the relationship between education on the wound healing process and the level of anxiety in patients after debridement surgery. This research is quantitative, non experimental, using cross-sectional with purposive sampling method and spearman rank correlation test analysis, a total of 73 respondents with data collection through questionnaires. The result showednthat respondents with no anxiety were 1 person (1.4%), mild anxiety were 17 people (23.3%), moderate anxiety were 42 people (57.5%), severe anxiety were 10 people (13.7%), very severe anxiety as many as 3 people (4.1%). The conclusion resulting from data analysis was asymp. Sig. (2-Tiled) P = 0.007, P < 0.005, there is a significant relationship between understanding and anxiety level in post-operative debridement patients.    Keywords: Education, Wound Healing, Anxiety, Post-Operative Debridement  ABSTRAK Edukasi tentang proses penyembuhan luka merupakan komponen utama dasar intervensi keperawatan dalam membantu penurunan level ansietas pada pasien pasca operasi debridement, dalam hal ini diperlukan evaluasi pemahaman pasien dalam menerima informasi yang telah disampaikan oleh perawat, agar tujuan penurunan level anisetas dapat terealisasi. Ansietas salah satu pemicu ketidakstabilan tanda-tanda vital yang berdampak terhadap fase penyembuhan luka. Tujuan penelitan melihat hubungan edukasi proses penyembuhan luka dengan level ansietas terhadap pasien pasca operasi debridement. Penelitian ini kuantitatif, jenis non eksperimental, menggunakan cross-secstional dengan metode purposive sampling dan analisis uji korelasi spearman rank, total 73 responden dengan pengumpulan data melalui kuesioner. Hasil penelitian responden dengan tidak ada ansietas sebanyak 1 orang (1,4%), ansietas ringan sebanyak 17 orang (23,3%), ansietas sedang sebanyak 42 orang (57,5%), ansietas berat sebanyak 10 orang (13,7%), ansietas berat sekali sebanyak 3 orang (4,1%).        Kesimpulan penelitian hasil analisis data didapatkan hasil Asymp. Sig. (2-Tailed) p = 0.007, p < 0.05, ada hubungan signifikan antara pemahaman dengan level ansietas pada pasien pasca operasi debridement. Kata Kunci: Edukasi, Penyembuhan Luka, Ansietas, Pasca Operasi Debridement
Hubungan Lama Hospitalisasi Dengan Tingkat Kecemasan Orang Tua Pada Pasien Anak Penderita Ispa Di Ruang Merak Rumah Sakit Daerah Idaman Banjarbaru Wilda Nur Jannah; Yosra Sigit Pramono; Yurida Olviani; Nor Afni Oktavia
Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika) Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika)
Publisher : Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58550/jka.v11i2.336

Abstract

dapat menimbulkan perasaan tidak aman. Peran orang tua tidak terputus bagi anak saat mereka berada di Rumah Sakit pada kenyataannya, anak akan lebih membutuhkan peran orang tua dalam situasi ini daripada saat mereka tidak sakit. Tentu saja, hal itu memengaruhi kesehatan mental orang tua ketika mereka menanyakan kondisi anak mereka saat mereka menerima perawatan jika anak tersebut menunjukkan tandatanda ketidaknyamanan, kegelisahan, tangisan, atau kerewelan .Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan lama hospitalisasi dengan tingkat kecemasan orang tua pada pasien anak penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Ruang Merak Rumah Sakit Daerah Idaman Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan desain Cross-sectional. Populasi penelitian ini 368 orang tua yang anaknya menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Ruang Merak Rumah Sakit Idaman Banjarbaru dengan menggunakan purposive sampling dengan hasil berjumlah 79 responden. Analisis data menggunakan Spearman Rank didapatkan hasil p value (0,001) < (0,05) dapat disimpulkan adanya hubungan lama hospitalisasi dengan kecemasan orang tua pada pasien anak penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Ruang Merak Rumah Sakit Daerah Idaman Banjarbaru. Diharapkan para tenaga kesehatan, khususnya perawat yang ada diruangan merak agar bisa memberikan penjelasan kepada orang tua terkait lama perawatan sesuai dengan tingkat keparahan penyakit yang diderita anak.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Audiovisual Berbabsis Self Management terhadap Pasien Hipertensi Olviani, Yurida; Saherna, Jenny; Hadrianti, Dessy; Satriani, Desy; Aulia, Nazi Ratul
Jurnal Skala Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): Jurnal Skala Kesehatan Edisi Januari 2026
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jsk.v17i1.490

Abstract

Hypertension remains the leading non-communicable disease, causing numerous complications and deaths. Complications of hypertension can be prevented through health promotion, specifically by providing hypertension self-management education using audiovisual media adapted to the current development of information technology. Developing accessible, widely reachable, efficient, and effective audiovisual health education media on hypertension self-management is essential to encourage the community to regularly monitor blood pressure and independently adopt routine behavior changes to prevent further complications. Objective: To develop audiovisual health education media on hypertension self-management for patients with hypertension. Methods: Quasi-experimental study. Data were analyzed using the Wilcoxon Paired Sample T-Test.
Hubungan Manajemen Nyeri Non-Farmakologis terhadap Kondisi Klinis pada Pasien Bedah Digestif di RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin [The Relationship Between Non-Pharmacological Pain Management and Clinical Conditions in Digestive Surgery Patients at RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin] Salsabila, Nasywa Liza; Solikin, Solikin; Sukarlan, Sukarlan; Olviani, Yurida
Indonesia Berdaya Vol 7, No 2 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261472

Abstract

Digestive surgery patients often experience postoperative pain that can affect their clinical condition, including hemodynamic stability, mobilization ability, and the recovery process. Pain that is not managed optimally may hinder the healing process. Non-pharmacological pain management is one of the safe and effective nursing interventions to help control pain and support the stability of patients’ clinical conditions; however, its implementation in clinical settings is still not optimal. This study aimed to determine the relationship between non-pharmacological pain management and the clinical condition of digestive surgery patients at Sultan Suriansyah Regional Hospital, Banjarmasin. This research employed a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 31 digestive surgery patients who were hospitalized at Sultan Suriansyah Regional Hospital, Banjarmasin, selected using an accidental sampling technique. Data were collected through interviews using a non-pharmacological pain management questionnaire and observation of patients’ clinical conditions based on hemodynamic data obtained from medical records. Data analysis was conducted using the Spearman’s Rho test. The results showed that most respondents did not receive non-pharmacological pain management and were in an unstable clinical condition. Bivariate analysis indicated a significant relationship between non-pharmacological pain management and the clinical condition of digestive surgery patients (p = 0.003). In conclusion, non-pharmacological pain management is associated with the clinical condition of digestive surgery patients; therefore, its optimal implementation is expected to improve clinical stability and support the patient recovery process. Abstrak. Pasien bedah digestif sering mengalami nyeri pascaoperasi yang dapat memengaruhi kondisi klinis, seperti kestabilan hemodinamik, kemampuan mobilisasi, dan proses pemulihan. Nyeri yang tidak tertangani secara optimal dapat menghambat proses penyembuhan pasien. Manajemen nyeri non-farmakologis merupakan salah satu intervensi keperawatan yang aman dan efektif untuk membantu mengendalikan nyeri serta mendukung stabilitas kondisi klinis pasien, namun penerapannya di lingkungan klinis masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara manajemen nyeri non-farmakologis dengan kondisi klinis pada pasien bedah digestif di RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 31 pasien bedah digestif yang menjalani perawatan inap di RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner manajemen nyeri non-farmakologis serta observasi kondisi klinis pasien berdasarkan data hemodinamik dari rekam medis. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman’s Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mendapatkan manajemen nyeri non-farmakologis dan berada dalam kondisi klinis tidak stabil. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara manajemen nyeri non-farmakologis dengan kondisi klinis pasien bedah digestif (p = 0,003). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manajemen nyeri non-farmakologis memiliki hubungan dengan kondisi klinis pasien bedah digestif, sehingga penerapannya secara optimal diharapkan dapat membantu meningkatkan stabilitas kondisi klinis dan mendukung proses pemulihan pasien. 
Pengaruh Video Edukasi Terhadap Pengetahuan Dan Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Tuberkulosis Paru DIRSUD Sultan Suriansayah Banjarmasin Sa’diah Sa’diah; Yurida Olviani; Dessy Hadrianti; Uni Afriyanti
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24453

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis (TB) remains a major global health issue, particularly in developing countries, and treatment adherence is crucial to prevent drug resistance. This study aimed to evaluate the effect of educational video interventions on knowledge and medication adherence among pulmonary TB patients at RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin. A quasi-experimental pre-test and post-test design was employed involving 88 pulmonary TB patients. Data on knowledge and adherence were collected before and after video-based educational interventions and analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. The findings showed a significant increase in both knowledge and adherence after the intervention. Positive ranks dominated with Z = -7.597 (p 0.05) for knowledge and Z = -8.175 (p 0.05) for adherence, indicating that video education effectively improved patients’ understanding and compliance with anti-TB treatment. Educational videos are an effective, flexible, and accessible tool to enhance knowledge and adherence in TB patients, supporting successful therapy outcomes and reducing the risk of drug resistance. Keywords: Tuberculosis, Video Education, Adherence  ABSTRAK Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan global, dan kepatuhan pengobatan merupakan faktor penting untuk mencegah resistensi obat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh video edukasi terhadap pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada pasien TB paru di RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental pre-test dan post-test dengan 88 pasien TB paru. Data mengenai pengetahuan dan kepatuhan dikumpulkan sebelum dan sesudah intervensi video edukasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan kepatuhan pasien setelah intervensi. Dominasi positive ranks dengan nilai Z = -7,597 (p 0,05) untuk pengetahuan dan Z = -8,175 (p 0,05) untuk kepatuhan menunjukkan bahwa video edukasi efektif meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Video edukasi terbukti sebagai alat yang efektif, fleksibel, dan mudah diakses untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien TB, sehingga mendukung keberhasilan terapi dan menurunkan risiko resistensi obat. Kata Kunci: Tuberkulosis, Video Edukasi, Kepatuhan
Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik Dengan Nilai Kadar Asam Urat Pada Lansia Gout Arthritis Di Wilayah Kerja Puskesmas Teluk Tiram Sherly Meilianty; Linda Linda; Alit Suwandewi; Yurida Olviani
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.20848

Abstract

ABSTRACT  Gout arthritis, a degenerative disease stemming from improper purine metabolism, is marked by elevated uric acid levels. An individual's physical capacity and general health are significantly affected by their diet.  The likelihood of gout increases with the use of foods high in purines.  An imbalanced diet increases the risk of gout.  Physical exercise refers to any physical movement that leads to heightened energy consumption.  Blood uric acid levels are affected by physical exercise.  Inadequate physical activity will elevate lactic acid levels, which in turn influences uric acid concentrations.  This research aimed to ascertain the correlation between food and physical activity and uric acid levels in older individuals with gout arthritis within the Teluk Tiram Health Center jurisdiction.  The study used a correlation analysis model using a cross-sectional approach and quantitative methods.  The study's population included 62 individuals, selected using purposive sampling, resulting in 45 responses.  Data were collected through questionnaires and uric acid level examination results, analyzed using the Spearman rank test, yielding a p-value of 0.000 (p 0.05). This indicates a significant relationship between diet and physical activity and uric acid levels in elderly patients with gout arthritis in the Teluk Tiram Health Center jurisdiction.  Health staff at the health center are advised to conduct health education sessions on proper nutrition for senior individuals with gout arthritis, as well as on the need of physical exercise to preserve health. Keywords: Gout, Diet, Physical activity, Elderly, Gout arthritis  ABSTRAK Gout arthritis, suatu penyakit degeneratif yang disebabkan oleh gangguan metabolisme purin, ditandai dengan peningkatan kadar asam urat. Kemampuan fisik dan kesehatan umum seseorang sangat dipengaruhi oleh pola makan. Risiko gout meningkat dengan konsumsi makanan tinggi purin. Pola makan yang tidak seimbang meningkatkan risiko gout. Aktivitas fisik merujuk pada gerakan fisik apa pun yang menyebabkan peningkatan konsumsi energi. Kadar asam urat dalam darah dipengaruhi oleh aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik akan meningkatkan kadar asam laktat, yang pada gilirannya mempengaruhi konsentrasi asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi antara pola makan, aktivitas fisik, dan kadar asam urat pada individu lanjut usia dengan gout arthritis di wilayah pelayanan Pusat Kesehatan Teluk Tiram. Penelitian ini menggunakan model analisis korelasi dengan pendekatan cross-sectional dan metode kuantitatif. Populasi penelitian terdiri dari 62 individu, dipilih melalui purposive sampling, dengan 45 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan hasil pemeriksaan kadar asam urat, dianalisis menggunakan uji Spearman, dengan nilai p 0,000 (p 0,05). Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar asam urat pada pasien lanjut usia dengan artritis gout di wilayah kerja puskesmasTeluk Tiram. Tenaga kesehatan di pusat kesehatan dianjurkan untuk mengadakan sesi pendidikan kesehatan mengenai pola makan yang tepat bagi lansia dengan artritis gout, serta pentingnya aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan. Kata Kunci: Asam Urat, Pola Makan, Aktivitas Fisik, Lansia, Gout Arthritis 
Pengaruh Terapi Relaksasi Benson terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Chronic Kidney Disease yang Menjalani Hemodialisis Dessy Hadrianti; Suroto Suroto; Yurida Olviani; Jenny Saherna; Nova Rizkiah
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.20789

Abstract

ABSTRACT Chronic Kidney Disease (CKD) continues to show a rising prevalence both globally and in Indonesia, with many patients requiring hemodialysis as a primary treatment. However, the dependency on long-term therapy and the need for lifestyle adjustments often lead to psychological stress, particularly anxiety. Benson relaxation therapy, a non-pharmacological method involving deep breathing and spiritual focus, has been recognized as a potential strategy for alleviating anxiety symptoms.This study aimed to evaluate the effectiveness of Benson relaxation therapy in reducing anxiety levels among CKD patients undergoing hemodialysis at Ulin Hospital, Banjarmasin. A pre-experimental one-group pretest-posttest design was employed. The population consisted of 431 patients from the hospital’s hemodialysis unit, and 30 respondents were selected using purposive sampling. Anxiety levels were measured using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS).Prior to the intervention, most participants experienced moderate to severe anxiety, with 12 patients (40.0%) in each category. Post-intervention results revealed that 22 patients (73.3%) no longer experienced anxiety, while 4 patients (13.3%) remained in the mild to moderate categories. Statistical analysis using the Wilcoxon Signed Rank Test showed a significant difference between pretest and posttest anxiety scores (Z = -4.789, p = 0.000; p 0.05).These findings indicate that Benson relaxation therapy is effective in reducing anxiety among CKD patients undergoing hemodialysis and may serve as a supportive, non-pharmacological intervention in clinical practice. Keywords: Chronic Kidney Failure, Hermodialisis, Benson Relaxation Therapy.  ABSTRAK Gagal ginjal kronik merupakan salah satu penyakit yang menunjukan peningkatan kasus di Indonesia maupun dunia, dengan banyak pasien yang memerlukan terapi hemodialisis sebagai terapi utama, namun prosedur ini sering menimbulkan tekanan kecemasan dan psikologis akibat perubahan gaya hidup serta ketergantungan jangka panjang. Salah satu pendekatan non-farmakologis yang dapat mengurangi kecemasan adalah terapi relaksasi Benson, yaitu teknik pernapasan dalam yang dipadukan dengan elemen spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiefektivitas terapi benson terhadap tingkat kecemasan pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang menjalani hemodialisis di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan desain Pre-Experimental dengan pendekatan One-Group Pretest-Posttest Design. Populasi dalam studi ini mencakup seluruh pasien di ruang Hemodialisa RSUD Ulin Banjarmasin dengan junlah 431 pasien pada bulan terakhir, sampel terdiri dari 30 responden yang dipilih melalui metode Teknik Purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil pengukuran awal sebagian besar pasien Chronic Kidney Disease sebelum terapi Benson mengalami kecemasan dalam kategori sedang dan berat, masing-masing sebanyak 12 orang (40,0%). Sedangkan, tingkat kecemasan mayoritas pasien sesudah terapi Benson mengalami, yaitu 22 orang (73,3%), tidak lagi mengalami kecemasan, sementara masing masing 4 pasien (13,3%) mengalami kecemasan dalam kategori ringan dan sedang. Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukan nilai Z = - 4,789 dan p = 0,000 ( p 0,05 ), analisis hasil menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi, yang menegaskan bahwa terapi relaksasi benson berkontribusi positif dalam mengurangi kecemasan pada pasien chronic kidney disease yang menjalani hemodialysis di RSUD Ulin Banjarmasin. Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronik, Hemodialisis, Terapi Relaksasi Benson